Kamis, 26 September 2013

5 Tingkatan Entrepreneur

5 Tingkatan Entrepreneur
Direview oleh


Selamat siang para pembaca yang Budiman…

Artikel kali ini mengulas materi yang disampaikan pada TDA Ngalam Forum #7 & Halal Bi Halal TDA Ngalam. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 21 September 2013 Pukul 10.00 - 15.00 WIB di Resto Big Burger Lt.3 Jl.Soekarno Hatta Kota Malang. Judul materi tersebut adalah “5 Tingkat Entrepreneur” yang dibawakan oleh Bapak Donny K. Puriyono / @donnykris yang juga merupakan owner dari WinnerTech Corporation.

Bapak Donny K. Puriyono

Pendahuluan
Dalam menjalankan bisnis tidak lah ada aturan baku untuk mencapai kesuksesan. Ada suatu usaha dianggap tidak prospektif, tetapi malah mencapai kesuksesan ketika dijalankan. Sebaliknya, ada jenis usaha yang dianggap memiliki prospek cerah di masa depan, tetapi hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Sumber terbesar dari kegagalan suatu bisnis lebih berasal dari Sang Owner atau Sang Pelopor. Kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap bisnisnya, pada posisi mana saat ini bisnisnya berjalan dan akan dibawa kemana bisnisnya kelak.

Untuk mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan dalam bisnis kita, maka ada dua hal besar yang harus kita ketahui, yaitu : Visi Bisnis dan Tingkatan Entrepreneur. Yuk kita ulas bersama…

Visi Bisnis Hukumnya WAJIB
Ada pendapat yang berkembang bahwa pengusaha di Indonesia lebih susah berkembang dari pada pengusaha di Malaysia. Pada hal dari segi prospek bisnis dan keahlian tidak lah jauh beda, lalu apa yang membedakan?. Ternyata perbedaan besarnya adalah pada VISI BISNIS.

Beberapa pengusaha kita hanya puas menjadi “jago kandang” di lingkungan kota tempat tinggalnya atau paling jauh pada lingkup provinsi. Tidak ada yang salah dengan perasaan puas tersebut. Akan tetapi jika kita ingin menjadi The REAL Entrepreneur maka sebaiknya dipikirkan ulang tentang visi besar dari perjuangan bisnis kita. Apakah nantinya bisnis tersebut akan mengharumkan nama bangsa atau kah hanya sebatas “mengisi perut” keluarga kita.

Tetapkan VISI yang BESAR sekalian, jangan setengah-setengah. Misalnya salah satu bisnis kami di bidang sepatu safety (safety shoes) dengan situs www.JualSepatuSafety.com . VISI BISNIS dari usaha tersebut adalah “#1 Safetywear Supplier in INDONESIA” . Visi tersebut sangat lah besar bagi kami karena kapitalisasi dalam bisnis ini sangat besar, klien dari dunia industri dan bauran produk yang unik dan beraneka ragam. Bagi kami tidak ada yang tidak mungkin, walau pun kami masih pemain baru tetapi sudah banyak perusahaan besar dan BUMN yang menjadi klien kami. Itu sudah menjadi bukti bahwa visi besar akan diikuti oleh anugerah yang besar pula. Bagaimana dengan visi bisnis Anda???...

Tingkatan Entrepreneur
Mungkin kita pernah memperhatikan atau bahkan sedang mengalami, suatu kondisi dimana bisnis kita “gitu-gitu aja” bahkan setelah berjalan belasan tahun. Omset juga stagnan, klien tidak bertambah, project tidak stabil malah semua pekerjaan masih kita handle sendiri tanpa bisa didelegasikan kepada staff. Bisnis kan bukan sekedang dapat untung, tetapi memiliki sistem dan masa depan yang jelas…betul kan?. Yuk kita kupas satu per satu…

Level 0 = Employee
Ya…Anda tidak salah baca kok. Memang ada level nol dalam bisnis, yaitu ketika kita masih menjadi karyawan pada suatu perusahaan. Ciri khas dari level ini adalah :
  1. Merasa AMAN, karena mendapat gaji rutin setiap bulan.
  2. Asumsi yang salah tentang karyawan : Semakin jabatan naik, gaji akan naik dan kemakmuran semakin meningkat. Kenyatannya banyak karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun masih juga mengalami PHK (pemutusan hubungan kerja).
  3. Menukar waktu dengan uang, jam kerja 8 jam sehari atau lebih dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya.
  4. Tantangan : Rasa takut keluar dari pekerjaan.

Level 1 = Self Entrepreneur
Level pertama sebagai entrepreneur ditandai dengan mempekerjakan diri sendiri. Semua pekerjaan di-handle sendiri. Mereka berprinsip : Jika bisa diselesaikan sendiri buat apa dibantu orang lain.
  1. Memulai bisnis diawali dengan diri sendiri, biasanya mulai dibantu satu karyawan.
  2. Asumsi yang salah tentang level self entrepreneur :
Ø  Merasa memiliki skill menjual sehingga hanya fokus pada marketing.
Ø  Merasa serba mampu sehingga semua pekerjaan dikerjakan sendiri, jika sakit maka pekerjaan tertunda.
Ø  Ingin menikmati hasil sendiri karena lebih besar dan tidak perlu dibagi dengan orang lain (karyawan).
  1. Jebakan “Business=Busy-Ness”. Kondisi ini lebih buruk dari pada menjadi karyawan. Jika karyawan pada umumnya bekerja 8 jam per hari, bisa jadi self entrepreneur bekarja 24 jam per hari. Semua belum didelegasikan dan belum tersistem. Kesibukan menyiksa tiada akhir, semakin banyak order semakin tersiksa.
  2. Memperdagangkan waktu, mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan order dan omset usaha. Penghasilan tidak tentu, terkadang sangat besar tetapi di lain waktu sangat kecil.
  3. Tantangan : Menetapkan VISI USAHA yang besar. Kesalahan pebisnis Indonesia dibandingkan pebisnis Malaysia adalah kebanyakan kita berbisnis hanya untuk makan, bukan untuk memiliki karajaan bisnis. Supaya memiliki VISI BESAR tidak ada salahnya membuat perencanaan masa depan bisnis hingga 100 tahun ke depan. Seperti hal nya perusahaan-perusahaan dunia yang berusia lebih dari 1 abad.
  4. Untuk naik ke level selanjutnya :
Ø  Buat VISI BESAR.
Ø  Buat struktur organisasi (pimpinan, manajer administrasi, manajer SDM, manajer keuangan, dan lain sebagainya) bahkan ketika kita belum memiliki karyawan.
Ø  Buat targer kenaikan level bisnis untuk mencapai visi bisnis.
  1. Hendaknya mencari MOTIVASI sehingga lebih yakin dan konsisten dengan bisnisnya. Karena pada level ini sangat mudah tergoda untuk pindah bisnis ketika melihat bisnis teman mulai berkembang. Pada hal nantinya tantangan bisnisnya tidak jauh berbeda dengan bisnis orang lain.

Level 2 = Manager
Sekarang sudah mulai memiliki beberapa karyawan, pekerjaan sudah mulai didelegasikan dan sistem pun mulai dirintis. Lalu apa saja pernak-pernik sebagai entrepreneur dengan level manager?.
  1. Level 2 (manager) adalah Level 1 (self entrepreneur) hanya saja lebih komplek.
  2. Ragu-ragu ketika akan merekrut karyawan, khawatir tidak bisa menggaji dengan layak. Tipsnya adalah “Jika kita mampu membayar ½ gajinya, maka REKRUT dia”. Separuh lagi biar karyawan kita yang berusaha meningkatkan omset usaha kita, gajinya akan terbayar oleh pendapatan usaha.
  3. Asumsi yang salah tentang level manager, perlu diingat tujuan kita adalah PROFIT :
Ø  Perusahaan yang karyawannya lebih banyak PASTI lebih baik daripada yang karyawannya lebih sedikit.
Ø  Perusahaan yang omsetnya lebih besar PASTI lebih baik dari pada yang omsetnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang hutangnya lebih besar PASTI lebih bagus dari pada yang hutangnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang ownernya sering tampil di media dan terkenal PASTI lebih baik daripada yang ownernya tidak populer.
  1. Bisnis Jalan, Ownernya Jalan-jalan? Apa bener?. Bisa jadi kita lebih sibuk dari pada karyawan, karena sistem masih belum jalan.
  2. Alokasi waktu kerja : 80% operasional dan 20% urusan strategis. Masih terlalu banyak terlibat dalam operasional usaha.
  3. Jebakan besar : “Ego menjadi BOS”. Terlalu sibuk memerintah bawahan dan menikmati panggilan sebagai BOS, dari pada memikirkan cara meningkatkan profit.
  4. Tantangan untuk naik level : Harus membenahi manajemen arus kas (cash flow), team building / struktur organisasi berjenjang, membuat SOP dan melatih jiwa kepemimpinan (leadership).
  5. Bagaimana mencari karyawan yang tepat untuk bisnis kita? Pada prinsipnya :
“Karyawan TEPAT karena Bos yang Tepat”. Maka pantaskan diri kita sebagai pimpinan selanjutnya karyawan akan mengikuti. Ada kalanya karyawan tidak hanya mencari gaji, tetapi mencari pemimpin dan lingkungan kerja yang kondusif.
  1. Jangan sampai karyawan menganggur dan tidak tahu yang harus dikerjakan. Maka setiap karyawan harus memiliki rincian kerja (job description) dan SOP.
  2. Sebagian besar pebisnis di Indonesia berada pada level 2 ini. Alasannya karena ingin terus terlibat dengan bisnisnya, ada ikatan emosional, belum bisa mempercayai bawahan dan masih banyak lagi. Jadi…apakah Anda ingin naik ke level selanjutnya?.

Level 3 = Owner
Nah…sampai juga di level owner. Jangan Cuma kecantol pada level manager saja ya. Pada titik ini Anda sudah bisa jalan-jalan, karena semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan.
  1. Telah memiliki sistem bisnis yang berjalan baik.
  2. Sudah memiliki tim kerja yang bagus.
  3. Sudah memiliki General Manager (GM). Tugas dari GM adalah untuk menggantikan tugas Anda. Semua hal harus diketahui GM dan jika ada pekerjaan yang belum selesai maka menjadi tanggung jawabnya. Bukan lagi tanggung jawab Anda.
  4. Sudah tidak “menghasilkan uang”, tetapi “menerima LABA”. Tugas menghasilkan uang adalah tanggung jawab GM dan seluruh bawahannya.
  5. Tantangan : Mengumpulkan MODAL untuk investasi dan naik ke level yang lebih tinggi.
  6. Sedikit tips mengenai perekrutan karyawan : Beberapa karyawan bisa outsourching. Kita tidak perlu menyediakan sendiri, misalnya untuk security dan office boy (OB). Tentu kita tidak memiliki kemampuan khusus untuk melatih mereka, maka gunakan saja jasa outsourching.

Level 4 = Investor
  1. Jika pada level sebelumnya kita masih fokus menjual barang dan jasa, maka pada level ini kita sudah melakukan JUAL BELI BISNIS.
  2. Prinsipnya adalah : Beli Bisnis, Kembangkan, Jual.
  3. Menghasilkan uang dengan uang. Kita fokus menggalang dana dari investor lain, setelah terkumpul banyak maka akan kita belikan sebuah perusahaan. Pada saat perusahaan tersebut berkembang pesat dan semua persyaratannya terpenuhi, maka JUAL KEMBALI. Keuntungan yang didapat bisa jadi sangat besar hingga ratusan kali dari modal awal yang kita keluarkan.
  4. Pahami aturan “ANGKA NOL” yaitu : Seberapa banyak angka nol dalam uang kita. Para investor kelas dunia sangat paham dengan pentingnya angka nol.
  5. Tantangan : Harus banyak belajar. Biasanya investor pemula ketika membuat satu kesalahan investasi lalu dia berhenti, seharusnya dia bersiap untuk membuat kesalahan-kesalahan lain dan terus belajar.

Level 5 = Real Entrepreneur
  1. Membangun bisnis yang dapat dijual ke publik. Pengusaha kelas dunia seperti Bill Gates dengan Microsoftnya dan Mack Zuckerberg dengan Facebooknya, memperoleh kekayaan super besar bukan karena menjual produk. Mereka memperolehnya dari menjual perusahaan (saham) kepada masyarakat.
  2. Mindset : “Menciptakan sesuatu dari ketiadaan”. Pendapatan terbesar kita dari nilai perusahaan yang terus tumbuh, bukan hanya dari penjualan dan laba yang semakin besar.
  3. Setelah kita mencapai level real entrepreneur…lalu apa???

Setelah semua pencapaian kita raih, maka…

“Kita akan merasakan KEPUASAN BESAR ketika mengembalikan pendapatan kita kepada masyarakat”

Demikian sedikit review dari kami semoga bermanfaat. Banyak ilmu dan pengetahuan yang kami peroleh dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Bagi yang berminat langsung saja menghubungi Pengurus TDA di kota Anda atau bisa membaca di http://tangandiatas.com/ dan www.TDAngalam.com

Salam Sukses,



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.

----------------------------------------------------------------------------------------

DOKUMENTASI :
Peserta Memenuhi Acara TDA FORUM #7

Peserta dari berbagai kalangan, baik pebisnis maupun non pebisnis

Materi sangat berbobot sehingga para peserta serius menyimak

Pembentukan Kelompok Mentoring Bisnis (KMB)

Reaksi:

2 komentar:

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...