Jumat, 10 Agustus 2012

THE HIDDEN DRAGON


THE HIDDEN DRAGON


pada 3 Agustus 2012 pukul 9:39 

By Syaifoel Hardy

Sungguh! Bila anda menanyakan bagaimana kualitas teman-teman saya sekolah dulu, saya akan bercerita yang sebenarnya!

Dyah, asal Banyuwangi, menduduki ranking pertama di sekolahnya. Fauzan, yang pintar baca Al Quran, asal daerah yang sama, beda kecamatan, meski dari Madarasah, juga pintar. Ada pula Bagiyo, yang dari Lumajang, di peringkat ke dua. Retno asal Trenggalek yang kuat hapalannya, juga pintar dan rajin.

Ada pula Ali Imron asal Bawean dan Qubbatun Najah, keduanya pandai dan kuat dasar agamanya, tidak ketinggalan. Mirmo dan Hadi, kakak beradik yang menduduki rangking satu dan dua di sekolahnya, bukan suatu kebetulan jika mereka kemudian bareng dan menjadi teman kami yang rajin seklai, selain pinter nyanyi. Ada lagi Ihsan yang selalu tampil rapi, duduk di ranking tiga di sekolahnya, yang pernah menjadi teman se kamar saya. Hingga si Sudarsono, selain pintar di sekolah, juga kerap jadi juru bicara sekolah kami.

Bukan hanya dalam artian intelektual. Edy yang cekatan dalam berolah raga. Si Sutiah yang rajin mengelola Koperasi Sekolah. Sunarsih asal Blitar yang rapi dalam memimpin setiap kerja bakti. Dolina asal Pasuruan yang kerap kali berada di baris depan jika urusan Volley Ball. Herni yang senang mengajak kumpul dan memecahkan masalah rekan-rekan. Lilik yang pandai dan suka urusan konsumsi. Si Prapti yang kini jadi dosen dan kerap kali tampil di depan jika berdiskusi. Sampurno yang kebapakan dan suka menengahi jika ada konflik. Hassan asal Gresik yang cakap di urusan seksi kerohanian. Hingga si Lilis yang suka membantu mereka yang membutuhkan.

Pendeknya, kami yang berjumlah 30 siswa, 20 perempuan, 10 laki-laki, semunya pintar-pintar dan cekatan. Setiap kali ujian atau ulangan, setiap kali itu pula berlomba. Tidak ada siswa yang angkong-angkong santai mengharap nilai tinggi.
Tiap hari yang namanya aula, selalu dimanfaatkan sebagai tempat belajar. Berlomba-lomba meraih prestasi dan menggapai nilai terbaik adalah impian dan harapan setiap individu kami. Semuanya kutu buku. Tidak ada hari luang, meski dosen tidak hadir, kami tetap belajar. Jam-jam kosong selalu diisi dengan kegiatan belajar, diskusi atau praktik di bangsal.

Kami yang waktu itu boleh dikata 'gratis' sekolahnya, karena dibiayai pemerintah, tergolong beruntung sekali. Apalagi sekolah keperawatan masih langka. Jadi, di rumah sakit tempat kami praktik, dengan jumlah tempat tidur lebih dari 500 bed capacity, menjadikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman amat luang. Tidak heran, jika untuk pertolongan persalinan saja, rata-rata setiap siswa pernah menangani tidak kurang dari 20 kasus. Sebuah jenis ketrampilan yang tidak gampang didapat saat ini!

Makanya, begitu lulus, bahkan sebelum meninggalkan asrama, kami sudah menandatangani permohonan untuk menjadi pegawai negeri. Semua rekan-rekan, kecuali saya, saat ini menjadi pegawai negeri sipil. Sebuah kedudukan yang banyak dicari dan sulit sekarang ini.

Potensi yang dimiliki rekan-rekan bukan terbatas pada ketrampilan dan pengetahuan di bangku sekolah saja. Dalam kegiatan ekstra kurikuler, juga luar biasa. Kami biasa menangani kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan baik untuk kepentingan sekolah seperti acara-acara peringatan hari-hari besar nasional, lomba-lomba, hingga saat praktik serta mengadakan demontrasi seperti penyuluhan kesehatan di masyarakat. Kami rata-rata bisa mandiri.

Potensi ini yang membuat saya, di kemudian hari, bersyukur, bahwa dalam naungan nursing education, kami dididik menjadi manusia yang cakap, terampil, berpengetahuan, beretika, memiliki tanggungjawab dan mandiri dalam kerja. Kalaupun ada sinyalemen bahwa profesi ini identik dengan 'pembantu' di bawah naungan profesi lain, hemat saya adalah tergantung, bagaimana kita membawa diri.

Saya pernah mengalaminya, tidak kurang dari 10 tahun bekerja independent, tidak bergantung kepada profesi lain. Bahkan, ketika pihak management menanyakan apakah kami butuh profesi kesehatan lain, saya katakan "No! We can refer to hospital if necessary!"

Jadi, apakah kita mau berdiri sendiri atau bergantung pada orang lain, semuanya adalah pilihan. It is a matter of choice.
Saya melihat potensi besar yang dimiliki setiap mahasiswa keperawatan. Hampir semuanya pintar-pintar. Namanya juga mahasiswa, mereka perlu belajar. Jika berbuat salah, siapa sih yang hidupnya sempura? Adalah tugas dosen/guru/kampus/masyarakat, meluruskannya.

Mahasiswa butuh pembinaan dan arahan akan dikemanakan mereka. Mereka harus diberikan kuliah, ilmu pengetahuan dan ketrampilan serta ditambah wawasan, agar terbuka dan mampu mencerna, bahwa kehidupan mereka di depan perlu dirancang dengan baik.

Mahasiswa sendiri harus menyadari bahwa tugas-tugas mereka memang berat. Kalau harus sibuk waktu kuliah, memang itulah konsekuensinya. Orang yang sibuk, pikirannya jalan. Pekerjaan apakah itu membaca, diskusi, praktik, sharing pengetahuan, mendengarkan ceramah, analisa, mencatat, observasi, identifikasi, evaluasi, follow up, adalah sederetan aktivitas yang perlu disadarii oleh mahasiswa sebagai kegiatan rutin yang harus disukainya.

Suka atau tidak, kegiatan-kegiatan inilah yang membuat mereka nanti akan menjadi bintang!

Ada memang sejumlah mahasiswa yang kurang peduli dengan masa depan mereka. Seolah-olah ayah, ibu, paman atau saudara mereka yang memiliki kedudukan, kekayaan, bisnis dan perusahaan serta apapun jabatannya, mampu menjamin kehidupan masa depan mereka nanti. Sehingga tidak sedikit di antara mahasiswa seperti ini yang acuh tak acuh terhadap tugas kampus.

Akibatnya, potensi yang dimiliknya menjadi tumpul. Pisau yang mestinya tajam, ternyata tidak sanggup bahkan bila digunakan untuk memotong Roti Blu sekalipun. Sayang sekali.

Ada masa-masa di mana kita membutuhkan bantuan orang lain. Akan tetapi, sebagai profesional, kemampuan berdiri sendiri itu jauh lebih penting, utamanya menyangkut pengambilan kepuutusan. Contoh kontrit untuk kasus ini apabila kita ditugaskan di daerah terpencil di mana kita seorang diri harus mengatasi segala persoalan di tempat kerja kita.

Kemampuan pengambilan keputusan ini harus dipelajari dari awal. Dan waktu terbaik adalah saat menjadi mahasiswa.
Saya melihat tantangan ke depan generasi muda nursing kita ini sungguh besar. Di lain pihak, mereka pada dasarnya juga mengangtongi potensi yang luar biasa di dalam dirinya. Kedua-duanya membutuhkan pembinaan yang tepat.

Potensi yang ada perlu dikembangkan dan arahan. Sedangkan tantangan di depan juga perlu dijabarkan bagaimana kemungkinan penanggulangannya.

Apabila kedua-duanya berjalan seiring, maka saya yakin, yang namanya pengangguran di antaran nursing profesional tidak bakalan terjadi. Karena setiap inidividu bakal mampu mengembangkan potensi dirinya. Jika perlu mereka bakal sanggup menciptakan lapangan kerja sendiri, tanpa perlu menjadi pegawai negeri.

Kegelisahan terjadi dan banyak dialami oleh profesi ini karena sewaktu di bangku belajar, mereka banyak dicekoki materi-materi kuliah yang bersifat teoretikal. Bukannnya praktikal. Seharusnya, mereka diberikan mareti riil yang ada di masyarakat dan bagaimana menanggulanginya.

Misalnya, kiat bagaimana menciptakan lapangan kerja dalam profesi ini, seharusnya diajarkan dalam mata kuliah nursing management. Entrepreneurship juga perlu diperkenalkan, tidak terkecuali kita-kita berbisnis.

Demikian pula kemampuan lain seperti communication and presentation skills. Jika perlu, nurses menjadi pemandu sebuah acara kesehatan di televisi adalah sebuah harapan lowongan pekerjaan baru yang perlu dilirik.

Nurses pun bisa menjadi seorang penulis jika sewaktu belajar kemampuan menulisnya dipertajam. Jangan hanya menyusun laporan atau study kasus dari hasil nyontek! 

Di rumah sakit atau balai kesehatan selama ini, kursi bagian managemen banyak diduduki oleh orang-orang dari profesi non-kesehatan. Jika nurses yang sewaktu kuliah banyak belajar tentang kesekretariatan serta mahir di komputer, mengapa mesti di kemudian hari nurses hanya berada di garis belakang, sementara bagian administrasi ditangani oleh orang-orang non-kesehatan yang notabene 'buta' akan kerumahsakitan?

Sudah saatnya nurses bangkit dan menunjukkan potensi besar yang selama ini tersembunyi. Tunjukkan kepada dunia bahwa anda semua adalah profesional pintar, cakap dan handal, yang meiliki multi-competensy dan mampu mengerjakan tugas besar. Dengan berbekal multi-skills ini, sampaikan kepada masyarakat bahwa anda adalah orang yang sangat tepat untuk mengerjakan banyak hal.

Kalau saja nurses mau jujur, sungguh, semua pekerjaan di RS dapat dikerjakan oleh nurses sekarang ini. Mulai dari persoalan terima pasien, pencatatan pelaporan, library, laboratoirum, X Ray, tata usaha, gudang, kantin, gawat darurat, kamar operasi, ICU, bangsal, kamar mayat, hingga perkantoran direksi!

Jika anda ragu tentang kemampuan diri sendiri, bukan tidak mungkin, di masa depan nanti, pekerjaan yang saat ini tengah anda geluti, bakal direbut oleh orang lain! Bukankah sudah mulai ada tanda-tandanya!

Jadi, tunggu apa lagi? Bangkit dan gali potensi anda serta kuasai dunia!

Good luck!

Doha, 2 August 2012
hardy.syaifoel@hyahoo.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...