Rabu, 25 Desember 2013

Bahagia Tanpa Televisi

Bahagia Tanpa Televisi

www.HildanFathoni.com

Bahaya Televisi

Selamat pagi para pembaca yang Budiman…

Hari ini hampir 3 bulan televisi kami jauhkan dari putri kami NAZILA. Tepatnya per 1 oktober 2013 benda tersebut kami simpan di kamar tidur kami. Apakah keputusan ini mudah? tentu saja butuh perjuangan.

Mari bersama-sama kita ingat. Sebagian dari kita dibesarkan bersama-sama tayangan televisi. Mulai bangun tidur hingga menjelang tidur benda tersebut menemani kita. Sejak dahulu televisi menjadi sarana hiburan murah bagi keluarga di Indonesia. Bahkan sewaktu saya usia MI (sekolah dasar), ada jadwal khusus acara televisi versi saya. Mulai Satria Baja Hitam, Power Rangers, Dragon Ball hingga X-MEN semua masuk dalam list acara utama.

Hingga pada suatu saat setelah lulus kuliah baru kami menyadari ada yang salah dengan berbagai tayangan di televisi. Mulai ajakan konsumtif, hedonisme, kekerasan, provokasi hingga adegan tidak senonoh. Jika sudah dewasa tentu masih bisa memilah dan memilih, lalu bagaimana dengan anak-anak kami kelak.

Orang Tua Ke-2

Setelah putri kami lahir pada 16 November 2009, kami sudah ancang-ancang untuk mengurangi tayangan televisi di rumah. Namun hal tersebut baru bisa terealisasi 4 tahun kemudian. Ada beberapa kejadian yang membuat kami berkeras “menyita” televisi di rumah :

a. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali si kecil sudah menonton televisi. Akibatnya jika dipanggil untuk mandi responsnya sangat lambat, setelah ganti pakaian pun kembali menonton televisi. Diajak sarapan bareng, ehh…dia tidak menanggapi. Perhatiannya 100% tertuju pada tayangan televisi. Kami sempat merasa jengkel dan langsung mematikan televisi.

b. Sering kali tayangan kekerasan ditampilkan, juga adegan kurang pantas. Waktu kami banyak dihabiskan untuk mendampinginya menonton, sehingga urusan pekerjaan rumah sedikit terabaikan.

c. Kami memperhatikan anak-anak yang sering menonton televisi memiliki perilaku yang menurut kami kurang baik. Misalnya ada anak yang joged sambil menirukan dangdut koplo, menirukan gaya pacaran di sinetron, juga gaya bicara slank khas muda-mudi di sinetron, konsumtif karena banyak melihat iklan dan masih banyak lagi.

d. Adanya gangguan penglihatan pada anak-anak di sekitar kami, karena intensitasnya menonton televisi sangat tinggi.

Beberapa orang mungkin menganggap televisi sebagai “orang tua ke-2” bagi putra-putri mereka. Benda tersebut menggantikan kehadiran mereka terutama banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, supaya anak tidak rewel, supaya anak tidak berlari-lari di dalam rumah dan supaya mereka bisa beristirahat. Bagi kami anak ya tanggung jawab orang tuanya, tidak bisa di-subkontrak-kan ke benda.

Menuju Solusi

Anak-anak hanya tertarik dengan kesenangan. Jika hal itu didapat melalui televisi maka mereka akan sering menontonnya, begitu juga jika mereka mendapatkan kesenangan dari hal lain. Itu saja…SO SIMPLE. Yang membuat ribet adalah KEMALASAN ORANG TUA untuk belajar mengerti dan mendidik anak.

Nazila Melukis

Pikiran di atas yang selalu kami renungkan. Jika putri kami lebih suka menonton televisi itu berarti kami yang malas menyajikan kegiatan yang menyenangkan. Maka kami berdua pun mencari kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, sehingga secara alami si kecil menjauhi televisi. Lalu apa saja kegiatan tersebut :

a. Melukis, si kecil ternyata berminat dengan kegiatan ini. Kami menyediakan cat minyak, air, pallet, kuas, buku gambar, meja tulis kecil dan karpet evamatic. Mulanya kami ajari cara mencampur cat dan air, mengenali warna dan kemudian menorehkannya ke buku gambar. Lambat laun dia bisa melakukannya sendiri. Dalam sehari dia bisa mewarnai satu buku gambar penuh. Kadang kami juga mencarikan media gambar di internet, kemudian dicetak ke kertas folio dan menjadi media gambar yang menarik.

b. Membacakan dongeng, dia suka sekali dengan buku-buku kisah yang bergambar. Di tengah-tengah membacakan cerita, dia sering melontarkan pertanyaan baik tentang kosa kata baru, nama tokoh dan alur cerita. Meski pun lumayan melelahkan tetapi hasilnya sepadan (NB : Nazila itu cerewet banget…bangeeettt).

c. Mengaji, alhamdulillah dia juga suka. Kebetulan 10 meter dari rumah kami ada majelis pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak. Dia suka karena banyak teman-temannya di sana. Urusan membaca huruf hijaiyah dia jagonya. Saking antusiasnya, pernah dia minta ganti baju ngaji padahal baru jam 12 siang dan pengajiannya dimulai jam 3 sore.

Nazila Mengaji

d. Memasak, dia suka ikut ke dapur. Mulai belajar bikin roti bakar, memilih daun kangkung, menggoreng nasi dan buanyak lagi yang suka dia lakukan di dapur.

e. Main boneka bareng yayah, yayahnya disuruh jadi boneka beruang ^_^

f. Memelihara ikan, walau pun akhirnya mati semua…hehehe

Nazila Memelihara Ikan

g. Menanam bunga, asyik juga main tanah bareng si kecil.

Nazila Menanam Bunga

Wow…ternyata banyak juga aktifitas seru selain menonton televisi. Walaupun terkadang sesekali masih menonton televisi tetapi sudah sangat jauh berkurang. Karena dia sendiri lebih senang dengan aktifitas yang kami sediakan.

Tidak ada anak yang dilahirkan NAKAL, orang tua, sekolah dan lingkungan lah yang menciptakannya demikian. Pada dasarnya anak terlahir dengan fitrah yang baik, maka tugas kita lah menjaga dan mengarahkannya. Akhir kata :

“Jika bukan KITA, lalu siapa lagi. Jika tidak SEKARANG, lalu kapan lagi”

Salam Keluarga Indonesia,

 

HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...