Jumat, 10 Agustus 2012

Tamu Tak Tahu Diri

Tamu Tak Tahu Diri


pada 10 Juli 2012 pukul 0:01 


Jum’at lalu, kerabat dekat saya punya hajat. Khitanan. Ketika saya telepon malam, pada hari hajatan, dia sedang sibuk dengan tamu.

Hajatan ini kali pertama. Katanya, sekaligus yang terakhir. Sibuk luar biasa. Bikin capek, bio-psiko-sosial. Tamunya banyak sekali. Ketika saya bertanya apakah sudah membuka amplop dari saya, dia bilang belum sempat!

Saya yakin, jumlah tamunya ratusan orang. Setiap orang membawa oleh-oleh yang ‘terdaftar’. Artinya, tidak ada yang kelewatan tanpa catatan, khususnya yang berkaitan dengan uang.

Sebagian besar mereka pulang sesudah beberapa jam duduk sambil menikmati hidangan dan hiburan. Kecuali anggota keluarga atau kerabat dekat yang turut membantu hajatan. Biasanya tinggal lebih lama lagi. Ada kalanya beberapa hari.

Di daerah pesisir utara bagian timur Jawa Timur, tradisi hajatan masih melekat kuat. Tamu yang bertandang, tidak ada yang ‘berani’ datang dengan tanpa membawa apa-apa. Minimal, uang! Sudah lazimnya.

Menghadiri acara khitanan di sebagian daerah di negeri ini, ibaratnya arisan. Tamu harus ‘tahu diri’, tentang bagaimana bersikap kepada sang tuan rumah.

Itu pembukaan artikel saya!

Tamu yang datang dalam acara hajatan, berbeda dengan tamu biasa. Tamu jenis ini, bervariasi. Dari segi hubungan, ada yang sekedar teman, saudara, hingga kerabat. Dari segi jarak, ada yang tetangga dekat, satu kampung atau desa, kota, propinsi, hingga luar negeri. Dari segi sosio-spiritual, ada yang kedekatan karena agama, ada yang tujuannya murni sosial. Ada yang dorongan kemanusiaan ada yang sekedar ikut belasungkawa. Dari segi psikologis ada tamu yang mencari selingan, hiburan atau yang sekedar keluh kesah. Pokoknya, yang namanya tamu, macam-macamlah kategorinya!

Saya pernah kedatangan tamu yang 'luar biasa'. Memperlakukan rumah kita kayak di rumahnya sendiri. Tidak mau dilayani. Ikut belanja ke pasar, masak, menyuci pakaian hingga seterika. Tentu saja tamu ini tidak sebulan penuh di rumah. Hanya tiga hari, dua malam.

Alhamdulillah, rata-rata tamu saya baik sekali. Kata 'baik' amat relatif dari satu orang ke lainnya. Saya katakan baik, karena tamunya mengerti apa dan siapanya 'tuan rumah'.

Tuan rumah memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan dalam berbagai hal, mulai fisik hingga finansial.
Tamu harus mengerti, jika tuan rumah tidak memiliki seorang pembantu, maka segala sesuatunya butuh tenaga ekstra. Mulai dari bersih-bersih ruangan, kamar mandi, hingga lantai. Bila ada tamu, waktu kita biasanya terbatas, karena sebagian harus diberikan kepada tamu. Apalagi tamu tak diundang. Tahu-tahu 'nylonong'!

Oleh karenanya, jadi tamu,  yang mengerti, harus jeli, kapan dan berapa lama harus bertamu.

Meski demikian, banyak orang sadar bahwa kedatangan tamu berarti kedatangan rejeki. Dalam sebuah Hadits pernah diriwayatkan seorang Sahabat Rasulullah SAW, lantaran begitu inginnya menjamu sang tamu, hingga makanan yang tersisa sedikit disajikan ke tamu. Sementara dia sendiri, sang tuan rumah, hanya bermain kerikil di atas piringnya, dalam ruangan 'gelap, karena kuatir sang tamu melihat kejadian yang sebenarnya. Bahwa tuan rumah, tidak memiliki makanan. Subhanallah!

Zaman sekarang ini, sulit mendapatkan manusia sekaliber Sahabat Rasul di atas. Walaupun, yang namanya orang-orang yang berbaik hati serta senang menjamu tamu, juga bisa kita temui.

Semoga kita termasuk orang-orang yang suka menjamu tamu.

Pembaca.....

Empat hari lalu, saya ke bandara. Menjemput seseorang yang benar-benar tidak saya kenal. Tamu ini datang ke Qatar lewat seorang rekan yang bekerja di kantor kami. Kami juga bukan hanya beda divisi. Tetapi beda pula bangsa dan negeri.  Dia dimintai tolong oleh seorang temannya untuk membantu tamu yang datang ini.

Karena ada kendala yang tidak bisa dihindari, dia meminta tolong saya untuk membantunya. Sebelum meminta bantuan, pagi harinya saat kami di kantor, saya sudah tawarkan kesediaan untuk menjemput sang tamu jika dibutuhkan.

Akahirnya, saya lah yang menemui tamunya di bandara.

Dari bandara, saya mengantar ke hotel tempat dia akan menginap selama lima hari mendatang. Saya mengajak makan malam, sebelum pamitan serta memberikan beberapa informasi tentang Qatar.

Esok lusanya, sebagai yang saya janjikan, saya mengantarkan sang tamu ke sebuah kantor di mana dia memiliki kepentingan. Saya juga janjikan akan mengantar ke bandara nanti saat pulang.

Pembaca.......

Melihat perlakuan saya, dia sangat heran! Semula bahkan mungkin 'curiga'. Maklum, zaman sekarang ini, harus hati-hati dengan lagak manusia yang SKSD (sok kenal-sok dekat). Saya cukup mengerti.

Saat makan malam bersama, hari pertama, saya jelaskan bahwa orang berbuat baik itu tidak dilarang dan tidak harus diskriminasi. Apakah lantaran saya berkebangsaan Indonesia, jika membantu orang dari bangsa lain lantas dipertanyakan? Apakah orang Srilanka akan aneh kelihatannya jika membantu orang Cina?

Saya cukup maklum dengan tamu yang saya jemput di atas terlalu polos dengan pengalaman masa lalunya. Saya tidak menyalahkannya. Justru saya akan sangat salah jika sebagai tuan rumah bagi orang asing yang datang dari luar negeri ini, tidak dijamu semaksimal mungkin. Apalagi sampai tersesat!

Makanya, jika menjadi tamu, jadilah orang yang mengerti. Yang memahami 'bahasa' tuan rumah. Agar kedatangan kita sebagai tamu bukan sebagai musibah. Tetapi pahala!

Kuncinya, tahu benar tentang kapan harus bertamu, berapa lama bertamunya, bagaimana nanti di sana, mengapa harus bertamu, siapa saja yang ada di sana saat bertamu, serta jika mungkin, membawa sesuatu (tidak harus kado atau duit kayak menghadiri hajatan di atas), juga, kenali bagaimana karakter tuan rumah yang anda kunjungi!

Wah! Jadi repot banget jika mau bertamu?

Sebaliknya, untuk menjadi tuan rumah yang baik, tidak harus seperti kerabat saya di atas, menyiapkan banyak makanan dan kursi berlebihan. Apalagi harus mengidentifikasi apa yang dibawa oleh tamu kita.

Minimal, keramahan lewat senyuman lah, meski yang namanya makanan dan minuman tidak tersedia!

Mau mencoba?

Doha, 09 July 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...