Senin, 10 Juni 2013

Melatih Anak Menjadi Super Antusias

Pernahkah kita mendapati seorang anak kecil yang susah diajak ke sekolah atau seorang anak yang tidak mau punya adik padahal sang bunda sedang hamil besar. Waktu saya masih kecil, ada seorang teman bermain saya yang mengalami hal serupa. Dia tidak suka memiliki adik bahkan dia sering bilang :
“Kalau aku punya adik nanti tak cekik (dijerat lehernya)..”

Wow…ngeri bukan. Pemikiran tersebut bisa saja didasari oleh perasaan takut kehilangan kasih sayang dari orang tua, tetapi menurut hemat saya lebih disebabkan dari orang tua yang kurang mengkomunikasikan hal tersebut kepada anak. Sehingga anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan kurang antusias terhadap hal-hal baru.

Menumbuhkan ANTUSIASME jauh-jauh hari sebelum anak menghadapi hal baru adalah salah satu kunci kesuksesan anak, baik dalam dunia akademis, kehidupan sosial, keluarga bahkan beragama. Tentunya ayah bunda akan bahagia jika putra putrinya selalu bahagia dan bersemangat di setiap aktivitasnya.

Mau tau caranya? Yuk kita mulai…



Tujuan Awal + Pengetahuan Awal = Benih Antusiasme
Nah kali ini saya langsung to the point tentang pengalaman kami mendidik si kecil NAZILA. Kami berdua memutuskan untuk memasukkan si kecil ke PAUD dikarenakan lokasi kami yang terpencil dan tidak ada teman bermain untuknya. Maka kami mengikutkan si kecil ke PAUD yang lokasinya agak jauh dari rumah. Walaupun demikian si kecil tidak kami paksakan untuk masuk setiap hari, hanya kalau dia lagi mud saja masuk sekolahnya.

Si kecil tentunya belum pernah tahu apa itu sekolah, apa saja yang dilakukan dan bersama siapa saja nantinya dia beraktivitas. Maka sebagai pengetahuan awal setiap ada anak berseragam sekolah kami tunjukkan kepadanya sambil kami ucapkan kata-kata motivasi :

Kami : “Lho kak (panggilan kami kepada si kecil) ma situ lho nggantheng ya pakai seragam sekolah. Mbak nya juga cuantik pakai baju dan rok putih merah. Kakak mau cantik seperti mbak nya itu?.
Si kecil : “Whaaaa….cantik. Kakan mau cantik seperti mbak itu Yah … ^_^ ”.
Sewaktu kami jalan pagi ke warung untuk belanja sayur mayor. Kami melewati gedung TK (taman kanak-kanak). Tentunya banyak siswa sedang bermain di halaman depan TK tersebut sambil menunggu bel masuk kelas. Kami pun memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan pengetahuan awal pada si kecil. Biasanya kami ajak berdiri di gerbang TK sambil mengamati para siswa bermain jungkat-jungkit, kejar-kejaran atau bermainan dengan mobil-mobilan :

Kami : “Tuh kan asyik kalo sekolah Kak. Bisa main-main, kejar-kejaran terus belajar baris. Kakak mau ikut main sama mas dan mbak itu? (sambil menunjukkan jari ke kumpulan siswa yang bermain).
Si kecil : “Mau Yah…kakak mau main-main, lompat-lompat, lari-lari sama mbak itu”

Bahkan saking antusiasnya si kecil pernah lari masuk ke halaman TK tersebut, hanya untuk main jungkat-jungkit. Waktu itu usianya sekitar 2 tahunan. Lha jadinya saya minta ijin numpang bermain ke Bu Guru di TK tersebut. Hehehe…ndak apa-apa deh demi si kecil.

Permainan Imajinasi
Asyiknya belajar mendidik si kecil itu lebih karena IMAJINASI mereka yang sangat hidup dan sangat bebas. Kita bisa mengucapkan beberapa kalimat “pemantik” dan imajinasi mereka akan tersulut membara. Mau tahu kisah kami selanjutnya? Ini eksperimen kami yang paling UP TO DATE lho. Yuk dilanjut…

Saat ini (tahun 2013) kami berdua sudah mulai merencanakan memiliki momongan lagi. Pengennya sih tahun 2014 cita-cita tersebut dikabulkan oleh ALLOH. Nah ini kesempatan yang baik untuk menumbuhkan antusiasme si kecil, mumpung masih 1 tahun lagi rencana punya adik lagi. Stttt….sebelum dilanjut perlu kami beritahukan bahwa di sekitar kami tidak ada anak bayi yang bisa diajak bermain. Sehingga salah satunya cara mengenalkan tentang “unyu-nya” punya adik ya melalui permainan imajinasi.

Sering kali waktu kami bertiga bercanda (saya, istri dan si kecil), si kecil cenderung “membela” bundanya. Lha saya ndak punya sekutu ini. Jadinya saya bilang ke si kecil :

Saya : “Kak…nanti yayah sama dede yang nggantheng. Kan bunda sudah sama kakak. Biar yayah ada yang bela..trus kakak nanti dikejar-kejar sama dede. Biar kakak dikitik-kitik sama dede…hayoooo”.
Si kecil : “Iya yah…kakak mau main sama dede. Nanti dede mbrangkang terus ngejar kakak sambil bilang : kakak sini dede kitik-kitik … ^_^ ”. (sambil tersenyum antusias)

Di lain kesempatan, kami sering berjalan-jalan di Pasar Minggu daerak sekitar Jalan Ijen Malang. Hanya sekedar menikmati suasana Car Free Day sambil membeli jajanan pasar. Biasanya si kecil lari-lari di depan kami, kadang juga berjalan di tengah-tengah kami berdua. Di sebelah kiri saya, di tengah-tengah si kecil dan di sebelah kanan bundanya, kami bergandengan tangan di sepanjang jalan :

Bunda : “Kak…nanti kalau ada dede, kakak yang pegang tangannya ya. Jadinya yang di tengah ada kakak sama dede. Seru banget kan”.
Si Kecil : “Iya bun…terus nanti dede minta dibelikan kue…terus kakak yang belikan ya bun. Pakai uang kakak lho bun… ^_^ ”. (kebetulan si kecil lagi belajar belanja pakai uang sendiri. Jadinya paling semangat kalau bayar pakai uang dari dompetnya).

Nah…demikian sedikit pengalaman sehari-hari kami dalam menumbuhkan antusiasme pada anak. Tentunya ayah bunda ingin putra putrinya selalu bersemangat dan antusias kan?. Komunikasi dan motivasi sederhana sudah bisa dijadikan sarana menumbuhkan antusiasme pada anak. Mulai lah dari hal sederhana yang palng disukai anak, lalu taburi dengan “pupuk” perkataan positif yang penuh semangat dan kegembiraan. Biarkan imajinasinya bertumbuh, maka lihatlah aura keceriaan akan terpancar di setiap aktivitas putra putrid kita tercinta. Akhir kata …


“Anak-anak itu tempat berkumpulnya kesenangan. Maka mereka akan mendatangi tempat kesenangan berada”

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI  


 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...