Kamis, 26 Desember 2013

MENDOL

MENDOL
  
 


Mendol adalah salah satu makanan khas Jawa Timur  (selain rawon dan tempe kacang). Makanan ini terbuat dari bahan dasar tempe kedelai juga. Tempe mendol ini banyak ditemukan di daerah Malang baik untuk lauk maupun dimakan sebagai jajanan.
Tempe ini berwarna kehitam-hitaman karena dibuat dari bahan tempe kedelai yang sudah agak basi (baca: tempe bosok).

Deskripsi :
Bahan utama Mendol adalah tempe Malang yang berbentuk blok. Bumbunya yaitu kencur, bawang, brambang, ketumbar, jeruk purut, garam dan sedikit gula putih, cabe besar merah secukupnya dan cabe rawit kecil bagi yang suka pedas. Semua bumbu digiling menggunakan uleg (batu penggiling bumbu) sampai halus, lalu tempe dilumat bersama dengan bumbu tersebut. Tempe kondisi mentah dilumat tidak lembut, masih bertekstur tempe (masih terlihat serpihan kedelainya), ratakan bumbu pada lumatan tempe tersebut. Setelah lumatan tempe berbumbu tersebut jadi, lalu dibentuk sebesar sekitar 5 x 3 x 2 cm, biasanya dikepal-kepal dalam tangan. Setelah itu dibiarkan saja sekitar 1-2 jam biar terfermentasi dengan baik, bila ingin rasa masam, biarkan sampai 6 jam. Goreng dengan minyak yang sudah panas, sampai warna kecoklatan. Ada yang suka mendol dengan rasa masam untuk rasa yang lebih khas. Ada yang suka lebih kering, gorenglah sampai berwarna kehitaman. Mendol paling enak dimakan dengan nasi hangat, dan atau bersama sayur asem kangkung.

Definisi dan deskripsi tersebut saya ambil dari Wikipedia dengan link http://id.wikipedia.org/wiki/Mendol. Lalu apa pelajaran dari makanan bernama MENDOL ini?.

Alam Bawah Sadar
Hari ini Ibu saya berkunjung ke rumah kami di Kota Malang, kebetulan di kulkas ada sisa tempe mentah. Dengan cekatan beliau merebusnya kemudian meremasnya menjadi adonan mendol. Sejurus kemudian minyak panas menjadikannya mendol garing nan gurih. Kata beliau : “Yen nang ndeso yo ora ono barang mubadhir. Kabeh iso diolah maneh” (Kalau di desa ya tidak ada barang mubadhir. Semua bisa diolah kembali). Memang demikian adanya bahan makanan seperti tempe wayu (tempe yang sudah beberapa hari) bisa menjadi mendol dan nasi basi bisa menjadi makanan ayam, sehingga tidak sampai terbuang percuma.

Pikiran semacam ini sudah tertanam di benak orang-orang desa. Pikiran untuk mempergunakan segala sesuatu semaksimal mungkin. Jika masih bisa diperbaiki maka tidak perlu membeli barang baru. Oleh karena itu Bapak-bapak yang tinggal di desa akan dianggap terampil jika bisa memperbaiki sepeda motor, genting, kompor, lampu, dan berbagai perkakas di rumahnya sendiri.

Lalu apa hubungannya mendol, reparasi kompor dan sub judul “alam bawah sadar”?, okelah kita bahas ya. Alam bawah sadar kita pengaruhnya sangat kuat dalam perilaku sehari-hari. Karena memberikan pengetahuan dasar atas reaksi yang akan kita lakukan terhadap suatu kondisi. Misalnya jika saya memberi Anda pertanyaan cepat yang harus dijawab dalam 3 detik, maka jawaban Anda dengan jawaban teman Anda bisa jadi berbeda. Ini karena pengetahuan setiap orang berbeda, sebagai contoh :

Pertanyaan                            : “Apa yang Anda pikirkan tentang API ?”
Jawaban Orang ke-1           : “Panas dan merah ”
Jawaban Orang ke-2           : “Kebakaran”
Jawaban Orang ke-3           : “Hangat dan nyaman”

Bisa jadi orang ke-1 pernah kulitnya terbakar api, orang ke-2 rumah tengganya terbakar dan orang ke-3 sering membuat api unggun dan membakar jagung bersama keluarganya. Itu lah yang menjadi pengetahuan dasar kita. Lalu jika ke-3 orang tersebut benar-benar berhadapan dengan api maka refleks atau reaksinya tergantung pengetahuan dasarnya.

Bagaimana jika alam bawah sadar kita tersetting “Perbaiki Apa Pun yang Bisa Diperbaiki”?. Bisa jadi kita akan selalu memperbaiki kondisi kita sehari-hari tanpa mengeluh. Ketika kita bertengkar dengan pasangan, maka secara otomatis alam bawah sadar kita memerintahkan untuk memperbaiki komunikasi, meminta maaf, tersenyum, memahami, memeluk dan berbagai upaya perbaikan lainnya.

Akan tetapi jika sebaliknya, alam bawah sadar kita tersetting “Tinggalkan yang Rusak, Cari yang Baru Saja”. Bisa saja setiap ada kondisi tidak ideal kita akan melarikan diri, jika tidak harmonis dengan pasangan maka bercerai, jika pekerjaan tidak menyenangkan maka mengundurkan diri, jika omset bisnis menurun maka segera mencari bisnis, HP lecet sedikit langsung beli yang baru dan berbagai sikap praktis lainnya.


Mencoba Selangkah Lagi
Tidak ada salahnya kita mencermati mendol tadi. Bahwa dari sisa-sisa makanan pun masih bisa menjadi makanan baru dengan kualitas yang baik. Begitu pula dengan diri dan kehidupan kita. Di antara masa lalu yang kurang beruntung, masa kini yang penuh masalah dan masa depan yang belum jelas, kita masih memiliki kesempatan untuk merubah “remahan” dan sisa-sisa semangat kita untuk menghasilkan produk baru yang kualitasnya baik.

Beberapa pebisnis pemula sering mengeluh TIDAK PUNYA MODAL. Benar memang kita belum memiliki modal finansial, tetapi ada MODAL BESAR lainnya yaitu nama baik, keluarga, teman, relasi, komunitas, hobi, semangat kerja, pengalaman kerja, kesehatan dan waktu. Banyak orang sukses menggunakan modal non finansial untuk memulai bisnisnya.

Semisal hubungan kita dengan keluarga kurang baik, maka kita masih bisa memperbaikinya dimulai dengan membawakan oleh-oleh, menanyakan kesehatan keluarga, menjenguk ketika sakit atau sekedar membantu ketika keluarga kita memiliki hajat.

Kebiasaan kecil kita untuk berusaha memperbaiki apa pun yang masih layak merupakan investasi pengetahuan. Jika berlangsung lama maka akan menjadi pondasi alam bawah sadar…dan lihat saja pribadi luar biasa akan lahir. Itu lah diri kita.

Jika suatu saat Anda putus asa dalam memperbaiki diri….ingat lah MENDOL !!!

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...