Selasa, 11 Juni 2013

Hikmah dari Kegagalan Transaksi


Hari ini (11 Juni 2013) klien kami membatalkan pesanan 300 unit produk dengan nominal yang lumayan besar, padahal PO (purchase order / pesanan pembelian) sudah dikirim kepada kami. Hal tersebut berarti pesanan dibatalkan ketika harga dan berbagai kesepakatan sudah disepakati. Tinggal mereka bayar uang muka 50% dan pesanan kami proses.

Pembatalan tersebut kami lakukan dalam kondisi saling memahami. Minggu kemarin kami cek stok produk tersedia sesuai jumlah dan spesifikasi pesanan. Tetapi dua hari terakhir kami dapat kabar bahwa di seluruh Indonesia barang tersebut stoknya kosong, sehingga harus menunggu kedatangan dari luar negeri pada awal September 2013. Padahal barang tersebut harus sudah tersedia bulan ini. Maka dengan menyesal klien kami harus membatalkan pesanan.

Peristiwa hari ini bukanlah sebuah peristiwa penting, yang terpenting justru RESPON BALIK apa yang harus kami berikan kepada klien. Sehingga di masa depan beliau tetap mengingat kami sebagai rekan kerja yang jujur dan terpercaya, serta berpeluang memesan produk lagi kepada kami? Yuk kita bahas…

Saling Membantu
Perdagangan/bisnis bukan hanya tentang profit, tetapi lebih pada usaha membantu klien memenuhi barang maupun jasa yang dibutuhkan. Tujuan awal tersebut melandasi setiap komunikasi dan kesepakatan yang dibuat bersama. Kita dan klien akan saling memahami kondisi masing-masing tanpa ada tuntutan berlebihan.

Pada kasus yang kami alami, hampir setiap hari kami informasikan kondisi stok barang. Sehingga klien dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi dari kami. Ketika PO sudah turun ternyata stok produk kosong, klien pun dapat memahami karena memang produk tersebut langka. Jika kesepahaman sudah terbina, maka langkah selanjutnya adalah memberikan respon balik yang tepat guna menanggapi pembatalan kesepakatan bisnis (dalam hal ini PO).

Respon Balik yang Sempurna
Beberapa pebisnis akan kesal ketika klien mereka membatalkan pesanan. Bagi kami hal tersebut sangat lah wajar, dengan catatan tidak kita tampakkan kepada mereka. Kami lebih memilih tetap menjalin komunikasi mesra dengan mereka. Malahan tanpa segan kami akan memohon maaf karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Pada akhir percakapan kami sampaikan :
“Kami memahami kondisi Ibu. Mohon maaf belum bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Ibu. Semoga ke depan bisa menjalin kerjasama. Atas kesempatan yang Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih”.

So…dalam kondisi apapun kita harus bisa mengambil hikmah, yang akan menjadi ladang emas di masa depan. Dengan berjalannya waktu, perusahaan kita akan dikenal luas sebagai The Real Best Customer Services. Muantabs bukan …??? ^_^

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...