Kamis, 17 April 2014

TAHLILAN dan Local Wisdom

Tahlilan & Local Wisdom

Selalu ada kontroversi dalam Tahlilan, ya setiap diri kita memiliki kuasa atas pikiran. Terlepas dari itu semua, tahlilan dimana pun selalu menyimpan kisah unik. Setiap daerah memiliki ceritanya sendiri.

Di desa asal saya, tahlilan (dan yasinan) sudah berlangsung puluhan tahun hingga sekarang. Pada tahun 1990 an suguhannya sangat sederhana, salah satu yang saya sukai adalah kerupuk sambel. Hanya kerupuk disuguhkan dengan sepiring sambal pedas encer. Seruangan bisa ramai jika sudah saatnya bersantap. Sepertinya sekarang sudah tidak ada krupuk sambel. Tidak ada iuran mingguan sehingga tuan rumah yang menanggung seluruh biaya konsumsinya. Sajiannya boleh sederhana maupun mewah karena masyarakat sudah menerima kesepakatan tersebut.

Lain kondisinya dengan tahlilan di tempat tinggal kami sekarang di Kota Malang. Hari ini adalah pertemuan ke-5. Anggota yang terdaftar 34 orang dan yang hadir 23 orang. Ada kesepakatan bahwa tuan rumah tidak boleh menyajikan nasi, sayur dan lauk pauk, hanya boleh menyajikan gorengan, teh panas dan kopi panas. Karena ada kekhawatiran akan terjadi “panas-panasan” suguhan antar tetangga, sehingga keluarga yang kurang mampu akan tersisihkan. Keunikan lainnya adalah iuran minggu sebesar minimal Rp 3.000,- per orang dan tidak ada kewajiban untuk membayar. Semuanya suka rela dan tidak akan diumumkan siapa saja yang tidak membayar serta tidak akan ditagih. Karena semua uang yang terkumpul juga akan dikembalikan untuk keperluan jamaah.

Merajut Mimpi Warga
Malam ini selepas acara Tahlilan dilanjutkan dengan obrolan dengan Pak RT. Kami berandai-andai antara jamaah Tahlilan dan pengurus RT menjalin kerjasama. Beberapa diantaranya :
  1. Memiliki pengurus kelengkapan jenazah. Setidaknya ada 1 orang di RT.03 ini yang bertanggung jawab menyediakan 6 paket perlengkapan jenazah (kain kaffan, batu nisan dan sebagainya. Sehingga pukul berapa pun ada warga yang meninggal dunia maka selalu tersedia perlengkapannya, bahkan hingga untuk 6 jenazah.
  2. Memiliki Balai RW. Di daerah kami belum ada balai RW, padahal balai tersebut sangat bermanfaat untuk kegiatan warga.
  3. Memiliki lahan makam untuk warga RT.03. Di kota Malang yang semakin padat, tentu di masa depan akan semakin sulit mencari lahan untuk pemakaman warga. Maka impian untuk memiliki lahan makam cukup masuk akal.
  4. Senam pada hari minggu. Jika program ini terlaksana, mungkin akan menjadi program percontohan di Kota Malang. Setiap hari Minggu pagi seluruh warga di RT.03 semua melakukan senam bersama di jalan kampung. Wah…semakin guyub nih.


Semua itu adalah mimpi-mimpi warga yang kami bangun di jamaan Tahlilan. Selama 7 hari dalam seminggu, hanya kamis malam lah kami semua benar-benar melepaskan pekerjaan masing-masing dan berkumpul dalam jamaah yang guyub ini. Bukan kah ini salah satu tujuan kita bermasyarakat? Bagaimana dengan lingkungan rekan-rekan? ^_^

Salam Seduluran,


HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...