This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 September 2013

Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI

Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI”

Oleh




Assalamu alaikum Wr. Wb.

Di masa lalu, keberadaan negara dianggap sebagai titik sentral dalam perubahan masyarakat. Perubahan masyarakat berpeluang sukses jika secara top-down diprakarsai oleh pemerintah, baik dari segi peraturan, infrastruktur fisik maupun permodalan. Asumsi tersebut ditindaklanjuti oleh sistem pengkaderan di HMI dengan orientasi struktural maupun kultural, dengan dua core gerakan yaitu gerakan intelektual dan gerakan politik.

Gerakan intelektual meniscayakan perubahan masyarakat dengan membentuk mainstream pembaharuan pemikiran. Lahirnya agen-agen perubahan dengan intelektualitas tinggi diharapkan mampu membawa pencerahan kepada masyarakat. Walaupun konsekuensinya secara organisasi HMI dianggap borjuis dan eksklusif. Gerakan awal ini telah melahirkan banyak tokoh intelektual yang mampu memberikan kontribusi sebagai guru-guru bangsa.

Gerakan politik merupakan upaya lanjutan untuk meningkatkan peran kader-kader HMI dalam membangun bangsa. Asumsi dasar yang dibangun adalah perubahan dan perbaikan masyarakat akan lebih cepat terjadi jika kader-kader HMI berperan sebagai pemegang kekuasaan pengambil kebijakan. Sehingga tercipta grand design masyarakat yang maju dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Gerakan level ke-2 ini banyak melahirkan para negarawan handal yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa bahkan sudah diakui dunia.



Bangkitnya Dunia Digital dan Teknologi Informasi
Di awali pada tahun 1993 saat internet mulai bisa diakses oleh masyarakat luas. Telah terjadi perubahan di masyarakat secara massif. Di masa lalu pihak-pihak penguasa informasi memiliki peran monopolistik dalam berbagai sektor kehidupan. Pada masa sekarang kondisi tersebut sudah terreduksi bahkan bisa dianggap tidak berlaku lagi.
Konversi sistem data analog menjadi sistem data digital ditambah dengan dukungan akses internet yang mudah, murah dan merata telah merubah struktur penguasaan informasi. Dunia saat ini adalah dunia yang datar, dimana informasi mudah disebarkan dalam hitungan detik dan sangat sulit menyembunyikan informasi dari khalayak ramai. Setiap orang memiliki kekuasaan yang sama hampir ke setiap sumber informasi. Kondisi ini lah yang mendorong percepatan perubahan sosial.

Pada masa lalu sebelum era digitalisasi informasi, para pemilik modal kelas kakap dan para petinggi negara saja yang bisa memiliki power untuk melakukan perubahan. Pada saat ini seorang ibu rumah tangga pun bisa membawa perubahan sosial dengan adanya situs jejaring sosial yang bisa diakses siapa pun. Di masa lalu hanya keluarga konglomerat kaya raya yang bisa membangun industri dengan kapitalisasi hingga milyaran rupiah. Di masa kini banyak sekali industri-industri dibangun oleh siswa sekolah menengah bahkan para penjaga warnet yang telah mengakrabi akses informasi virtual. Kondisi ini membuka lebar peluang bagi agen-agen perubahan sosial, tanpa perlu memiliki intelektualitas tinggi dan kekuasaan politik. Sehingga tidak heran jika ada data yang menyebutkan bahwa nilai transaksi toko online para mahasiswa di Jogjakarta bisa mencapai nilai Rp 1 triliun dalam setahun. Hal ini dikarenakan semakin mudahnya mengakses dunia informasi digital yang membuka lebar peningkatan kesejahteraan sosial, yang dampaknya tentu saja meningkatkan jumlah masyarakat kelas menengah secara signifikan.

Saat ini setiap orang bahkan tanpa kompetensi akademis yang mumpuni bisa melakukan perubahan sosial. Kondisi ini harus secara sadar diperhatikan oleh organisasi HMI. Perubahan sosial melalui gerakan intelektual dan politik membutuhkan waktu yang panjang dan tahapan yang berliku. Sementara masyarakat sudah terbiasa dengan perubahan yang serba cepat dan up to date. HMI sebagai organisasi paling senior harus mampu melakukan perubahan secara mendasar. Oleh karena itu diperlukan the next level movement yang menjadi roket pendorong level ke-3 dalam perjuangan HMI, yang sebelumnya telah dimantabkan oleh intellectual movement dan political movement.

Mengapa Harus Economical Movement?
Sebenarnya sudah sejak ratusan tahun perusahaan-perusahaan asing menguasai berbagai negara di dunia dengan dukungan pemerintah di negara asal perusahaan tersebut. Tentunya kita masih ingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di sana tertulis bahwa Indonesia dulunya disebut sebagai Hindia-Belanda. Hindia-Belanda dahulu kala adalah sebuah jajahan Belanda, sekarang disebut Indonesia. Jajahan Belanda ini bermula dari properti Vereenigde Oostindische Compagnie (atau VOC) yang antara lain memiliki Jawa dan Maluku serta beberapa daerah lain semenjak abad ke-17. Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1798, semua properti VOC menjadi milik pemerintah Republik Batavia.

Sejarah tersebut telah membuktikan bahwa VOC adalah perusahaan yang berorientasi profit dengan dukungan pemerintah kerajaan Belanda. Hingga saat ini banyak kita saksikan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama kebijakan politik dan militer hampir semua negara di dunia. Sehingga sangat lumrah banyak negara asing menjalin hubungan baik dengan pemerintah Indonesia yang jika secara bijak kita amati hanya dikarenakan faktor ekonomi. Indonesia masih sangat sexy di mata para pebisnis dan pemodal asing, tentunya karena potensi sumber daya alam yang kaya raya dan potensi pasar karena jumlah penduduk yang besar.

Jika pada masa lalu sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mengambil manfaat dari hubungan ekonomi antar negara, maka pada era informasi digital hampir semua warga Indonesia memiliki peluang yang sama untuk ikut serta. Saat ini banyak pebisnis UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di daerah pelosok yang bisa menembus pasar internasional. Masalah klasik yang dahulu dihadapi para pebisnis UKM adalah sulitnya pemasaran, maka saat ini justru kesulitan memproduksi secara massal karena permintaan produk dari negara lain yang melebihi kapasitas produksi.

Fenomena perubahan sosial dan peluang yang terbuka lebar tersebut harus secara serius menjadi bahan renungan bagi kita seluruh kader HMI. Karena di satu sisi pengkaderan dengan orientasi gerakan intelektual dan politik memerlukan rentang waktu yang panjang. Jika pun ada banyak kader yang melalui dua jalur gerakan tersebut (gerakan intelektual dan politik), maka hanya ada sedikit “kursi” yang harus diperebutkan untuk menjadi kader yang sukses. Sebagai permisalan, seorang kader yang telah matang secara politik harus berkompetisi dengan kader bahkan nonkader untuk memperebutkan kursi legislatif. Lalu bagaimana ribuan kader lain yang tersingkir dari kompetisi tersebut?

Gambaran di atas seharusnya menjadi pertimbangan berharga bagi sistem pengkaderan di HMI. Sebagai permisalan lain, banyak sekali anggota masyarakat yang sebelumnya tidak dianggap tiba-tiba menjadi tokoh pengusaha yang disegani di daerahnya. Perusahaan-perusahaan yang dia dirikan mampu memberikan kontribusi ekonomis kepada masyarakat sekitar, sehingga mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat secara riil tanpa perlu campur tangan pemerintah. Sementara di daerah lain juga ada figur pengusaha lain yang juga dianggap melakukan perbaikan sosial melalui kegiatan usaha yang dilakukannya. Bahkan semakin banyak pengusaha, semakin banyak pula perubahan sosial terjadi di masyarakat. Tidak ada batasan tentang jumlah maksimal pengusaha, tetapi pasti ada batasan untuk jumlah pimpinan pemerintahan dan organisasi politik.

Sementara perubahan sosial yang dilakukan melalui jalur politik sering kali dampaknya terasa dalam jangka panjang, sedangkan perubahan sosial yang dimotori oleh para pengusaha dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Jika economical movement dijadikan mainstream kebijakan pengkaderan di HMI, maka tidak akan ada lagi kader yang menganggur karena tersingkir dari kontestansi perebutan kekuasaan struktural. Hal ini juga memiliki makna bahwa setiap kader memiliki peluang yang sama untuk meraih sukses pribadi dan melakukan perubahan sosial. Kontestansi yang terjadi bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi bisnis. Peluang yang sedemikian lebar akan menumbuhkan optimisme di setiap jiwa kader HMI. Tidak akan ada lagi kader yang mengkhawatirkan masa depan kariernya, karena setiap diri mereka bisa membuka peluang karier sendiri. Tidak akan ada lagi kader yang putus asa karena tidak terpilih menjadi pimpinan suatu lembaga, karena dia bisa menciptakan lembaga bisnisnya sendiri. Jika lembaga struktural politik membutuhkan dukungan banyak personil dan pemodal untuk berdiri, maka lembaga bisnis bisa didirikan bahkan oleh seorang kader saja.

Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”
Konsep Economical Movement bukan lah konsep yang terlalu muluk sehingga sulit diwujudkan. Syarat utama dari gerakan ini adalah adanya “Team Leader” yang bervisi ekonomi, memiliki jaringan luas dan mampu memberikan panduan sistematis tentang pelaksanaan Economical Movement.

Langkah utama untuk mewujudkan Economical Movement adalah Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”. Tujuan utama dari gerakan ini untuk memfasilitasi setiap kader yang berkeinginan memiliki unit usaha sendiri. Frame kabijakan training dasar pengkaderan (LK 1, LK2 dan LK3) harus berorientasi pada penumbuhan jiwa kewirausahaan, pengenalan praktek kewirausahaan, pembangunan jaringan dengan para pengusahan sukses, sistematisasi mentoring bisnis (pembentukan komunitas pemula usaha, kegiatan magang usaha) hingga penyiapan akses permodalan dan pemasaran.

Gerakan ini harus dimulai dari tingkatan komisariat sebagai pintu gerbang awal pengenalan kader terhadap HMI. Apabila mindset kader baru sudah familiar dengan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis” maka akan menarik minatnya untuk semakin giat dan aktif berorganisasi di HMI. Kondisi ini juga sebagai jawaban atas kejumudan kegiatan keorganisasian di HMI yang selama ini berkutat pada diskusi-diskusi klasik yang tidak secara langsung memberikan kontribusi nyata kepada kader.

Pelaksanaan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis” ini akan semakin mudah terlaksana mengingat saat ini hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat komunitas-komunitas pengusaha. Komunitas tersebut biasanya sangat terbuka terhadap ajakan kerjasama dari berbagai pihak, tentunya akan semakin mudah mewujudkan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”.

Melihat semua paparan di atas, tentunya sangat lah layak jika “Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI”. Sudah saatnya HMI menjadi bagian dari perubahan masyarakat. Sudah saatnya generasi kita menciptakan sejarah sebagai GENERASI Ke-III dalam perjuangan HMI. Nama-nama kita akan disejajarkan dengan Nurcholis Madjid, Akbar Tandjung, M.Jusuf Kalla dan banyak tokoh lain yang menjadi pioneer di jamannya.

“Jaman Kita adalah Jaman ECONOMICAL MOVEMENT”

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

YAKUSA...



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.









Kamis, 26 September 2013

5 Tingkatan Entrepreneur

5 Tingkatan Entrepreneur
Direview oleh


Selamat siang para pembaca yang Budiman…

Artikel kali ini mengulas materi yang disampaikan pada TDA Ngalam Forum #7 & Halal Bi Halal TDA Ngalam. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 21 September 2013 Pukul 10.00 - 15.00 WIB di Resto Big Burger Lt.3 Jl.Soekarno Hatta Kota Malang. Judul materi tersebut adalah “5 Tingkat Entrepreneur” yang dibawakan oleh Bapak Donny K. Puriyono / @donnykris yang juga merupakan owner dari WinnerTech Corporation.

Bapak Donny K. Puriyono

Pendahuluan
Dalam menjalankan bisnis tidak lah ada aturan baku untuk mencapai kesuksesan. Ada suatu usaha dianggap tidak prospektif, tetapi malah mencapai kesuksesan ketika dijalankan. Sebaliknya, ada jenis usaha yang dianggap memiliki prospek cerah di masa depan, tetapi hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Sumber terbesar dari kegagalan suatu bisnis lebih berasal dari Sang Owner atau Sang Pelopor. Kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap bisnisnya, pada posisi mana saat ini bisnisnya berjalan dan akan dibawa kemana bisnisnya kelak.

Untuk mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan dalam bisnis kita, maka ada dua hal besar yang harus kita ketahui, yaitu : Visi Bisnis dan Tingkatan Entrepreneur. Yuk kita ulas bersama…

Visi Bisnis Hukumnya WAJIB
Ada pendapat yang berkembang bahwa pengusaha di Indonesia lebih susah berkembang dari pada pengusaha di Malaysia. Pada hal dari segi prospek bisnis dan keahlian tidak lah jauh beda, lalu apa yang membedakan?. Ternyata perbedaan besarnya adalah pada VISI BISNIS.

Beberapa pengusaha kita hanya puas menjadi “jago kandang” di lingkungan kota tempat tinggalnya atau paling jauh pada lingkup provinsi. Tidak ada yang salah dengan perasaan puas tersebut. Akan tetapi jika kita ingin menjadi The REAL Entrepreneur maka sebaiknya dipikirkan ulang tentang visi besar dari perjuangan bisnis kita. Apakah nantinya bisnis tersebut akan mengharumkan nama bangsa atau kah hanya sebatas “mengisi perut” keluarga kita.

Tetapkan VISI yang BESAR sekalian, jangan setengah-setengah. Misalnya salah satu bisnis kami di bidang sepatu safety (safety shoes) dengan situs www.JualSepatuSafety.com . VISI BISNIS dari usaha tersebut adalah “#1 Safetywear Supplier in INDONESIA” . Visi tersebut sangat lah besar bagi kami karena kapitalisasi dalam bisnis ini sangat besar, klien dari dunia industri dan bauran produk yang unik dan beraneka ragam. Bagi kami tidak ada yang tidak mungkin, walau pun kami masih pemain baru tetapi sudah banyak perusahaan besar dan BUMN yang menjadi klien kami. Itu sudah menjadi bukti bahwa visi besar akan diikuti oleh anugerah yang besar pula. Bagaimana dengan visi bisnis Anda???...

Tingkatan Entrepreneur
Mungkin kita pernah memperhatikan atau bahkan sedang mengalami, suatu kondisi dimana bisnis kita “gitu-gitu aja” bahkan setelah berjalan belasan tahun. Omset juga stagnan, klien tidak bertambah, project tidak stabil malah semua pekerjaan masih kita handle sendiri tanpa bisa didelegasikan kepada staff. Bisnis kan bukan sekedang dapat untung, tetapi memiliki sistem dan masa depan yang jelas…betul kan?. Yuk kita kupas satu per satu…

Level 0 = Employee
Ya…Anda tidak salah baca kok. Memang ada level nol dalam bisnis, yaitu ketika kita masih menjadi karyawan pada suatu perusahaan. Ciri khas dari level ini adalah :
  1. Merasa AMAN, karena mendapat gaji rutin setiap bulan.
  2. Asumsi yang salah tentang karyawan : Semakin jabatan naik, gaji akan naik dan kemakmuran semakin meningkat. Kenyatannya banyak karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun masih juga mengalami PHK (pemutusan hubungan kerja).
  3. Menukar waktu dengan uang, jam kerja 8 jam sehari atau lebih dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya.
  4. Tantangan : Rasa takut keluar dari pekerjaan.

Level 1 = Self Entrepreneur
Level pertama sebagai entrepreneur ditandai dengan mempekerjakan diri sendiri. Semua pekerjaan di-handle sendiri. Mereka berprinsip : Jika bisa diselesaikan sendiri buat apa dibantu orang lain.
  1. Memulai bisnis diawali dengan diri sendiri, biasanya mulai dibantu satu karyawan.
  2. Asumsi yang salah tentang level self entrepreneur :
Ø  Merasa memiliki skill menjual sehingga hanya fokus pada marketing.
Ø  Merasa serba mampu sehingga semua pekerjaan dikerjakan sendiri, jika sakit maka pekerjaan tertunda.
Ø  Ingin menikmati hasil sendiri karena lebih besar dan tidak perlu dibagi dengan orang lain (karyawan).
  1. Jebakan “Business=Busy-Ness”. Kondisi ini lebih buruk dari pada menjadi karyawan. Jika karyawan pada umumnya bekerja 8 jam per hari, bisa jadi self entrepreneur bekarja 24 jam per hari. Semua belum didelegasikan dan belum tersistem. Kesibukan menyiksa tiada akhir, semakin banyak order semakin tersiksa.
  2. Memperdagangkan waktu, mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan order dan omset usaha. Penghasilan tidak tentu, terkadang sangat besar tetapi di lain waktu sangat kecil.
  3. Tantangan : Menetapkan VISI USAHA yang besar. Kesalahan pebisnis Indonesia dibandingkan pebisnis Malaysia adalah kebanyakan kita berbisnis hanya untuk makan, bukan untuk memiliki karajaan bisnis. Supaya memiliki VISI BESAR tidak ada salahnya membuat perencanaan masa depan bisnis hingga 100 tahun ke depan. Seperti hal nya perusahaan-perusahaan dunia yang berusia lebih dari 1 abad.
  4. Untuk naik ke level selanjutnya :
Ø  Buat VISI BESAR.
Ø  Buat struktur organisasi (pimpinan, manajer administrasi, manajer SDM, manajer keuangan, dan lain sebagainya) bahkan ketika kita belum memiliki karyawan.
Ø  Buat targer kenaikan level bisnis untuk mencapai visi bisnis.
  1. Hendaknya mencari MOTIVASI sehingga lebih yakin dan konsisten dengan bisnisnya. Karena pada level ini sangat mudah tergoda untuk pindah bisnis ketika melihat bisnis teman mulai berkembang. Pada hal nantinya tantangan bisnisnya tidak jauh berbeda dengan bisnis orang lain.

Level 2 = Manager
Sekarang sudah mulai memiliki beberapa karyawan, pekerjaan sudah mulai didelegasikan dan sistem pun mulai dirintis. Lalu apa saja pernak-pernik sebagai entrepreneur dengan level manager?.
  1. Level 2 (manager) adalah Level 1 (self entrepreneur) hanya saja lebih komplek.
  2. Ragu-ragu ketika akan merekrut karyawan, khawatir tidak bisa menggaji dengan layak. Tipsnya adalah “Jika kita mampu membayar ½ gajinya, maka REKRUT dia”. Separuh lagi biar karyawan kita yang berusaha meningkatkan omset usaha kita, gajinya akan terbayar oleh pendapatan usaha.
  3. Asumsi yang salah tentang level manager, perlu diingat tujuan kita adalah PROFIT :
Ø  Perusahaan yang karyawannya lebih banyak PASTI lebih baik daripada yang karyawannya lebih sedikit.
Ø  Perusahaan yang omsetnya lebih besar PASTI lebih baik dari pada yang omsetnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang hutangnya lebih besar PASTI lebih bagus dari pada yang hutangnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang ownernya sering tampil di media dan terkenal PASTI lebih baik daripada yang ownernya tidak populer.
  1. Bisnis Jalan, Ownernya Jalan-jalan? Apa bener?. Bisa jadi kita lebih sibuk dari pada karyawan, karena sistem masih belum jalan.
  2. Alokasi waktu kerja : 80% operasional dan 20% urusan strategis. Masih terlalu banyak terlibat dalam operasional usaha.
  3. Jebakan besar : “Ego menjadi BOS”. Terlalu sibuk memerintah bawahan dan menikmati panggilan sebagai BOS, dari pada memikirkan cara meningkatkan profit.
  4. Tantangan untuk naik level : Harus membenahi manajemen arus kas (cash flow), team building / struktur organisasi berjenjang, membuat SOP dan melatih jiwa kepemimpinan (leadership).
  5. Bagaimana mencari karyawan yang tepat untuk bisnis kita? Pada prinsipnya :
“Karyawan TEPAT karena Bos yang Tepat”. Maka pantaskan diri kita sebagai pimpinan selanjutnya karyawan akan mengikuti. Ada kalanya karyawan tidak hanya mencari gaji, tetapi mencari pemimpin dan lingkungan kerja yang kondusif.
  1. Jangan sampai karyawan menganggur dan tidak tahu yang harus dikerjakan. Maka setiap karyawan harus memiliki rincian kerja (job description) dan SOP.
  2. Sebagian besar pebisnis di Indonesia berada pada level 2 ini. Alasannya karena ingin terus terlibat dengan bisnisnya, ada ikatan emosional, belum bisa mempercayai bawahan dan masih banyak lagi. Jadi…apakah Anda ingin naik ke level selanjutnya?.

Level 3 = Owner
Nah…sampai juga di level owner. Jangan Cuma kecantol pada level manager saja ya. Pada titik ini Anda sudah bisa jalan-jalan, karena semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan.
  1. Telah memiliki sistem bisnis yang berjalan baik.
  2. Sudah memiliki tim kerja yang bagus.
  3. Sudah memiliki General Manager (GM). Tugas dari GM adalah untuk menggantikan tugas Anda. Semua hal harus diketahui GM dan jika ada pekerjaan yang belum selesai maka menjadi tanggung jawabnya. Bukan lagi tanggung jawab Anda.
  4. Sudah tidak “menghasilkan uang”, tetapi “menerima LABA”. Tugas menghasilkan uang adalah tanggung jawab GM dan seluruh bawahannya.
  5. Tantangan : Mengumpulkan MODAL untuk investasi dan naik ke level yang lebih tinggi.
  6. Sedikit tips mengenai perekrutan karyawan : Beberapa karyawan bisa outsourching. Kita tidak perlu menyediakan sendiri, misalnya untuk security dan office boy (OB). Tentu kita tidak memiliki kemampuan khusus untuk melatih mereka, maka gunakan saja jasa outsourching.

Level 4 = Investor
  1. Jika pada level sebelumnya kita masih fokus menjual barang dan jasa, maka pada level ini kita sudah melakukan JUAL BELI BISNIS.
  2. Prinsipnya adalah : Beli Bisnis, Kembangkan, Jual.
  3. Menghasilkan uang dengan uang. Kita fokus menggalang dana dari investor lain, setelah terkumpul banyak maka akan kita belikan sebuah perusahaan. Pada saat perusahaan tersebut berkembang pesat dan semua persyaratannya terpenuhi, maka JUAL KEMBALI. Keuntungan yang didapat bisa jadi sangat besar hingga ratusan kali dari modal awal yang kita keluarkan.
  4. Pahami aturan “ANGKA NOL” yaitu : Seberapa banyak angka nol dalam uang kita. Para investor kelas dunia sangat paham dengan pentingnya angka nol.
  5. Tantangan : Harus banyak belajar. Biasanya investor pemula ketika membuat satu kesalahan investasi lalu dia berhenti, seharusnya dia bersiap untuk membuat kesalahan-kesalahan lain dan terus belajar.

Level 5 = Real Entrepreneur
  1. Membangun bisnis yang dapat dijual ke publik. Pengusaha kelas dunia seperti Bill Gates dengan Microsoftnya dan Mack Zuckerberg dengan Facebooknya, memperoleh kekayaan super besar bukan karena menjual produk. Mereka memperolehnya dari menjual perusahaan (saham) kepada masyarakat.
  2. Mindset : “Menciptakan sesuatu dari ketiadaan”. Pendapatan terbesar kita dari nilai perusahaan yang terus tumbuh, bukan hanya dari penjualan dan laba yang semakin besar.
  3. Setelah kita mencapai level real entrepreneur…lalu apa???

Setelah semua pencapaian kita raih, maka…

“Kita akan merasakan KEPUASAN BESAR ketika mengembalikan pendapatan kita kepada masyarakat”

Demikian sedikit review dari kami semoga bermanfaat. Banyak ilmu dan pengetahuan yang kami peroleh dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Bagi yang berminat langsung saja menghubungi Pengurus TDA di kota Anda atau bisa membaca di http://tangandiatas.com/ dan www.TDAngalam.com

Salam Sukses,



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.

----------------------------------------------------------------------------------------

DOKUMENTASI :
Peserta Memenuhi Acara TDA FORUM #7

Peserta dari berbagai kalangan, baik pebisnis maupun non pebisnis

Materi sangat berbobot sehingga para peserta serius menyimak

Pembentukan Kelompok Mentoring Bisnis (KMB)

Rabu, 18 September 2013

Tips Melatih Life Skill Anak

Tips Melatih Life Skill Anak

Yayah HILDAN dan NAZILA Belajar Memasak

Suatu ketika Ibu saya akan pergi untuk urusan kedinasan dan biasanya sekaligus berbelanja ke Pasar Dampit. Beliau bertanya : “Le...mau dibelikan apa?. Hildan kecil menjawab : “Dibelikan sapu saja Bu”. Itu ketika saya masih seusia Taman Kanak-kanak. Almarhum Bapak termasuk pribadi yang sangat memperhatikan kebersihan rumah. Sejak kecil saya sudah dilatih menyapu lantai, membersihkan kamar, menyapu halaman depan dan berbagai aktivitas lain. Saya sampai hapal lantai mana saja yang berlubang (rumah kami dahulu berlantai semen), kursi mana saja yang rotannya rusak dan bagian rumah yang sulit dijangkau sapu. Rumah kami seperti dunia kecil yang saya kuasai seluk beluknya.

Sore hari almarhumah nenek mengajarkan cara menyapu dengan mempergunakan sapu korek (sapu lidi). Dari halaman di ujung barat disapu hingga ujung timur sehingga semua sampah berkumpul pada satu sudut dan siap dibakar. Jika diamati bekas tanah yang disapu akan membentuk pola garis-garis bergelombang yang teratur. Itulah keunikan menyapu halaman dengan sapu lidi. Anak-anak yang pernah tinggal di desa pasti tahu.

Siang hari setibanya Bapak dan Ibu dari mengajar di SD, kami berempat belajar masak di dapur. Bapak mengajari cara mengupas kelapa memakai “slumbat”, entah apa sebutannya dalam bahasa Indonesia. Slumbat itu sejenis kayu atau besi yang berdiri tegak, fungsinya untuk menusuk dan membuka serabut kelapa. Juga mengajari saya “maca’i kelopo” yaitu memecah batok kelapa dengan golok/parang tanpa merusak daging kelapa. Dua hal ini yang sampai sekarang belum bisa saya lakukan dengan sempurna...hehehe ngapunten Pak.

Tanpa kami sadari kegiatan sehari-hari di masa lalu tersebut sangat membantu kehidupan keseharian kami di masa kini. Juga memberikan landasan pengetahuan bagi kami dalam mendidik si kecil. Ternyata hal sederhana bahkan dianggap kuno oleh beberapa orang, justru sangat bermanfaat di masa serba automate seperti saat ini. Orang-orang dari masa lalu kami seolah memberikan pengajaran berharga tentang cara memecahkan masalah (problem solving) dan kemandirian.

NAZILA Belajar Menjemur Baju
Anak-anak Jaman Sekarang
Apakah berbeda cara mendidik anak-anak semasa kami dengan anak-anak jaman sekarang, terkhusus tentang life skill? Sepengamatan kami secara nilai dasar sih sama saja, hanya berbeda variasi kondisi. Eits...tapi tunggu dulu, apaan tuh life skill?. Saya mendefinisikannya secara sederhana sebagai kemampuan dalam beradaptasi dan menyelesaikan persoalan sehari-hari. Menurut definisi World Health Organization (WHO), life skills atau ketrampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif.

Penjabaran tentang berbagai  aspek life skill dapat dibaca di link : http://rumahinspirasi.com/apa-itu-life-skills/ . Nah di artikel ini kita akan membahas secuil tips-tips untuk melatih kecakapan life skill pada anak-anak jaman sekarang. Kita mulai yuk...

Jaman sekarang tidak bisa dipungkiri bahwa pendampingan orang tua biasa digantikan oleh keberadaan pembantu, orang tua, televisi, tempat penitipan anak dan berbagai alternatif pengganti lainnya. Apakah hal tersebut otomatis menghilangkan tanggung jawab orang tua? Oh tentu tidak. Lalu bagaimana?. Pertanyaannya adalah “Berapa jam sehari kita habiskan untuk bekerja?” dan “Berapa jam waktu kita untuk mendidik si kecil?”. Jika kita bisa memprioritaskan waktu untuk bekerja, tentu pasti bisa “memaksakan” waktu untuk mendidik si kecil. Mari kita mulai dari hal-hal termudah.

Berikut beberapa aktivitas kecil yang kami lakukan untuk melatih si kecil :
  1. Mencuci baju bersama : Si kecil sering kami libatkan untuk mencuci baju. Bahkan semenjak dia berusia 1 tahun. Kami berikan bajunya yang kotor lalu kami ajari cara menggosoknya dengan sikat baju. Walau pun air nya muncrat tidak karuan tetapi dia sangat suka. SUKA itu lah kata kuncinya.
  2. Menyapu bersama : “Yah...mana Kakak bantu nyapu” pinta si kecil. Hmmm...malah berantakan deh. Akhirnya kami belikan satu set sapu dan sekop sampah kecil, supaya dia tetap membantu tanpa mengganggu aktivitas kami.
  3. Membuat roti bakar : Ini nih yang paling seru. Mulai mengoles mentega hingga ikut membolak-balik roti di atas wajan teflon. Dia paling suka saat kami berdua melemparkan roti ke udara dan menangkapnya dengan wajan. “Aji yah...dilempar aji...” teriaknya kegirangan.
  4. Merapikan baju : Setelah baju kering maka kami merapikannya sebelum diseterika. Si kecil suka memilih sendiri baju-bajunya untuk dilipat dan kelompokkan. “Ini kaos Kakak yang kecil, ini punya Yayah yang gedhe”.
  5. Merapikan kamar tidur : Untuk seusia anak 4 tahun tentu kesulitan merapikan bantal, guling dan selimut yang berukuran besar. Kami membantunya merapikan dan si kecil merapikan boneka-bonekanya yang berserakan.

Tentu saja masih banyak aktivitas yang kami lakukan bersama. Sambil memuji hasil pekerjaannya kami menjelaskan mengapa aktivitas tersebut dilakukan, tentu dalam bahasa yang sederhana. Misalnya : “Kak...mainannya ditaruh di kotak di kamarnya Kakak ya. Supaya tidak hilang”.

Bagi kami yang masih belajar mendidik anak, menjalani aktivitas bersama si kecil lebih bermakna jika dibandingkan dengan membiarkannya beraktivitas bersama orang lain. Karena kami yakin memang seharusnya anak lebih dekat secara emosional dengan orang tuanya, dari pada dengan pihak lain. So...selamat berlatih life skill bareng si kecil ya. Pastikan kita menjadi sumber utama pengetahuannya...okey??? ^_^

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI
CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.



Selasa, 17 September 2013

Menikahi Ruang dan Waktu

Menikahi Ruang dan Waktu

Bu ALFI, Pak HILDAN dan Pak AGUS PIRANHAMAS

Selamat malam para pembaca yang Budiman...
Pada artikel kali ini kami ingin berbagi kisah awal pernikahan kami. Beberapa bulan setelah menikah, kami menempati rumah kontrakan di Kota Malang. Saat itu saya merintis usaha unit jasa keuangan syariah di Kota Malang tanpa persiapan yang matang. Sedangkan istri saya sudah diterima mengajar (sukwan) di sebuah SMA negeri di Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Jarak antara Kota Malang dan tempat istri saya mengajar lumayan jauh, sekitar 4 jam perjalanan darat. Sehingga kami hanya bertemu seminggu sekali.

Kondisi kami bukan seperti pasangan suami istri, tetapi lebih seperti pasangan muda-mudi yang pacaran jarak jauh (long distance relationship / LDR). Kondisi yang menurut kami sangat menyiksa. Beberapa orang menyarankan agar kami bersabar, karena rata-rata setelah sukwan 5 tahun akan masuk data base dan kemungkinan besar istri saya diterima menjadi PNS. Saat menjadi PNS kan kondisi keuangan akan menjadi stabil dan kami bisa hidup lebih layak. Wow...5 tahun hidup berjauhan? ,belum pasti diterima jadi PNS lagi. Apa tidak ada solusi lain supaya kami hidup bersama dan mencapai kemapanan ekonomi sekaligus?. Kok hidup jadi suram banget ya? Seolah hanya ada satu jalan dan kami dipaksa untuk melaluinya. Ketika kami ingin “berontak” dengan pilihan kami, maka sebagian orang berkata “SABAR YA”.

Kekuatan Kemandirian
Membangun keluarga dalam kondisi ekonomi yang labil akan menempatkan siapa saja dalam kondisi serba salah. Berbeda pendapat akan langsung ditentang, karena kami belum terbukti sukses. Jika melakukan sedikit kekeliruan akan dipandang sebagai kesalahan besar. Berbeda sekali jika kekeliruan tersebut dilakukan oleh pasangan muda yang sudah mapan, punya rumah serta mobil sendiri. Saya tidak bermaksud mengatakan sebagian dari kita materialistik, tetapi ya begitu lah kondisi yang dahulu kami alami.

Sebagian dari kita mungkin memilih mengikuti pendapat mayoritas, supaya tidak mendapatkan penolakan dan tidak dianggap membangkang. Kami berpendapat lain. Sebenar apa pun jika secara ekonomi kita masih dianggap lemah, maka cita-cita untuk dihargai secara sosial hanya lah impian kosong. Meski pun kami menyadari hal tersebut, tetapi kami tetap “stress” berat karena belum mendapat solusi yang nyata. Bagaimana caranya agar kami bisa mandiri secara ekonomi sekaligus hidup bersama sebagai suami istri?

Pada suatu ketika kami sudah tidak tahan dengan kondisi “stress” ini. Akhirnya kami bersepakat untuk memiliki bayi supaya istri saya bisa tinggal di Kota Malang dan ada alasan untuk meninggalkan kegiatan mengajarnya di Kecamatan Besuki. Wow...jika mengingat peristiwa itu kembali miiris rasanya. Bayangkan saja bisnis saya stagnan dan istri saya akan menganggur.

Akhirnya kami pun tinggal bersama di kontrakan. Untuk hidup sehari-hari tentu masih ada sedikit bantuan dari orang tua. Saya sendiri masih berusaha menjalankan bisnis dan istri saya mengajar di lembaga kursus komputer dan mengambar untuk siswa-siswi Taman Kanak-Kanak. Pada masa ini istri saya masih belum mengandung (kami sepakat menunda dulu untuk memiliki anak). Meski pun serba terbatas, alhamdulillah kami hidup bahagia. Seperti lirik lagu dangdut “makan sepiring berdua”...ihir...hehehe. Setelah habis sepiring masih ada sebakul nasi, semangkuk sayur dan lauk pauk kok.. ^_^

Alhamdulillah...ALLOH masih memberikan kekuatan batin kepada kami untuk membuat keputusan BESAR tersebut : “Istri saya berkorban karir demi keluarga kecilnya”. Seperti ada bisikan batin yang sangat kuat. Meskipun kondisi keuangan sangat menipis, alhamdulillah kami masih bisa mencukupi kebutuhan pokok.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?. Anda mungkin sudah bisa menebak. Kondisi ekonomi kami benar-benar terpuruk. Berbagai bisnis dan pekerjaan sudah kami jalani, yang terjadi malah semakin parah. Kondisi ini terjadi hingga 2 tahun masa pernikahan kami dan bertepatan hingga putri kami berusia 1 tahun lebih. Alhamdulillah di saat berbagai usaha tidak menumbuhkan hasil, ALLOH masih memberikan pertolongan. Di akhir 2010 saya diterima menjadi staff kurikulum sekaligus marketing di salah satu bimbingan belajar di Kota Malang. Sedikit demi sedikit kami menyisihkan pendapatan, sambil tetap meyakinkan diri bahwa keputusan kami untuk tinggal bersama adalah KEPUTUSAN yang TEPAT. Uang yang tersisa terus kami kumpulkan ditambah dengan pinjaman, kami pun membuka usaha pertama kami Les Privat dan Bimbingan Belajar TELADAN. Usaha ini masih berjalan hingga saat ini terkhusus untuk les privat saja dan menjadi prasasti dari kegigihan istri saya. Uang yang terkumpul sebagian untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan sebagian lagi untuk membeli modem USB dan berlangganan akses internet. Alhamdulillah komputer pemberian orang tua masih bisa digunakan. Dari sini lah sejengkal demi sejengkal kami menambah unit usaha hingga saat ini.

Apa Masalahnya?
Kami menyaksikan beberapa orang rela hidup berjauhan dengan keluarganya demi mencari penghidupan. Ada yang berpisah kota bahkan berpisah negara. Sebagian dari mereka bertemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, setahun sekali dan bahkan lebih. Kami melihat sepertinya semua baik-baik saja. Mungkin mereka sudah terbiasa, baik pihak suami, istri maupun anggota keluarga yang lain menganggapnya wajar, toh tujuan kondisi tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi kami tidak sanggup...BIG NO pokoknya. Berpisah 3 hari saja (ketika istri dan si kecil mudik) saya sudah tidak enak makan tidak enak tidur. Apalagi berbulan-bulan...argghhhh. Tentu saja setiap orang memiliki penilaian sendiri terhadap kondisi ini.

Terkadang kami berpikir, jika berjauhan dengan alasan mencari nafkah apakah memang tidak ada rejeki yang berserak di lingkungan asal mereka?. Karena sepengamatan kami hampir di setiap daerah ada orang kaya (bahasa populernya), atau setidaknya dari sekian banyak orang yang kuang beruntung di suatu daerah pasti ada beberapa orang yang bisa mengolah peluang di daerahnya sendiri. Jadi apa masalah utamanya sehingga harus ke luar daerah dan berpisah dengan keluarga hanya untuk mencari nafkah?. Ah mungkin kami terlalu polos dan lugu untuk mengerti kompleksitas cita-cita dan harapan masyarakat. Sekali lagi ini murni pendapat subyektif kami lho.

Dari sekitar 4 tahun masa  belajar kami, setidaknya kami tetap memegang keyakinan lama. Bahwa keluarga kecil kami bisa mencapai kemandirian ekonomi sekaligus menikmati kehangatan penyatuan ruang dan waktu sekaligus. Jika kami bertiga bersama, insyaalloh masalah akan lebih mudah diatasi.


High Risk
Apabila kita mencoba berpikir jernih. Sebenarnya LDR bagi pasangan suami istri amatlah mengandung resiko. Misalnya resiko :
  1. Salah satu pihak terpikat dengan orang lain.
  2. Kebutuhan psikis yang tidak terpenuhi.
  3. Komunikasi terhambat.
  4. Pengelolaan keuangan bersama yang kurang sinkron.
  5. Dan masih banyak lagi.

Lho kan ada handphone, facebook, email, dan video call?. Lho kan kita bisa banyak berpuasa untuk mengontrol keinginan biologis?. Lho kan masih bisa bertemu setiap weekend?. Lho kan...???
Sekali lagi ini hanya pendapat kami dan memang bisa jadi sangat berbeda dengan kondisi keluarga lain. Beda pendapat boleh kan?.

Kalau kami sih lebih suka bersama-sama terus setiap hari. Pagi-pagi bisa belanja bareng ke warung. Masak lalu sarapan bareng. Kadang mengantar si kecil ke sekolah juga bareng. Kerja di rumah bersama. Saling meluapkan emosi berdua. Berpelukan bersama. Tentunya tidur dalam satu selimut berdua...sstttt si kecil sudah punya temapt tidur sendiri... ^_^

Oke deh para pembaca yang Budiman. Sekian dulu coretan kali ini. Insyaalloh akan berlanjut di lain kesempatan. Salam hangat untuk orang-orang yang Anda cintai.

Salam Keluarga Indonesia



Yayah HILDAN & Bunda ALFI

CP : 0852 340 89 809 , 0341-5470688.

Senin, 02 September 2013

HARD WORK ... It’s a MUST

HARD WORK ... It’s a MUST




Selamat malam para pembaca yang Budiman...

Barusan saya pulang mudik singkat dari rumah di Kabupaten Malang. Seperti setiap kali saya pulang, selalu ada hal seru yang perbincangkan. Kali ini salah satu cerita inspiratif adalah tentang dua keluarga. Ini cerita NYATA lho dan masih terjadi saat ini. Kebetulan dua keluarga tersebut kenalan Ibu kami.

Di suatu desa ada 2 keluarga :
Keluarga A adalah keluarga terkaya sejak jaman dulu, tuan tanah (lebih dari 40 Ha), dulu menantunya juga raja bisnis dan sangat tersohor, dan hampir segala-galanya berada di atas rata-rata masyarakat desa tersebut.
Keluarga B adalah keluarga miskin sejak jaman dulu, anaknya ada 5 bersaudara, beberapa hanya lulus SD dan bahkan beberapa tahun yang lalu masih ada yang jadi tukang ojek.

Pada suatu ketika kepala keluarga A meninggal dunia. Beliau meninggalkan banyak harta (terutama tanah). Putra-putri beliau sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil dan tidak terbiasa bekerja keras memperjuangkan nasib mereka. Sehingga sepeninggal sang kepala keluarga, mereka hobi menjual tanah warisan yang sangat luas tersebut. Mulai bernilai ratusan juta hingga di atas 1 milyar rupiah. Beberapa memiliki rumah besar dengan halaman luas. Tetapi sayangnya hidup dalam kekurangan dikarenakan tidak mau bekerja keras.

Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi pada keluarga B. Kelima bersaudara tersebut bekerja keras serabutan, menyebar di beberapa kota. Pada suatu ketika mereka memiliki keinginan untuk mendirikan usaha keluarga berlima. Padahal mereka tidak memiliki  keluarga pebisnis maupun pengalaman bisnis. Mereka hanya bertekat menyejahterakan keluarga.

Manajemen Kepercayaan
Menurut Ibu saya, prisip ke-5 bersaudara tersebut adalah “Berani Mempercayai dan Berani Memberi Kepercayaan”. Awalnya saya belum begitu paham maksud cerita beliau. Kemudian Ibu melanjutkan perjalanan bisnis mereka.

Kelima bersaudara tersebut berkecimpung dalam bisnis penjualan buah-buahan. Mereka mengambil buah-buahan dari daerah dan menjualnya ke Jakarta. Saat ini mereka setidaknya memiliki 9 truk, rumah, mobil pribadi dan juga beberapa bisnis pribadi lainnya.


Penerapan prinsip manajemen kepercayaan misalnya :
Anak ke-1     : Memiliki tugas mencari supplier atau petani buah di daerah.
Anak ke-2     : Mengurus pengiriman barang (truk, perawatan kendaraan, sopir dan lain-lain).
Anak ke-3     : Mengelola uang tunai.
Anak ke-4     : Pencatatan keuangan.
Anak ke-5     : Menjual buah-buahan di Jakarta (menyewa lapak, beli lapak baru, mencari pembeli).

Masing-masing sudah memiliki tugas sehingga tidak diperkenankan mencampuri tugas saudara yang lain. Ketika hasil sudah diperoleh maka langsung dibagi rata. Di saat mereka ingin ekspansi usaha pun modal adalah hasil “markipat” (mari kita patungan) berlima. Prinsip ini dijaga diantara mereka berlima. Istri maupun suami mereka pun tidak boleh mencampuri urusan bisnis keluarga.

Wow...bagi kami manajemen kepercayaan ini sangat brilian. Begitu sederhana tetapi sangat efektif. Semakin lama bisnis keluarga tersebut semakin besar menggurita. Sungguh sangat kontras dengan keadaan keluarga A yang asetnya semakin berkurang. Bahkan keluarga B beberapa waktu yang lalu membeli tanah dari keluarga A.

Warisan Masa Depan
Kami mendapat banyak pelajaran dari kisah 2 keluarga tersebut. Memberikan warisan harta adalah pilihan yang baik. Tetapi mewariskan semangat hidup, kerja keras, ilmu dan nilai-nilai kebaikan adalah pilihan LUAR BIASA. Menyayangi anak-anak dalam wujud pemberian fasilitas berlebih adalah salah satu jalan mematikan potensi anak. Karena semangat dan etos kerjanya tidak terlatih, merek sudah merasa nyaman dengan sokongan harta berlimpah dari orang tua.

Jika saat ini kita sudah mencapai puncak kesuksesan, maka ada baiknya putra-putri kita juga mengetahui perjuangan berdarah semasa kita merintis. Saya teringat pepatah lama :

“Generasi pertama merintis, generasi kedua men-JAYA-kan dan generasi ketiga menghancurkan”.

Tentunya para pembaca tidak ingin seperti pepatah di atas bukan? So...segera wariskan ilmu kehidupan dan semangat juang kita....SEKARANG JUGA. Yuk kita selamatkan masa depan para penerus kita.

Salam Keluarga Indonesia...



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...