Jumat, 16 November 2012

Meninggalnya Ayahanda Bpk.H.Imam Bashori (1)



Meninggalnya Ayahanda Bpk.H.Imam Bashori (1)

Oleh
HILDAN FATHONI

 

“De’…Bapak meninggal. Pean siap-siap ya nanti mobilnya jemput sampean dan Zila di rumah”. Saya segera menutup percakapan dari HP, selepas memberikan kabar kepada istri saya yang menunggu di rumah bahwa Ayahanda kami sudah meninggal 10 menit yang lalu. Oh…sulit menghilangkan kenangan di ICU pada waktu itu.

Ayahanda kami Bpk.H.Imam Bashori telah meninggal di ICU RST.SOEPRAOEN Kota Malang pada hari Minggu, 15 April 2012 pukul 02.20 WIB. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya setelah kurang lebih 9 hari tidak sadarkan diri. Menurut cerita Ibu, pada hari Jumat 06 April 2012 bertepatan dengan tanggal merah Bapak pingsan di rumah tetangga. Sebelumnya pagi-pagi beliau pamitan ke pekarangan di kampung barat (kampung kulon), yang letaknya sekitar 100 meter sebelah barat rumah. Tetangga dari kampung kulon bercerita, bahwa sekitar pukul 10.00 WIB Bapak keluar dari pekarangan berjalan kaki sambil memanggul cangkul dan membawa ember. Ada yang menyapa Bapak di jalan, tetapi anehnya Bapak tidak membalas padahal beliau terkenal ramah dan suka ngobrol dengan tetangga. Setelah orang tersebut mendekati Bapak, ternyata Bapak sudah tidak bisa berbicara dan langsung mempersilahkan beliau beristirahat di teras rumah. Beliau masih sempat menghabiskan segelas air putih yang diberikan tetangga tersebut, tetapi beberapa saat kemudian beliau pingsan dan langsung dilarikan ke UGD RST.SOEPRAOEN. Setibanya di RST baru saya ditelepon oleh adik saya.

Beberapa tahun sebelumnya (sekitar 2007 / 2008) Bapak sudah pernah menderita stroke ringan, sampai beberapa kali masuk RST. Bahkan kalau tidak salah di tahun 2009, Bapak pernah pingsan di mushola waktu memimpin sholat subuh dengan jemaahnya para ibu-ibu di sekitar mushola. Itu lah saat terakhir beliau ngamar di RST. Semenjak 2009, ibu selalu rajin mengontrol dan memberikan terapi kepada Bapak hingga Bapak benar-benar pulih seperti sedia kala. Kemana pun selalu mengendarai mobil sendiri, badannya semakin gemuk berisi dan benar-benar sehat wal afiat.

Memang 8 bulan terakhir sebelum meninggal, beliau sudah jarang check up dan terapi di RST. Jika pun berkunjung ke Malang ya benar-benar untuk menjenguk si kecil NAZILA cucu pertamanya (putrid pertama kami). Selebihnya ke Malang untuk urusan dinas (misalnya rapat di kantor Depag Gadang) atau mengantar undangan Perkumpulan Keluarga Besar BANI SARINO (IKABASAR) ke daerah Junrejo dan sekitarnya. Mungkin karena penyebab itu lah kesehatan beliau kurang terpantau.

Dua Bulan Ribuan Tawa
Ada hal unik yang diingat ibu dan saudara-saudara di sekitar rumah. Selama 2 bulan sebelum meninggal, Bapak itu menjadi pribadi yang benar-benar menyenangkan. Suka guyon melebihi sebelumnya. Keponakan saya yang bernama FAHMI usianya sekitar 4 tahun, hampir tiap pagi selalu digoda. Kalau Bapak tertawa bisa sampai keluar air mata. Bapak pun tidak pernah mengeluh tentang apa pun, benar-benar sangat ramah.

Ada cerita mengharukan yang sangat diingat oleh Ibu. Kurang lebih seperti berikut ini, ada suatu pagi Ibu terburu-buru berangkat mengajar ke SDN POJOK 2, sedangkan Bapak masih di kamar mandi. Demi melayani Bapak, Ibu merebuskan sedikit air minum untuk Bapak dan menuangkannya di gelas. Sewaktu selesai dari kamar mandi Bapak ke dapur dan melihat air minum di gelas hanya sedikit, kemudian Bapak membuangnya dan merebus air lagi yang lebih banyak. Bapak mengira Ibu lupa membuatkan the. Sewaktu Ibu mau berangkat, beliau tahu bahwa air yang direbusnya tadi dibuang oleh Bapak. Padahal Ibu merebus air lebih sedikit supaya cepat masak, akhirnya Ibu berangkat ke sekolah sambil marah dalam hati. Bapak memiliki sifat yang sangat sensitif, beliau menyadari sudah berbuat salah.

Sesampainya di sekolah, Ibu menerima SMS dari Bapak yang kurang lebih isinya :
“Bu’… Maafkan kesalahan Bapak ya, tadi tidak sengaja membuang minuman yang Ibu buat”.
SMS tersebut tetap Ibu simpan hingga Bapak meninggal. Ibu merasa Bapak itu sangat lembut budinya dan memperlakukan keluarga dengan hormat.

Dwi Tunggal
Semenjak SMP saya punya suatu keyakinan :
“Jika teman-teman tahu orang tua saya, pasti mereka semua iri”
Mengapa demikian, karena menurut hemat saya beliau berdua itu sangat perfect dalam mendidik kami. Kasih sayang, pengetahuan, perhatian, waktu, harta, penghormatan dan semua yang mereka miliki benar-benar 100% untuk kami putra putrinya. Bapak dan Ibu itu dua pribadi yang sangat…sangat…sangat berbeda. Bagaikan YIN & YANG yang saling melengkapi. Bapak itu pribadi yang halus, tidak tegaan, suka mengalah, tidak suka tawar menawar, lebih pendiam, jago ilmu agama dan lebih banyak action dalam membantu warga. Sedangkan Ibu itu pribadi yang keras, terus terang, sangat tegas, disiplin, selalu menang dalam tawar menawar, jago matematika dan sangat ekstrovert. Namun yang sangat kami hormati, Ibu sangat taat kepada Bapak. Apapun pertimbangan untung ruginya, walau pun menurut Ibu sangat menguntungkan jika Bapak berkata tidak maka transaksi apa pun tidak akan dilakukan. Kedua pribadi ini sangat mewarnai karakter kami.

Keduanya benar-benar pasangan yang sangat diidam-idamkan. Semenjak pertama menikah, hidup serba kekurangan hingga perekonomian keluarga sudah mulai mapan, tidak satu pun perbuatan foya-foya yang mereka lakukan. Bahkan dulu sewaktu kecil, saya pernah berpikiran bahwa beliau itu pelit. Baru setelah saya dewasa, saya mengetahui kecerdasan beliau dalam mengatur keuangan dan investasi (meskipun investasi dalam bentuk yang sederhana).

Bapak pernah berkata : “Sebenarnya kalau kita ingin ikut-ikutan beli mobil ya bisa saja. Tapi buat apa, lawong kemana-mana pakai HONDA sudah bisa. Lagi pula kalau punya mobil tidak dipakai usaha ya rugi, hanya menghabiskan uang. Sampean nanti juga harus pinter-pinter ngatur keuangan. Hidup sederhana itu mulia dan tidak membuat orang lain iri”. Ajaran tersebut juga diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Jika kami meminta sesuatu pasti ditanya dulu : “Mau dipakai apa? Manfaatnya apa?”. Kekuatan dalam menunda kesenangan tersebut yang sudah melekat pada pribadi beliau berdua. Keluarga kami baru memiliki mobil (APV ARENA) tahun 2010, yaitu 2 tahun sebelum beliau meninggal. Itu pun karena mendapat hadiah undian dari Bank BRI. Jika tidak, ya mungkin sampai saat ini belum punya mobil.

Saya teringat sewaktu masih sekolah di TK.WAHID HASYIM Jambangan. Suatu saat Bapak dan Ibu ada keperluan ke Dampit, mungkin ada rapat di Dinas Pendidikan (bapak dan ibu adalah guru SD). Ibu bertanya,”Le…pean kate nitip opo?”. Saya jawab,”Sapu Bu’…sapu ne wis rusak”. Sampai sekarang sepertinya Ibu masih terkesan, karena bagi anak seusia saya dulu jika ditanya oleh-oleh maka jawabannya adalah jajan atau mainan. Tetapi saya malah minta dibelikan sapu. Hal ini dikarenakan didikan perfeksionis dari Bapak. Setiap hari saya diajari cara menyapu lantai dalam rumah, membersihkan lantai di bawah kursi, mengelap meja dan merapikan buku. Juga menyapu halaman rumah dengan sapu lidi. Bagi Anda yang tinggal di desa pasti tahu aturan menyapu dengan sapu lidi. Yang jelas, tanah setelah disapu dengan sapu lidi akan terlihat pola-pola teratur bekas sapuan rapi dari sapu lidi.

Mengenai kebersihan diri, Bapak juga sangat perfeksionis. Aturan menggosok gigi dari atas ke bawah, menyisir rambut belah pinggir dengan tambahan minyak kemiri, merapikan lipatan baju, dan kerapian menulis semua beliau ajarkan setiap hari. Di kampung kami, Bapak dikenal juga karena waktu mandinya yang lama. Kebetulan ada tempat mandi umum (blumbang) di belakang rumah, yang kadang harus mengantri untuk sekedar mandi. Sedangkan saya terkenal dengan sebutan “Bashori Cilik”, Anda tentu tahu apa sebabnya.

Bapak yang Sangat Lembut
Sewaktu kecil setiap pagi sebelum berangkat sekolah, saya dan Bapak mandi bersama di blumbang. Beliau menggendong saya dipundak, sehingga dari jauh kelihatan saya sedang memeluk kepala beliau. Terkadang kepala saya terbentuk palang pintu karena terlalu tinggi dipanggul oleh Bapak. Saya merasa sangat disayang oleh beliau, mungkin karena saya putra pertama.

Ibu itu sangat disiplin dalam membelanjakan uang, oleh karenanya jarang sekali saya membeli makanan atau pun mainan jika bersama beliau. Beda dengan Bapak yang lebih bloboh (suka memberi), malahan Bapak lebih sering menawarkan jajanan. Karenanya, saya lebih senang diajak naik sepeda motor sama Bapak. Jika ketahuan oleh Ibu, beliau berkilah,”Lha aku lho gak duwe Bapak”. Alasan klasik…hehehehe. Ayah beliau sudah meninggal sewaktu beliau masih sangat kecil, sehingga kasih sayangnya dilimpahruahkan kepada saya sebagai putra pertamanya karena beliau tahu rasanya tidak memiliki ayah.

Mulai saya kecil hingga beliau meninggal, saya belum pernah menyaksikan beliau marah besar. Beliau sangat ahli menyembunyikan masalah dan kemarahan. Jika pun marah, beliau melakukannya dengan lembut tanpa sekali pun membentak. Sewaktu saya menikah, baru saya kena marah. Itu pun marah dalam arti mendidik saya menjadi suami, karena pada saat di awal pernikahan tingkah laku saya masih dianggap kurang dewasa dan masih seperti mahasiswa. Kemarahan beliau memiliki tujuan yang jelas, memberikan kami bantuan petunjuk selangkah demi selangkah dan berlangsung dengan singkat. Besoknya beliau sudah guyon seperti sebelumnya.

Ibu pernah bercerita. Pada awal pernikahan saya, kondisi ekonomi saya dan istri sangat memprihatinkan. Bisa dianggap belum mandiri. Sebagai orang tua, beliau berdua sering kali membantu kami dan juga memberikan arahan. Ibu pernah berdiskusi dengan Bapak yang kesimpulannya : Salah satu dari kami (saya dan istri) harus menjadi PNS…itu menurut Ibu. Sedangkan menurut Bapak, rejeki itu sudah ada yang mengatur jadi jangan kuatir tidak kebagian rejeki. Yang terpenting adalah berusaha, berdoa dan pasrah, pasti ada jalan. Kata Bapak,” Gusti ALLOH ora turu”…ALLOH tidak tidur jadi pasti bisa menolong hambanya. Alhamdulillah…lambat laun Ibu sejalan dengan pemikiran Bapak dan kami bisa berwirausaha.

Bukan hanya lemah lembut terhadap keluarga. Bapak juga sangat mengalah kepada orang lain. Pernah suatu ketika Bapak difitnah oleh seseorang, mereka mengatakan bahwa Bapak menjelek-jelekkan warga kampung. Akibatnya Bapak didemo oleh warga dari kampung sebelah dan dipaksa meminta maaf kepada seluruh warga yang hadir di Kantor Desa. Hingga peristiwa tersebut berlalu, Ibu sama sekali tidak mengetahui kejadiannya. Beliau malah diberitahu oleh tetangga. Banyak saudara sekampung tidak terima dengan fitnah tersebut karena memang banyak tahu bahwa Bapak tidak bersalah. Dari pada terjadi pertikaian antar kampung, maka Bapak mengikhlaskan kejadian tersebut dan memaafkan pelakunya. Sampai saat ini sudah tidak ada yang mempermasalahkan peristiwa itu lagi.

Organisatoris
Ada banyak perkumpulan dan kegiatan warga yang dibina beliau. Mulai IKABASAR (Ikatan Keluarga Besar BANI SARINO) yang berdiri sekitar tahun 1995, pengajian yasinan setiap malam jumat ba’da maghrib, pengajian keluarga setiap malam minggu, hadrah setiap malam jumat ba’da isya dan banyak perkumpulan lain. Ketika beliau meninggal, beberapa kegiatan seolah terbengkalai. Hal tersebut sangat disayangkan, mengingat saya sendiri tinggal jauh dari desa sehingga tidak bisa melanjutkan perjuangan beliau.

Banyak pelajaran komunikasi massa yang  dipetik dari keseharian beliau. Bagaimana cara berbicara di depan mimbar, di forum pengajian, sampai rapat-rapat di organisasi formal. Cara mempengaruhi kebijakan melalui tindakan dan cara menang tanpa menimbulkan persaingan. Bahkan cara memberikan pengaruh kepada masyarakat, semua bisa kami pelajari dari  kegiatan keseharian beliau. Waktu beliau selepas maghrib, dihabiskan dari satu perkumpulan ke perkumpulan lain.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...