Rabu, 14 November 2012

Pojok Parenting 3 : Tips Melatih Komunikasi Pada Balita



Pojok Parenting 3 : Tips Melatih Komunikasi Pada Balita

Oleh
Ayah HILDAN & Bunda ALFI 

Si kecil NAZILA, Yayah HILDAN dan Bunda ALFI

Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman...
Pada hari Minggu kemarin (11-11-2012) seharian kami sekeluarga jalan-jalan keliling kota Malang. Pagi hari kami menghabiskan waktu di sepanjang Jl.Ijen untuk menikmati suasana Car Free Day, dilanjutkan dengan makan siang di Warung Mania (di dekat Kampus UM) dan terakhir menuju ke Toko Buku TOGAMAS di timur Plaza Dieng.

Sewaktu kami melihat-lihat koleksi buku di Togamas, si kecil sengaja kami lepas sendiri. Karena dia sudah terbiasa membaca-baca buku di Kids Corner. Letaknya di lantai dasar, penuh dengan buku bergambar untuk anak-anak, meja pendek lucu, dan patung tokoh kartun. Setelah beberapa waktu saya melihat aktivitas si kecil di Kids Corner tersebut. Eh ternyata si kecil lagi sibuk diskusi dengan seorang ibu yang memangku balitanya. Si kecil NAZILA dengan asyik main tebak gambar dengan si ibu dan sesekali mencolek-colek tangan bayi yang kira-kira berusia satu tahun itu. Sambil tersenyum, dalam hati saya berdecak kagum. Ternyata NAZILA cukup komunikatif dengan orang yang lebih dewasa.

Saya dan istri memang menaruh perhatian khusus pada kemampuan komunikasi putrid kami. Kami sangat yakin bahwa komunikasi yang terbuka dan hangat akan memudahkan NAZILA dalam berpendapat dan mengemukakan ide. Tentunya hal tersebut akan sangat mendukung pengembangan dirinya kelak.

MARI TERLIBAT
Kami bereksperimen hampir setiap hari tentang cara yang baik melatih berkomunikasi untuk balita. Tidak ada rumus yang baku, satu hal yang kami yakini keampuhannya : KETERLIBATAN PENUH. Terkadang pagi hari kami ngobrol seru tentang kagiatan di PAUD, siangnya kami diskusi ringan tentang aktivitas si kecil di PAUD (nyanyi lagu apa, tadi jalan-jalan kemana, tadi menggambar apa), lalu dilanjutkan dengan diskusi di dapur sambil menyiapkan makan siang. Sorenya sambil bermain-main menjadi tukang potong rambut, si kecil menceritakan asiknya jadi tukang potong rambut. Sambil pura-pura memotong rambut yayahnya, nyuci rambut, kadang-kadang saya pura-pura tertidur, “Ayah…jangan bobok, potong rambutnya belum selesai…” teriaknya sambil cipika-cipiki supaya saya terbangun.

Kemudian saya gentian menjadi tukang potong rambut dan si kecil menjadi pelanggannya. Selama bermain kadang-kadang kami saling ngobrol :
Saya : “Kakak shamponya mau harum apa. Ada harum bunga mawar, mangga, jeruk… kakak seneng yang mana”.
Nazila : “Kakak mau wangi mangga”.
Saya :”Oke…(sambil pura-pura mencuci rambut si kecil). Disiram ya, terus dikereingkan”
Nazila : “Iya ayah. Nanti rambut kakak dipotong ya. Potong sedikit aja”.

Di lain kesempatan si kecil mengajak untuk jadi tukang pijat. Sepertinya dia teringat sewaktu dipijatkan ke ibu tukang pijat di kampung sebelah.
Saya : “Ayo kakak mengkurep ,nanti yayah pijet ya?. Kakak nangis ndak”
Nazila : “Kakak nanti nangis ya. Kayak adik kecil (sewaktu masih kecil Nazila selalu menangis saat dipijat…dia suka pura-pura jadi bayi kecil lagi)”.
Saya : “Lho..kok ndak nangis (sambil pijit kakinya si kecil)”.
Nazila :”Hoa…hoaaaa (pura-pura menangis…sambil tertawa terpingkal-pingkal karena merasa lucu seperti bayi kecil)”.

Aktivitas seperti ini kami jalani hampir setiap hari. Kadang-kadang kami sampai kehabisan energi, tapi sangat menyenangkan. Energi anak sekecil Nazila seperti tidak pernah habis bahkan sampai jam 9 malam masih mengajak bermain “Tukang Potog Rambut”. Hmmm… bisa tidur kemaleman nih.

JIKA MEMBENTAK, MARI MEMINTA MAAF
Memiliki putra putrid yang super aktif dan sangat cerewet terkadang menguras energi dan emosi. Sesekali emosi kami terpancing dan tanpa sengaja membentak si kecil, terutama jika si kecil melakukan kegiatan berbahaya seperti berlarian di dapur atau bermain kabel listrik. Kadang kami sangat menyesal telah membentak si kecil.

Ketika keadaan sudah sedikit mereda, kami segera menghampiri si kecil sambil berjongkok kami meminta maaf. Biasanya kami langsung menggendongnya, mencium keningnya sambil menyampaikan alasan kami membentaknya.

Saya : “Ayah minta maaf ya, tadi ayah kaget..kan kakak lari-larian trus nambrak ayah. Kan ayah sedang kerja sayang, nanti kalau laptopnya jatuh kan ndak bisa lihat foto-fotonya kakak. Ayah minta maaf ya, kakak jangan nangis ya”.
Nazila : “He’e…”
Saya : “Kakak juga harus minta maaf ke ayah. Kan tadi kakak lari-larian terus nabrak ayah. Sini salim sama ayah”. (Jadinya kami saling meminta maaf dan memaafkan)

Kebiasaan saling meminta maaf dan memaafkan ini juga membantu kami belajar meredam ego. Karena tidak jarang sebagai orang tua sangat gengsi jika harus meminta maaf kepada putra putrinya, sekali pun yang masih berusia balita. Si kecil pun jadi belajar bahwa beberapa tindakan itu berbahaya dan tidak baik. Jadinya saling belajar deh.

SALING MENGKRITISI
Sejak dulu kami sudah mencoba membiasakan untuk saling mengkritisi, baik saya dengan istri maupun kami dengan si kecil. Malah si kecil yang sering mengkritisi kami. Pernah suatu ketika suhu udara di rumah sangat panas, sehingga saya membuka baju sambil melanjutkan pekerjaan di ruang kerja. Tiba si kecil berjalan cepat kea rah saya :
Nazila : “Ayaaaahhhh….ayo pakai baju…icin. Huh ayah ini”. (Sambil cemberut persis Bundanya. Lalu keluar dari ruang kerja saya…hedeh…mirip POLISI yang sedang patroli).
Saya : “Iya..iya…Kak, tadi ayah kepanasan. Nih ayah mau pakai baju”.

Dilain kesempatan giliran bundanya mengkritisi si kecil :
Bunda : “Ayo Kakak…kalau sakit perut cepat ke kamar mandi sendiri. Celananya dilepas sendiri, jangan manja sama ayah. Kan kakak sudah gede…lagian ayah masih sibuk kerja”. (Si kecil lumayan manja sama ayahnya, mungkin saya lebih sabar dan jarang marah..hehehe).
Nazila : “Iya Bun…”.
Bunda : “Nanti kalau sudah selesai panggil bunda ya”.

Si kecil juga sering mengkritisi Bundanya :
Nazila : “Bunda jangan main komputer tok. Kakak mau maem nih, kakak dah laper”.
Bunda : “Iya sebentar, Bunda masih bantu ayah nih”

Kami sangat terbiasa dengan suasana demikian, serasa semakin akrab dengan seluruh keluarga. Si kecil pun bisa berkomentar dengan bebas sehingga terbiasa dengan diskusi dan berbeda pendapat. Jika si kecil penasaran akan suatu hal, secepat kilat dia memberondong kami dengan buaanyak pertanyaan. Hampir setiap saat dia selalu bertanya dan bercerita, jadinya jauh lebih cerewet dari Bunda nya. Kami pernah memperhatikan si kecil ketika ada acara keluar rumah. Sejak mandi bareng dengan Bunda nya, ganti baju, memakai jaket dan sepatu, naik sepeda motor, jalan-jalan di pusat perbelanjaan hingga pulang kembali ke rumah, dia sama sekali tidak berhenti berceloteh. Entah itu dengan bertanya, bernyanyi, berteriak-teriak, mengomentari bayi yang digendong ibunya, mengomentari rumah makan dipinggir jalan, memanggil Pak POLISI dipinggir jalan, mengomentari mobil bagus yang berhenti di perempatan lampu lalu lintas, bercerita pengalamannya di museum dan buanyak lagi celotehannya di sepanjang perjalanan kami.

Fuuuuhhh…saking capeknya menanggapi, kadang kami hanya menjadi pendengar sambil sesekali berkata : “iya…bagus…oh gitu ya…wah hebat”.

BIASAKAN BERSALAMAN
Nazila : “Yaaahhh…Kakak ekom (berasal dari kata Assalamu alaikum, Kakak ingin bersalaman dengan tamu)”.

Sering kali kalimat itu yang diucapkan sambil berlari mendekati tamu yang berpamitan pulang. Dia senang sekali bersalaman dengan para tamu kami. Sejak dini dia telah terbiasa bersalaman dengan orang lain, jadinya tanpa sungkan si kecil mudah sok akrab dengan orang yang baru dikenal. Kebiasaan ini memang sudah dilakukan semenjak dia berusia sekitar 1 tahun.

Kebiasaan bersalaman sepertinya meningkatkan rasa percaya dirinya, karena ketika dia menyentuh tangan orang lain tidak terjadi hal-hal yang menakutkan. Dia malah sering kali mendapat pujian. Nah …menurut kami, motivasi mendapatkan pujian inilah yang membuat si kecil senang sekali bersalaman dengan para tamu. Tentu saja dampak positifnya, si kecil menjadi mudah bersosialisasi dengan orang yang baru ditemuinya.

Demikian sedikit sharing pengalaman sehari-hari kami bersama si kecil. Semoga bermanfaat
Wassalamu alaikum.

Salam hangat,



Ayah HILDAN & Bunda ALFI






Reaksi:

1 komentar:

  1. Wah bagus sekali ya pengalamannya dengan si kecil. kasih masukan dong, gimana komunikasi yang baik untuk mengatasi anak (2th) yang suka memukul saat bermain? Makasih ya....

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...