Selasa, 21 Januari 2014

Tips BALITA Berani Tidur Sendiri

Assalamu alaikum para pembaca yang Budiman...
Kemandirian adalah dambaan setiap orang tua terhadap putra putrinya. Karena dengan hal tersebut merupakan awal terbinanya generasi yang kuat dan berdaya guna. Akan tetapi sering kali kita bertanya, mulai usia berapa mereka harus dilatih mandiri dan bagaimana melatihnya?. Berikut kami bagikan pengalaman kami dalam melatih kemandirian putri kami NAZILA, khusus dalam hal keberanian tidur di kamar yang terpisah dari kami.

ANAK-ANAK PEMBERANI
Kami percaya setiap anak dilahirkan sebagai pemberani. Orang tua dan lingkungan lah yang mengenalkan rasa takut. Oleh karena itu sejak si kecil usia 2 tahun kami mencoba melatihnya untuk tidur terpisah dari kami. Awalnya muncul keraguan, apakah anak usia 2 tahun sudah berani tidur sendiri di malam hari? Apakah tidak akan membahayakan?. Bahkan keluarga kami berkomentar, “Kok tega usia segitu sudah tidur terpisah?”. Apalagi balita cenderung banyak tingkah ketika tidur dan bisa melihat makhluk-makhluk gaib, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan trauma.

Kami tidak akan pernah tahu hasilnya jika kami tidak mencoba....dan akhirnya kami coba. Tentu saja banyak kendala pada masa-masa awalnya. Misalnya si kecil terjatuh dari kasur dan terbangun sambil menangis di tengah malam. Kami pun mulai mencari solusi. Jika kami tidak berani mana mungkin si kecil akan menjadi PEMBERANI.

MODIFIKASI TEMPAT TIDUR
Setelah kami mengamati kondisi kamarnya dan pola tidurnya, kami pun mulai memodifikasi ruangan kamarnya :

  1. Tempat tidur diusahakan 2 sisinya menempel ke dinding, yaitu sisi kepala dan sisi kanan ranjang. Jika ranjang putra putri Anda sudah ada 3 sisi yang menempel dinding maka perlindungan akan lebih optimal. Hal ini sebagai tahap pengamanan pertama untuk mencegah dia terjatuh.
  2. Sekarang masih tersisa 1 atau 2 sisi untuk di lindungi. Kami menata bantal guling dan bantal biasa di sisi terbuka ini, sehingga ketika dia berguling-guling maka akan tertahan tumpukan bantal tersebut.
  3. Selanjutnya perlindungan dengan selimut tebal dan lebar. Disamping untuk melindunginya dari rasa dingin, selimut akan membatasi rung geraknya dengan lebih lembut dan nyaman.
  4. Pengamanan lapis ke-2 pada lantai. Kami meletakkan kasur lebar pada lantai. Misalkan semua perlindungan tadi masih tertembus, maka dia akan tetap aman karena jatuh pada kasur yang empuk.
  5. Pengamanan lapis ke-3 dengan meletakkan bantal kecil dan boneka di sekeliling si kecil. Manfaatnya untuk meredam benturan ketika dia menendang tembok.

Setelah 3 lapis pengamanan tersebut tertata rapi, kami pun mulai mempelajari pola tidurnya. Nah...poin ini membutuhkan KOMITMEN kita sebagai oang tua.

ORANG TUA SIAGA
Meski pun semua pengaman telah kita siapka, tetap saja ada proses yang harus dilalui. Dalam perjalanan latihan ini selalu saja ada kejadian tidak terduga. Misalnya si kecil bangun di tengah malam dan membangunkan kita untuk menemaninya  bermain. Bahkan si kecil pernah bangun kemudian minta ditemani menonton TV di tengah malam. Dalam proses ini kami melakukan beberapa hal, misalnya :

  1. Balita membutuhkan rasa AMAN. Maka pintu dan korden kamarnya kami biarkan terbuka, sehingga cahaya lampu dari ruang tengah masih bisa masuk ke kamarnya. Dalam kondisi tertentu lampu kamar si kecil tetap kami nyalakan sepanjang malam.
  2. Kami selalu siaga sekali pun dalam keadaan tertidur. Jika sewaktu-waktu  terdengar suara si kecil, maka salah satu dari kami langsung menghampirinya. Hal ini memberikan penegasan bahwa kita aelalu ada untuknya dan selalu siap menenangkannya. Jangan sekali-kali membiarkan si kecil terbangun sendiri. Karena dia akan merasa diabaikan dan juga beresiko melakukan kegiatan yang membahayakan ketika terbangun sendirian. Kesiagaan kita menjadi “jaring pengaman psikologis” baginya. Dia akan merasa percaya diri dan berani, karena ada JAMINAN perlindungan dari kita sepanjang malam.
  3. Dampingi dan peluk dia ketika baru belajar tidur sendiri. Setidaknya hingga dia tertidur lelap. Lakukan pendampingan ini selama seminggu, jika dia sudah bisa ditinggal maka tidak perlu didampingi lagi untuk hari-hari selanjutnya.
  4. Beri pengertian bahwa kita selalu mengawasinya dan akan selalu hadir jika dia memanggil. Komunikasi secara lisan akan menghilanngkan kekhawatirannya, sekaligus cara kita mempelajari perasaannya selama proses belajar berlangsung.
  5. Jauhkan anak-anak dari cerita horor, hantu, monster, pencurian, kejahatan, bencana alam atau hal-hal lain yang bisa mengganggu imajinasinya di malam hari.
  6. Bacakan cerita di atas ranjang tentang binatang, kisah teladan, kisah keberanian dan kisah di negeri dongeng. Setidaknya dia memiliki “awal mimpi” yang menyenangkan dan imajinatif. Hal ini akan menstimulus mimpi indah dan keberanian si kecil.
  7. Ketika bangun pagi berilah pujian tulus tentang keberaniannya tidur sendiri. Berikan gambaran bahwa hanya anak yang sudah besar dan anak pemberani saja yang bisa tidur sendiri. Dia akan merasa bangga karena “prestasi” nya semalam.

Semua hal tersebut di atas harus selalu dievaluasi, karena kondisi pribadi anak satu akan berbeda dengan yang lain. Komitmen kita untuk selalu mempelajari kepribadiannya adalah MODAL BESAR dalam proses ini. Lakukan dan evaluasi pembelajaran ini terus menerus. Setelah berlangsung 6 bulan, Anda akan takjub betapa mandiri dan hebatnya buah hati kita. Ini lah generasi kuat yang sedang kita besarkan. Selamat belajar....

Demikian sedikit cerita yang bisa kami bagikan. Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat.
Wassalamu alaikum...

Salam Keluarga Indonesia,


Ayah HILDAN dan Bunda ALFI

CP : 081 2525 4782




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...