This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 16 November 2012

Meninggalnya Ayahanda Bpk.H.Imam Bashori (1)



Meninggalnya Ayahanda Bpk.H.Imam Bashori (1)

Oleh
HILDAN FATHONI

 

“De’…Bapak meninggal. Pean siap-siap ya nanti mobilnya jemput sampean dan Zila di rumah”. Saya segera menutup percakapan dari HP, selepas memberikan kabar kepada istri saya yang menunggu di rumah bahwa Ayahanda kami sudah meninggal 10 menit yang lalu. Oh…sulit menghilangkan kenangan di ICU pada waktu itu.

Ayahanda kami Bpk.H.Imam Bashori telah meninggal di ICU RST.SOEPRAOEN Kota Malang pada hari Minggu, 15 April 2012 pukul 02.20 WIB. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya setelah kurang lebih 9 hari tidak sadarkan diri. Menurut cerita Ibu, pada hari Jumat 06 April 2012 bertepatan dengan tanggal merah Bapak pingsan di rumah tetangga. Sebelumnya pagi-pagi beliau pamitan ke pekarangan di kampung barat (kampung kulon), yang letaknya sekitar 100 meter sebelah barat rumah. Tetangga dari kampung kulon bercerita, bahwa sekitar pukul 10.00 WIB Bapak keluar dari pekarangan berjalan kaki sambil memanggul cangkul dan membawa ember. Ada yang menyapa Bapak di jalan, tetapi anehnya Bapak tidak membalas padahal beliau terkenal ramah dan suka ngobrol dengan tetangga. Setelah orang tersebut mendekati Bapak, ternyata Bapak sudah tidak bisa berbicara dan langsung mempersilahkan beliau beristirahat di teras rumah. Beliau masih sempat menghabiskan segelas air putih yang diberikan tetangga tersebut, tetapi beberapa saat kemudian beliau pingsan dan langsung dilarikan ke UGD RST.SOEPRAOEN. Setibanya di RST baru saya ditelepon oleh adik saya.

Beberapa tahun sebelumnya (sekitar 2007 / 2008) Bapak sudah pernah menderita stroke ringan, sampai beberapa kali masuk RST. Bahkan kalau tidak salah di tahun 2009, Bapak pernah pingsan di mushola waktu memimpin sholat subuh dengan jemaahnya para ibu-ibu di sekitar mushola. Itu lah saat terakhir beliau ngamar di RST. Semenjak 2009, ibu selalu rajin mengontrol dan memberikan terapi kepada Bapak hingga Bapak benar-benar pulih seperti sedia kala. Kemana pun selalu mengendarai mobil sendiri, badannya semakin gemuk berisi dan benar-benar sehat wal afiat.

Memang 8 bulan terakhir sebelum meninggal, beliau sudah jarang check up dan terapi di RST. Jika pun berkunjung ke Malang ya benar-benar untuk menjenguk si kecil NAZILA cucu pertamanya (putrid pertama kami). Selebihnya ke Malang untuk urusan dinas (misalnya rapat di kantor Depag Gadang) atau mengantar undangan Perkumpulan Keluarga Besar BANI SARINO (IKABASAR) ke daerah Junrejo dan sekitarnya. Mungkin karena penyebab itu lah kesehatan beliau kurang terpantau.

Dua Bulan Ribuan Tawa
Ada hal unik yang diingat ibu dan saudara-saudara di sekitar rumah. Selama 2 bulan sebelum meninggal, Bapak itu menjadi pribadi yang benar-benar menyenangkan. Suka guyon melebihi sebelumnya. Keponakan saya yang bernama FAHMI usianya sekitar 4 tahun, hampir tiap pagi selalu digoda. Kalau Bapak tertawa bisa sampai keluar air mata. Bapak pun tidak pernah mengeluh tentang apa pun, benar-benar sangat ramah.

Ada cerita mengharukan yang sangat diingat oleh Ibu. Kurang lebih seperti berikut ini, ada suatu pagi Ibu terburu-buru berangkat mengajar ke SDN POJOK 2, sedangkan Bapak masih di kamar mandi. Demi melayani Bapak, Ibu merebuskan sedikit air minum untuk Bapak dan menuangkannya di gelas. Sewaktu selesai dari kamar mandi Bapak ke dapur dan melihat air minum di gelas hanya sedikit, kemudian Bapak membuangnya dan merebus air lagi yang lebih banyak. Bapak mengira Ibu lupa membuatkan the. Sewaktu Ibu mau berangkat, beliau tahu bahwa air yang direbusnya tadi dibuang oleh Bapak. Padahal Ibu merebus air lebih sedikit supaya cepat masak, akhirnya Ibu berangkat ke sekolah sambil marah dalam hati. Bapak memiliki sifat yang sangat sensitif, beliau menyadari sudah berbuat salah.

Sesampainya di sekolah, Ibu menerima SMS dari Bapak yang kurang lebih isinya :
“Bu’… Maafkan kesalahan Bapak ya, tadi tidak sengaja membuang minuman yang Ibu buat”.
SMS tersebut tetap Ibu simpan hingga Bapak meninggal. Ibu merasa Bapak itu sangat lembut budinya dan memperlakukan keluarga dengan hormat.

Dwi Tunggal
Semenjak SMP saya punya suatu keyakinan :
“Jika teman-teman tahu orang tua saya, pasti mereka semua iri”
Mengapa demikian, karena menurut hemat saya beliau berdua itu sangat perfect dalam mendidik kami. Kasih sayang, pengetahuan, perhatian, waktu, harta, penghormatan dan semua yang mereka miliki benar-benar 100% untuk kami putra putrinya. Bapak dan Ibu itu dua pribadi yang sangat…sangat…sangat berbeda. Bagaikan YIN & YANG yang saling melengkapi. Bapak itu pribadi yang halus, tidak tegaan, suka mengalah, tidak suka tawar menawar, lebih pendiam, jago ilmu agama dan lebih banyak action dalam membantu warga. Sedangkan Ibu itu pribadi yang keras, terus terang, sangat tegas, disiplin, selalu menang dalam tawar menawar, jago matematika dan sangat ekstrovert. Namun yang sangat kami hormati, Ibu sangat taat kepada Bapak. Apapun pertimbangan untung ruginya, walau pun menurut Ibu sangat menguntungkan jika Bapak berkata tidak maka transaksi apa pun tidak akan dilakukan. Kedua pribadi ini sangat mewarnai karakter kami.

Keduanya benar-benar pasangan yang sangat diidam-idamkan. Semenjak pertama menikah, hidup serba kekurangan hingga perekonomian keluarga sudah mulai mapan, tidak satu pun perbuatan foya-foya yang mereka lakukan. Bahkan dulu sewaktu kecil, saya pernah berpikiran bahwa beliau itu pelit. Baru setelah saya dewasa, saya mengetahui kecerdasan beliau dalam mengatur keuangan dan investasi (meskipun investasi dalam bentuk yang sederhana).

Bapak pernah berkata : “Sebenarnya kalau kita ingin ikut-ikutan beli mobil ya bisa saja. Tapi buat apa, lawong kemana-mana pakai HONDA sudah bisa. Lagi pula kalau punya mobil tidak dipakai usaha ya rugi, hanya menghabiskan uang. Sampean nanti juga harus pinter-pinter ngatur keuangan. Hidup sederhana itu mulia dan tidak membuat orang lain iri”. Ajaran tersebut juga diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Jika kami meminta sesuatu pasti ditanya dulu : “Mau dipakai apa? Manfaatnya apa?”. Kekuatan dalam menunda kesenangan tersebut yang sudah melekat pada pribadi beliau berdua. Keluarga kami baru memiliki mobil (APV ARENA) tahun 2010, yaitu 2 tahun sebelum beliau meninggal. Itu pun karena mendapat hadiah undian dari Bank BRI. Jika tidak, ya mungkin sampai saat ini belum punya mobil.

Saya teringat sewaktu masih sekolah di TK.WAHID HASYIM Jambangan. Suatu saat Bapak dan Ibu ada keperluan ke Dampit, mungkin ada rapat di Dinas Pendidikan (bapak dan ibu adalah guru SD). Ibu bertanya,”Le…pean kate nitip opo?”. Saya jawab,”Sapu Bu’…sapu ne wis rusak”. Sampai sekarang sepertinya Ibu masih terkesan, karena bagi anak seusia saya dulu jika ditanya oleh-oleh maka jawabannya adalah jajan atau mainan. Tetapi saya malah minta dibelikan sapu. Hal ini dikarenakan didikan perfeksionis dari Bapak. Setiap hari saya diajari cara menyapu lantai dalam rumah, membersihkan lantai di bawah kursi, mengelap meja dan merapikan buku. Juga menyapu halaman rumah dengan sapu lidi. Bagi Anda yang tinggal di desa pasti tahu aturan menyapu dengan sapu lidi. Yang jelas, tanah setelah disapu dengan sapu lidi akan terlihat pola-pola teratur bekas sapuan rapi dari sapu lidi.

Mengenai kebersihan diri, Bapak juga sangat perfeksionis. Aturan menggosok gigi dari atas ke bawah, menyisir rambut belah pinggir dengan tambahan minyak kemiri, merapikan lipatan baju, dan kerapian menulis semua beliau ajarkan setiap hari. Di kampung kami, Bapak dikenal juga karena waktu mandinya yang lama. Kebetulan ada tempat mandi umum (blumbang) di belakang rumah, yang kadang harus mengantri untuk sekedar mandi. Sedangkan saya terkenal dengan sebutan “Bashori Cilik”, Anda tentu tahu apa sebabnya.

Bapak yang Sangat Lembut
Sewaktu kecil setiap pagi sebelum berangkat sekolah, saya dan Bapak mandi bersama di blumbang. Beliau menggendong saya dipundak, sehingga dari jauh kelihatan saya sedang memeluk kepala beliau. Terkadang kepala saya terbentuk palang pintu karena terlalu tinggi dipanggul oleh Bapak. Saya merasa sangat disayang oleh beliau, mungkin karena saya putra pertama.

Ibu itu sangat disiplin dalam membelanjakan uang, oleh karenanya jarang sekali saya membeli makanan atau pun mainan jika bersama beliau. Beda dengan Bapak yang lebih bloboh (suka memberi), malahan Bapak lebih sering menawarkan jajanan. Karenanya, saya lebih senang diajak naik sepeda motor sama Bapak. Jika ketahuan oleh Ibu, beliau berkilah,”Lha aku lho gak duwe Bapak”. Alasan klasik…hehehehe. Ayah beliau sudah meninggal sewaktu beliau masih sangat kecil, sehingga kasih sayangnya dilimpahruahkan kepada saya sebagai putra pertamanya karena beliau tahu rasanya tidak memiliki ayah.

Mulai saya kecil hingga beliau meninggal, saya belum pernah menyaksikan beliau marah besar. Beliau sangat ahli menyembunyikan masalah dan kemarahan. Jika pun marah, beliau melakukannya dengan lembut tanpa sekali pun membentak. Sewaktu saya menikah, baru saya kena marah. Itu pun marah dalam arti mendidik saya menjadi suami, karena pada saat di awal pernikahan tingkah laku saya masih dianggap kurang dewasa dan masih seperti mahasiswa. Kemarahan beliau memiliki tujuan yang jelas, memberikan kami bantuan petunjuk selangkah demi selangkah dan berlangsung dengan singkat. Besoknya beliau sudah guyon seperti sebelumnya.

Ibu pernah bercerita. Pada awal pernikahan saya, kondisi ekonomi saya dan istri sangat memprihatinkan. Bisa dianggap belum mandiri. Sebagai orang tua, beliau berdua sering kali membantu kami dan juga memberikan arahan. Ibu pernah berdiskusi dengan Bapak yang kesimpulannya : Salah satu dari kami (saya dan istri) harus menjadi PNS…itu menurut Ibu. Sedangkan menurut Bapak, rejeki itu sudah ada yang mengatur jadi jangan kuatir tidak kebagian rejeki. Yang terpenting adalah berusaha, berdoa dan pasrah, pasti ada jalan. Kata Bapak,” Gusti ALLOH ora turu”…ALLOH tidak tidur jadi pasti bisa menolong hambanya. Alhamdulillah…lambat laun Ibu sejalan dengan pemikiran Bapak dan kami bisa berwirausaha.

Bukan hanya lemah lembut terhadap keluarga. Bapak juga sangat mengalah kepada orang lain. Pernah suatu ketika Bapak difitnah oleh seseorang, mereka mengatakan bahwa Bapak menjelek-jelekkan warga kampung. Akibatnya Bapak didemo oleh warga dari kampung sebelah dan dipaksa meminta maaf kepada seluruh warga yang hadir di Kantor Desa. Hingga peristiwa tersebut berlalu, Ibu sama sekali tidak mengetahui kejadiannya. Beliau malah diberitahu oleh tetangga. Banyak saudara sekampung tidak terima dengan fitnah tersebut karena memang banyak tahu bahwa Bapak tidak bersalah. Dari pada terjadi pertikaian antar kampung, maka Bapak mengikhlaskan kejadian tersebut dan memaafkan pelakunya. Sampai saat ini sudah tidak ada yang mempermasalahkan peristiwa itu lagi.

Organisatoris
Ada banyak perkumpulan dan kegiatan warga yang dibina beliau. Mulai IKABASAR (Ikatan Keluarga Besar BANI SARINO) yang berdiri sekitar tahun 1995, pengajian yasinan setiap malam jumat ba’da maghrib, pengajian keluarga setiap malam minggu, hadrah setiap malam jumat ba’da isya dan banyak perkumpulan lain. Ketika beliau meninggal, beberapa kegiatan seolah terbengkalai. Hal tersebut sangat disayangkan, mengingat saya sendiri tinggal jauh dari desa sehingga tidak bisa melanjutkan perjuangan beliau.

Banyak pelajaran komunikasi massa yang  dipetik dari keseharian beliau. Bagaimana cara berbicara di depan mimbar, di forum pengajian, sampai rapat-rapat di organisasi formal. Cara mempengaruhi kebijakan melalui tindakan dan cara menang tanpa menimbulkan persaingan. Bahkan cara memberikan pengaruh kepada masyarakat, semua bisa kami pelajari dari  kegiatan keseharian beliau. Waktu beliau selepas maghrib, dihabiskan dari satu perkumpulan ke perkumpulan lain.

Rabu, 14 November 2012

Pojok Parenting 3 : Tips Melatih Komunikasi Pada Balita



Pojok Parenting 3 : Tips Melatih Komunikasi Pada Balita

Oleh
Ayah HILDAN & Bunda ALFI 

Si kecil NAZILA, Yayah HILDAN dan Bunda ALFI

Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman...
Pada hari Minggu kemarin (11-11-2012) seharian kami sekeluarga jalan-jalan keliling kota Malang. Pagi hari kami menghabiskan waktu di sepanjang Jl.Ijen untuk menikmati suasana Car Free Day, dilanjutkan dengan makan siang di Warung Mania (di dekat Kampus UM) dan terakhir menuju ke Toko Buku TOGAMAS di timur Plaza Dieng.

Sewaktu kami melihat-lihat koleksi buku di Togamas, si kecil sengaja kami lepas sendiri. Karena dia sudah terbiasa membaca-baca buku di Kids Corner. Letaknya di lantai dasar, penuh dengan buku bergambar untuk anak-anak, meja pendek lucu, dan patung tokoh kartun. Setelah beberapa waktu saya melihat aktivitas si kecil di Kids Corner tersebut. Eh ternyata si kecil lagi sibuk diskusi dengan seorang ibu yang memangku balitanya. Si kecil NAZILA dengan asyik main tebak gambar dengan si ibu dan sesekali mencolek-colek tangan bayi yang kira-kira berusia satu tahun itu. Sambil tersenyum, dalam hati saya berdecak kagum. Ternyata NAZILA cukup komunikatif dengan orang yang lebih dewasa.

Saya dan istri memang menaruh perhatian khusus pada kemampuan komunikasi putrid kami. Kami sangat yakin bahwa komunikasi yang terbuka dan hangat akan memudahkan NAZILA dalam berpendapat dan mengemukakan ide. Tentunya hal tersebut akan sangat mendukung pengembangan dirinya kelak.

MARI TERLIBAT
Kami bereksperimen hampir setiap hari tentang cara yang baik melatih berkomunikasi untuk balita. Tidak ada rumus yang baku, satu hal yang kami yakini keampuhannya : KETERLIBATAN PENUH. Terkadang pagi hari kami ngobrol seru tentang kagiatan di PAUD, siangnya kami diskusi ringan tentang aktivitas si kecil di PAUD (nyanyi lagu apa, tadi jalan-jalan kemana, tadi menggambar apa), lalu dilanjutkan dengan diskusi di dapur sambil menyiapkan makan siang. Sorenya sambil bermain-main menjadi tukang potong rambut, si kecil menceritakan asiknya jadi tukang potong rambut. Sambil pura-pura memotong rambut yayahnya, nyuci rambut, kadang-kadang saya pura-pura tertidur, “Ayah…jangan bobok, potong rambutnya belum selesai…” teriaknya sambil cipika-cipiki supaya saya terbangun.

Kemudian saya gentian menjadi tukang potong rambut dan si kecil menjadi pelanggannya. Selama bermain kadang-kadang kami saling ngobrol :
Saya : “Kakak shamponya mau harum apa. Ada harum bunga mawar, mangga, jeruk… kakak seneng yang mana”.
Nazila : “Kakak mau wangi mangga”.
Saya :”Oke…(sambil pura-pura mencuci rambut si kecil). Disiram ya, terus dikereingkan”
Nazila : “Iya ayah. Nanti rambut kakak dipotong ya. Potong sedikit aja”.

Di lain kesempatan si kecil mengajak untuk jadi tukang pijat. Sepertinya dia teringat sewaktu dipijatkan ke ibu tukang pijat di kampung sebelah.
Saya : “Ayo kakak mengkurep ,nanti yayah pijet ya?. Kakak nangis ndak”
Nazila : “Kakak nanti nangis ya. Kayak adik kecil (sewaktu masih kecil Nazila selalu menangis saat dipijat…dia suka pura-pura jadi bayi kecil lagi)”.
Saya : “Lho..kok ndak nangis (sambil pijit kakinya si kecil)”.
Nazila :”Hoa…hoaaaa (pura-pura menangis…sambil tertawa terpingkal-pingkal karena merasa lucu seperti bayi kecil)”.

Aktivitas seperti ini kami jalani hampir setiap hari. Kadang-kadang kami sampai kehabisan energi, tapi sangat menyenangkan. Energi anak sekecil Nazila seperti tidak pernah habis bahkan sampai jam 9 malam masih mengajak bermain “Tukang Potog Rambut”. Hmmm… bisa tidur kemaleman nih.

JIKA MEMBENTAK, MARI MEMINTA MAAF
Memiliki putra putrid yang super aktif dan sangat cerewet terkadang menguras energi dan emosi. Sesekali emosi kami terpancing dan tanpa sengaja membentak si kecil, terutama jika si kecil melakukan kegiatan berbahaya seperti berlarian di dapur atau bermain kabel listrik. Kadang kami sangat menyesal telah membentak si kecil.

Ketika keadaan sudah sedikit mereda, kami segera menghampiri si kecil sambil berjongkok kami meminta maaf. Biasanya kami langsung menggendongnya, mencium keningnya sambil menyampaikan alasan kami membentaknya.

Saya : “Ayah minta maaf ya, tadi ayah kaget..kan kakak lari-larian trus nambrak ayah. Kan ayah sedang kerja sayang, nanti kalau laptopnya jatuh kan ndak bisa lihat foto-fotonya kakak. Ayah minta maaf ya, kakak jangan nangis ya”.
Nazila : “He’e…”
Saya : “Kakak juga harus minta maaf ke ayah. Kan tadi kakak lari-larian terus nabrak ayah. Sini salim sama ayah”. (Jadinya kami saling meminta maaf dan memaafkan)

Kebiasaan saling meminta maaf dan memaafkan ini juga membantu kami belajar meredam ego. Karena tidak jarang sebagai orang tua sangat gengsi jika harus meminta maaf kepada putra putrinya, sekali pun yang masih berusia balita. Si kecil pun jadi belajar bahwa beberapa tindakan itu berbahaya dan tidak baik. Jadinya saling belajar deh.

SALING MENGKRITISI
Sejak dulu kami sudah mencoba membiasakan untuk saling mengkritisi, baik saya dengan istri maupun kami dengan si kecil. Malah si kecil yang sering mengkritisi kami. Pernah suatu ketika suhu udara di rumah sangat panas, sehingga saya membuka baju sambil melanjutkan pekerjaan di ruang kerja. Tiba si kecil berjalan cepat kea rah saya :
Nazila : “Ayaaaahhhh….ayo pakai baju…icin. Huh ayah ini”. (Sambil cemberut persis Bundanya. Lalu keluar dari ruang kerja saya…hedeh…mirip POLISI yang sedang patroli).
Saya : “Iya..iya…Kak, tadi ayah kepanasan. Nih ayah mau pakai baju”.

Dilain kesempatan giliran bundanya mengkritisi si kecil :
Bunda : “Ayo Kakak…kalau sakit perut cepat ke kamar mandi sendiri. Celananya dilepas sendiri, jangan manja sama ayah. Kan kakak sudah gede…lagian ayah masih sibuk kerja”. (Si kecil lumayan manja sama ayahnya, mungkin saya lebih sabar dan jarang marah..hehehe).
Nazila : “Iya Bun…”.
Bunda : “Nanti kalau sudah selesai panggil bunda ya”.

Si kecil juga sering mengkritisi Bundanya :
Nazila : “Bunda jangan main komputer tok. Kakak mau maem nih, kakak dah laper”.
Bunda : “Iya sebentar, Bunda masih bantu ayah nih”

Kami sangat terbiasa dengan suasana demikian, serasa semakin akrab dengan seluruh keluarga. Si kecil pun bisa berkomentar dengan bebas sehingga terbiasa dengan diskusi dan berbeda pendapat. Jika si kecil penasaran akan suatu hal, secepat kilat dia memberondong kami dengan buaanyak pertanyaan. Hampir setiap saat dia selalu bertanya dan bercerita, jadinya jauh lebih cerewet dari Bunda nya. Kami pernah memperhatikan si kecil ketika ada acara keluar rumah. Sejak mandi bareng dengan Bunda nya, ganti baju, memakai jaket dan sepatu, naik sepeda motor, jalan-jalan di pusat perbelanjaan hingga pulang kembali ke rumah, dia sama sekali tidak berhenti berceloteh. Entah itu dengan bertanya, bernyanyi, berteriak-teriak, mengomentari bayi yang digendong ibunya, mengomentari rumah makan dipinggir jalan, memanggil Pak POLISI dipinggir jalan, mengomentari mobil bagus yang berhenti di perempatan lampu lalu lintas, bercerita pengalamannya di museum dan buanyak lagi celotehannya di sepanjang perjalanan kami.

Fuuuuhhh…saking capeknya menanggapi, kadang kami hanya menjadi pendengar sambil sesekali berkata : “iya…bagus…oh gitu ya…wah hebat”.

BIASAKAN BERSALAMAN
Nazila : “Yaaahhh…Kakak ekom (berasal dari kata Assalamu alaikum, Kakak ingin bersalaman dengan tamu)”.

Sering kali kalimat itu yang diucapkan sambil berlari mendekati tamu yang berpamitan pulang. Dia senang sekali bersalaman dengan para tamu kami. Sejak dini dia telah terbiasa bersalaman dengan orang lain, jadinya tanpa sungkan si kecil mudah sok akrab dengan orang yang baru dikenal. Kebiasaan ini memang sudah dilakukan semenjak dia berusia sekitar 1 tahun.

Kebiasaan bersalaman sepertinya meningkatkan rasa percaya dirinya, karena ketika dia menyentuh tangan orang lain tidak terjadi hal-hal yang menakutkan. Dia malah sering kali mendapat pujian. Nah …menurut kami, motivasi mendapatkan pujian inilah yang membuat si kecil senang sekali bersalaman dengan para tamu. Tentu saja dampak positifnya, si kecil menjadi mudah bersosialisasi dengan orang yang baru ditemuinya.

Demikian sedikit sharing pengalaman sehari-hari kami bersama si kecil. Semoga bermanfaat
Wassalamu alaikum.

Salam hangat,



Ayah HILDAN & Bunda ALFI






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...