Jumat, 10 Agustus 2012

Train the Trainer: Takes You to the Sky


Train the Trainer: Takes You to the Sky


16 Juni 2012 pukul 21:49 

By Syaifoel Hardy

Pagi tadi saya memberikan pelatihan kepada lima orang yang serius sekali untuk menjadi Trainer, di Doha. Tidak tanggung-tanggung. Pesertanya adalah para Muazdin, atau orang yang profesinya mengumandangkan Azdan di masjid.

Muazdin Indonesia yang berada di Qatar tidak sembarang muazdin sebagaimana yang biasa kita temui di negeri kita. Mereka masuk melalui saringan seleksi ketat oleh Kementrian Awqaf, semacam Kementrian Agama di negeri kita.
Mereka memiliki kualifikasi khusus sebelum diterima. Di aataranya adalah Sarjana. Selain itu, hapal Al Quran lebih diutamakan. Jika tidak salah, minimal 10 juz. Subhanallah.

Saya sangat beruntung dipercaya oleh mereka, ini untuk kali kedua, sesudah tiga bulan lalu menyelenggarakan pelatihan Bahasa Inggris. Saya melihat antusiasnya yang luar biasa!

Mengapa Train the Trainer?

Dalam setiap profesi, komunikasi dan presentasi sangat pegang peranan. Profesional dalam kesehariannya tidak hidup sendirian. Mereka tinggal dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, latar belakang sosial, budaya, agama, profesi, serta karakter yang berbeda. Dalam komunikasinya, dibutuhkan kiat-kiat tertentu agar tujuan, baik itu individual, profesional atau institusional dapat tercapai.

Guna mencapai kompetesni tersebut, yang namanya pelatihan sangat penting peranannya. Beberapa manfaat pelatihan yang bisa saya sebut antara lain: mempertajam kemampuan menganalisa. Mengubah perilaku (pengetahuan, ketrampilan dan sikap). Menambah wawasan. Mempertajam kemampuan kominikasi. Dan, dengan pelatihan seperti ini, otomatis kemampuan mempromosikan diri juga makin meningkat. Yang tidak kalah pentingnya, pelatihan Train the Trainer, membuat anda Fly to the Sky!

Pelatihan di negeri ini amat langka dan mahal. Sebetulnya tidak demikian. Kita memiliki banyak guru di kampus-kampus. Namun, guru saja tidak cukup. Karena dosen atau guru tidak bisa secara otomatis disebut sebagai Trainer.
Dosen bersifat formal pengajarannya. Sedang Trainer informal. Dosen mengajar, sedangkan Trainer melatih. Dosen bersifat teoritis, Trainer lebih ke praktis. Dosen lebih mengarah kepada  expertise, sedangkan Trainer bertindak sebagai fasilitator. Dosen sangat saklek, sedangkan Trainer fleksibel.

Prinsip perbedaan seperi ini perlu disadari.

Yang ingin saya sampaikan adalah, anda lihat dalam sejarahnya. Orang-orang hebat dan besar namanya di dunia ini, mereka bisa mencapai derajat seperti itu karena kemampuan berkomunikasinya yang handal. Kemampuan menuangkan, merangakai kata-kata serta menganalisanya dengan tepat. Apa mereka mengantongi gelar doktor dan profesor? Tidak harus!

Pendidikan memang penting sebagai pemoles! Tetapi apa artinya pendidikan tinggi bila kita tidak asah? Ijazah menumpuk di rumah dan bisa jamuran bila tidak dimanfaatkan.

Banyak profesional kita yang hanya aktif di tempat kerja, namun tidak dimaksimalkan kompetensinya di masyarakat. Inilah salah satu kendala, mengapa kita tidak atau kurang pandai dalam menyiptakan dan atau mencari kerja. Ketrampilan mengasah dan diasah lewat pendidikan-pendidikan non formal  di antaranya melalaui Train the Trainer Program ini masih jauh dari yang diharapkan.

Saya menyoba menggeluti profesi ini sejak lama, tepatnya tahun 1996. Dari satu sekolah ke sekolah lain. Dari satu kampus ke kampus lain. Dari kelompok satu ke kelompok lain dan dari organisasi satu ke organisasi lain.

Buahnya? Alhamdulillah, meski saya tidak sekelas Mario Teguh, namun latihan yang terus menerus dengan menekuni penguasaan Train the Trainer Program menjadikan diri lebih baik. Baik dari sudut pandang individual, profesional, organisasional hingga finansial.

Jika ada yang mengeritik karena penampilan anda kurang bagus, anggaplah itu bumbu yang bikin masakan anda lebih lezat. Jika ada yang iri, itu hal biasa. Jika ada yang benci, ah...di mana di dunia ini kita bisa menghindar dari kebencian? Rasulullah SAW, sosok terbaik di dunia saja dibenci musuh-musuhnya! Apalagi kita!

Nah, jalan terus!

Latihan terus! Jatuh, bangun, jatuh bangun adalah hal lumrah! Jangan simpan potensi yang ada dalam diri anda! Bangkit dan latih lah, anak-anak, tetangga, teman dekat, masyarakat, kolega, mahasiswa atau siapa saja! Di rumah, pendopo kelurahan, kampus, hingga dalam kendaraan umum. Mengapa tidak? Bukankah proses pembelajaran tidak mengenal tempat dan waktu?

Mungkin tidak dalam waktu dekat anda nanti bakal mencapai cita. Akan tetapi ada saatnya nanti, bahwa bukan tidak mungkin, anda bakal melebihi Obama!

Good luck!

Doha, 16 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...