Senin, 02 September 2013

HARD WORK ... It’s a MUST

HARD WORK ... It’s a MUST




Selamat malam para pembaca yang Budiman...

Barusan saya pulang mudik singkat dari rumah di Kabupaten Malang. Seperti setiap kali saya pulang, selalu ada hal seru yang perbincangkan. Kali ini salah satu cerita inspiratif adalah tentang dua keluarga. Ini cerita NYATA lho dan masih terjadi saat ini. Kebetulan dua keluarga tersebut kenalan Ibu kami.

Di suatu desa ada 2 keluarga :
Keluarga A adalah keluarga terkaya sejak jaman dulu, tuan tanah (lebih dari 40 Ha), dulu menantunya juga raja bisnis dan sangat tersohor, dan hampir segala-galanya berada di atas rata-rata masyarakat desa tersebut.
Keluarga B adalah keluarga miskin sejak jaman dulu, anaknya ada 5 bersaudara, beberapa hanya lulus SD dan bahkan beberapa tahun yang lalu masih ada yang jadi tukang ojek.

Pada suatu ketika kepala keluarga A meninggal dunia. Beliau meninggalkan banyak harta (terutama tanah). Putra-putri beliau sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil dan tidak terbiasa bekerja keras memperjuangkan nasib mereka. Sehingga sepeninggal sang kepala keluarga, mereka hobi menjual tanah warisan yang sangat luas tersebut. Mulai bernilai ratusan juta hingga di atas 1 milyar rupiah. Beberapa memiliki rumah besar dengan halaman luas. Tetapi sayangnya hidup dalam kekurangan dikarenakan tidak mau bekerja keras.

Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga B. Kelima bersaudara tersebut bekerja keras serabutan, menyebar di beberapa kota. Pada suatu ketika mereka memiliki keinginan untuk mendirikan usaha keluarga berlima. Padahal mereka tidak memiliki  keluarga pebisnis maupun pengalaman bisnis. Mereka hanya bertekat menyejahterakan keluarga.

Manajemen Kepercayaan
Menurut Ibu saya, prisip ke-5 bersaudara tersebut adalah “Berani Mempercayai dan Berani Memberi Kepercayaan”. Awalnya saya belum begitu paham maksud cerita beliau. Kemudian Ibu melanjutkan perjalanan bisnis mereka.

Kelima bersaudara tersebut berkecimpung dalam bisnis penjualan buah-buahan. Mereka mengambil buah-buahan dari daerah dan menjualnya ke Jakarta. Saat ini mereka setidaknya memiliki 9 truk, rumah, mobil pribadi dan juga beberapa bisnis pribadi lainnya.


Penerapan prinsip manajemen kepercayaan misalnya :
Anak ke-1     : Memiliki tugas mencari supplier atau petani buah di daerah.
Anak ke-2     : Mengurus pengiriman barang (truk, perawatan kendaraan, sopir dan lain-lain).
Anak ke-3     : Mengelola uang tunai.
Anak ke-4     : Pencatatan keuangan.
Anak ke-5     : Menjual buah-buahan di Jakarta (menyewa lapak, beli lapak baru, mencari pembeli).

Masing-masing sudah memiliki tugas sehingga tidak diperkenankan mencampuri tugas saudara yang lain. Ketika hasil sudah diperoleh maka langsung dibagi rata. Di saat mereka ingin ekspansi usaha pun modal adalah hasil “markipat” (mari kita patungan) berlima. Prinsip ini dijaga diantara mereka berlima. Istri maupun suami mereka pun tidak boleh mencampuri urusan bisnis keluarga.

Wow...bagi kami manajemen kepercayaan ini sangat brilian. Begitu sederhana tetapi sangat efektif. Semakin lama bisnis keluarga tersebut semakin besar menggurita. Sungguh sangat kontras dengan keadaan keluarga A yang asetnya semakin berkurang. Bahkan keluarga B beberapa waktu yang lalu membeli tanah dari keluarga A.

Warisan Masa Depan
Kami mendapat banyak pelajaran dari kisah 2 keluarga tersebut. Memberikan warisan harta adalah pilihan yang baik. Tetapi mewariskan semangat hidup, kerja keras, ilmu dan nilai-nilai kebaikan adalah pilihan LUAR BIASA. Menyayangi anak-anak dalam wujud pemberian fasilitas berlebih adalah salah satu jalan mematikan potensi anak. Karena semangat dan etos kerjanya tidak terlatih, merek sudah merasa nyaman dengan sokongan harta berlimpah dari orang tua.

Jika saat ini kita sudah mencapai puncak kesuksesan, maka ada baiknya putra-putri kita juga mengetahui perjuangan berdarah semasa kita merintis. Saya teringat pepatah lama :

“Generasi pertama merintis, generasi kedua men-JAYA-kan dan generasi ketiga menghancurkan”.

Tentunya para pembaca tidak ingin seperti pepatah di atas bukan? So...segera wariskan ilmu kehidupan dan semangat juang kita....SEKARANG JUGA. Yuk kita selamatkan masa depan para penerus kita.

Salam Keluarga Indonesia...



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.

Reaksi:

2 komentar:

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...