This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 27 September 2012

Menyoal Tawuran Pelajar

Menyoal Tawuran Pelajar

Oleh
HILDAN FATHONI


 
Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman…

Malam ini saya kurang terkejut dengan terjadinya (lagi) tawuran pelajar dan menewaskan 1 orang pelajar (lagi). Memang akhir-akhir ini saya telah terbiasa mendengar berita kekerasan, entah itu kekerasan atas nama agama atau pun kekerasan karena tawuran pelajar. Walau pun kenyataannya selama saya hijrah untuk studi di Kota Malang mulai tahun 1999, saya belum pernah melihat atau pun mengalami tawuran.

Terlepas dari berbagai teori tentang penyebab tawuran antar pelajar, saya justru lebih tertarik untuk menyelami atau menyelami imajinasi para pelajar pelaku tawuran. Lebih spesifik menyelami gemuruh jiwa muda yang haus akan tujuan dan teladan hidup. Tentunya kesemuanya itu dibentuk oleh pengalaman empirik dalam keseharian mereka, yang kemudian menginternalisasi dalam pandangan hidup dan pilihan nilai dasar.

Banyak pihak mengambil langkah reaktif dengan melakukan sweeping senjata tajam di angkot (angkutan kota) atau melakukan pembinaan missal kepada para pelajar. Oke lah…langkah tersebut dapat meredam gejolak dalam waktu singkat, tapi 2-3 bulan kemudian langkah apa yang harus dilakukan. Tentunya bukan langkah sporadis, tentu dibutuhkan langkah sistematis dan kontinyu.

Pengkondisian Lingkungan
Saya membayangkan semua peristiwa yang saya alami di tahun 2004. Tahun ketika saya sangat aktif di kepengurusan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Ekonomi - Universitas Negeri Malang (UM). Tentu sudah menjadi rahasia umum jika antar OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, seperti HMI, PMII, GMNI, IMM) mengalami rivalitas yang intens, bahkan sesama kader HMI se universitas tetapi berbeda fakultas pun bisa terjadi rivalitas yang panas. Namun mengapa di UM hampir sangat jarang terjadi tawuran? Tidak seperti di universitas-universitas lain, baik di Kota Malang mau pun di luar Kota Malang?

Dari sedikit pengalaman saya dulu, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran, diantaranya:
  1. Adanya interaksi yang kontinyu, baik sesama kader HMI se-universitas maupun dengan kader dari OMEK lain, sehingga ada waktu yang cukup untuk mengkomunikasikan setiap kesalahpahaman.
  2. Tekanan akademik lebih longgar dari pada tingkat Sekolah Menengah, sehingga memungkinkan bagi kami untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan di luar waktu belajar di kampus. Banyak waktu berdiskusi, berdebat, membaca buku, mengadakan kegiatan dan melakukan advokasi kepada masyarakat.
  3. Situasi Kota Malang yang cenderung dingin, damai, biaya hidup relative terjangkau dan masyarakat yang toleran sekaligus guyub.

Setidaknya ada tiga hal tersebut yang mampu meredam situasi, terutama seandainya konflik akan terjadi. Kami sangat bersyukur akan hal tersebut. Lalu apa korelasinya dengan tawuran pelajar yang akhir-akhir ini kembali marak?

Sekolah-sekolah Gersang Tanpa Visi
Sebenarnya apa target yang ingin dicapai oleh sekolah-sekolah formal kita? Semua siswa lulus dengan nilai tinggi, nama baik sekolah dan almamater, atau kah memanusiakan manusia, yaitu membentuk manusia yang utuh tanpa ada retakan identitas dan kemantaban visi hidup yang luhur. Mari bersama kita introspeksi diri, karena saya dan kita semua juga memiliki andil tersendiri dalam memajukan dunia pendidikan.

Saya membayangkan para siswa sekolah menengah tersebut diposisikan seperti para mahasiswa di kampus-kampus :
  1. Mereka bebas membentuk organisasi, baik intra maupun ekstra sekolah.
  2. Berinteraksi secara intens antar sekolah bukan hanya ketika pertandingan basket.
  3. Memiliki banyak waktu luang bukan hanya untuk mempelajari buku-buku fisika.
  4. Memiliki waktu yang berkualitas untuk mendatangi seminar bisnis, seminar publik speaking, seminar pemberdayaan masyarakat.
  5. Mengikuti pusat kajian sosial, pusat diskusi lintas agama, forum kepenulisan.
  6. Mengikuti LSM lingkungan hidup, LSM pemberdayaan masyarakat miskin kota, LSM advokasi perempuan dan anak-anak, LSM anti trafficking.
  7. Bersedia ikut membina anak-anak yatim piatu di panti asuhan, menjadi relawan mendampingi proses belajar untuk anak-anak tidak mampu.

Serta masih banyak aktivitas lain yang mampu memberikan pengalaman hidup positif, yang akan terpatri kuat dalam lubuk sanubari mereka hingga dewasa kelak. Apakah hal tersebut sempat terpikirkan oleh pemangku kebijakan pendidikan sekolah menengah? Entah itu di tingkat atas maupun di tingkat sekolah. Berapa porsi pemikiran yang dicurahkan oleh tenaga pendidik, antara melengkapi berkas sertifikasi atau kah menyusun Program Penguatan Karakter Peserta Didik. Tidak layak kita mempersalahkan para pendidik, karena mungkin beban administratif (untuk sertifikasi, berkas-berkas, laporan, dll) yang menumpuk. Tetapi perenungan ini perlu kita lakukan, mengingat bertahun-tahun problematika dunia pendidikan menengah tidak pernah menemui solusi yang radikal. Semua hanya solusi normatif.

Sudah saatnya kita meninggalkan nilai-nilai dan cara-cara “kuno” dalam mendidik manusia. Karena dengan sedikit kemauan, kreativitas dan kerja keras, solusi tersebut sudah ada di depan pintu-pintu sekolah menengah kita. Jika para pemangku kebijakan kekurangan ide…. SILAHKAN MENGHUBUNGI SAYA … 24 JAM NON-STOP…

Bukan bermaksud sombong atau arogan, saya hanya ingin sedikit mendobrak kebuntuan, memberikan solusi dengan cara yang mudah namun kreatif dan meninggalkan cara-cara kuno yang disebabkan oleh kemalasan kita dalam berfikir.

Tentunya tulisan saya di atas mengandung banyak sekali kekurangan dan saya pastikan kekurangan tersebut dikarenakan kealfaan saya pribadi. Jikalau lah ada hikmah yang dapat dipetik, tentunya hal tersebut 100% berasal dari Gusti ALLOH SWT.

Demikian sedikit pemikiran yang bisa saya sampaikan. Saya mohon maaf jika ada kesalahan yang menyinggung perasaan. Teriring salam dan doa, semoga ALLOH melindungi kita dari KEMALASAN BERPIKIR dan KECEROBOHAN DALAM BERTINDAK.

Wassalamu alaikum…




HILDAN FATHONI


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...