Jumat, 14 Maret 2014

Evolusi Pemahaman Profesi

Evolusi Pemahaman Profesi

Selamat pagi para pembaca yang Budiman…
Saya mencoba mengingat ulang persepsi dan pemahaman saya tentang berbagai pekerjaan di sekitar. Keluarga saya memiliki latar belakang karier di bidang pendidikan yang sudah mengakar, sehingga sedikit banyak juga berimbas terhadap pengetahuan saya. Pada awal mendaftar sebagai mahasiswa D3 Manajemen Pemasaran pada 2002, cita-cita saya sangat sederhana. Mencari kerja sambil kuliah, menyelesaikan kuliah secepat mungkin dan kembali bekerja untuk mencapai karier tertinggi di suatu perusahaan.



Setelah saya berhasil diterima di jurusan tersebut, saya mulai mencari tahu pekerjaan apa yang cocok untuk mahasiswa tentunya yang part time. Alih-alih mencari pekerjaan tersebut, saya justru tertarik dengan model yang baru saya kenal yaitu bisnis MLM (Multy Level Marketing). Bisnisnya sangat unik, begitu perhatian terhadap perkembangan member dan memberikan kesempatan yang sama untuk meraih sukses financial.

Pada akhir 2002 ini terjadi pergeseran pandangan tentang karier. Sebelumnya saya ingin menjadi professional muda, kemudian beralih ingin menjadi distributor sukses di bisnis MLM (wirausahawan). Sejak saat itu saya lebih banyak bergaul dengan buku-buku kewirausahaan, seminar bisnis, group meeting dan workshop. Banyak fakta dan opini tentang kewirausahaan di Indonesia yang saya dapatkan. Salah satu yang popular “Penduduk Indonesia < 2% yang menjadi entrepreneur, sehingga minim lapangan kerja yang tercipta dan meningkatlah angka pengangguran”. Wajar jika kemudian saya berpikir jika semakin banyak pengusaha maka kehidupan masyarakat Indonesia pasti lebih sejahtera.

Dari titik ini saya semakin semangat berwirausaha, mengajak teman-teman kuliah untuk mempunyai bisnis dan sedikit menganggap remeh profesi yang tidak sejalan dengan ghiroh kewirausahaan. Teman-teman kuliah saya dahulu sampai menyebut saya Pak HILDAN, Pak HD, Pak High Desert (nama perusahaan MLM yang saya ikuti). Sebutan tersebut lahir karena penampilan, tindakan dan seluruh waktu saya kerahkan untuk mengajak berwirausaha. Baik secara personal maupun terang-terangan di dalam kelas perkuliahan.

Periode awal ini berlangsung mulai akhir 2002 hingga awal 2004, pada tahun 2004 saya non aktif dari kergiatan di MLM. Setelah itu saya menemukan dunia yang lebih menarik lagi, yaitu dunia organisasi kemahasiswaan. Namun tetap saja teman-teman memanggil saya Pak HD. Pokoknya melekat banget brand itu pada diri saya. Padahal dulu sewaktu aktif di MLM penampilan saya sangat parlente, tetapi sekarang hanya pakai kaos oblong dan celana jeans (khas penampilan anak organisasi).



Fase 1 : Perlawanan
Fase ini bisa disebut sebagai the next level dari fanatisme saya. Bukan fanatisme kepada perusahaan MLM, tetapi kepada semangat  entrepreneurship. Fase ini dimulai pada pertengahan 2008 hingga awal 2010.

Masa-masa ini bisa disebut sebagai masa alogika, masa hyper fanatic, masa galau atau sejenisnya. Saat itu saya sudah menikah dan belum memiliki pekerjaan tetap. Sebagai perwujudan dari semangat entrepreneurship saya berani mengambil resiko membuka usaha yang sama sekali belum dikuasai. Di awali dengan membuka BMT (Baitul Maal wat Tamwil) sejenis Koperasi SImpan Pinjam Syariah, yang pada akhirnya harus ditutup karena kurangnya pengetahuan, modal dan pendampingan. Lalu dilanjutkan dengan membuka usaha percetakan dan konveksi bersama rekan-rekan mahasiswa.

Pada tahun 2009 ini usaha saya lumayan menghasilkan. Percetakan dan konveksi kami mulai kebanjiran order dari mahasiswa di berbagai kampus negeri dan swasta di Kota Malang. Hingga ada sedikit kesombongan yang muncul. Pernah suatu hari ketika baru memiliki akun Facebook, secara terang-terangan saya menyatakan membenci suatu profesi. Saya anggap profesi tersebut membuang banyak anggaran daerah, mengkerdilkan impian para mahasiswa, inefisien, dan malas. Mungkin karena kesombongan tersebut usaha kami mendapat cobaan dan akhirnya ditutup dengan banyak kerugian.

Fase 2 : Toleransi
Masih beruntung pada awal 2010 kami dipertemukan dengan konsep bisnis online dan Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk mempelajarinya langsung kepada MASTER nya, yaitu Bapak Agus Piranhamas (www.PembicaraInternetMarketing.com). Kami merasa masih diberikan jalan untuk memperbaiki diri dan mendapatkan kembali harga diri sebagai pejuang kewirausahaan.

Pada fase ini saya berusaha lebih memahami keberagaman profesi dan tidak memandang rendah profesi sebagai professional. Disamping mulai mencari peluang kerja, saya juga mulai membangun sedikit demi sedikit perusahaan baru.

Periode ini saya banyak merenung dan belajar dari keluarga dan rekan-rekan. Pelajaran pertama saya peroleh dengan mengamati perjalanan hidup Ayahanda Bpk. BASHORI alm. Beliau guru di SDN JAMBANGAN 03 Kec.Dampit. Mulai usia muda beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Berbagai kumpulan pengajian dan kepengurusan di lembaga kemasyarakatan beliau ikuti. Saya mendapati beliau sangat bahagia setiap hari, hampir tidak pernah marah dan selalu tertawa lepas. Meskipun untuk mengurus berbagai perkumpulan tersebut beliau banyak menghabiskan biaya, energi dan waktu. Ibu sering bilang “Bapak itu ba’da maghrib selalu sibuk ke perkumpulan, mungkin hanya sehari ada waktu luang”. Entah itu perkumpulan yasinan, diba’aan, pengajian keluarga, rapat RW, rapat ta’mir masjid dan banyak kegiatan lain.

Untuk urusan karier beliau tidak terlalu ngoyo. Padahal Bapak sudah pernah direkomendasikan menjadi kepala sekolah, tetapi beliau tidak berkenan. Beliau lebih senang menjadi guru biasa dan menikmati mengajarkan mata pelajaran Agama Islam kepada siswa-siswi beliau. Begitu juga untuk urusan bisnis. Beliau memiliki beberapa lahan persawahan dan perkebunan, tetapi sepertinya kegiatan bertani lebih menyerupai HOBI dari pada bisnis yang sesungguhnya. “Dari pada diajak ke Mall, ya lebih enak pergi ke kebun tebu”, begitulah kata beliau. Untung urusan pitungan padi, lahan dan berbagai urusan jual beli, beliau delegasikan kepada Ibu kami. Karena Bapak tidak tegaan jika berdagang, tidak tega ambil untung dan tidak tega menawar harga. Hingga akhir hayat beliau, waktu sehari-harinya dihabiskan untuk ibadah di rumah, berkumpul di jamaah, mengajar di SD dan berkebun. Dan satu yang pasti…beliau sangat bahagia.

Pelajaran karier selanjutnya saya peroleh dari mengamati para profesional, pekerja mandiri dan akademisi di sekitar. Para dosen yang giat melakukan penelitian dan menghasilkan karya untuk masyarakat. Para seniman yang memperoleh pengakuan internasional yang karya seninya benar-benar menggugah penikmatnya. Para penulis buku yang melambungkan imajinasi dan semangat hidup pembacanya dan para pemerhati sosial yang tanpa lelah memberdayakan masyarakat miskin. Semua itu adalah profesi-profesi mulia yang dijalankan sepenuh hati sesuai passion pelakunya.

Kemudian saya mulai akrab dengan buku-buku parenting, pendidikan dan pengembangan diri. Ada hasil riset selama 30 tahun yang dilakukan oleh Howard Gardner yang menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki satu kelebihan yang akan membawanya menjadi top of the top jika terus diasah dan dikembangkan. Maka tidak heran jika begitu beragamnya profesi yang saya temui, karena memang masing-masing dari mereka memiliki bakat bawaan lahir dan minat yang berbeda-beda.

Pada titik ini saya mulai sadar bahwa jika kita sudah menemukan passion pada suatu bidang dan kita sangat mencintainya, maka urusannya bukan lagi uang karena uang hanya bonus. Jika passion kita adalah pada kegiatan sosial kemasyarakat dan kita tekuni hingga pada tingkat top of the top. Maka hidup kita bergairah dan kita akan memperoleh “hadiah” berupa kebahagiaan hidup, rasa syukur dan luasnya persaudaraan. Jika passion kita adalah dunia akademik dan kita sangat cintai, maka akan banyak terlahir terobosan-terobosan keilmuan yang kita hasilkan. Kelimpahan materi akan mengikuti seiring bertumbuhnya kualitas karya kita dan yang terpenting hidup kita bergelimang kebahagiaan. Begitu juga dengan passion sebagai entrepreneur dan juga banyak profesi lain.

Fase 3 : Kolaborasi
Ini lah fase yang akan saya alami dan sedang saya cita-citakan. Mari kita bayangkan setiap orang mencintai profesinya dan menghormati profesi saudara-saudaranya. Setiap orang begitu AHLI di bidangnya, sehingga jika kita menyebut nama Bapak HERI CAHYO sama dengan menyebut Spesialis Ghost Writer, Bu ALFI berarti Ahlinya Lampion, Pak ALIX WIJAYA berarti Pakarnya Produk Ibu dan Bayi, Pak SURONO berarti Pakar Bibit Unggul, Ayah EDY berarti Pakar Parenting, Pak SYAIFOEL HARDY berarti Pakar Pendidikan Profesi Perawat dan setiap diri kita benar-benar identik dengan sebuah profesi. Wow…saya membayangkan sebuah negara besar yang sejahtera dan bahagia.

Kemudian setiap profesi tersebut saling berkolaborasi. Misalnya Bu ALFI ingin membangun sekolah alam, maka akan menghubungi AYAH EDY. Untuk membuat website beserta media iklannya membutuhkan jasa penulis, maka akan menghubungi Bapak HERI CAHYO dan jika membutuhkan ahli-ahli lain semua sudah tersedia. Semua profesi berkolaborasi untuk saling mendukung untuk mewujudkan mimpi-mimpi para ahli lain.

Tentu kita senang menjalin relasi dengan para pakar yang pemahamannya sangat mendalam. Bukan hanya seseorang yang keahlian dan pengetahuannya rata-rata. Bisa menjawab semua pertanyaan tetapi tidak ahli di bidang mana pun. Fase ini lah yang bagi saya menjadi kesadaran tertinggi bagi pemahaman profesi saya pribadi. Persaingan seketat apa pun akan mampun kita menangkan, karena kita punya satu bidang yang benar-benar kita kuasai di atas pengusaan orang-orang pada umumnya. Ditambah lagi terjadi kolaborasi harmonis dengan para ahli di bidang lain. Saya bisa membayangkan sebesar apa bangsa Indonesia kelak. Anda juga kan?

Salam Indonesia Raya,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Reaksi:

4 komentar:

  1. Pekerjaan apapun yg penting nyaman dan berkah..
    Dan semua pekerjaan saling mendukung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Pak ALE. Pada akhirnya semua saling berhubungan dan berkolaborasi ^_^

      Hapus
  2. ojo lali karo kancamu sing elek iki dab...

    BalasHapus
  3. Bro Rendy : Wong elek kuwi angel iling2ane. Soal e jumlah e uwakeh :D...kapan ki Nang Ngalam Dab?

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...