Minggu, 02 Maret 2014

Sajian Kasih Sayang

Sajian Kasih Sayang

Selamat malam para pembaca yang Budiman...
Apakah kita pernah memperhatikan, ada putra putri tetangga kita yang lebih senang makan dan minum di rumah kita?. Padahal di rumahnya aneka makanan dan minuman berlimpah, bahkan secara ekonomi lebih baik dari keluarga kita. Kami pernah memperhatikan kejadian seperti itu selama beberapa tahun. Apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak tersebut?.


Bukan hanya karena lapar
Jika ada ungkapan “lauk paling nikmat adalah rasa lapar”, maka menurut kami “hidangan paling nikmat adalah kasih sayang”. Kami sempat mengamati beberapa orang tua menyajikan makanan kepada putra-putrinya dalam suasana yang hambar. Mari kita bayangkan datang ke sebuah restoran. Pelayan di sana langsung saja menyajikan sate kambing beserta nasi hangat dan minuman jeruk manis. Lalu mempersilahkan begitu saja kita menyantapnya, tanpa bertanya, tanpa ramah tamah dan tanpa tersenyum. Padahal sejak kita datang belum ada daftar menu yang diberikan kepada kita. Wajar kan kita merasa jengkel, merasa diabaikan dan merasa tidak dihargai. Nah...kurang lebih seperti itu lah perasaan anak-anak jika kita menyajikan makanan tanpa kasih sayang.


Bukan berarti hidangan harus bervariasi, mewah dan ditata secara menarik. Hidangan sederhana akan terasa nikmat jika dibumbui dengan senyuman ramah, ditaburi dengan percakapan ringan dan diseduh dengan candaan hangat. Hanya butuh beberapa menit untuk menciptakan suasana makan keluarga yang penuh aura kasih sayang. Sediakan sedikit energi untuk memulai topik pembicaraan, menyunggingkan senyum dan tatapan mata yang hangat.

Ketika kami belum berrumah tangga, keluarga kami terbiasa memasak bersama. Tugas kami sebagai anak terkadang hanya mencicipi tempe goreng, memetikkan daun jeruk atau memarut kelapa. Tetapi suasana di dapur selalu riuh dengan gelak tawa karena disela-sela mencicipi makanan, kami sempatkan untuk bersenda gurau. Acara makan bersama pun berlangsung penuh semangat. Ayah kami sampai berkeringat karena nikmatnya sambal buatan ibu. Kami semua sangat menikmati masakan-masakan sederhana khas desa tersebut. Nikmatnya sayur asem, tempe goreng, sambal trasi dan gereh klothok mengalahkan steak tenderloin khas restoran di kota.


Kenyang Lahir Batin
Saat ini kami sudah berumah tangga dan memiliki seorang putri. Hal ini berarti kami juga harus menciptakan suasana menyenangkan di ruang makan. Si kecil suka membantu kami di dapur, walau pun sekedar mencoba ikut menggoreng lauk atau menakar beras. Saya bersama istri juga lebih suka memasak bersama-sama, dari pada hanya salah satu diantara kami yang memasak. Hingga menyiapkan alat makan di tikar pun kami melibatkan si kecil (kami lebih suka makan lesehan di lantai). Kami berusaha saling memberi perhatian dan berkomunikasi setelah acara makan selesai. Memang waktu makan bisa berlangsung lebih lama, tetapi tentunya lebih nikmat.

Sejauh ini si kecil lebih senang makan bersama kami, dari pada makan dengan orang lain. Bagi setiap orang tua, tentu senang jika putra putrinya mengidolakan masakannya dan makan bersamanya dari pada orang lain. Belum terlambat bagi kita untuk memperbaiki hubungan dengan buah hati. Jika kita berhasil menghidangkan makanannya dengan kasih sayang. Bukan hanya badannya yang terisi nutrisi, tetapi juga hatinya. Kami menyebutnya sebagai anak yang “kenyang lahir batin”. Anda mau kan? ^_^

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.
Salam Keluarga Indonesia...



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...