Selasa, 17 September 2013

Menikahi Ruang dan Waktu

Menikahi Ruang dan Waktu

Bu ALFI, Pak HILDAN dan Pak AGUS PIRANHAMAS

Selamat malam para pembaca yang Budiman...
Pada artikel kali ini kami ingin berbagi kisah awal pernikahan kami. Beberapa bulan setelah menikah, kami menempati rumah kontrakan di Kota Malang. Saat itu saya merintis usaha unit jasa keuangan syariah di Kota Malang tanpa persiapan yang matang. Sedangkan istri saya sudah diterima mengajar (sukwan) di sebuah SMA negeri di Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Jarak antara Kota Malang dan tempat istri saya mengajar lumayan jauh, sekitar 4 jam perjalanan darat. Sehingga kami hanya bertemu seminggu sekali.

Kondisi kami bukan seperti pasangan suami istri, tetapi lebih seperti pasangan muda-mudi yang pacaran jarak jauh (long distance relationship / LDR). Kondisi yang menurut kami sangat menyiksa. Beberapa orang menyarankan agar kami bersabar, karena rata-rata setelah sukwan 5 tahun akan masuk data base dan kemungkinan besar istri saya diterima menjadi PNS. Saat menjadi PNS kan kondisi keuangan akan menjadi stabil dan kami bisa hidup lebih layak. Wow...5 tahun hidup berjauhan? ,belum pasti diterima jadi PNS lagi. Apa tidak ada solusi lain supaya kami hidup bersama dan mencapai kemapanan ekonomi sekaligus?. Kok hidup jadi suram banget ya? Seolah hanya ada satu jalan dan kami dipaksa untuk melaluinya. Ketika kami ingin “berontak” dengan pilihan kami, maka sebagian orang berkata “SABAR YA”.

Kekuatan Kemandirian
Membangun keluarga dalam kondisi ekonomi yang labil akan menempatkan siapa saja dalam kondisi serba salah. Berbeda pendapat akan langsung ditentang, karena kami belum terbukti sukses. Jika melakukan sedikit kekeliruan akan dipandang sebagai kesalahan besar. Berbeda sekali jika kekeliruan tersebut dilakukan oleh pasangan muda yang sudah mapan, punya rumah serta mobil sendiri. Saya tidak bermaksud mengatakan sebagian dari kita materialistik, tetapi ya begitu lah kondisi yang dahulu kami alami.

Sebagian dari kita mungkin memilih mengikuti pendapat mayoritas, supaya tidak mendapatkan penolakan dan tidak dianggap membangkang. Kami berpendapat lain. Sebenar apa pun jika secara ekonomi kita masih dianggap lemah, maka cita-cita untuk dihargai secara sosial hanya lah impian kosong. Meski pun kami menyadari hal tersebut, tetapi kami tetap “stress” berat karena belum mendapat solusi yang nyata. Bagaimana caranya agar kami bisa mandiri secara ekonomi sekaligus hidup bersama sebagai suami istri?

Pada suatu ketika kami sudah tidak tahan dengan kondisi “stress” ini. Akhirnya kami bersepakat untuk memiliki bayi supaya istri saya bisa tinggal di Kota Malang dan ada alasan untuk meninggalkan kegiatan mengajarnya di Kecamatan Besuki. Wow...jika mengingat peristiwa itu kembali miiris rasanya. Bayangkan saja bisnis saya stagnan dan istri saya akan menganggur.

Akhirnya kami pun tinggal bersama di kontrakan. Untuk hidup sehari-hari tentu masih ada sedikit bantuan dari orang tua. Saya sendiri masih berusaha menjalankan bisnis dan istri saya mengajar di lembaga kursus komputer dan mengambar untuk siswa-siswi Taman Kanak-Kanak. Pada masa ini istri saya masih belum mengandung (kami sepakat menunda dulu untuk memiliki anak). Meski pun serba terbatas, alhamdulillah kami hidup bahagia. Seperti lirik lagu dangdut “makan sepiring berdua”...ihir...hehehe. Setelah habis sepiring masih ada sebakul nasi, semangkuk sayur dan lauk pauk kok.. ^_^

Alhamdulillah...ALLOH masih memberikan kekuatan batin kepada kami untuk membuat keputusan BESAR tersebut : “Istri saya berkorban karir demi keluarga kecilnya”. Seperti ada bisikan batin yang sangat kuat. Meskipun kondisi keuangan sangat menipis, alhamdulillah kami masih bisa mencukupi kebutuhan pokok.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?. Anda mungkin sudah bisa menebak. Kondisi ekonomi kami benar-benar terpuruk. Berbagai bisnis dan pekerjaan sudah kami jalani, yang terjadi malah semakin parah. Kondisi ini terjadi hingga 2 tahun masa pernikahan kami dan bertepatan hingga putri kami berusia 1 tahun lebih. Alhamdulillah di saat berbagai usaha tidak menumbuhkan hasil, ALLOH masih memberikan pertolongan. Di akhir 2010 saya diterima menjadi staff kurikulum sekaligus marketing di salah satu bimbingan belajar di Kota Malang. Sedikit demi sedikit kami menyisihkan pendapatan, sambil tetap meyakinkan diri bahwa keputusan kami untuk tinggal bersama adalah KEPUTUSAN yang TEPAT. Uang yang tersisa terus kami kumpulkan ditambah dengan pinjaman, kami pun membuka usaha pertama kami Les Privat dan Bimbingan Belajar TELADAN. Usaha ini masih berjalan hingga saat ini terkhusus untuk les privat saja dan menjadi prasasti dari kegigihan istri saya. Uang yang terkumpul sebagian untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan sebagian lagi untuk membeli modem USB dan berlangganan akses internet. Alhamdulillah komputer pemberian orang tua masih bisa digunakan. Dari sini lah sejengkal demi sejengkal kami menambah unit usaha hingga saat ini.

Apa Masalahnya?
Kami menyaksikan beberapa orang rela hidup berjauhan dengan keluarganya demi mencari penghidupan. Ada yang berpisah kota bahkan berpisah negara. Sebagian dari mereka bertemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, setahun sekali dan bahkan lebih. Kami melihat sepertinya semua baik-baik saja. Mungkin mereka sudah terbiasa, baik pihak suami, istri maupun anggota keluarga yang lain menganggapnya wajar, toh tujuan kondisi tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi kami tidak sanggup...BIG NO pokoknya. Berpisah 3 hari saja (ketika istri dan si kecil mudik) saya sudah tidak enak makan tidak enak tidur. Apalagi berbulan-bulan...argghhhh. Tentu saja setiap orang memiliki penilaian sendiri terhadap kondisi ini.

Terkadang kami berpikir, jika berjauhan dengan alasan mencari nafkah apakah memang tidak ada rejeki yang berserak di lingkungan asal mereka?. Karena sepengamatan kami hampir di setiap daerah ada orang kaya (bahasa populernya), atau setidaknya dari sekian banyak orang yang kuang beruntung di suatu daerah pasti ada beberapa orang yang bisa mengolah peluang di daerahnya sendiri. Jadi apa masalah utamanya sehingga harus ke luar daerah dan berpisah dengan keluarga hanya untuk mencari nafkah?. Ah mungkin kami terlalu polos dan lugu untuk mengerti kompleksitas cita-cita dan harapan masyarakat. Sekali lagi ini murni pendapat subyektif kami lho.

Dari sekitar 4 tahun masa  belajar kami, setidaknya kami tetap memegang keyakinan lama. Bahwa keluarga kecil kami bisa mencapai kemandirian ekonomi sekaligus menikmati kehangatan penyatuan ruang dan waktu sekaligus. Jika kami bertiga bersama, insyaalloh masalah akan lebih mudah diatasi.


High Risk
Apabila kita mencoba berpikir jernih. Sebenarnya LDR bagi pasangan suami istri amatlah mengandung resiko. Misalnya resiko :
  1. Salah satu pihak terpikat dengan orang lain.
  2. Kebutuhan psikis yang tidak terpenuhi.
  3. Komunikasi terhambat.
  4. Pengelolaan keuangan bersama yang kurang sinkron.
  5. Dan masih banyak lagi.

Lho kan ada handphone, facebook, email, dan video call?. Lho kan kita bisa banyak berpuasa untuk mengontrol keinginan biologis?. Lho kan masih bisa bertemu setiap weekend?. Lho kan...???
Sekali lagi ini hanya pendapat kami dan memang bisa jadi sangat berbeda dengan kondisi keluarga lain. Beda pendapat boleh kan?.

Kalau kami sih lebih suka bersama-sama terus setiap hari. Pagi-pagi bisa belanja bareng ke warung. Masak lalu sarapan bareng. Kadang mengantar si kecil ke sekolah juga bareng. Kerja di rumah bersama. Saling meluapkan emosi berdua. Berpelukan bersama. Tentunya tidur dalam satu selimut berdua...sstttt si kecil sudah punya temapt tidur sendiri... ^_^

Oke deh para pembaca yang Budiman. Sekian dulu coretan kali ini. Insyaalloh akan berlanjut di lain kesempatan. Salam hangat untuk orang-orang yang Anda cintai.

Salam Keluarga Indonesia



Yayah HILDAN & Bunda ALFI

CP : 0852 340 89 809 , 0341-5470688.

Reaksi:

1 komentar:

  1. Bagi yang mau CURHAT silahkan tulis KOMENTAR ya. Semoga segera mendapat solusi terbaik.

    Salam hangat...

    HILDAN FATHONI

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...