Kamis, 13 Juni 2013

MINDSET Bersosialisasi di Facebook versi HILDAN FATHONI (Bagian 1)




Tulisan saya kali ini bisa disebut sebagai pengayaan dari tulisan terdahulu yang berjudul “Strata Informasi”. Jika pada tulisan terdahulu masih terasa abstrak maka saya mencoba menderivasikan (membuat turunan, supaya mudah diaplikasikan) dalam tulisan ini.

Usia Facebook sudah hampir menginjak 1 dasawarsa dan pengguna di Indonesia juga sudah sangat banyak. Semula sosmed ini hanya digunakan sebagai sarana berteman, kini fungsi dasar tersebut telah berkembang bahkan sebagai media bisnis dan penggerak perubahan sosial. Dengan perkembangan tersebut bisa disebut bahwa pengguna Facebook di Indonesia telah mature (dewasa) dalam hal pemahaman penggunaan teknisnya. Akan tetapi lagi-lagi sosmed ini hanyalah semua media mati dan yang membuatnya hidup adalah individu-individu di balik layarnya (pemegang akun). Maka tidak jarang pengguna Facebook yang sudah beberapa tahun pun mengalami “gagap etika” ketika bersosialisasi di dalamnya.

Saya sedikit trenyuh ketika beberapa rekan yang sebelumnya tidak kenal, kemudian menjadi sahabat melalui Facebook, dan harus mengakhiri persahabatannya (saling blokir) melalui Facebook juga. Biasa nya hal ini diawali dengan perbedaan pemaknaan kata (kesalahan pemilihan kata), ketidakmampuan memilah dan memilih informasi, ketidakmampuan membaca konteks serta beranggapan bahwa semua perseteruan harus dituntaskan melalui Facebook. Saya mengalami sendiri kondisi tersebut. Ketika saya memposting tulisan dengan judul “Haramkan Forex Trading dan Derivative Transaction”, saya banyak diserang oleh rekan-rekan penggiat forex trading online. Saya dipaksa melayani seluruh sanggahan dan pertanyaan mereka melalui Facebook bahkan ada yang meminta klarifikasi melalui inbox. Saya bisa menebak bagaimana akhir perdebatan tersebut, sehingga saya mengambil langkah :

“Jika mereka ingin berdebat, berkonsultasi maupun meminta klarifikasi. Maka saya hanya bisa melayani melalui komunikasi by phone atau ketemuan face to face sekalian. Supaya mereka bisa memperoleh penjelasan secara komprehensif”.

Lalu bagaimana seharusnya MINDSET  kita ketika bersosialisasi melalui Facebook? Yuk dilanjut...

FACEBOOK Sebagai Alat Pembangun Citra Diri
Seperti halnya SMS, email, MMS, mau pun handphone, Facebook juga hanya sebuah alat untuk saling terhubung. Kerangka berpikir ini harus dimiliki setiap penggunanya. Jika SMS, email, MMS dan handphone komunikasi bersifat personal, maka Facebook lebih seperti media massa. Setiap informasi sangat mudah tersebar dalam hitungan dengan secara massive. Sedikit kesalahan tulisan, foto dan video berakibat jangka panjang bagi siapa pun yang menjadi pengunggah mau pun objek unggahan.
Tingginya tingkat resiko menyebarkan informasi melalui Facebook seharusnya melipatgandakan kewaspadaan kita sebagai pengguna. Nama baik kita bahkan keselamatan kita bisa terancam hanya karena postingan di wall. Lalu bagaimana cara aman memposting informasi melalui Facebook? Berikut beberapa tipsnya :

  1. Gunakan kata-kata bermakna POSITIF.
Mari kita perhatikan 2 kalimat di bawah dan pilihan mana yang kita ambil hayo...???
Kalimat A   : “Ibu-ibu kok sukanya nge-gosip doank. Ndak smart banget sih mbak-mbak ini”
Kalimat B   : “Bunda sekalian, yuk kita bahas masalah merawat bayi aja yah. Dari pada sesama anggota grup saling memojokkan ^_^ ”

Secara sekilas pun kita akan lebih nyaman membaca Kalimat B. Karena pilihan katanya lebih netra dan teduh, serta diakhiri dengan simbol senyum sebagai tanda keramahan ... “^_^”

  1. Pahami Simbol-simbol Positif
Kata-kata bukan hanya sekedar sususan huruf, tetapi juga menyimbolkan sesuatu. Mengeluh di status Facebook dapat dibaca sebagai :
Ø  Aku sedang kesepian.
Ø  Aku masih labil.
Ø  Aku tidak memiliki teman untuk curhat.
Ø  Aku orang yang lemah.
Ø  Aku butuh dikasihani.
Ø  Aku teraniaya, dan lain sebagainya.

Apa untungnya membaca status seperti itu, hanya akan menularkan aura kelabu pada para pembaca. Tidak ada solusi dari kondisi semacam itu. Hanya semakin memperkeruh suasana.

Beda lagi jika kita mampu memahami dan menerapkan simbol-simbol positif, tentu akan semakin terbangun citra diri positif yang meningkatkan wibawa kita di mata orang lain. Apasaja simbol-simbol positif tersebut?
>    FOTO PROFIL. Merupakan “WAKIL” kita di dunia maya. Persepsi awal terbangun dari sini. Menyembunyikan wajah asli kita (dengan berbagai pertimbangan) bisa diartikan bahwa kita belum siap bersosialisasi secara luas. Foto profil yang ceria, bersih dan beraura positif dianggap mewakili pribadi yang ramah.
STATUS dan KOMENTAR. Dianggap sebagai “SIFAT ASLI” kita seperti di kehidupan nyata. Kita terkadang mengasosiasikan “pedasnya” status dan komentar seseorang sebagai sifat judes/galak nya orang tersebut di dunia nyata. Padahal anggapan tersebut tidak selalu benar. Sebaliknya, status yang alim, penuh kebijaksanaan, dan santun juga dianggap mewakili keaslian sifat yang berbudi luhur. Meskipun kedua jenis status tersebut sama-sama berpotensi status palsu (tidak sesuai kenyataan), tetapi status yang bernada positif tetap saja menguntungkan. Beberapa hal yang terkait poin ini adalah komentar positif, gambar, video, cara beriklan, tautan yang dibagikan

  1. Berfikir 2x, Menanggapi 1x.
Apakah kita pernah memperhatikan ada pengguna Facebook yang berkomentar panjang lebah tetapi OOT (out of topic)? Malu sekali bukan jika kita yang mengalami. Maka lebih elok jika kita membaca dulu postingan utamanya, membaca arah komentar lalu memutuskan untuk ikut memberikan komentar atau hanya sekedar mengamati.

  1. Netral dan datatif
Ada ungkapan : “Rasa tidak ingin ditolak, sama besarnya dengan rasa ingin disetujui”. Apakah makna ungkapan tersebut?. Setiap diri kkita sangat menjaga harga diri dan kehormatan, sehingga akan sangat bahagia jika banyak teman yang setuju dengan sikap, pemikiran, tulisan dan pendapat kita. Sebaliknya, kita akan sedih jika banyak komentar yang memojokkan bahkan melawan pendapat kita secara frontal (bersama-sama membenci kita / common enemy)

Ungkapan diatas menimbulkan dampak posisi KAWAN atau LAWAN. Jika kita mengikuti perbincangan pada sebuah status atau tulisan, terkadang kita terpancing untuk memihak. Dalam posisi harus memihak, tentunya kita harus bisa menahan diri untuk tidak terpancing. Memilih posisi netral (walau pun sebenarnya memihak) adalah pilihan bijaksana.

Jika pun kita diharuskan memihak maka berikan data dan fakta yang melatarbelakangi keberpihakan Anda. Jangan lupa sajikan dengan kalimat yang soft sehingga tidak ada alasan untuk menyerang balik ke kita. Misalnya jika kita tidak setuju dengan penndapat Si A, bisa saja kita menggunakan kalimat :
“Sebenarnya pendapat Si A ada benarnya bahwa penjual online banyak yang melakukan penipuan. Akan tetapi setelah saya bertemu dengan owner www.jualsepatusafety.com beserta komunitasnya di www.omgindonesia.com di Kota Malang, saya semakin yakin banyak pengusaha online yang jujur dan terpercaya. Si A bisa cek langsung ke alamat kantornya”

  1. Cek lagi & lagi
Salah satu poin utama yang menyebabkan perselisihan antar individu mau pun kelompok adalah INFORMASI yang TIDAK VALID dan TIDAK bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk di dalamnya :
Ø  HOAX / kebohongan yag dipercaya sebagai fakta.
Ø  ISU PANAS yang seolah bersumber dari pemuka agama terkemuka.
Ø  KETIDAKADILAN yang selalu dihubungkan dengan KONSPIRASI.
Ø  Saling sindir antar suku, agama dan kelompok yang berseberangan.
Ø  Pendapat lemah dan dangkal yang diperkuat dengan ayat-ayat suci dari kitab agama tertentu.
Ø  Pendapat pribadi yang seolah mewakili golongan, dan masih banyak lagi.

Sebagai makhluk berakal sehat tentunya kita harus EXTRA HATI-HATI dalam menyerap dan menyebarkan informasi. Apakah kita pernah menyaksikan :
Ø  Foto biksu Budha berdiri disamping tumpukan mayat. Kemudian ada tulisan : “Umat Muslim dibantai para Biksu di Thailand !!!”
Padahal foto tersebut bisa saja para Biksu yang sedang menolong korban gempa bumi.
Ø  Foto LOGO “BINTANG DAVID” pada logo Yamaha dan beberapa produk. Kemudian ada tulisan : “Antek-antek YAHUDI”
Padahal siapa saja (bahkan non-yahudi) bisa membuat gambar yang menyerupai bintang david secara tidak disengaja.
Ø  Ada beberapa VIDEO dan FOTO yang kemudian diklaim : “Kaum SYIAH membunuh kaum SUNNI” atau sebaliknya “Kaum SUNNI menyerang kaum SYIAH”
Padahal kita tidak berada di lokasi kejadian tetapi emosi kita ikut tersulut. Bahkan sebelum kita mengklarivikasi kebenaran peristiwa tersebut. Begitu mudahkah kita untuk di-ADU DOMBA????
Jika memang demikian sifat kita, maka saya bisa memaklumi mengapa dahulu kita bisa dijajah hingga ratusan tahun oleh bangsa lain...hmmmmm....mengerikan.

Maka wahai Saudara-saudari ku sebangsa dan setanah air, ayo kita tahan diri dan mau mengecek lagi dan lagi atas semua informasi yang disajikan kepada kita. Keyakinan kita bukan lah kebenaran mutlak, karena bisa jadi kita meyakininya padahal sedikit sekali pengetahuan kita terhadapnya.

(bersambung)

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI


 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...