This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 26 Desember 2013

MENDOL

MENDOL
  
 


Mendol adalah salah satu makanan khas Jawa Timur  (selain rawon dan tempe kacang). Makanan ini terbuat dari bahan dasar tempe kedelai juga. Tempe mendol ini banyak ditemukan di daerah Malang baik untuk lauk maupun dimakan sebagai jajanan.
Tempe ini berwarna kehitam-hitaman karena dibuat dari bahan tempe kedelai yang sudah agak basi (baca: tempe bosok).

Deskripsi :
Bahan utama Mendol adalah tempe Malang yang berbentuk blok. Bumbunya yaitu kencur, bawang, brambang, ketumbar, jeruk purut, garam dan sedikit gula putih, cabe besar merah secukupnya dan cabe rawit kecil bagi yang suka pedas. Semua bumbu digiling menggunakan uleg (batu penggiling bumbu) sampai halus, lalu tempe dilumat bersama dengan bumbu tersebut. Tempe kondisi mentah dilumat tidak lembut, masih bertekstur tempe (masih terlihat serpihan kedelainya), ratakan bumbu pada lumatan tempe tersebut. Setelah lumatan tempe berbumbu tersebut jadi, lalu dibentuk sebesar sekitar 5 x 3 x 2 cm, biasanya dikepal-kepal dalam tangan. Setelah itu dibiarkan saja sekitar 1-2 jam biar terfermentasi dengan baik, bila ingin rasa masam, biarkan sampai 6 jam. Goreng dengan minyak yang sudah panas, sampai warna kecoklatan. Ada yang suka mendol dengan rasa masam untuk rasa yang lebih khas. Ada yang suka lebih kering, gorenglah sampai berwarna kehitaman. Mendol paling enak dimakan dengan nasi hangat, dan atau bersama sayur asem kangkung.

Definisi dan deskripsi tersebut saya ambil dari Wikipedia dengan link http://id.wikipedia.org/wiki/Mendol. Lalu apa pelajaran dari makanan bernama MENDOL ini?.

Alam Bawah Sadar
Hari ini Ibu saya berkunjung ke rumah kami di Kota Malang, kebetulan di kulkas ada sisa tempe mentah. Dengan cekatan beliau merebusnya kemudian meremasnya menjadi adonan mendol. Sejurus kemudian minyak panas menjadikannya mendol garing nan gurih. Kata beliau : “Yen nang ndeso yo ora ono barang mubadhir. Kabeh iso diolah maneh” (Kalau di desa ya tidak ada barang mubadhir. Semua bisa diolah kembali). Memang demikian adanya bahan makanan seperti tempe wayu (tempe yang sudah beberapa hari) bisa menjadi mendol dan nasi basi bisa menjadi makanan ayam, sehingga tidak sampai terbuang percuma.

Pikiran semacam ini sudah tertanam di benak orang-orang desa. Pikiran untuk mempergunakan segala sesuatu semaksimal mungkin. Jika masih bisa diperbaiki maka tidak perlu membeli barang baru. Oleh karena itu Bapak-bapak yang tinggal di desa akan dianggap terampil jika bisa memperbaiki sepeda motor, genting, kompor, lampu, dan berbagai perkakas di rumahnya sendiri.

Lalu apa hubungannya mendol, reparasi kompor dan sub judul “alam bawah sadar”?, okelah kita bahas ya. Alam bawah sadar kita pengaruhnya sangat kuat dalam perilaku sehari-hari. Karena memberikan pengetahuan dasar atas reaksi yang akan kita lakukan terhadap suatu kondisi. Misalnya jika saya memberi Anda pertanyaan cepat yang harus dijawab dalam 3 detik, maka jawaban Anda dengan jawaban teman Anda bisa jadi berbeda. Ini karena pengetahuan setiap orang berbeda, sebagai contoh :

Pertanyaan                            : “Apa yang Anda pikirkan tentang API ?”
Jawaban Orang ke-1           : “Panas dan merah ”
Jawaban Orang ke-2           : “Kebakaran”
Jawaban Orang ke-3           : “Hangat dan nyaman”

Bisa jadi orang ke-1 pernah kulitnya terbakar api, orang ke-2 rumah tengganya terbakar dan orang ke-3 sering membuat api unggun dan membakar jagung bersama keluarganya. Itu lah yang menjadi pengetahuan dasar kita. Lalu jika ke-3 orang tersebut benar-benar berhadapan dengan api maka refleks atau reaksinya tergantung pengetahuan dasarnya.

Bagaimana jika alam bawah sadar kita tersetting “Perbaiki Apa Pun yang Bisa Diperbaiki”?. Bisa jadi kita akan selalu memperbaiki kondisi kita sehari-hari tanpa mengeluh. Ketika kita bertengkar dengan pasangan, maka secara otomatis alam bawah sadar kita memerintahkan untuk memperbaiki komunikasi, meminta maaf, tersenyum, memahami, memeluk dan berbagai upaya perbaikan lainnya.

Akan tetapi jika sebaliknya, alam bawah sadar kita tersetting “Tinggalkan yang Rusak, Cari yang Baru Saja”. Bisa saja setiap ada kondisi tidak ideal kita akan melarikan diri, jika tidak harmonis dengan pasangan maka bercerai, jika pekerjaan tidak menyenangkan maka mengundurkan diri, jika omset bisnis menurun maka segera mencari bisnis, HP lecet sedikit langsung beli yang baru dan berbagai sikap praktis lainnya.


Mencoba Selangkah Lagi
Tidak ada salahnya kita mencermati mendol tadi. Bahwa dari sisa-sisa makanan pun masih bisa menjadi makanan baru dengan kualitas yang baik. Begitu pula dengan diri dan kehidupan kita. Di antara masa lalu yang kurang beruntung, masa kini yang penuh masalah dan masa depan yang belum jelas, kita masih memiliki kesempatan untuk merubah “remahan” dan sisa-sisa semangat kita untuk menghasilkan produk baru yang kualitasnya baik.

Beberapa pebisnis pemula sering mengeluh TIDAK PUNYA MODAL. Benar memang kita belum memiliki modal finansial, tetapi ada MODAL BESAR lainnya yaitu nama baik, keluarga, teman, relasi, komunitas, hobi, semangat kerja, pengalaman kerja, kesehatan dan waktu. Banyak orang sukses menggunakan modal non finansial untuk memulai bisnisnya.

Semisal hubungan kita dengan keluarga kurang baik, maka kita masih bisa memperbaikinya dimulai dengan membawakan oleh-oleh, menanyakan kesehatan keluarga, menjenguk ketika sakit atau sekedar membantu ketika keluarga kita memiliki hajat.

Kebiasaan kecil kita untuk berusaha memperbaiki apa pun yang masih layak merupakan investasi pengetahuan. Jika berlangsung lama maka akan menjadi pondasi alam bawah sadar…dan lihat saja pribadi luar biasa akan lahir. Itu lah diri kita.

Jika suatu saat Anda putus asa dalam memperbaiki diri….ingat lah MENDOL !!!

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782


Rabu, 25 Desember 2013

Bahagia Tanpa Televisi

Bahagia Tanpa Televisi

www.HildanFathoni.com

Bahaya Televisi

Selamat pagi para pembaca yang Budiman…

Hari ini hampir 3 bulan televisi kami jauhkan dari putri kami NAZILA. Tepatnya per 1 oktober 2013 benda tersebut kami simpan di kamar tidur kami. Apakah keputusan ini mudah? tentu saja butuh perjuangan.

Mari bersama-sama kita ingat. Sebagian dari kita dibesarkan bersama-sama tayangan televisi. Mulai bangun tidur hingga menjelang tidur benda tersebut menemani kita. Sejak dahulu televisi menjadi sarana hiburan murah bagi keluarga di Indonesia. Bahkan sewaktu saya usia MI (sekolah dasar), ada jadwal khusus acara televisi versi saya. Mulai Satria Baja Hitam, Power Rangers, Dragon Ball hingga X-MEN semua masuk dalam list acara utama.

Hingga pada suatu saat setelah lulus kuliah baru kami menyadari ada yang salah dengan berbagai tayangan di televisi. Mulai ajakan konsumtif, hedonisme, kekerasan, provokasi hingga adegan tidak senonoh. Jika sudah dewasa tentu masih bisa memilah dan memilih, lalu bagaimana dengan anak-anak kami kelak.

Orang Tua Ke-2

Setelah putri kami lahir pada 16 November 2009, kami sudah ancang-ancang untuk mengurangi tayangan televisi di rumah. Namun hal tersebut baru bisa terealisasi 4 tahun kemudian. Ada beberapa kejadian yang membuat kami berkeras “menyita” televisi di rumah :

a. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali si kecil sudah menonton televisi. Akibatnya jika dipanggil untuk mandi responsnya sangat lambat, setelah ganti pakaian pun kembali menonton televisi. Diajak sarapan bareng, ehh…dia tidak menanggapi. Perhatiannya 100% tertuju pada tayangan televisi. Kami sempat merasa jengkel dan langsung mematikan televisi.

b. Sering kali tayangan kekerasan ditampilkan, juga adegan kurang pantas. Waktu kami banyak dihabiskan untuk mendampinginya menonton, sehingga urusan pekerjaan rumah sedikit terabaikan.

c. Kami memperhatikan anak-anak yang sering menonton televisi memiliki perilaku yang menurut kami kurang baik. Misalnya ada anak yang joged sambil menirukan dangdut koplo, menirukan gaya pacaran di sinetron, juga gaya bicara slank khas muda-mudi di sinetron, konsumtif karena banyak melihat iklan dan masih banyak lagi.

d. Adanya gangguan penglihatan pada anak-anak di sekitar kami, karena intensitasnya menonton televisi sangat tinggi.

Beberapa orang mungkin menganggap televisi sebagai “orang tua ke-2” bagi putra-putri mereka. Benda tersebut menggantikan kehadiran mereka terutama banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, supaya anak tidak rewel, supaya anak tidak berlari-lari di dalam rumah dan supaya mereka bisa beristirahat. Bagi kami anak ya tanggung jawab orang tuanya, tidak bisa di-subkontrak-kan ke benda.

Menuju Solusi

Anak-anak hanya tertarik dengan kesenangan. Jika hal itu didapat melalui televisi maka mereka akan sering menontonnya, begitu juga jika mereka mendapatkan kesenangan dari hal lain. Itu saja…SO SIMPLE. Yang membuat ribet adalah KEMALASAN ORANG TUA untuk belajar mengerti dan mendidik anak.

Nazila Melukis

Pikiran di atas yang selalu kami renungkan. Jika putri kami lebih suka menonton televisi itu berarti kami yang malas menyajikan kegiatan yang menyenangkan. Maka kami berdua pun mencari kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, sehingga secara alami si kecil menjauhi televisi. Lalu apa saja kegiatan tersebut :

a. Melukis, si kecil ternyata berminat dengan kegiatan ini. Kami menyediakan cat minyak, air, pallet, kuas, buku gambar, meja tulis kecil dan karpet evamatic. Mulanya kami ajari cara mencampur cat dan air, mengenali warna dan kemudian menorehkannya ke buku gambar. Lambat laun dia bisa melakukannya sendiri. Dalam sehari dia bisa mewarnai satu buku gambar penuh. Kadang kami juga mencarikan media gambar di internet, kemudian dicetak ke kertas folio dan menjadi media gambar yang menarik.

b. Membacakan dongeng, dia suka sekali dengan buku-buku kisah yang bergambar. Di tengah-tengah membacakan cerita, dia sering melontarkan pertanyaan baik tentang kosa kata baru, nama tokoh dan alur cerita. Meski pun lumayan melelahkan tetapi hasilnya sepadan (NB : Nazila itu cerewet banget…bangeeettt).

c. Mengaji, alhamdulillah dia juga suka. Kebetulan 10 meter dari rumah kami ada majelis pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak. Dia suka karena banyak teman-temannya di sana. Urusan membaca huruf hijaiyah dia jagonya. Saking antusiasnya, pernah dia minta ganti baju ngaji padahal baru jam 12 siang dan pengajiannya dimulai jam 3 sore.

Nazila Mengaji

d. Memasak, dia suka ikut ke dapur. Mulai belajar bikin roti bakar, memilih daun kangkung, menggoreng nasi dan buanyak lagi yang suka dia lakukan di dapur.

e. Main boneka bareng yayah, yayahnya disuruh jadi boneka beruang ^_^

f. Memelihara ikan, walau pun akhirnya mati semua…hehehe

Nazila Memelihara Ikan

g. Menanam bunga, asyik juga main tanah bareng si kecil.

Nazila Menanam Bunga

Wow…ternyata banyak juga aktifitas seru selain menonton televisi. Walaupun terkadang sesekali masih menonton televisi tetapi sudah sangat jauh berkurang. Karena dia sendiri lebih senang dengan aktifitas yang kami sediakan.

Tidak ada anak yang dilahirkan NAKAL, orang tua, sekolah dan lingkungan lah yang menciptakannya demikian. Pada dasarnya anak terlahir dengan fitrah yang baik, maka tugas kita lah menjaga dan mengarahkannya. Akhir kata :

“Jika bukan KITA, lalu siapa lagi. Jika tidak SEKARANG, lalu kapan lagi”

Salam Keluarga Indonesia,

 

HILDAN FATHONI

CP : 081 2525 4782

Selasa, 05 November 2013

Memaknai Ulang Sikap Anak

Memaknai Ulang Sikap Anak
Oleh

NAZILA berpose bareng Yayah HILDAN

Assalamu alaikum para pembaca yang Budiman …

Seperti biasanya si kecil NAZILA ikut jamaah sholat maghrib di rumah. Sekarang dia sudah bisa beberapa bacaan sholat, sehingga dia tidak mau kalah dengan ayahnya. Suaranya bisa jadi lebih keras dibandingkan suara saya ketika meng-imam-I sholat. Bacaannya juga tidak mau didahului oleh bacaan saya. Malah barusan bacaannya ada yang lupa lalu dia terdiam sambil marah, karena yang terdengar hanya suara saya. Hampir setiap sholat berjamaah dia selalu bertindak demikian. Bundanya sering dibuat gemes dengan tingkah polahnya yang teguh dan tidak mau kalah.

Ya itu lah putri kami yang 90%++ sifatnya mirip bundanya. Jadinya ada 2 super girl di rumah…hehehe. Pada mulanya kami agak jengkel dengan tingkah lakukan yang selalu bergerak dan berputar-putar saat sholat berjamaah. Beberapa kali kami menegurnya dan mengajaknya berdiskusi :
“Kakak kalau sholat yang “anteng” (tenang) ya. Ikuti yayah” pinta kami.
“Iya Yah, kakak minta maaf. Kan kakak sudah TK, kakak pasti anteng” balasnya.

Namun ketika sholat berjamaah lagi seolah bibir mungilnya tidak bisa di-STOP dan selalu saja “nggremeng” (bergumam). Entah itu membaca doa atau seolah berdialog dengan teman imajinasinya. Belum lagi tubuh imutnya yang bergerak-gerak, menjatuhkan diri ke sajadah bahkan meloncat-loncat kecil. Ahh…pusing sekali dibuatnya. Sempat beberapa kali kami menegur dengan tegas.


Memahami Build In Software

Sejak kami belajar lebih dalam tentang pengetahuan mendidik anak (parenting knowledge) ,kami mulai lebih seksama mempelajari makna dari sikap si kecil. Tentunya Tuhan tidak menciptakan perilaku tersebut tanpa rencana besar. Kami juga menghubungkan dengan perilakunya sehari-hari, baik ketika di sekolah, bergaul dengan saudara bahkan berkomunikasi dengan karyawan kami. Wow…ternyata eh ternyata kami menemukan “sinyal-sinyal” yang luar biasa tentang potensi si kecil.

Uniknya lagi sinyal tersebut adalah software bawaan lahir yang berbeda dengan teman-teman sebayanya. Apa saja sinyal yang coba kami tangkap dari perilaku energik si kecil :

Banyak tingkah
Bermakna : Yah…aku ini anak yang aktif. Beri aku pekerjaan maka akan aku kerjakan segera. Beri aku tantangan yang lebih sulit karena aku sangat bersemangat. Tapi jangan biarkan aku diam menganggur, karena aku mudah bosan Yah.

Suka menagih janji, jika sudah janji kepada si kecil maka jangan harap dia akan melupakan. Dia akan memaksa siapa pun untuk memenuhi janjinya.
Bermakna : Bunda…aku suka orang yang menepati janji. Aku tidak suka berbohong. Jika bisa menepati maka silahkan berjanji pada ku. Jika tidak bisa menepati lebih baik diam.

Suka memaksa untuk dituruti
Bermakna : Aku adalah anak yang memegang prinsip. Jika aku benar maka aku akan mempertahankannya dan jika salah orang lain harus memberiku penjelasan yang masuk akal agar aku berubah pikiran. Aku gigih dan tidak tergoyahkan.

Suka mengatur
Bermakna : Aku berjiwa pemimpin. Aku terbiasa melakukan hal-hal sulit dan aku yang paling depan. Aku bisa mengatur kelompokku dan aku bertanggung jawab atasnya.

Tidak suka dibantu, bahkan mandi dan wudhu pun kami harus mengawasi dari luar kamar mandi.
Bermakna : Aku anak mandiri. Semua bisa aku lakukan sendiri. Ayah dan bunda tidak perlu khawatir, karena aku sudah bisa. Membantuku hanya akan menghilangkan kesempatanku untuk belajar dan akan membuatku lemah.

Banyak bicara, bahkan sangat…sangat cerewet ^_^
Bermakna : Aku pembicara handal. Semua isi pikiran ku bisa aku keluarkan sekarang juga. Aku orang yang terbuka dan suka berdialog. Ajak aku berbicara, maka akan aku banjiri dengan ide-ide brilian ku.

Suka mencari perhatian
Bermakna : Aku bisa banyak hal dan aku orang yang percaya diri. Aku tidak perlu membanting piring atau memukul adik kecil hanya untuk mencari perhatian orang lain. Aku hanya perlu bernyanyi, membaca doa, dan menari…maka semua orang akan memperhatikan ku. Aku adalah PRINCESS di negeri dongeng.

Bertanya tanpa henti, kami terkadang sampai pusing mencari jawabannya, misalnya : “Yah apa ALLOH punya laptop???”
Bermakna : Aku ingin tahu lebih banyak karena aku ingin menjadi anak yang hebat. Aku baru tahu hal ini Yah, ayo tolong jelaskan. Ayah Bunda adalah sumber pengetahuanku, jika tidak bertanya kepada kalian…lalu kepada siapa lagi ???

Fuuhhhhh….cukup dulu ya. Capek juga mengingat tingkah lakunya sehari-hari. Yang pasti jika dahulu kami sering jengkel dibuatnya, sekarang kami memilih untuk berdiam sejenak dan membuka pikiran kami tentang :

“Makna apa ya dibalik tingkah laku si kecil hari ini???”

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi para pembaca. Yuk…terus belajar bersama si kecil. Salam sayang untuk keluarga Anda di rumah ^_^
Wassalamu alaikum...

Salam Keluarga Indonesia,



HILDAN FATHONI
CP : 081 2525 4782




Sabtu, 28 September 2013

Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI

Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI”

Oleh




Assalamu alaikum Wr. Wb.

Di masa lalu, keberadaan negara dianggap sebagai titik sentral dalam perubahan masyarakat. Perubahan masyarakat berpeluang sukses jika secara top-down diprakarsai oleh pemerintah, baik dari segi peraturan, infrastruktur fisik maupun permodalan. Asumsi tersebut ditindaklanjuti oleh sistem pengkaderan di HMI dengan orientasi struktural maupun kultural, dengan dua core gerakan yaitu gerakan intelektual dan gerakan politik.

Gerakan intelektual meniscayakan perubahan masyarakat dengan membentuk mainstream pembaharuan pemikiran. Lahirnya agen-agen perubahan dengan intelektualitas tinggi diharapkan mampu membawa pencerahan kepada masyarakat. Walaupun konsekuensinya secara organisasi HMI dianggap borjuis dan eksklusif. Gerakan awal ini telah melahirkan banyak tokoh intelektual yang mampu memberikan kontribusi sebagai guru-guru bangsa.

Gerakan politik merupakan upaya lanjutan untuk meningkatkan peran kader-kader HMI dalam membangun bangsa. Asumsi dasar yang dibangun adalah perubahan dan perbaikan masyarakat akan lebih cepat terjadi jika kader-kader HMI berperan sebagai pemegang kekuasaan pengambil kebijakan. Sehingga tercipta grand design masyarakat yang maju dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Gerakan level ke-2 ini banyak melahirkan para negarawan handal yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa bahkan sudah diakui dunia.



Bangkitnya Dunia Digital dan Teknologi Informasi
Di awali pada tahun 1993 saat internet mulai bisa diakses oleh masyarakat luas. Telah terjadi perubahan di masyarakat secara massif. Di masa lalu pihak-pihak penguasa informasi memiliki peran monopolistik dalam berbagai sektor kehidupan. Pada masa sekarang kondisi tersebut sudah terreduksi bahkan bisa dianggap tidak berlaku lagi.
Konversi sistem data analog menjadi sistem data digital ditambah dengan dukungan akses internet yang mudah, murah dan merata telah merubah struktur penguasaan informasi. Dunia saat ini adalah dunia yang datar, dimana informasi mudah disebarkan dalam hitungan detik dan sangat sulit menyembunyikan informasi dari khalayak ramai. Setiap orang memiliki kekuasaan yang sama hampir ke setiap sumber informasi. Kondisi ini lah yang mendorong percepatan perubahan sosial.

Pada masa lalu sebelum era digitalisasi informasi, para pemilik modal kelas kakap dan para petinggi negara saja yang bisa memiliki power untuk melakukan perubahan. Pada saat ini seorang ibu rumah tangga pun bisa membawa perubahan sosial dengan adanya situs jejaring sosial yang bisa diakses siapa pun. Di masa lalu hanya keluarga konglomerat kaya raya yang bisa membangun industri dengan kapitalisasi hingga milyaran rupiah. Di masa kini banyak sekali industri-industri dibangun oleh siswa sekolah menengah bahkan para penjaga warnet yang telah mengakrabi akses informasi virtual. Kondisi ini membuka lebar peluang bagi agen-agen perubahan sosial, tanpa perlu memiliki intelektualitas tinggi dan kekuasaan politik. Sehingga tidak heran jika ada data yang menyebutkan bahwa nilai transaksi toko online para mahasiswa di Jogjakarta bisa mencapai nilai Rp 1 triliun dalam setahun. Hal ini dikarenakan semakin mudahnya mengakses dunia informasi digital yang membuka lebar peningkatan kesejahteraan sosial, yang dampaknya tentu saja meningkatkan jumlah masyarakat kelas menengah secara signifikan.

Saat ini setiap orang bahkan tanpa kompetensi akademis yang mumpuni bisa melakukan perubahan sosial. Kondisi ini harus secara sadar diperhatikan oleh organisasi HMI. Perubahan sosial melalui gerakan intelektual dan politik membutuhkan waktu yang panjang dan tahapan yang berliku. Sementara masyarakat sudah terbiasa dengan perubahan yang serba cepat dan up to date. HMI sebagai organisasi paling senior harus mampu melakukan perubahan secara mendasar. Oleh karena itu diperlukan the next level movement yang menjadi roket pendorong level ke-3 dalam perjuangan HMI, yang sebelumnya telah dimantabkan oleh intellectual movement dan political movement.

Mengapa Harus Economical Movement?
Sebenarnya sudah sejak ratusan tahun perusahaan-perusahaan asing menguasai berbagai negara di dunia dengan dukungan pemerintah di negara asal perusahaan tersebut. Tentunya kita masih ingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di sana tertulis bahwa Indonesia dulunya disebut sebagai Hindia-Belanda. Hindia-Belanda dahulu kala adalah sebuah jajahan Belanda, sekarang disebut Indonesia. Jajahan Belanda ini bermula dari properti Vereenigde Oostindische Compagnie (atau VOC) yang antara lain memiliki Jawa dan Maluku serta beberapa daerah lain semenjak abad ke-17. Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1798, semua properti VOC menjadi milik pemerintah Republik Batavia.

Sejarah tersebut telah membuktikan bahwa VOC adalah perusahaan yang berorientasi profit dengan dukungan pemerintah kerajaan Belanda. Hingga saat ini banyak kita saksikan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama kebijakan politik dan militer hampir semua negara di dunia. Sehingga sangat lumrah banyak negara asing menjalin hubungan baik dengan pemerintah Indonesia yang jika secara bijak kita amati hanya dikarenakan faktor ekonomi. Indonesia masih sangat sexy di mata para pebisnis dan pemodal asing, tentunya karena potensi sumber daya alam yang kaya raya dan potensi pasar karena jumlah penduduk yang besar.

Jika pada masa lalu sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mengambil manfaat dari hubungan ekonomi antar negara, maka pada era informasi digital hampir semua warga Indonesia memiliki peluang yang sama untuk ikut serta. Saat ini banyak pebisnis UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di daerah pelosok yang bisa menembus pasar internasional. Masalah klasik yang dahulu dihadapi para pebisnis UKM adalah sulitnya pemasaran, maka saat ini justru kesulitan memproduksi secara massal karena permintaan produk dari negara lain yang melebihi kapasitas produksi.

Fenomena perubahan sosial dan peluang yang terbuka lebar tersebut harus secara serius menjadi bahan renungan bagi kita seluruh kader HMI. Karena di satu sisi pengkaderan dengan orientasi gerakan intelektual dan politik memerlukan rentang waktu yang panjang. Jika pun ada banyak kader yang melalui dua jalur gerakan tersebut (gerakan intelektual dan politik), maka hanya ada sedikit “kursi” yang harus diperebutkan untuk menjadi kader yang sukses. Sebagai permisalan, seorang kader yang telah matang secara politik harus berkompetisi dengan kader bahkan nonkader untuk memperebutkan kursi legislatif. Lalu bagaimana ribuan kader lain yang tersingkir dari kompetisi tersebut?

Gambaran di atas seharusnya menjadi pertimbangan berharga bagi sistem pengkaderan di HMI. Sebagai permisalan lain, banyak sekali anggota masyarakat yang sebelumnya tidak dianggap tiba-tiba menjadi tokoh pengusaha yang disegani di daerahnya. Perusahaan-perusahaan yang dia dirikan mampu memberikan kontribusi ekonomis kepada masyarakat sekitar, sehingga mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat secara riil tanpa perlu campur tangan pemerintah. Sementara di daerah lain juga ada figur pengusaha lain yang juga dianggap melakukan perbaikan sosial melalui kegiatan usaha yang dilakukannya. Bahkan semakin banyak pengusaha, semakin banyak pula perubahan sosial terjadi di masyarakat. Tidak ada batasan tentang jumlah maksimal pengusaha, tetapi pasti ada batasan untuk jumlah pimpinan pemerintahan dan organisasi politik.

Sementara perubahan sosial yang dilakukan melalui jalur politik sering kali dampaknya terasa dalam jangka panjang, sedangkan perubahan sosial yang dimotori oleh para pengusaha dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Jika economical movement dijadikan mainstream kebijakan pengkaderan di HMI, maka tidak akan ada lagi kader yang menganggur karena tersingkir dari kontestansi perebutan kekuasaan struktural. Hal ini juga memiliki makna bahwa setiap kader memiliki peluang yang sama untuk meraih sukses pribadi dan melakukan perubahan sosial. Kontestansi yang terjadi bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi bisnis. Peluang yang sedemikian lebar akan menumbuhkan optimisme di setiap jiwa kader HMI. Tidak akan ada lagi kader yang mengkhawatirkan masa depan kariernya, karena setiap diri mereka bisa membuka peluang karier sendiri. Tidak akan ada lagi kader yang putus asa karena tidak terpilih menjadi pimpinan suatu lembaga, karena dia bisa menciptakan lembaga bisnisnya sendiri. Jika lembaga struktural politik membutuhkan dukungan banyak personil dan pemodal untuk berdiri, maka lembaga bisnis bisa didirikan bahkan oleh seorang kader saja.

Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”
Konsep Economical Movement bukan lah konsep yang terlalu muluk sehingga sulit diwujudkan. Syarat utama dari gerakan ini adalah adanya “Team Leader” yang bervisi ekonomi, memiliki jaringan luas dan mampu memberikan panduan sistematis tentang pelaksanaan Economical Movement.

Langkah utama untuk mewujudkan Economical Movement adalah Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”. Tujuan utama dari gerakan ini untuk memfasilitasi setiap kader yang berkeinginan memiliki unit usaha sendiri. Frame kabijakan training dasar pengkaderan (LK 1, LK2 dan LK3) harus berorientasi pada penumbuhan jiwa kewirausahaan, pengenalan praktek kewirausahaan, pembangunan jaringan dengan para pengusahan sukses, sistematisasi mentoring bisnis (pembentukan komunitas pemula usaha, kegiatan magang usaha) hingga penyiapan akses permodalan dan pemasaran.

Gerakan ini harus dimulai dari tingkatan komisariat sebagai pintu gerbang awal pengenalan kader terhadap HMI. Apabila mindset kader baru sudah familiar dengan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis” maka akan menarik minatnya untuk semakin giat dan aktif berorganisasi di HMI. Kondisi ini juga sebagai jawaban atas kejumudan kegiatan keorganisasian di HMI yang selama ini berkutat pada diskusi-diskusi klasik yang tidak secara langsung memberikan kontribusi nyata kepada kader.

Pelaksanaan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis” ini akan semakin mudah terlaksana mengingat saat ini hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat komunitas-komunitas pengusaha. Komunitas tersebut biasanya sangat terbuka terhadap ajakan kerjasama dari berbagai pihak, tentunya akan semakin mudah mewujudkan Gerakan “1 Kader = 1 Bisnis”.

Melihat semua paparan di atas, tentunya sangat lah layak jika “Economical Movement Sebagai Level Ke-3 Perjuangan HMI”. Sudah saatnya HMI menjadi bagian dari perubahan masyarakat. Sudah saatnya generasi kita menciptakan sejarah sebagai GENERASI Ke-III dalam perjuangan HMI. Nama-nama kita akan disejajarkan dengan Nurcholis Madjid, Akbar Tandjung, M.Jusuf Kalla dan banyak tokoh lain yang menjadi pioneer di jamannya.

“Jaman Kita adalah Jaman ECONOMICAL MOVEMENT”

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

YAKUSA...



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.









Kamis, 26 September 2013

5 Tingkatan Entrepreneur

5 Tingkatan Entrepreneur
Direview oleh


Selamat siang para pembaca yang Budiman…

Artikel kali ini mengulas materi yang disampaikan pada TDA Ngalam Forum #7 & Halal Bi Halal TDA Ngalam. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 21 September 2013 Pukul 10.00 - 15.00 WIB di Resto Big Burger Lt.3 Jl.Soekarno Hatta Kota Malang. Judul materi tersebut adalah “5 Tingkat Entrepreneur” yang dibawakan oleh Bapak Donny K. Puriyono / @donnykris yang juga merupakan owner dari WinnerTech Corporation.

Bapak Donny K. Puriyono

Pendahuluan
Dalam menjalankan bisnis tidak lah ada aturan baku untuk mencapai kesuksesan. Ada suatu usaha dianggap tidak prospektif, tetapi malah mencapai kesuksesan ketika dijalankan. Sebaliknya, ada jenis usaha yang dianggap memiliki prospek cerah di masa depan, tetapi hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Sumber terbesar dari kegagalan suatu bisnis lebih berasal dari Sang Owner atau Sang Pelopor. Kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap bisnisnya, pada posisi mana saat ini bisnisnya berjalan dan akan dibawa kemana bisnisnya kelak.

Untuk mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan dalam bisnis kita, maka ada dua hal besar yang harus kita ketahui, yaitu : Visi Bisnis dan Tingkatan Entrepreneur. Yuk kita ulas bersama…

Visi Bisnis Hukumnya WAJIB
Ada pendapat yang berkembang bahwa pengusaha di Indonesia lebih susah berkembang dari pada pengusaha di Malaysia. Pada hal dari segi prospek bisnis dan keahlian tidak lah jauh beda, lalu apa yang membedakan?. Ternyata perbedaan besarnya adalah pada VISI BISNIS.

Beberapa pengusaha kita hanya puas menjadi “jago kandang” di lingkungan kota tempat tinggalnya atau paling jauh pada lingkup provinsi. Tidak ada yang salah dengan perasaan puas tersebut. Akan tetapi jika kita ingin menjadi The REAL Entrepreneur maka sebaiknya dipikirkan ulang tentang visi besar dari perjuangan bisnis kita. Apakah nantinya bisnis tersebut akan mengharumkan nama bangsa atau kah hanya sebatas “mengisi perut” keluarga kita.

Tetapkan VISI yang BESAR sekalian, jangan setengah-setengah. Misalnya salah satu bisnis kami di bidang sepatu safety (safety shoes) dengan situs www.JualSepatuSafety.com . VISI BISNIS dari usaha tersebut adalah “#1 Safetywear Supplier in INDONESIA” . Visi tersebut sangat lah besar bagi kami karena kapitalisasi dalam bisnis ini sangat besar, klien dari dunia industri dan bauran produk yang unik dan beraneka ragam. Bagi kami tidak ada yang tidak mungkin, walau pun kami masih pemain baru tetapi sudah banyak perusahaan besar dan BUMN yang menjadi klien kami. Itu sudah menjadi bukti bahwa visi besar akan diikuti oleh anugerah yang besar pula. Bagaimana dengan visi bisnis Anda???...

Tingkatan Entrepreneur
Mungkin kita pernah memperhatikan atau bahkan sedang mengalami, suatu kondisi dimana bisnis kita “gitu-gitu aja” bahkan setelah berjalan belasan tahun. Omset juga stagnan, klien tidak bertambah, project tidak stabil malah semua pekerjaan masih kita handle sendiri tanpa bisa didelegasikan kepada staff. Bisnis kan bukan sekedang dapat untung, tetapi memiliki sistem dan masa depan yang jelas…betul kan?. Yuk kita kupas satu per satu…

Level 0 = Employee
Ya…Anda tidak salah baca kok. Memang ada level nol dalam bisnis, yaitu ketika kita masih menjadi karyawan pada suatu perusahaan. Ciri khas dari level ini adalah :
  1. Merasa AMAN, karena mendapat gaji rutin setiap bulan.
  2. Asumsi yang salah tentang karyawan : Semakin jabatan naik, gaji akan naik dan kemakmuran semakin meningkat. Kenyatannya banyak karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun masih juga mengalami PHK (pemutusan hubungan kerja).
  3. Menukar waktu dengan uang, jam kerja 8 jam sehari atau lebih dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya.
  4. Tantangan : Rasa takut keluar dari pekerjaan.

Level 1 = Self Entrepreneur
Level pertama sebagai entrepreneur ditandai dengan mempekerjakan diri sendiri. Semua pekerjaan di-handle sendiri. Mereka berprinsip : Jika bisa diselesaikan sendiri buat apa dibantu orang lain.
  1. Memulai bisnis diawali dengan diri sendiri, biasanya mulai dibantu satu karyawan.
  2. Asumsi yang salah tentang level self entrepreneur :
Ø  Merasa memiliki skill menjual sehingga hanya fokus pada marketing.
Ø  Merasa serba mampu sehingga semua pekerjaan dikerjakan sendiri, jika sakit maka pekerjaan tertunda.
Ø  Ingin menikmati hasil sendiri karena lebih besar dan tidak perlu dibagi dengan orang lain (karyawan).
  1. Jebakan “Business=Busy-Ness”. Kondisi ini lebih buruk dari pada menjadi karyawan. Jika karyawan pada umumnya bekerja 8 jam per hari, bisa jadi self entrepreneur bekarja 24 jam per hari. Semua belum didelegasikan dan belum tersistem. Kesibukan menyiksa tiada akhir, semakin banyak order semakin tersiksa.
  2. Memperdagangkan waktu, mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan order dan omset usaha. Penghasilan tidak tentu, terkadang sangat besar tetapi di lain waktu sangat kecil.
  3. Tantangan : Menetapkan VISI USAHA yang besar. Kesalahan pebisnis Indonesia dibandingkan pebisnis Malaysia adalah kebanyakan kita berbisnis hanya untuk makan, bukan untuk memiliki karajaan bisnis. Supaya memiliki VISI BESAR tidak ada salahnya membuat perencanaan masa depan bisnis hingga 100 tahun ke depan. Seperti hal nya perusahaan-perusahaan dunia yang berusia lebih dari 1 abad.
  4. Untuk naik ke level selanjutnya :
Ø  Buat VISI BESAR.
Ø  Buat struktur organisasi (pimpinan, manajer administrasi, manajer SDM, manajer keuangan, dan lain sebagainya) bahkan ketika kita belum memiliki karyawan.
Ø  Buat targer kenaikan level bisnis untuk mencapai visi bisnis.
  1. Hendaknya mencari MOTIVASI sehingga lebih yakin dan konsisten dengan bisnisnya. Karena pada level ini sangat mudah tergoda untuk pindah bisnis ketika melihat bisnis teman mulai berkembang. Pada hal nantinya tantangan bisnisnya tidak jauh berbeda dengan bisnis orang lain.

Level 2 = Manager
Sekarang sudah mulai memiliki beberapa karyawan, pekerjaan sudah mulai didelegasikan dan sistem pun mulai dirintis. Lalu apa saja pernak-pernik sebagai entrepreneur dengan level manager?.
  1. Level 2 (manager) adalah Level 1 (self entrepreneur) hanya saja lebih komplek.
  2. Ragu-ragu ketika akan merekrut karyawan, khawatir tidak bisa menggaji dengan layak. Tipsnya adalah “Jika kita mampu membayar ½ gajinya, maka REKRUT dia”. Separuh lagi biar karyawan kita yang berusaha meningkatkan omset usaha kita, gajinya akan terbayar oleh pendapatan usaha.
  3. Asumsi yang salah tentang level manager, perlu diingat tujuan kita adalah PROFIT :
Ø  Perusahaan yang karyawannya lebih banyak PASTI lebih baik daripada yang karyawannya lebih sedikit.
Ø  Perusahaan yang omsetnya lebih besar PASTI lebih baik dari pada yang omsetnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang hutangnya lebih besar PASTI lebih bagus dari pada yang hutangnya sedikit.
Ø  Perusahaan yang ownernya sering tampil di media dan terkenal PASTI lebih baik daripada yang ownernya tidak populer.
  1. Bisnis Jalan, Ownernya Jalan-jalan? Apa bener?. Bisa jadi kita lebih sibuk dari pada karyawan, karena sistem masih belum jalan.
  2. Alokasi waktu kerja : 80% operasional dan 20% urusan strategis. Masih terlalu banyak terlibat dalam operasional usaha.
  3. Jebakan besar : “Ego menjadi BOS”. Terlalu sibuk memerintah bawahan dan menikmati panggilan sebagai BOS, dari pada memikirkan cara meningkatkan profit.
  4. Tantangan untuk naik level : Harus membenahi manajemen arus kas (cash flow), team building / struktur organisasi berjenjang, membuat SOP dan melatih jiwa kepemimpinan (leadership).
  5. Bagaimana mencari karyawan yang tepat untuk bisnis kita? Pada prinsipnya :
“Karyawan TEPAT karena Bos yang Tepat”. Maka pantaskan diri kita sebagai pimpinan selanjutnya karyawan akan mengikuti. Ada kalanya karyawan tidak hanya mencari gaji, tetapi mencari pemimpin dan lingkungan kerja yang kondusif.
  1. Jangan sampai karyawan menganggur dan tidak tahu yang harus dikerjakan. Maka setiap karyawan harus memiliki rincian kerja (job description) dan SOP.
  2. Sebagian besar pebisnis di Indonesia berada pada level 2 ini. Alasannya karena ingin terus terlibat dengan bisnisnya, ada ikatan emosional, belum bisa mempercayai bawahan dan masih banyak lagi. Jadi…apakah Anda ingin naik ke level selanjutnya?.

Level 3 = Owner
Nah…sampai juga di level owner. Jangan Cuma kecantol pada level manager saja ya. Pada titik ini Anda sudah bisa jalan-jalan, karena semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan.
  1. Telah memiliki sistem bisnis yang berjalan baik.
  2. Sudah memiliki tim kerja yang bagus.
  3. Sudah memiliki General Manager (GM). Tugas dari GM adalah untuk menggantikan tugas Anda. Semua hal harus diketahui GM dan jika ada pekerjaan yang belum selesai maka menjadi tanggung jawabnya. Bukan lagi tanggung jawab Anda.
  4. Sudah tidak “menghasilkan uang”, tetapi “menerima LABA”. Tugas menghasilkan uang adalah tanggung jawab GM dan seluruh bawahannya.
  5. Tantangan : Mengumpulkan MODAL untuk investasi dan naik ke level yang lebih tinggi.
  6. Sedikit tips mengenai perekrutan karyawan : Beberapa karyawan bisa outsourching. Kita tidak perlu menyediakan sendiri, misalnya untuk security dan office boy (OB). Tentu kita tidak memiliki kemampuan khusus untuk melatih mereka, maka gunakan saja jasa outsourching.

Level 4 = Investor
  1. Jika pada level sebelumnya kita masih fokus menjual barang dan jasa, maka pada level ini kita sudah melakukan JUAL BELI BISNIS.
  2. Prinsipnya adalah : Beli Bisnis, Kembangkan, Jual.
  3. Menghasilkan uang dengan uang. Kita fokus menggalang dana dari investor lain, setelah terkumpul banyak maka akan kita belikan sebuah perusahaan. Pada saat perusahaan tersebut berkembang pesat dan semua persyaratannya terpenuhi, maka JUAL KEMBALI. Keuntungan yang didapat bisa jadi sangat besar hingga ratusan kali dari modal awal yang kita keluarkan.
  4. Pahami aturan “ANGKA NOL” yaitu : Seberapa banyak angka nol dalam uang kita. Para investor kelas dunia sangat paham dengan pentingnya angka nol.
  5. Tantangan : Harus banyak belajar. Biasanya investor pemula ketika membuat satu kesalahan investasi lalu dia berhenti, seharusnya dia bersiap untuk membuat kesalahan-kesalahan lain dan terus belajar.

Level 5 = Real Entrepreneur
  1. Membangun bisnis yang dapat dijual ke publik. Pengusaha kelas dunia seperti Bill Gates dengan Microsoftnya dan Mack Zuckerberg dengan Facebooknya, memperoleh kekayaan super besar bukan karena menjual produk. Mereka memperolehnya dari menjual perusahaan (saham) kepada masyarakat.
  2. Mindset : “Menciptakan sesuatu dari ketiadaan”. Pendapatan terbesar kita dari nilai perusahaan yang terus tumbuh, bukan hanya dari penjualan dan laba yang semakin besar.
  3. Setelah kita mencapai level real entrepreneur…lalu apa???

Setelah semua pencapaian kita raih, maka…

“Kita akan merasakan KEPUASAN BESAR ketika mengembalikan pendapatan kita kepada masyarakat”

Demikian sedikit review dari kami semoga bermanfaat. Banyak ilmu dan pengetahuan yang kami peroleh dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Bagi yang berminat langsung saja menghubungi Pengurus TDA di kota Anda atau bisa membaca di http://tangandiatas.com/ dan www.TDAngalam.com

Salam Sukses,



HILDAN FATHONI

CP : 0852 340 89 809, 0341-5470 688.

----------------------------------------------------------------------------------------

DOKUMENTASI :
Peserta Memenuhi Acara TDA FORUM #7

Peserta dari berbagai kalangan, baik pebisnis maupun non pebisnis

Materi sangat berbobot sehingga para peserta serius menyimak

Pembentukan Kelompok Mentoring Bisnis (KMB)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...