Senin, 27 Januari 2014

Belajar Menakar Diri

Belajar Menakar Diri

Assalamu alaikum para pembaca yang Budiman...
Kami biasanya menanak nasi pada malam hari, supaya pagi hari nya sudah siap dihidangkan untuk sarapan. Menanak nasi di rice cooker memang hobi saya, terutama ketika membersihkan berat dari kerikil-kerikil kecil atau remahan kulit ari beras. Saya merasa tertantang untuk tugas kecil ini..hehehe. Tentu saja proses membersihkan da menanak nasi tersebut diawali dengan menakar berapa jumlah beras yang akan saya masak.



Terkadang saya memasak 3 takaran beras putih. Pertimbangannya karena besok mulai pagi hingga malam kami semua berada di rumah, sehingga mulai pagi hingga petang juga memasak sekaligus makan di rumah. Di lain kesempatan saya memasak 2 takaran beras putih, karena besok malam kami berencana makan di luar rumah. Pernah juga saya memasak 2 takaran beras putih dan ½ takaran beras merah organik, karena ukuran minimal beras dimasak sempurna di rice cooker kami adalah 2 takaran dan jika kurang dari itu maka nasinya kurang sempurna. Beras putih 2 takaran tersebut untuk istri dan anak saya, sedangkan ½ takaran beras merah saya masak di atas kompor khusus untuk konsumsi sendiri. Kebetulan beras merah tersebut bagus untuk program diet.

Menghina Logika
Belajar memilih takaran yang pas dalam menanak nasi, sama hal nya dengan belajar menakar kemampuan diri kita di kehidupan kita sehari-hari. Hampir sama persis. Keahlian ini dianggap sepele tetapi justru dibutuhkan karena akan berdampak besar bagi kehidupan kita dan masyarakat.



Saya sempat terhenyak dengan pemberitaan di media tentang penjual gorengan yang mencalonkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif (CALEG). Ada juga mahasiswa fresh graduate, pengangguran, artis bahkan ada yang bangga mengaku sebagai pemulung yang juga nyaleg. Saya sempat bingung, logika apa yang bisa membenarkan hal ini. Apa para caleg tersebut tidak pernah menakar kemampuan diri mereka. Misalkan saja banyak warga masyarakat yang simpati kemudian menggalang dukungan untuk memenangkannya dan akhirnya beliau menjadi anggota legislatif. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mereka mampu menjalanka fungsi dan perannya sebagai anggota legislatif. Mari kita tengok Undang-undang nomor 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD dan khususnya pasal 344 tentang Tugas dan Wewenang DPRD Kabupaten / Kota :

Bagian Ketiga
Tugas dan Wewenang
Pasal 344
(1) DPRD kabupaten/kota mempunyai tugas dan wewenang:
a. membentuk peraturan daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota;
b. membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota yang diajukan oleh
bupati/walikota;
c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota;
d. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian bupati/walikota dan/atau wakil bupati/wakil walikota kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur untuk
mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau pemberhentian;
e. memilih wakil bupati/wakil walikota dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil bupati/wakil walikota;
f. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota terhadap rencana perjanjian internasional di daerah;
g. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota;
h. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota;
i. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama dengan daerah lain atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah;
j. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
dan
k. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan tugas dan
wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan DPRD kabupaten/kota tentang tata tertib.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mari kita baca secara perlahan beberapa poin yang saya tulis TEBAL dan berwarna MERAH. Kita bisa bayangkan beratnya tugas tersebut. Ada ribuan kepala keluarga yang akan terdampak dari peraturan di suatu daerah dan hal tersebut diserahkan kepada : tukang gorengan, fresh graduates, pengangguran, pemulung ????. Atas pendidikan apa mereka dianggap kompeten dalam melaksanakan tugas tersebut? Bagi  saya pribadi kejadian ini adalah PENGHINAAN BESAR bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

Saya percaya tidak semua orang pantas menjadi legislator. Karena memang tidak semua orang memiliki kemampuan dalam mengemban tugas beratnya. Jika saja sistem pengkaderan di internal PARPOL berjalan baik, tentu tidak sampai hal ini terjadi. Saya masih ingat di masa ORDE BARU, GOLKAR merupakan lumbung para teknokrat. Orang-orang sekelas Bapak Habiebie berkumpul di golongan tersebut. Untuk masuk jajaran elite nya tentu membutuhkan perjuangan keras dan proses yang lama. Karena memang kalangan elite ini sedang dikader untuk mengurus permasalahan masyarakat luas.

Kini “dagelan” ini semakin lucu. Beberapa parpol merelakan peluang kursinya diisi oleh individu-individu yang tidak layak. Individu-individu yang BELUM pernah belajar menakar kemampuan dirinya sehingga cenderung mengorbankan kepentingan masyarakat demi ego pribadi. Jika Anda kader dari partai-partai tersebut maka Anda punya kewajiban untuk memperbaiki. Atau Anda lebih memilih larut dalam “dagelan” ini pun itu adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi SAMPAH dalam alur sejarah INDONESIA RAYA.

Salam INDONESIA RAYA
Wassalamu alaikum,



HILDAN FATHONI


CP : 081 2525 4782

Reaksi:

1 komentar:

  1. hehehe... jangankan jadi celeg, jadi kepala sebuah instansi aja - yang saya tahu - tidak sedikit yang tidak paham tentang tanggung jawabnya pekerjaannya, misal - mekanisme pencarian anggaran... jadinya ya bikin yang lain kalang kabut :v

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...