Senin, 17 Maret 2014

Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni



Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni

Selamat sore para pembaca yang Budiman,
Suatu ketika Ibu saya bercerita. Ada toko pakaian di Kota Dampit (Kab.Malang) yang lebih sering beliau kunjungi dari pada toko lain. Padahal harga di toko tersebut lebih mahal. Usut punya usut, ternyata Ibu pemilik toko tersebut ramah (grapyak). Misalnya sering menyapa Ibu saya : “Bagaimana kabarnya Bu, kok lama ndak kelihatan. Ini lho ada baju-baju baru dating. Dipilih saja nanti kalau sampai rumah kurang pas ya bisa ditukar”. Beberapa dari kita pernah mengalaminya kan?

Terkait materi briefing di kantor kami pada hari ini, berikut coba saya rangkumkan materinya. Materi ini sangat berkaitan dengan produk kami, yaitu www.JualSepatuSafety.com dan www.Lampionku.com .Yuk dilanjut…

Ada 2 kecenderungan penjual dalam mendekati pembeli :
a.      Hard Selling
b.      Soft Selling

HARD SELLING :
Penjual sangat ngoyo agar barang dan jasa laku sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Mereka akan mengisi pembicaraan dengan :
“Pak hari ini mumpung ada DISKON besar dan berakhir nanti jam 4 sore”
“Produk kami paling bagus Bu, kalau tidak segera diambil ya saya berikan ke pembeli lain”
Atau dengan follow up yang terlalu sering, misalnya mengirim email setiap menanyakan rencana pembelian produk atau mem-broadcast penawaran produk setiap hari. Teknik teknik hardselling  ini mungkin cocok untuk penjual produk retail yang mengejar volume penjualan dari banyaknya pembeli. Tetapi kami rasa kurang cocok untuk tipikal usaha kami, yang notabene mengandalkan penjualan per project dan pembelian grosir.

SOFT SELLING :
Prinsip dari soft selling yang kami praktekkan adalah “Kami tidak menjual, tetapi membiarkan pelanggan untuk MEMBELI”. Prinsip ini harus meresap ke alam bawah sadar Customer Service (CS) kami. Karena secara tidak sadar akan dimunculkan dalam pembicaraan dengan customer. Jika CS terlalu menggebu-gebu untuk menjual maka bisa timbul ketidaknyamanan pada mereka.

Secara detail prinsip tersebut sebagai berikut : 
Menciptakan suasana nyaman pada customer
Baik dalam komunikasi SMS, telepon, email dan juga bertemu langsung. Misalnya :
 “Tidak perlu kuatir Bu, kami akan menjawab pertanyaan Ibu tanpa wajib membeli kepada kami. Kami hanya ingin membantu”.
Follow up secara WAJAR
Kami menekankan untuk follow up (menghubungi kembali, menindaklanjuti) klien secara wajar. Misalnya 2-3 hari setelah penawaran kami berikan. Itu pun berisi pertanyaan sederhana : “Bagaimana rencana pemesanan Lampionnya Pak. Jika ada pertanyaan kami selalu siap membantu. Terima kasih”.
Menghubungi customer setiap hari hanya akan menimbulkan perasaan “diburu”. Customer tentu akan merasa ada yang salah. 
Konsultasi
Produk-produk kami dijual sesuai katalog, tetapi sering kali customer memesan produk sesuai kebutuhan mereka. Produk custom dan tidak ada di katalog. Nah tipikal produk seperti ini mengharuskankan CS untuk melakukan konsultasi. Sehingga harus berulang kali kirim email, SMS, dan telepon. Kami berusaha memberikan waktu lebih kepada customer untuk memikirkan beberapa alternatif solusi. Karena kami ingin pelanggan puas, membeli lagi lebih banyak dan mereverensikan usaha kami. Soft selling lebih jauh lagi untuk menjaga pelanggan lama dan mengundang pelanggan baru…dengan CARA yang LEMBUT.

Demikian sedikit sharing dari kami semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Salam SUKSES MULIA,


Hildan Fathoni
CP : 081 2525 4782

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...