Selasa, 18 Februari 2014

Anak Bahagia, Orang Tua Bahagia

Anak Bahagia, Orang Tua Bahagia

Selamat malam para Pembaca yang Budiman...
Jika harus memilih, mana kah yang kita pilih di antara “anak yang bahagia” atau “orang tua yang bahagia”. Jika kami yang ditanya maka “anak dan orang tua yang bahagia” adalah pilihan mutlaknya. Ya karena hal tersebut baik baik semua dan selalu ada cara untuk menggapainya.



Merubah Mindset
Kembali ke cerita klasik sewaktu saya masih SMA. Kelas 2 SMA merupakan masa penjurusan. Sebagian besar teman-teman saya mengingankan masuk jurusan IPA. Disamping pilihan tersebut bergengsi (kumpulan anak-anak pintar) juga karena keinginan orang tua yang sangat dominan. Kebanyakan orang tua pada masa itu merasa masa depan putra-putrinya lebih terjamin jika masuk di jurusan IPA. Sehingga bisa kuliah di jurusan favorit dan bisa bekerja dengan karier bergaji tinggi di perusahaan besar.

Seingat  saya, saya adalah satu-satunya siswa di kelas yang langsung mengambil jurusan IPS. Saya sadar diri karena kemampuan eksakta saya di bawah rata-rata. Tentu saja keputusan tersebut sedikit mengecewakan orang tua, terutama karena Ibu saya guru matematika. Secara tersirat beliau menginginkan saya menekuni jalur eksakta seperti keahlian beliau. Tetapi apakah beliau memaksakan kehendaknya? Tentu saja tidak. Alasannya adalah beliau pernah mendapat nasehat dari mendiang kakek : “Setiap anak memiliki keunggulan tersendiri, jangan di sama ratakan dengan keunggulan orang tua”.

Tidak hanya sampai di situ. Keputusan saya menjadi pedagang juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orang tua. Pedagang adalah profesi yang pendapatannya fluktuatif. Akan tetapi beliau tetap mendukung pilihan karier saya hingga sekarang. Pilihan karier ini juga sebagai pembuktian bahwa keputusan beliau untuk mendukung saya tidak lah salah. Setidaknya profesi sebagai pedagang membuat kami sekeluarga bisa hidup mandiri dan memiliki waktu yang berkualitas untuk mendidik si kecil. Belajar dari pengalaman pribadi tersebut, saya berusaha juga memahami proses belajar putri kecil kami.

Bijak dalam Memilih
Beberapa waktu terakhir ada keputusan baik yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan, yaitu mengembalikan fungsi Lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sebagai mana mestinya. Salah satu langkah praktisnya meniadakan kewajiban pelajaran CALISTUNG (Membaca Menulis dan Berhitung) bagi para siswa. Hal ini juga didukung oleh sebuah penelitian yang menyebutkan jika balita dipaksa belajar Calistung maka berpeluang mengalami tekanan psikoligis. Dampaknya adalah anak bisa jadi pemberontak.

Keputusan baik ini tidak serta merta kami terapkan. Mengingat si kecil NAZILA sangat antusias belajar membaca dan menulis. Sebagai orang tua baru kami giat mengamati dan mempelajari keunikan-keunikan pada si kecil. Setiap kegiatan kami usahakan membawa kegembiraan, termasuk dalam hal membaca dan menulis.

Sore tadi si kecil secara mandiri belajar menulis. Dia menulis ulang banner yang terpasang di dinding rumah : “SUPPLIER SEPATU SAFETY”. Kami memberikan pujian atas prestasinya tersebut. Bagi kami selama kegiatan yang dilakukannya menyenangkan mengapa harus dilarang. Kadang kala memang perlu diberikan batasan dalam belajar. Misalnya ketika dia memaksa diajari penyebutan bilangan dua angka : 21, 22, 23 dan seterusnya. Jika dirasa akan membebani daya pikirnya, maka segera kami alihkan ke pembelajaran yang lebih ringan.

Selalu Bahagia
Mengelola EGO sebagai orang tua butuh dilatih terus menerus. Beberapa waktu yang lalu istri saya bercerita. Dia menyaksikan ada orang tua menampar anaknya yang masih usia TK, hanya karena si anak tidak menjawab salam dari teman-teman sekolahnya. Wow...coba kita rasakan, sebenarnya tindakan tersebut demi pembelajaran bagi anak atau demi mengobati rasa malu orang tua?. Padahal ada tindakan lain yang bisa dilakukan supaya anak mendapat pelajaran dan orang tua mendapat kebanggaan. Misalnya dengan mengarahkan : “Ayo adik dijawab salam dari temannya. Kan adik sudah pinter”.

Alangkah bahagia jika setiap pembelajaran yang diberikan kepada anak memiliki tujuan untuk membahagiakannya. Coba kita tanyakan :
“Apa dedek seneng jadi putrinya ayah bunda?”
“Kakak tadi senang belajar berbaris di sekolah?”
“Wah sudah jilid 1 pinternya putra Bunda, seneng kan ikut mengaji di mushola?”
“NAZILA seneng masak bareng Ayah?”

Orientasi untuk SELALU BAHAGIA memberikan pemahaman baru tentang makna mendidik anak. Proses pendidikan akan mengarah pada penumbuhan semangat, bukan pada perbandingan prestasi. Setiap proses akan dipahami sebagai penguatan potensi unik, bukan langkah terburu-buru mencetak anak unggul secara instan. Kursus-kursus diberikan untuk mendukung bakat dan minat anak, bukan hanya untuk memenuhi syarat kenaikan kelas. Karena semua usaha akan diarahkan untuk mencapai kebahagiaan, maka setiap jengkalnya akan berisi senyuman. Yakinlah...bahwa WIN-WIN SOLUTION itu ada. Yakinlah...bahwa orang tua dan anak bisa sama-sama bahagia.

Demikian tulisan singkat dari kami. Semoga coretan sederhana ini bermanfaat.
Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Reaksi:

1 komentar:

  1. kalo saya sejak SMP sadar bahwa kebebalan saya di bidang matematika di atas rata-rata :D

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...