Jumat, 10 Agustus 2012

Profesional Kacangan


Profesional Kacangan


24 Juni 2012 pukul 21:21


Ketika tampil di bawah standard, orang dibilang 'Kacangan'.
Ada beberapa predikat serupa dikalungkan terhadap profesional substandard, seperti cerita berikut ini. Akan tetapi, apa harus gunakan kada dasar 'kacang' guna mengumpamakannya?

Semalam, di Facebook, saya mendapatkan postingan. Yang ngeposting sedang jaga malam. Tidak disebutkan di mana. Karena tertulis ada pasien, dugaan saya, sedang tugas di Puskesmas, Klinik atau Rumah Sakit.

Yang menggelitik untuk memberikan comment kepadanya adalah, dia menuliskan hasrat  tidurnya tidak terlaksana lantaran ada pasien. Komentar atau tepatnya saran saya kemudian adalah, sebaiknya anda jangan tidur. Bukankah dibayar untuk kerja?

Beberapa saat kemudian, seorang FB-er lainnya menimpali. Bayaran hanya sedikit, mengapa harus bekerja berat? Santai saja! Begitu pendapatnya, yang bagi saya, sebagai pribadi sekaligus anggota profesi, sangat tidak setuju!

Sebelum diterima bekerja, kita sudah menandatangaini kesepakatan atau persetujuan, terlepas berapapun gaji yang dibayarkan. Itu berarti, secara legal, kita terikat menjalankan tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada kita.
Tentu saja, tidur bukan sebuah tugas atau tanggungjawab. Tidur adalah istirahat. Kecuali dalam perjanjian kita diperbolehkan. Sepanjang tidak tertulis, berarti kita tidak diperkenankan atau kasarnya 'dilarang' tidur.

Tidur berarti menyimpang dari perjanjian atau kesepakatan. Dengan kata lain, jika kita tidur maka kita harus berani memikul konsekuensinya secra profesional.

Agaknya yang saya paparkan terlampau ideal. Gagasan yang saya sampaikan, jauh dari yang disebut sebagai kebijaksanaan.

Bagaimana jika tidak ada pasien? Masak tidak boleh tidur?

Saat bekerja di Kuwait, saya ditempatkan di sebuah rumah sakit pemerintah. Bekerja di sana, ternyata sangat jauh berbeda dengan yang pernah saya jalani ketika di Indonesia. Perbedaan yang menyolok adalah soal tugas dan tanggungjawab ini. Betapa besar tugas kita, sehingga jika dinas malam misalnya, tidak ada istilah bisa tidur.

Begitu capeknya setiap lepas dinas malam, hingga esok harinya, nyaris waktu terbuang hanya untuk balas dendam tidur. Tidur sehari suntuk lantaran terforsir tenaga untuk bekerja malam harinya.

Memang, dibanding dengan Indonesia, kami dibayar jauh lebih banyak. Akan tetapi, sebenarnya bukan itu esensi persoalannya.

Kita sudah menandatangani kesepakatan untuk bersedia bekerja yang atas dasar pekerjaan tersebut kita dibayar. Konsekuensinya di sana, bila melanggar, berat taruhannya. Antara lain, dipulangkan ke negara asal.

Sepanjang perjalanan karir di sana, saya tidak pernah menemukan kasus di mana seorang kolega dipulangkan karena malas bekerja. Apalagi karena tidur saat bertugas!

Disebabkan oleh beban kerja berat ini, saya merasa kuwalahan. Saya pun mengajukan pindah. Kali ini, di tempat kerja yang baru, yang ternyata, tidak kalah beratnya. Akhirnya saya putuskan lompat ke lain negara!

Jauh sebelum kerja di Kuwait, awal karir, saya mulai bekerja di sebuah RS di Pasuruan. Gajinya minim sekali waktu itu. Hanya Rp 8000. Jika dirupiahkan sekarang berapa ya? Mungkin sekitar Rp300-400 ribu? Wallahu a'lam!

Beban kerja yang harus saya pikul jika dinas malam tidak tanggung-tanggung! Bagian Penyakit Dalam atau Bedah, pasiennya tidak kurang dari 20 an. Merangkap Gawat Darurat dan VIP. Tiga divisi hanya saya seorang yang menangani, dibantu seorang Pembantu Perawat.

Saya menganggap pekerjaan ini berat, sementara dibayar murah sekali. Tapi saya sudah terlanjur setuju dari awal. Jadi, tidak ada pilihan! Saya tetap jalani!

Hanya delapan bulan betah di sana, kemudian...plas! Pindah kerja.

Pembaca.....

Pekerjaan adalah amanah. Jika tidak kuat memikulnya, pilihan masih banyak. Jika ada yang dirasa lebih baik dan disenangi, loncat saja!

Pekerjaan bukannya terbatas. Tinggal kita mau mengelutinya atau tidak. Yang paling penting lagi adalah, jika menyukainya, biasanya tidak ada istilah berat atau terbebani. Semuanya terasa ringan. Apalagi jika diniatkan ibadah! Ah, betapa nikmatnya sebuah pekerjaan!

Betapapun sangat tidak imbang antara pekerjaan dan besarnya penghasilan, saya sangat tidak setuju apabila seorang profesional dijuluki seperti judul di atas: 'Profesional Kacangan'.

Memangnya apa yang salah dengan 'Kacang'? Bukankah kacang itu makanan yang penuh gizi? Kandungan proteinnya tinggi dan lezat rasanya. Bahkan, kacang sekarang mahal harganya.

Mengapa profesional yang malas, suka tidur, kurang cekatan dan lain lain predikat negatif mesti mendapat julukan dengan menggunakan nama-nama seperti ini?

Demikian pula julukan lainnya. Salah apa dengan kacang, tempe, menjos, tahu, kerbau, ayam, udang, tikus dan lain-lain? Hemat saya, jika malas, ya...sebut saja profesional yang malas, tanpa embel-embel lainnya.

Tidak terkecuali pula profesional yang jahat, pemarah, cerewet, judes, sok nampang, narsis, galau, dan sebagainya.
Kita tidak perlu membawa-bawa nama 'Kacang' yang sangat tidak ada kaitannya dengan kualitas seorang profesional. 
Kepada 'kacang' yang tidak bersalah, mohon maaf atas kelalaian ini!


Doha, 23 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...