This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 17 Maret 2014

Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni



Tips Soft Selling Untuk GROSIRAN dan B2B ala Hildan Fathoni

Selamat sore para pembaca yang Budiman,
Suatu ketika Ibu saya bercerita. Ada toko pakaian di Kota Dampit (Kab.Malang) yang lebih sering beliau kunjungi dari pada toko lain. Padahal harga di toko tersebut lebih mahal. Usut punya usut, ternyata Ibu pemilik toko tersebut ramah (grapyak). Misalnya sering menyapa Ibu saya : “Bagaimana kabarnya Bu, kok lama ndak kelihatan. Ini lho ada baju-baju baru dating. Dipilih saja nanti kalau sampai rumah kurang pas ya bisa ditukar”. Beberapa dari kita pernah mengalaminya kan?

Terkait materi briefing di kantor kami pada hari ini, berikut coba saya rangkumkan materinya. Materi ini sangat berkaitan dengan produk kami, yaitu www.JualSepatuSafety.com dan www.Lampionku.com .Yuk dilanjut…

Ada 2 kecenderungan penjual dalam mendekati pembeli :
a.      Hard Selling
b.      Soft Selling

HARD SELLING :
Penjual sangat ngoyo agar barang dan jasa laku sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Mereka akan mengisi pembicaraan dengan :
“Pak hari ini mumpung ada DISKON besar dan berakhir nanti jam 4 sore”
“Produk kami paling bagus Bu, kalau tidak segera diambil ya saya berikan ke pembeli lain”
Atau dengan follow up yang terlalu sering, misalnya mengirim email setiap menanyakan rencana pembelian produk atau mem-broadcast penawaran produk setiap hari. Teknik teknik hardselling  ini mungkin cocok untuk penjual produk retail yang mengejar volume penjualan dari banyaknya pembeli. Tetapi kami rasa kurang cocok untuk tipikal usaha kami, yang notabene mengandalkan penjualan per project dan pembelian grosir.

SOFT SELLING :
Prinsip dari soft selling yang kami praktekkan adalah “Kami tidak menjual, tetapi membiarkan pelanggan untuk MEMBELI”. Prinsip ini harus meresap ke alam bawah sadar Customer Service (CS) kami. Karena secara tidak sadar akan dimunculkan dalam pembicaraan dengan customer. Jika CS terlalu menggebu-gebu untuk menjual maka bisa timbul ketidaknyamanan pada mereka.

Secara detail prinsip tersebut sebagai berikut : 
Menciptakan suasana nyaman pada customer
Baik dalam komunikasi SMS, telepon, email dan juga bertemu langsung. Misalnya :
 “Tidak perlu kuatir Bu, kami akan menjawab pertanyaan Ibu tanpa wajib membeli kepada kami. Kami hanya ingin membantu”.
Follow up secara WAJAR
Kami menekankan untuk follow up (menghubungi kembali, menindaklanjuti) klien secara wajar. Misalnya 2-3 hari setelah penawaran kami berikan. Itu pun berisi pertanyaan sederhana : “Bagaimana rencana pemesanan Lampionnya Pak. Jika ada pertanyaan kami selalu siap membantu. Terima kasih”.
Menghubungi customer setiap hari hanya akan menimbulkan perasaan “diburu”. Customer tentu akan merasa ada yang salah. 
Konsultasi
Produk-produk kami dijual sesuai katalog, tetapi sering kali customer memesan produk sesuai kebutuhan mereka. Produk custom dan tidak ada di katalog. Nah tipikal produk seperti ini mengharuskankan CS untuk melakukan konsultasi. Sehingga harus berulang kali kirim email, SMS, dan telepon. Kami berusaha memberikan waktu lebih kepada customer untuk memikirkan beberapa alternatif solusi. Karena kami ingin pelanggan puas, membeli lagi lebih banyak dan mereverensikan usaha kami. Soft selling lebih jauh lagi untuk menjaga pelanggan lama dan mengundang pelanggan baru…dengan CARA yang LEMBUT.

Demikian sedikit sharing dari kami semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Salam SUKSES MULIA,


Hildan Fathoni
CP : 081 2525 4782

Jumat, 14 Maret 2014

Evolusi Pemahaman Profesi

Evolusi Pemahaman Profesi

Selamat pagi para pembaca yang Budiman…
Saya mencoba mengingat ulang persepsi dan pemahaman saya tentang berbagai pekerjaan di sekitar. Keluarga saya memiliki latar belakang karier di bidang pendidikan yang sudah mengakar, sehingga sedikit banyak juga berimbas terhadap pengetahuan saya. Pada awal mendaftar sebagai mahasiswa D3 Manajemen Pemasaran pada 2002, cita-cita saya sangat sederhana. Mencari kerja sambil kuliah, menyelesaikan kuliah secepat mungkin dan kembali bekerja untuk mencapai karier tertinggi di suatu perusahaan.



Setelah saya berhasil diterima di jurusan tersebut, saya mulai mencari tahu pekerjaan apa yang cocok untuk mahasiswa tentunya yang part time. Alih-alih mencari pekerjaan tersebut, saya justru tertarik dengan model yang baru saya kenal yaitu bisnis MLM (Multy Level Marketing). Bisnisnya sangat unik, begitu perhatian terhadap perkembangan member dan memberikan kesempatan yang sama untuk meraih sukses financial.

Pada akhir 2002 ini terjadi pergeseran pandangan tentang karier. Sebelumnya saya ingin menjadi professional muda, kemudian beralih ingin menjadi distributor sukses di bisnis MLM (wirausahawan). Sejak saat itu saya lebih banyak bergaul dengan buku-buku kewirausahaan, seminar bisnis, group meeting dan workshop. Banyak fakta dan opini tentang kewirausahaan di Indonesia yang saya dapatkan. Salah satu yang popular “Penduduk Indonesia < 2% yang menjadi entrepreneur, sehingga minim lapangan kerja yang tercipta dan meningkatlah angka pengangguran”. Wajar jika kemudian saya berpikir jika semakin banyak pengusaha maka kehidupan masyarakat Indonesia pasti lebih sejahtera.

Dari titik ini saya semakin semangat berwirausaha, mengajak teman-teman kuliah untuk mempunyai bisnis dan sedikit menganggap remeh profesi yang tidak sejalan dengan ghiroh kewirausahaan. Teman-teman kuliah saya dahulu sampai menyebut saya Pak HILDAN, Pak HD, Pak High Desert (nama perusahaan MLM yang saya ikuti). Sebutan tersebut lahir karena penampilan, tindakan dan seluruh waktu saya kerahkan untuk mengajak berwirausaha. Baik secara personal maupun terang-terangan di dalam kelas perkuliahan.

Periode awal ini berlangsung mulai akhir 2002 hingga awal 2004, pada tahun 2004 saya non aktif dari kergiatan di MLM. Setelah itu saya menemukan dunia yang lebih menarik lagi, yaitu dunia organisasi kemahasiswaan. Namun tetap saja teman-teman memanggil saya Pak HD. Pokoknya melekat banget brand itu pada diri saya. Padahal dulu sewaktu aktif di MLM penampilan saya sangat parlente, tetapi sekarang hanya pakai kaos oblong dan celana jeans (khas penampilan anak organisasi).



Fase 1 : Perlawanan
Fase ini bisa disebut sebagai the next level dari fanatisme saya. Bukan fanatisme kepada perusahaan MLM, tetapi kepada semangat  entrepreneurship. Fase ini dimulai pada pertengahan 2008 hingga awal 2010.

Masa-masa ini bisa disebut sebagai masa alogika, masa hyper fanatic, masa galau atau sejenisnya. Saat itu saya sudah menikah dan belum memiliki pekerjaan tetap. Sebagai perwujudan dari semangat entrepreneurship saya berani mengambil resiko membuka usaha yang sama sekali belum dikuasai. Di awali dengan membuka BMT (Baitul Maal wat Tamwil) sejenis Koperasi SImpan Pinjam Syariah, yang pada akhirnya harus ditutup karena kurangnya pengetahuan, modal dan pendampingan. Lalu dilanjutkan dengan membuka usaha percetakan dan konveksi bersama rekan-rekan mahasiswa.

Pada tahun 2009 ini usaha saya lumayan menghasilkan. Percetakan dan konveksi kami mulai kebanjiran order dari mahasiswa di berbagai kampus negeri dan swasta di Kota Malang. Hingga ada sedikit kesombongan yang muncul. Pernah suatu hari ketika baru memiliki akun Facebook, secara terang-terangan saya menyatakan membenci suatu profesi. Saya anggap profesi tersebut membuang banyak anggaran daerah, mengkerdilkan impian para mahasiswa, inefisien, dan malas. Mungkin karena kesombongan tersebut usaha kami mendapat cobaan dan akhirnya ditutup dengan banyak kerugian.

Fase 2 : Toleransi
Masih beruntung pada awal 2010 kami dipertemukan dengan konsep bisnis online dan Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk mempelajarinya langsung kepada MASTER nya, yaitu Bapak Agus Piranhamas (www.PembicaraInternetMarketing.com). Kami merasa masih diberikan jalan untuk memperbaiki diri dan mendapatkan kembali harga diri sebagai pejuang kewirausahaan.

Pada fase ini saya berusaha lebih memahami keberagaman profesi dan tidak memandang rendah profesi sebagai professional. Disamping mulai mencari peluang kerja, saya juga mulai membangun sedikit demi sedikit perusahaan baru.

Periode ini saya banyak merenung dan belajar dari keluarga dan rekan-rekan. Pelajaran pertama saya peroleh dengan mengamati perjalanan hidup Ayahanda Bpk. BASHORI alm. Beliau guru di SDN JAMBANGAN 03 Kec.Dampit. Mulai usia muda beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Berbagai kumpulan pengajian dan kepengurusan di lembaga kemasyarakatan beliau ikuti. Saya mendapati beliau sangat bahagia setiap hari, hampir tidak pernah marah dan selalu tertawa lepas. Meskipun untuk mengurus berbagai perkumpulan tersebut beliau banyak menghabiskan biaya, energi dan waktu. Ibu sering bilang “Bapak itu ba’da maghrib selalu sibuk ke perkumpulan, mungkin hanya sehari ada waktu luang”. Entah itu perkumpulan yasinan, diba’aan, pengajian keluarga, rapat RW, rapat ta’mir masjid dan banyak kegiatan lain.

Untuk urusan karier beliau tidak terlalu ngoyo. Padahal Bapak sudah pernah direkomendasikan menjadi kepala sekolah, tetapi beliau tidak berkenan. Beliau lebih senang menjadi guru biasa dan menikmati mengajarkan mata pelajaran Agama Islam kepada siswa-siswi beliau. Begitu juga untuk urusan bisnis. Beliau memiliki beberapa lahan persawahan dan perkebunan, tetapi sepertinya kegiatan bertani lebih menyerupai HOBI dari pada bisnis yang sesungguhnya. “Dari pada diajak ke Mall, ya lebih enak pergi ke kebun tebu”, begitulah kata beliau. Untung urusan pitungan padi, lahan dan berbagai urusan jual beli, beliau delegasikan kepada Ibu kami. Karena Bapak tidak tegaan jika berdagang, tidak tega ambil untung dan tidak tega menawar harga. Hingga akhir hayat beliau, waktu sehari-harinya dihabiskan untuk ibadah di rumah, berkumpul di jamaah, mengajar di SD dan berkebun. Dan satu yang pasti…beliau sangat bahagia.

Pelajaran karier selanjutnya saya peroleh dari mengamati para profesional, pekerja mandiri dan akademisi di sekitar. Para dosen yang giat melakukan penelitian dan menghasilkan karya untuk masyarakat. Para seniman yang memperoleh pengakuan internasional yang karya seninya benar-benar menggugah penikmatnya. Para penulis buku yang melambungkan imajinasi dan semangat hidup pembacanya dan para pemerhati sosial yang tanpa lelah memberdayakan masyarakat miskin. Semua itu adalah profesi-profesi mulia yang dijalankan sepenuh hati sesuai passion pelakunya.

Kemudian saya mulai akrab dengan buku-buku parenting, pendidikan dan pengembangan diri. Ada hasil riset selama 30 tahun yang dilakukan oleh Howard Gardner yang menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki satu kelebihan yang akan membawanya menjadi top of the top jika terus diasah dan dikembangkan. Maka tidak heran jika begitu beragamnya profesi yang saya temui, karena memang masing-masing dari mereka memiliki bakat bawaan lahir dan minat yang berbeda-beda.

Pada titik ini saya mulai sadar bahwa jika kita sudah menemukan passion pada suatu bidang dan kita sangat mencintainya, maka urusannya bukan lagi uang karena uang hanya bonus. Jika passion kita adalah pada kegiatan sosial kemasyarakat dan kita tekuni hingga pada tingkat top of the top. Maka hidup kita bergairah dan kita akan memperoleh “hadiah” berupa kebahagiaan hidup, rasa syukur dan luasnya persaudaraan. Jika passion kita adalah dunia akademik dan kita sangat cintai, maka akan banyak terlahir terobosan-terobosan keilmuan yang kita hasilkan. Kelimpahan materi akan mengikuti seiring bertumbuhnya kualitas karya kita dan yang terpenting hidup kita bergelimang kebahagiaan. Begitu juga dengan passion sebagai entrepreneur dan juga banyak profesi lain.

Fase 3 : Kolaborasi
Ini lah fase yang akan saya alami dan sedang saya cita-citakan. Mari kita bayangkan setiap orang mencintai profesinya dan menghormati profesi saudara-saudaranya. Setiap orang begitu AHLI di bidangnya, sehingga jika kita menyebut nama Bapak HERI CAHYO sama dengan menyebut Spesialis Ghost Writer, Bu ALFI berarti Ahlinya Lampion, Pak ALIX WIJAYA berarti Pakarnya Produk Ibu dan Bayi, Pak SURONO berarti Pakar Bibit Unggul, Ayah EDY berarti Pakar Parenting, Pak SYAIFOEL HARDY berarti Pakar Pendidikan Profesi Perawat dan setiap diri kita benar-benar identik dengan sebuah profesi. Wow…saya membayangkan sebuah negara besar yang sejahtera dan bahagia.

Kemudian setiap profesi tersebut saling berkolaborasi. Misalnya Bu ALFI ingin membangun sekolah alam, maka akan menghubungi AYAH EDY. Untuk membuat website beserta media iklannya membutuhkan jasa penulis, maka akan menghubungi Bapak HERI CAHYO dan jika membutuhkan ahli-ahli lain semua sudah tersedia. Semua profesi berkolaborasi untuk saling mendukung untuk mewujudkan mimpi-mimpi para ahli lain.

Tentu kita senang menjalin relasi dengan para pakar yang pemahamannya sangat mendalam. Bukan hanya seseorang yang keahlian dan pengetahuannya rata-rata. Bisa menjawab semua pertanyaan tetapi tidak ahli di bidang mana pun. Fase ini lah yang bagi saya menjadi kesadaran tertinggi bagi pemahaman profesi saya pribadi. Persaingan seketat apa pun akan mampun kita menangkan, karena kita punya satu bidang yang benar-benar kita kuasai di atas pengusaan orang-orang pada umumnya. Ditambah lagi terjadi kolaborasi harmonis dengan para ahli di bidang lain. Saya bisa membayangkan sebesar apa bangsa Indonesia kelak. Anda juga kan?

Salam Indonesia Raya,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Rabu, 12 Maret 2014

Review Webinar Sesi 1 : “Pengantar Homeschooling (HS) Anak Usia Dini”

Review Webinar Sesi 1 : “Pengantar Homeschooling (HS) Anak Usia Dini”

Selamat malam para pembaca yang Budiman…
Malam ini kami mengikuti webinar sesi 1 yang bertemakan “Pengantar Homeschooling Anak Usia Dini”, acara ini diprakarsai oleh www.RumahInspirasi.com. Banyak sekali pengetahuan yang kami peroleh. Terutama mengenai kekhawatiran kami : “Apakah anak homeschooling akan kesulitan dalam bersosialisasi?”. Jawaban yang kami dapat dari sesi ini sebagai berikut.


Sosialisasi Anak Usia Dini
Anak-anak usia dini kebutuhan sosialisasi utamanya adalah dengan kedua orang tua. Hal ini dikarenakan pada masa ini ada penanaman nilai-nilai dasar kehidupan, sehingga pihak yang paling berwenang mengajarkannya adalah kedua orang tua. Kedekatan emosional paling mendasar juga harus diberikan oleh orang tua. Maka porsi sosialisasi dengan kedua orang tua idealnya lebih banyak, dari pada dengan teman sebaya dan lingkungan di luar keluarga. Tidak salah jika nantinya anak-anak usia dini yang ikut homeschooling akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama orang tua, baik di dalam rumah mau pun di luar rumah.

Sosialisasi dengan lingkungan luar sebatas untuk bersenang-senang, bukan dijadikan sebagai sarana dalam menanamkan nilai. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa rumah adalah tempat belajar terbaik dan ibu adalah guru pertama.

Berproses, Bukan Berkompetisi
Kami juga mulai memahami bahwa dalam homeschooling seluruh prosesnya harus berorientasi pada RASA BAHAGIA dan ALAMIAH. Pembelajaran dilakukan setiap hari dalam kegiatan apa pun. Ketika mandi pagi, memasak, sarapan dan bercengkrama. Orang tua tidak perlu dipusingkan dengan kurikulum apa yang harus diberikan. Orientasi HS pada usia ini adalah membangun kedekatan emosional. Sehingga ukuran kesuksesannya adalah anak bahagia, orang tua bahagia. Begitu mudah dan simple bukan?. Ketika anak menyukai belajar PIANO, maka tujuannya adalah untuk bersenang-senang. Bukan bertujuan agar anak kelak berprofesi menjadi PIANIS HANDAL. Ketika anak belajar menggambar, maka hasil akhir yang dituju adalah anak bergembira. Bukan supaya dia menjadi PELUKIS TERKENAL.

Kita sebagai orang tua jangan terpancing untuk membandingkan dan berkompetisi dengan orang tua lain. Ketika orang tua lain membanggakan balitanya sudah bisa CALSTUNG, maka kita harus focus pada tujuan : “Anak ku harus bahagia dan dekat dengan ayah bundanya”. Ya…itu saja, hindari berkompetisi karena akan memaksa anak mengikuti ego orang tua. Anak akan dipaksa untuk menjadi yang terpandai, terbaik, nomor 1 dan paling membanggakan, padahal bukan demikian tujuan pendidikan anak usia dini.

Dalam hal bertata bahasa, anak-anak usia dini lebih disarankan untuk mempelajari bahasa yang digunakan sehari-hari. Jika di rumah menggunakan bahasa Jawa, maka lebih baik anak juga mempelajari bahasa Jawa dalam percakapannya. Mengajarkan bahasa non sehari-hari bisa ditunda jika usia anak sudah lebih dewasa, karena bahasa tersebut membuat anak tidak memiliki partner bicara aktif di lingkungannya.
Demikian sedikit review tentang sesi 1 webinar malam ini. Ingat…tujuan UTAMA-nya adalah “Anak Bahagia, Orang Tua Bahagia”. Cukup itu saja, tidak kurang tidak lebih. Semoga review sederhana ini bermanfaat.

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Minggu, 02 Maret 2014

Sajian Kasih Sayang

Sajian Kasih Sayang

Selamat malam para pembaca yang Budiman...
Apakah kita pernah memperhatikan, ada putra putri tetangga kita yang lebih senang makan dan minum di rumah kita?. Padahal di rumahnya aneka makanan dan minuman berlimpah, bahkan secara ekonomi lebih baik dari keluarga kita. Kami pernah memperhatikan kejadian seperti itu selama beberapa tahun. Apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak tersebut?.


Bukan hanya karena lapar
Jika ada ungkapan “lauk paling nikmat adalah rasa lapar”, maka menurut kami “hidangan paling nikmat adalah kasih sayang”. Kami sempat mengamati beberapa orang tua menyajikan makanan kepada putra-putrinya dalam suasana yang hambar. Mari kita bayangkan datang ke sebuah restoran. Pelayan di sana langsung saja menyajikan sate kambing beserta nasi hangat dan minuman jeruk manis. Lalu mempersilahkan begitu saja kita menyantapnya, tanpa bertanya, tanpa ramah tamah dan tanpa tersenyum. Padahal sejak kita datang belum ada daftar menu yang diberikan kepada kita. Wajar kan kita merasa jengkel, merasa diabaikan dan merasa tidak dihargai. Nah...kurang lebih seperti itu lah perasaan anak-anak jika kita menyajikan makanan tanpa kasih sayang.


Bukan berarti hidangan harus bervariasi, mewah dan ditata secara menarik. Hidangan sederhana akan terasa nikmat jika dibumbui dengan senyuman ramah, ditaburi dengan percakapan ringan dan diseduh dengan candaan hangat. Hanya butuh beberapa menit untuk menciptakan suasana makan keluarga yang penuh aura kasih sayang. Sediakan sedikit energi untuk memulai topik pembicaraan, menyunggingkan senyum dan tatapan mata yang hangat.

Ketika kami belum berrumah tangga, keluarga kami terbiasa memasak bersama. Tugas kami sebagai anak terkadang hanya mencicipi tempe goreng, memetikkan daun jeruk atau memarut kelapa. Tetapi suasana di dapur selalu riuh dengan gelak tawa karena disela-sela mencicipi makanan, kami sempatkan untuk bersenda gurau. Acara makan bersama pun berlangsung penuh semangat. Ayah kami sampai berkeringat karena nikmatnya sambal buatan ibu. Kami semua sangat menikmati masakan-masakan sederhana khas desa tersebut. Nikmatnya sayur asem, tempe goreng, sambal trasi dan gereh klothok mengalahkan steak tenderloin khas restoran di kota.


Kenyang Lahir Batin
Saat ini kami sudah berumah tangga dan memiliki seorang putri. Hal ini berarti kami juga harus menciptakan suasana menyenangkan di ruang makan. Si kecil suka membantu kami di dapur, walau pun sekedar mencoba ikut menggoreng lauk atau menakar beras. Saya bersama istri juga lebih suka memasak bersama-sama, dari pada hanya salah satu diantara kami yang memasak. Hingga menyiapkan alat makan di tikar pun kami melibatkan si kecil (kami lebih suka makan lesehan di lantai). Kami berusaha saling memberi perhatian dan berkomunikasi setelah acara makan selesai. Memang waktu makan bisa berlangsung lebih lama, tetapi tentunya lebih nikmat.

Sejauh ini si kecil lebih senang makan bersama kami, dari pada makan dengan orang lain. Bagi setiap orang tua, tentu senang jika putra putrinya mengidolakan masakannya dan makan bersamanya dari pada orang lain. Belum terlambat bagi kita untuk memperbaiki hubungan dengan buah hati. Jika kita berhasil menghidangkan makanannya dengan kasih sayang. Bukan hanya badannya yang terisi nutrisi, tetapi juga hatinya. Kami menyebutnya sebagai anak yang “kenyang lahir batin”. Anda mau kan? ^_^

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.
Salam Keluarga Indonesia...



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...