This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 19 Juni 2013

Catatan Pesta Wirausaha TDA NGALAM 2013 (Bagian 1) : BUSINESS COACHING


Komunitas Tangan Di Atas Malang Raya (TDA Ngalam) baru saja melaksanakan acara akbar Pesta Wirausaha 2013, pada 15 Juni 2013 di Hall Hotel Pelangi Kota Malang Jawa Timur. Berikut kami sajikan ulasan singkat mengenai kegiatan tersebut. Jika ada kekurangan dalam catatan ini kami mohon maaf dan mohon koreksinya...semoga bermanfaat.


SESI 1 : "BUSINESS COACHING"
Bapak Fauzi Rachmanto
-     Presiden Komunitas TDA
-     Owner PT.SDGI (IT Consultant)
-     @fauzirachmanto

Seorang owner bisnis harus memiliki jiwa kepemimpinan, terutama terhadap karyawannya. Mindset pemimpin bisnis saat ini berbeda dengan mindset pebisnis di masa lalu. Jika di masa lalu pemimpin dianggap seperti LOKOMOTIF kereta api. Seluruh gerbong hanya bertumpu pada mesin pada bagian depan kereta api (lokomotif). Menurut hasil penelitian, kereta dengan sistem LOKOMOTIF maksimal dapat mencapai kecepatan hingga 150 Km/jam. Walaupun para ahli telah memperbesar kapasitas mesinnya, tetap saja kecepatan maksimal yang dicapai adalah 150 Km/jam. Jika dipaksakan melampaui kecepatan tersebut maka kereta api akan keluar dari relnya atau bahkan terguling.

Para ahli terus melakukan penelitian sehingga ditemukan desain kereta api yang mampu menembus kecepatan hingga 300 Km/jam bahkan lebih. Hingga saat ini kita bisa menyaksikan berbagai kereta api super cepat. Apakah RAHASIA dibalik penambahan kecepatan yang spektakuler tersebut?. Rahasianya terletak pada PEMBAGIAN BEBAN. Jika pada kereta model lama penggeraknya hanya pada bagian depan (lokomotif), maka pada kereta api modern penggeraknya ada pada setiap gerbong. Sehingga setiap gerbong memiliki kontribusi untuk menambah tenaga yang pada akhirnya menambah percepatan laju kereta api.

Meningkatkan Percepatan Bisnis
Sistem pembagian beban merupakan pembeda gaya kepemimpinan lama dan baru. Berikut adalah gaya kepemimpinan dalam meningkatkan percepatan bisnis :

1. Setiap karyawan / tim kerja adalah lokomotif.
Jika pada masa lalu setiap detail deskripsi kerja harus dirumuskan oleh pimpinan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan bahkan pemimpin ikut mengawasi pencapaian target kerja. Maka pada masa kini pemimpin harus mulai melibatkan karyawan dalam penentuan perencanaan kerjanya. Memandirikan karyawan secepat mungkin maka beban kerja akan terbagi secara proporsional.

2. Target kerja, Reward dan Punishment.
Ada kisah klasik dari nelayan JEPANG. Ikan tangkapan mereka yang masih hidup sering kali sudah mati ketika perahu sampai di pantai. Mereka memikirkan cara agar semua ikan tangkapan tetap hidup hingga sampai di tempat pelelangan. Kemudian mereka menemukan cara sederhana tersebut, yaitu dengan menempatkan hiu-hiu kecil pada kolam tampungan ikan yang ditangkap. Sehingga ikan tangkapan nelayan selalu berkejaran dengan hiu-hiu kecil tersebut yang menyebabkan mereka tetap hidup hingga dibawa ke pantai.

Hal demikian juga bisa diterapkan kepada para karyawan kita, dengan cara membuat “Hiu-hiu Kecil” yang menggerakkan kinerja tim. Apakah wujud riil dari hiu-hiu kecil tersebut? Wujudnya adalah TARGET KERJA, REWARD dan PUNISHMENT.

Sesuai dengan prinsip “Pembagian Beban” pada kereta api modern, maka target kerja pun akan ditentukan oleh karyawan itu sendiri. Ajaklah karyawan untuk mendiskusikan target kerja bulanan yang menantang. Tentunya pemimpin dan karyawan harus benar-benar tahu tingkat ketercapaian suatu target.

Langkah selanjutnya adalah menentukan reward dan punishment sebagai konsekuensi logis dari target kerja yang sudah ditetapkan. Jika reward dan punishment terlalu kecil ibarat “hiu” nya terlalu kecil, sehingga jika tergigit hanya terasa geli. Sebaliknya jika target terlalu besar maka akan menakutkan karyawan karena konsekuensinya terlalu berat.

Diskusikan dengan karyawan tentang berapa besar bonus yang diberikan jika target tercapai dan jenis hukuman apa yang akan diterima jika target tidak terlampaui. Misalnya jika target sales tercapai maka ada bonus sebesar 10% dari laba bersih dan jika tidak tercapai akan ada pemotongan gaji sebesar 5%. Jika komunikasi antara pimpinan dan karyawan terjalin baik sebelumnya, maka proses ini akan bisa dilakukan dengan jujur, santai dan penuh rasa kekeluargaan.

3. Pimpinan adalah pelatih (coach)
Bawahan atau karyawan sering kali dalam kondisi tidak tahu apa yang harus dilakukan (bingung). Tugas pimpinan adalah sebagai pelatih bagi karyawannya. Seperti halnya pelatih olah raga. Anda kenal Tiger Woods? Dia adalah pemain golf nomor 1 di dunia. Apakah dia memiliki pelatih? Tentu dia punya. Demikian juga karyawan, untuk memiliki karyawan yang berkinerja tinggi juga diperlukan pemimpin yang mampu melatih. Sehingga setiap karyawan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tentu saja proses coaching ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Anggaplah para karyawan adalah atlit-atlit kelas dunia yang siap Anda orbitkan (ini istilah saya sendiri lho...hehehe ^_^ ).

Kebutuhan Karyawan
Apa saja yang sebenarnya dibutuhkan para karyawan dari pimpinannya. Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan :

1. Skill
Keahlian (skill) adalah kebutuhan dasar dari keberadaannya di perusahaan Anda. Mereka dipekerjakan karena keahliannya bukan?. Akan tetapi kenyataan sering berkata lain. Terkadang para karyawan memiliki kemampuan yang tidak setara dengan kebutuhan perusahaan. Maka tugas pemimpin adalah membuat training & education system yang mampu menyetarakan kemampuan karyawan dengan kebutuhan perusahaan.

2. Remove fobia
Anda mungkin takut ketinggian, sementara orang lain mungkin takut dengan reptil. Fobia (ketakutan berlebih) bisa dialami siapa saja, termasuk para karyawan. Tugas pemimpin adalah menghadirkan suasana yang kondusif sehingga segala ketakutan dari masa lalu bisa hilag dari pikiran para karyawan. Misalkan ketakutan kepada atasan yang galak dan suka menghina, maka Anda bisa memposisikan diri sebagai pribadi ramah, terbuka dan bersahabat.

3. Motivate
Daya juang karyawan terkadang mengendur. Bisa karena kondisi kerja yang penuh tekanan atau juga permasalahan keluarga. Sebagai pemimpin tentunya harus memahami peihal tersebut dan bisa memberikan motivasi bagi para karyawan. Mereka butuh “obor” yang menghangatkan jiwa dan mengobarkan semangat mereka. Anda lah “MARIO TEGUH” bagi karyawan Anda (ini juga istilah saya).

4. Pemberi petunjuk
Ketika segalanya terasa gelap dan tanpa solusi, para karyawan membutuhkan seorang pemandu jalan. Untuk menentukan jalan yang baik dan buruk, untuk memutuskan mana yang boleh dan tidak boleh dan terutama untuk menentukan langkah terpenting bagi kemajuan perusahaan.

Coaching Area
Apa saja wilayah yang bisa dilatih oleh pimpinan :
1.    What (Apa)
WHAT (apa) merepresentasi dari “Apa yang harus dicapai seorang karyawan?”.
Pimpinan bersama-sama dengan karyawan harus bisa mendeskripsikan hal PENTING apa saja yang harus dicapai karyawan. Misalnya : Sales Target.

2.    Why (Mengapa)
WHY (mengapa) merepresentasikan dari “Mengapa karyawan harus mencapai tujuan tersebut?”
Pimpinan memberikan motivasi kepada karyawan sehingga ada proses internalisasi. Maka akan tumbuh kesadaran dari dalam diri mereka, bahwa pencapaian target juga berdampak langsung bagi kesuksesan karir mereka. Misalnya : Ada reward dari pencapaian sales target.

3.    How (Bagaimana)
HOW (bagaimana) merepresentasikan dari “Bagaimana pencapaian tersebut dalam diraih?”.
Rincian deskripsi kerja memberikan arahan jelas step by step. Sehingga target yang ditetapkan bukan hanya menjadi wawaca, tetapi benar-benar bisa diwujudkan.

Memimpin dengan COACHING SKILL
Telah banyak teori tentang leadership, berikut ini beberapa hal praktis tentang teknik kepemimpinan dengan sentuhan coaching skill (seni melatih).

1.    Active Listening
Ada yang berpendapat mendengarkan itu mudah, lebih sulit berbicara dengan karyawan. Pada kenyataannya banyak di antara kita bahkan belum mengetahui seni mendengarkan dengan aktif (active listening). Lalu apa bedanya dengan passive listening?

Pernahkan kita berbicara dengan seseorang dan kita merasa diacuhkan?. Lawan bicara kita mendengarkan tetapi penuh ekspresi kebosanan. Nah ini lah passive listening. Sedangkan active listening adalah mendengarkan dengan penuh konsetrasi sekaligus memberikan umpan balik yang tepat. Berikut tips nya :

a.    Perhatikan “kata kunci”
Dalam setiap kalimat panjang pasti ada KATA DASAR yang menjadi POKOK pembicaraan. Misalnya karyawan kita berkata :
“Pak, kinerja kawan-kawan di lapangan minggu ini sedikit menurun. Menurut hemat saya, sepeda motor mereka perlu diservice Pak. Apalagi mereka juga sering ngebut. Kan orderan lagi banyak-banyaknya”

Maka KATA KUNCI nya adalah “service sepeda motor”. Dengan mengetahui kata kunci tersebut arah pembicaraan akan lebih fokus.

b.    Lakukan “pharaphrasing”
Pharaphrasing merupakan proses mengungkapkan kembali kepada lawan bicara. Jika kita sudah menangkap kata kunci pembicaraan adalah “service sepeda motor”, maka tinggal kita ungkapkan kembali kepada mereka :
“Oh sepeda motornya butuh diservice. Oke segera dibawa ke bengkel ya”

Biarkan mereka mengetahui bahwa kita memperhatikan dengan seksama.

c.    Sampaikan “ekspresi positif”
Dua langkah di atas harus dilakukan dengan penuh ekspresi positif. Senyuman, ekspresi wajah dan tatapan mata mampu memancarkan aura penuh semangat.

2.    Powerfull Question
Seorang pimpinan sering kali melontarkan pertanyaan saat menggelar rapat dengan para karyawannya. Namun para karyawan terkadang merasa tertekan dan berada di jalan buntu. Hal tersebut karena pertanyaan dari pimpinan bersifat close ended question, misalnya :
“Omset bulan kemarin merosot sampai 30%. Ini karena bagian marketing lebih senang main FACEBOOK dari pada memprospek konsumen. Benar tidak ???”

Nah…apa yang harus dijawab oleh para karyawan jika pimpinan melontarkan pertanyaan seperti di atas? Serba salah bukan. Dijawab “benar Pak” berarti mengakui kesalahannya dan harus menerima punishment, jika dijawab “tidak Pak” malah dianggap berbohong.

Akan kah lebih baik seorang pimpinan memberikan pertanyaan yang open ended question. Misalnya :
“Omset bulan kemarin merosot sampai 30%. Ada yang punya solusi untuk meningkatkan omset di bulan ini ???”

Wow…pertanyaan semacam ini akan menumbuhkan inisiatif dan kreativitas. Nuansa dalam tim kerja juga semakin positif. Mau coba ?

3.    GROW Models
Ketika tim kerja mulai kebingungan menentukan arah, pimpinan harus bisa memberikan arah. Bagaimana cara praktis menentukan kembali arah yang hilang dan kembali fokus?. Selanjutnya kita akan membahas GROW Models yang bisa digunakan mengarahkan kembali tim kerja kita, untuk dealing bisnis bahkan untuk kehidupan pribadi. Berikut penjelasannya :

Goals > Realty > Options > Way forward (GROW)

  1. Goals (tujuan akhir)
Setiap kali tim kita mengalami kebingungan akan suatu hal, maka pertama-tama tanyakanlah GOALS yang ingin dicapai. Arahkan mereka untuk memikirkan: “Apa sih yang ingin kita capai”

Memikirkan tujuan akhir mampu menyingkirkan masalah-masalah yang tidak penting dan manghindarkan debat kusir yang melelahkan. Misalnya :
“Tujuan akhir (target) tim marketing bulan JUNI 2013 adalah omset sebesar Rp 1 M dan laba bersih Rp 200 juta”.

  1. Realty (kenyataan sekarang)
Setelah mengetahui tujuan akhir yang ingin dicapai, selanjutnya lakukan evaluasi kondisi terkini. Bagaimana kondisi tim kerja, kondisi pesaing, daya beli saat ini, stok barang, mengapa konsumen komplain, apa saja masalah di bagian produksi, bagaimana kondisi ceruk pasar dan semua kondisi terkini bisnis kita.

  1. Options (pilihan yang dimiliki)
Tahap selanjutnya adalah menggali semua pilihan SOLUSI. Libatkan semua divisi untuk mendapatkan banyak pilihan solusi.

  1. Way Forward (solusi)
Pilihan-pilihan solusi sudah didapatkan, tetapi tidak semuanya bisa dilakukan. Maka langkah terakhir adalah memilih solusi dan menetapkan tenggat waktu. Tidak ada lagi pilihan ganda, yang ada hanya solusi yang siap dilakukan. Tentukan siapa penanggung jawabnya, kapan dilaksanakan dan berapa pencapaian yang harus diraih. Tidak boleh ada lagi kebingungan dari tim kita. Semakin terperinci semakin baik. Langkah terakhir ini adalah ACTION.

Untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan kerja sehari-hari, ada baiknya dibuatkan “list to do” atau job descrption yang jelas dan detail. Upayakan agar setiap pekerjaan ditulis supaya bisa dievaluasi. Langkah-langkah tersebut bisa dilakukan baik untuk perusahaan kecil maupun perusahaan besar.

*) Note :
Tulisan ini merupakan reinterpretasi dari materi yang disampaikan pengisi acara. Ada banyak penambahan istilah dan penjabaran yang dilakukan oleh penulis (Hildan Fathoni) tanpa menguarangi esensi materi pokok. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Sekian ulasan untuk sesi ke-1, insyaalloh akan kami lanjutkan ulasan untuk sesi selanjutnya. Semoga bermanfaat

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI


Kamis, 13 Juni 2013

MINDSET Bersosialisasi di Facebook versi HILDAN FATHONI (Bagian 1)




Tulisan saya kali ini bisa disebut sebagai pengayaan dari tulisan terdahulu yang berjudul “Strata Informasi”. Jika pada tulisan terdahulu masih terasa abstrak maka saya mencoba menderivasikan (membuat turunan, supaya mudah diaplikasikan) dalam tulisan ini.

Usia Facebook sudah hampir menginjak 1 dasawarsa dan pengguna di Indonesia juga sudah sangat banyak. Semula sosmed ini hanya digunakan sebagai sarana berteman, kini fungsi dasar tersebut telah berkembang bahkan sebagai media bisnis dan penggerak perubahan sosial. Dengan perkembangan tersebut bisa disebut bahwa pengguna Facebook di Indonesia telah mature (dewasa) dalam hal pemahaman penggunaan teknisnya. Akan tetapi lagi-lagi sosmed ini hanyalah semua media mati dan yang membuatnya hidup adalah individu-individu di balik layarnya (pemegang akun). Maka tidak jarang pengguna Facebook yang sudah beberapa tahun pun mengalami “gagap etika” ketika bersosialisasi di dalamnya.

Saya sedikit trenyuh ketika beberapa rekan yang sebelumnya tidak kenal, kemudian menjadi sahabat melalui Facebook, dan harus mengakhiri persahabatannya (saling blokir) melalui Facebook juga. Biasa nya hal ini diawali dengan perbedaan pemaknaan kata (kesalahan pemilihan kata), ketidakmampuan memilah dan memilih informasi, ketidakmampuan membaca konteks serta beranggapan bahwa semua perseteruan harus dituntaskan melalui Facebook. Saya mengalami sendiri kondisi tersebut. Ketika saya memposting tulisan dengan judul “Haramkan Forex Trading dan Derivative Transaction”, saya banyak diserang oleh rekan-rekan penggiat forex trading online. Saya dipaksa melayani seluruh sanggahan dan pertanyaan mereka melalui Facebook bahkan ada yang meminta klarifikasi melalui inbox. Saya bisa menebak bagaimana akhir perdebatan tersebut, sehingga saya mengambil langkah :

“Jika mereka ingin berdebat, berkonsultasi maupun meminta klarifikasi. Maka saya hanya bisa melayani melalui komunikasi by phone atau ketemuan face to face sekalian. Supaya mereka bisa memperoleh penjelasan secara komprehensif”.

Lalu bagaimana seharusnya MINDSET  kita ketika bersosialisasi melalui Facebook? Yuk dilanjut...

FACEBOOK Sebagai Alat Pembangun Citra Diri
Seperti halnya SMS, email, MMS, mau pun handphone, Facebook juga hanya sebuah alat untuk saling terhubung. Kerangka berpikir ini harus dimiliki setiap penggunanya. Jika SMS, email, MMS dan handphone komunikasi bersifat personal, maka Facebook lebih seperti media massa. Setiap informasi sangat mudah tersebar dalam hitungan dengan secara massive. Sedikit kesalahan tulisan, foto dan video berakibat jangka panjang bagi siapa pun yang menjadi pengunggah mau pun objek unggahan.
Tingginya tingkat resiko menyebarkan informasi melalui Facebook seharusnya melipatgandakan kewaspadaan kita sebagai pengguna. Nama baik kita bahkan keselamatan kita bisa terancam hanya karena postingan di wall. Lalu bagaimana cara aman memposting informasi melalui Facebook? Berikut beberapa tipsnya :

  1. Gunakan kata-kata bermakna POSITIF.
Mari kita perhatikan 2 kalimat di bawah dan pilihan mana yang kita ambil hayo...???
Kalimat A   : “Ibu-ibu kok sukanya nge-gosip doank. Ndak smart banget sih mbak-mbak ini”
Kalimat B   : “Bunda sekalian, yuk kita bahas masalah merawat bayi aja yah. Dari pada sesama anggota grup saling memojokkan ^_^ ”

Secara sekilas pun kita akan lebih nyaman membaca Kalimat B. Karena pilihan katanya lebih netra dan teduh, serta diakhiri dengan simbol senyum sebagai tanda keramahan ... “^_^”

  1. Pahami Simbol-simbol Positif
Kata-kata bukan hanya sekedar sususan huruf, tetapi juga menyimbolkan sesuatu. Mengeluh di status Facebook dapat dibaca sebagai :
Ø  Aku sedang kesepian.
Ø  Aku masih labil.
Ø  Aku tidak memiliki teman untuk curhat.
Ø  Aku orang yang lemah.
Ø  Aku butuh dikasihani.
Ø  Aku teraniaya, dan lain sebagainya.

Apa untungnya membaca status seperti itu, hanya akan menularkan aura kelabu pada para pembaca. Tidak ada solusi dari kondisi semacam itu. Hanya semakin memperkeruh suasana.

Beda lagi jika kita mampu memahami dan menerapkan simbol-simbol positif, tentu akan semakin terbangun citra diri positif yang meningkatkan wibawa kita di mata orang lain. Apasaja simbol-simbol positif tersebut?
>    FOTO PROFIL. Merupakan “WAKIL” kita di dunia maya. Persepsi awal terbangun dari sini. Menyembunyikan wajah asli kita (dengan berbagai pertimbangan) bisa diartikan bahwa kita belum siap bersosialisasi secara luas. Foto profil yang ceria, bersih dan beraura positif dianggap mewakili pribadi yang ramah.
STATUS dan KOMENTAR. Dianggap sebagai “SIFAT ASLI” kita seperti di kehidupan nyata. Kita terkadang mengasosiasikan “pedasnya” status dan komentar seseorang sebagai sifat judes/galak nya orang tersebut di dunia nyata. Padahal anggapan tersebut tidak selalu benar. Sebaliknya, status yang alim, penuh kebijaksanaan, dan santun juga dianggap mewakili keaslian sifat yang berbudi luhur. Meskipun kedua jenis status tersebut sama-sama berpotensi status palsu (tidak sesuai kenyataan), tetapi status yang bernada positif tetap saja menguntungkan. Beberapa hal yang terkait poin ini adalah komentar positif, gambar, video, cara beriklan, tautan yang dibagikan

  1. Berfikir 2x, Menanggapi 1x.
Apakah kita pernah memperhatikan ada pengguna Facebook yang berkomentar panjang lebah tetapi OOT (out of topic)? Malu sekali bukan jika kita yang mengalami. Maka lebih elok jika kita membaca dulu postingan utamanya, membaca arah komentar lalu memutuskan untuk ikut memberikan komentar atau hanya sekedar mengamati.

  1. Netral dan datatif
Ada ungkapan : “Rasa tidak ingin ditolak, sama besarnya dengan rasa ingin disetujui”. Apakah makna ungkapan tersebut?. Setiap diri kkita sangat menjaga harga diri dan kehormatan, sehingga akan sangat bahagia jika banyak teman yang setuju dengan sikap, pemikiran, tulisan dan pendapat kita. Sebaliknya, kita akan sedih jika banyak komentar yang memojokkan bahkan melawan pendapat kita secara frontal (bersama-sama membenci kita / common enemy)

Ungkapan diatas menimbulkan dampak posisi KAWAN atau LAWAN. Jika kita mengikuti perbincangan pada sebuah status atau tulisan, terkadang kita terpancing untuk memihak. Dalam posisi harus memihak, tentunya kita harus bisa menahan diri untuk tidak terpancing. Memilih posisi netral (walau pun sebenarnya memihak) adalah pilihan bijaksana.

Jika pun kita diharuskan memihak maka berikan data dan fakta yang melatarbelakangi keberpihakan Anda. Jangan lupa sajikan dengan kalimat yang soft sehingga tidak ada alasan untuk menyerang balik ke kita. Misalnya jika kita tidak setuju dengan penndapat Si A, bisa saja kita menggunakan kalimat :
“Sebenarnya pendapat Si A ada benarnya bahwa penjual online banyak yang melakukan penipuan. Akan tetapi setelah saya bertemu dengan owner www.jualsepatusafety.com beserta komunitasnya di www.omgindonesia.com di Kota Malang, saya semakin yakin banyak pengusaha online yang jujur dan terpercaya. Si A bisa cek langsung ke alamat kantornya”

  1. Cek lagi & lagi
Salah satu poin utama yang menyebabkan perselisihan antar individu mau pun kelompok adalah INFORMASI yang TIDAK VALID dan TIDAK bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk di dalamnya :
Ø  HOAX / kebohongan yag dipercaya sebagai fakta.
Ø  ISU PANAS yang seolah bersumber dari pemuka agama terkemuka.
Ø  KETIDAKADILAN yang selalu dihubungkan dengan KONSPIRASI.
Ø  Saling sindir antar suku, agama dan kelompok yang berseberangan.
Ø  Pendapat lemah dan dangkal yang diperkuat dengan ayat-ayat suci dari kitab agama tertentu.
Ø  Pendapat pribadi yang seolah mewakili golongan, dan masih banyak lagi.

Sebagai makhluk berakal sehat tentunya kita harus EXTRA HATI-HATI dalam menyerap dan menyebarkan informasi. Apakah kita pernah menyaksikan :
Ø  Foto biksu Budha berdiri disamping tumpukan mayat. Kemudian ada tulisan : “Umat Muslim dibantai para Biksu di Thailand !!!”
Padahal foto tersebut bisa saja para Biksu yang sedang menolong korban gempa bumi.
Ø  Foto LOGO “BINTANG DAVID” pada logo Yamaha dan beberapa produk. Kemudian ada tulisan : “Antek-antek YAHUDI”
Padahal siapa saja (bahkan non-yahudi) bisa membuat gambar yang menyerupai bintang david secara tidak disengaja.
Ø  Ada beberapa VIDEO dan FOTO yang kemudian diklaim : “Kaum SYIAH membunuh kaum SUNNI” atau sebaliknya “Kaum SUNNI menyerang kaum SYIAH”
Padahal kita tidak berada di lokasi kejadian tetapi emosi kita ikut tersulut. Bahkan sebelum kita mengklarivikasi kebenaran peristiwa tersebut. Begitu mudahkah kita untuk di-ADU DOMBA????
Jika memang demikian sifat kita, maka saya bisa memaklumi mengapa dahulu kita bisa dijajah hingga ratusan tahun oleh bangsa lain...hmmmmm....mengerikan.

Maka wahai Saudara-saudari ku sebangsa dan setanah air, ayo kita tahan diri dan mau mengecek lagi dan lagi atas semua informasi yang disajikan kepada kita. Keyakinan kita bukan lah kebenaran mutlak, karena bisa jadi kita meyakininya padahal sedikit sekali pengetahuan kita terhadapnya.

(bersambung)

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI


 

Rabu, 12 Juni 2013

SEMANGAT SPARTAN 100%



Anda tentu ingat film 300 yang menceritakan perjuangan rakyat Sparta dibawah kepemimpinan Raja Leonidas, melawan ekspansi kerajaan Persia. Di film ini bisa kita saksikan bagaimana masyarakat Sparta menempa hidupnya menjadi bangsa pejuang, bahkan mulai dari bayi. Disinilah awal semangat SPARTAN itu dikenal hingga ribuan tahun.
Bagaimana dengan hidup kita, apakah memiliki totalitas dan semangat SPARTAN itu? ataukah kita hidup hanya 50% dibawah kekangan kepentingan orang lain? siapa pun mereka. Hidup di dunia benar-benar hanya 1 x dan kita tidak dapat mengulanginya jika telah tiada. Jangan sampai BAKAT KITA terkubur bersama JASAD KITA, karena selama hidup belum sempat kita optimalkan. Kasihan sekali hidup seperti itu, tentu Anda tidak ingin mengalaminya bukan?.

Hidup Adalah Anugrah
Kehidupan itu sendiri sudah merupakan anugrah. Hanya kita yang ditakdirkan hidup diantara ribuan sperma yang bersaing menuju sel telur ibunda kita. Bagi saya, salah satu wujud RASA SYUKUR TERTINGGI adalah mengoptimalkan bakat yang “diinstalkan” oleh Tuhan kepada kita. Tidak peduli seberapa besar kekurangan kita sewaktu dilahirkan.

Perjuangan heroik seperti rakyat Sparta adalah keharusan bagi setiap insan. Waktu yang paling tepat untuk berjuang adalah SAAT INI. Karena kita tidak pernah tahu umur kita esok hari. Kesalahan ketika mencoba berjuang adalah lebih MULIA, dari pada hidup tenang dan aman tetapi terkekang kepentingan pihak lain. Selain Tuhan, kitalah sebenar-benarnya pemilik tubuh ini...pemilik pikiran ini...pemilik kebebasan ini.

Persiapan Sekejap
Berapa waktu yang harus kita persiapkan untuk mulai mewujudkan impian kita?. 1 hari, 1 minggu, 1 bulan atau 10 tahun?. Mengapa banyak sekali insan yang hingga usia senja masih mempersiapkan diri untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Sehingga ketika bertemu para pemuda, beliau akan menceritakan impian-impian mereka yang menggunung semenjak muda belia. Sungguh menyianyiakan usia bukan?.

Berpikirlah sejenak, renungkan secara mendalam tujuan hidup kita. Buatlah peta kehidupan dan tentukan pencapaian-pencapaian yang ingin diraih. Setelah itu STOP...segera lah melangkah. Langkah awal mungkin terasa berat. Ibarat mengendarai sepeda gunung, awal kayuhan pasti terasa berat tetapi setelah beberapa lama akan terasa ringan dan akan semakin kencang lajunya. Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Jika kita yakin langkah kita diridhoi TUHAN, maka segeralah ucapkan BISMILLAH dan tancap gas wujudkan impian Anda.

Salam Smangat,




HILDAN FATHONI


Selasa, 11 Juni 2013

Hikmah dari Kegagalan Transaksi


Hari ini (11 Juni 2013) klien kami membatalkan pesanan 300 unit produk dengan nominal yang lumayan besar, padahal PO (purchase order / pesanan pembelian) sudah dikirim kepada kami. Hal tersebut berarti pesanan dibatalkan ketika harga dan berbagai kesepakatan sudah disepakati. Tinggal mereka bayar uang muka 50% dan pesanan kami proses.

Pembatalan tersebut kami lakukan dalam kondisi saling memahami. Minggu kemarin kami cek stok produk tersedia sesuai jumlah dan spesifikasi pesanan. Tetapi dua hari terakhir kami dapat kabar bahwa di seluruh Indonesia barang tersebut stoknya kosong, sehingga harus menunggu kedatangan dari luar negeri pada awal September 2013. Padahal barang tersebut harus sudah tersedia bulan ini. Maka dengan menyesal klien kami harus membatalkan pesanan.

Peristiwa hari ini bukanlah sebuah peristiwa penting, yang terpenting justru RESPON BALIK apa yang harus kami berikan kepada klien. Sehingga di masa depan beliau tetap mengingat kami sebagai rekan kerja yang jujur dan terpercaya, serta berpeluang memesan produk lagi kepada kami? Yuk kita bahas…

Saling Membantu
Perdagangan/bisnis bukan hanya tentang profit, tetapi lebih pada usaha membantu klien memenuhi barang maupun jasa yang dibutuhkan. Tujuan awal tersebut melandasi setiap komunikasi dan kesepakatan yang dibuat bersama. Kita dan klien akan saling memahami kondisi masing-masing tanpa ada tuntutan berlebihan.

Pada kasus yang kami alami, hampir setiap hari kami informasikan kondisi stok barang. Sehingga klien dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi dari kami. Ketika PO sudah turun ternyata stok produk kosong, klien pun dapat memahami karena memang produk tersebut langka. Jika kesepahaman sudah terbina, maka langkah selanjutnya adalah memberikan respon balik yang tepat guna menanggapi pembatalan kesepakatan bisnis (dalam hal ini PO).

Respon Balik yang Sempurna
Beberapa pebisnis akan kesal ketika klien mereka membatalkan pesanan. Bagi kami hal tersebut sangat lah wajar, dengan catatan tidak kita tampakkan kepada mereka. Kami lebih memilih tetap menjalin komunikasi mesra dengan mereka. Malahan tanpa segan kami akan memohon maaf karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Pada akhir percakapan kami sampaikan :
“Kami memahami kondisi Ibu. Mohon maaf belum bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Ibu. Semoga ke depan bisa menjalin kerjasama. Atas kesempatan yang Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih”.

So…dalam kondisi apapun kita harus bisa mengambil hikmah, yang akan menjadi ladang emas di masa depan. Dengan berjalannya waktu, perusahaan kita akan dikenal luas sebagai The Real Best Customer Services. Muantabs bukan …??? ^_^

Salam Smangat,



HILDAN FATHONI




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...