Jumat, 10 Agustus 2012

Sampah Kedisiplinan


Sampah Kedisiplinan


17 Juni 2012 pukul 23:10 


Suatu hari saya diundang untuk memberikan kuliah tamu di sebuah akademi. Setiap kali ada permintaan seperti ini hampir saya tidak pernah menolak.

Memang saya dapat imbalan, namun bukan itu tujuan utama. Yang lebih penting adalah, undangan tersebut bagi saya adalah sebuah penghargaan, kepercayaan dan amanah dalam artian profesi yang layak dijaga. Karena, tidak semua orang mendapatkan perlakuan serupa, khususnya bagi yang bekerja di luar negeri.

Makanya, sepanjang tidak ada bentrokan dengan acara lain, saya selalu menyambutnya dengan senang hati. Kepercayaan ini nilainya jauh lebih mahal ketimbnag duit yang saya terima!

Waktu itu acara mestinya dimulai jam empat sore. Saya, sebagaimana biasa, lebih suka datang awal. Datang awal membuat saya lebih siap dan bisa mengenal lingkungan dengan baik. Selain itu, datang lebih awal membuat segala sesuatu jadi tidak tergesa-gesa. Lagi pula, ada saja yang perlu disiapkan sebelum acara dimulai. Mulai dari projektor, laptop, materi, tempat duduk dan lain-lain. Dan yang lebih penting lagi, datang lebih awal bikin reputasi dosen terangkat!

Guna kepentingan persiapan tersebut, tidak jarang saya justru menghubungi salah satu mahasiswa sehari sebelumnya, agar mempersiapkan segala sesuatunya. Saya paling tidak senang jika persiapan dilakukan tepat pada saat datang dan tergesa-gesa.

Waktu itu, lantaran saya tidak bisa menghubungi salah satu mahasiswa, saya datang lebih awal. Sekitar 10 menit sebelum acara dimulai, saya sudah tiba di kampus.

Sepi sekali. Apa saya salah alamat dan waktu? Pikir saya!

Saya menyoba meyakinkan diri bahwa tidak salah alamat! Apalagi disorientasi waktu dan tempat!
Saya tunggu. Belum ada juga mahasiswa yang datang satupun. Jam sudah menunjukkan pukul empat lima belas. Saya masih sabar menunggu. Satu demi satu akhirnya berdatangan ketika jam menginjak pukul 4.30 sore.

Sebagaimana anda, saya juga kesel  jika harus menunggu lebih lama. Padahal, saya ini dibayar mestinya mulai jam 4, namun lebih dari 30 menit masih belum melakukan apa-apa. Apa yang harus saya jelaskan?

Menjelang jam 5 acara kuliah tamu baru dimulai. Nyaris satu jam saya harus molor!

Di luar negeri, saya tidak terbiasa dengan kebiasaan seperti ini. Saya menyoba untuk mengerti dan amat memahami. Tetapi, apakah dengan mengerti dan memahami saja, persoalan dapat diselesaikan? Kayaknya, saya harus ngomong sesuatu kepada mahasiswa.

Akhirnya, saya sampiakan apa yang menjadi ganjalan dalam hati saya!

Saya baru ngeh..setelah ada diskusi dengan mereka, mengapa ini semua terjadi. Ternyata, pengakuan mahasiswa, rata-rata dosen datang terlambat ke kampus. Bahkan dosen acapkali tidak datang mengajar, tanpa pemberitahuan kepada mahasiswa yang nota bene bayar kuliah.

Inilah akar masalah yang membuat mahasiswa jadi terbiasa datang terlambat dan molor!

Saya pun sangat prihatin dengan kejadian ini. Kejadian di mana letak kesalahan ternyata ada di pundak dosen, bukan mahaiswa.

Saya menyadari, tidak semua dosen bersikap seperti ini. Namun, yang saya temui nampaknya parah!

Jika demikian, mau jadi apa generasi muda kita nanti ke depan?

Tahun-tahun pertama saya kerja juga demikian. Di tempat kerja saya, sebuah lembaga pemerintah, hampir setiap hari saya selalu datang lebih awal. Mestinya karyawan datang jam 7 pagi. Malangnya yang datang pada jam tersebut biasanya hanya tukang bersih-bersih kantor, kecuali Senin pada saat upacara. Oleh karenanya, saya tidak suka upacara, karena disiplinnya semu!

Teman-teman kantor lainnya, ada yang datang seenaknya. Ada yang jam 7.30 hingga jam 8.30. Pulangnya pun juga saya tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Lagian, toh saya bukan supervisor mereka! Saya yang yunior waktu itu, tidak bisa berbuat banyak.

Rasanya, bukan manusia yang punya naluri dan perasaan jika saya kebal terhadap apa yang terjadi di lingkungan kantor.

Kapan 'budaya' seperti ini bakal punah?

Pokoknya, saya tidak 'kuat' lah. Artinya, bukan saya menganggap diri ini yang terbaik! Sama sekali tidakl! Hanya saja, sampai kapan semua ini akan berakhir? Sakit hati jika keterusan!

Saya kemudian putuskan untuk pindah kerja dari pada 'tersiksa' ketularan!

Saya yakin, pasti ada penyebab masalah kedisiplinan ini! Mudah-mudahan bukan karena belajar dari guru-gurunya yang datang terlambat seperti yang saya dengarkan dari mahasiswa di atas!

Ketika di luar negeri. Suasana benar-benar berubah! Kesiapan mental, dan kebiasaan datang awal, datang ke tempat kerja sebelum waktunya, menjadi faktor dominan yang membuat datang atau pulang tepat waktu, selain kerja keras,  adalah biasa! Lagi pula, sistem nya juga beda!

Ada bus antar jemput. Waktu itu di Kuwait. Otomatis tidak ada karyawan yang terlambat, kecuali bus nya mogok! Terlambat akibatnya berat! Selain kondite jelek, juga harus keluar ongkos sendiri buat naik taksi.

Disiplin datang dan pulang dari kantor sudah menjadi bagian dari budaya kerja masyarakat ekspatriat di sana.

Ketika pindah kerja lagi, di Dubai, kebiasaan yang sama juga saya temui. Para pendatang sudah terbiasa disiplin kerja, tidak terkecuali antri. Sebaliknya, penduduk lokal, ada yang disiplin soal waktu, ada pula yang molor kayak sebagian orang-orang kita.  Demikian halnya yang terjadi di Qatar, hingga saat ini. Ada yang tepat waktu, disiplin tinggi, ada pula yang suka ngolor-ngolor kayak karet kepanasan!

Yang jelas, sebagai pendatang, tujuan utama adalah mencari kerja dan tampil prima dalam pekerjaan termasuk tepat waktu ini. Disiplin ini jelas dituntut, karena jika tidak, risikonya memang berat. Bisa-bisa dipulangkan!

Memang, ada orang-orang yang memiliki disiplin tinggi lantaran latar-belakang tertentu, misalnya uang. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang motivasi kerjanya luar biasa, sehingga saking cintanya terhadap kerja, dia rela membawa pekerjaan hingga ke rumah.

Sebaliknya, ada juga orang-orang yang datang dan pulang dari kantor, meski tepat waktu, hanya lenggang-kangkung di tempat kerja. Model kedua yang saya sebut inilah yang dikenal sebagai disiplin sampah.

Artinya, betapapun dibikin rapi, namanya juga sampah, tidak akan berarti dan hanya mengotori saja. Keberadaan mereka di kantor hanya bikin ulah dan gaduh. Malah jika orang-orang seperti ini tidak ada justru kantor lebih tenang dan kerja lebih nyaman.

Berat sekali bagi mereka yang terbiasa mengedepankan disiplin tinggi di tempat kerja, kemudian campur dengan orang-orang yang ogah dan malas-malasan, namun memperoleh gaji yang sama. Mana tahan?

Makanya, jangan salahkan, apabila beberapa rekan-rekan profesional yang trauma dengan kondisi seperti ini kemudian hengkang ke luar negeri. Bagi mereka, ini lebih baik ketimbang kerja di dalam negeri , seperti hidup sendiri!

Intinya, penting sekali pendidikan kedisiplinan ini dimulai dari sejak dini, di sekolah-sekolah, dengan guru atau dosen sebagai contoh utamanya. Kemudian, di perusahaan atau kantor-kantor harus pula demikian, ada semacam discipline awareness program. Dimulai dari pimipinanya, bukan tukang-tukang bersihnya.  

Agar karyawan diharapkan menyintai pekerjaan, bukan hanya datang dan tepat waktu saja, akan tetapi menggeluti pekerjaan dengan ikhlas. Karena, jika yang terakhir ini terjadi, kualitas kerja jadi rendah, meski datang dan pergi sesuai jadual.   

Bangsa besar ini sedang menghadapi raksasa dalam soal kedisiplinan. Kedisplinan kayaknya tidak bakal tercipta tanpa ada kemauan keras mengubah dari rakyatnya. Kecuali semua orang Indonesia mau bekerja di luar negeri.

Dijamin, pasti yang namanya disiplin kerja, bakal jadi realita!

Doha, 17 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...