Jumat, 10 Agustus 2012

PPNI & Indonesian Movies


PPNI & Indonesian Movies


pada 2 Juli 2012 pukul 20:12 

By Syaifoel Hardy

Ada dua keponakan saya yang bertolak belakang karakternya. Umurnya, yang satu masih empat tahun. Yang satunya lagi delapan tahun. Yang kecil, masih mau masuk Nursery School, yang besar sudah kelas dua Sekolah Dasar. Keduanya laki-laki.

Yang kecil, nakalnya bukan main. Suka corat-coret tembok asal ada bolpen atau pensil di tangan. Mainan sejenis mobil-mobilan, tidak akan tahan lebih dari dua hari , biasanya langsung rusak. Mulai dari rodanya yang pada lepas sampai pintu-pintu mungilnya yang tidak mungkin lagi direparasi.

Kalau ke kamar mandi, sabun kadang dimasukkan ke bak mandi. Juga shampoo, hingga pasta serta sikat gigi. Hiasan dinding jadi porak poranda.

Pokoknya, ruang tamu, dapur, kamar, hingga penghuni rumah secara keseluruhan, bisa dibuat kewalahan.

Sang Nenek (kakak saya), pernah dibuat ‘menjerit’ karenanya!

Sedangkan keponakan yang besar, sangat berbeda, seratus delapan puluh derajat.

Jika datang ke rumah, duduk manis, berdampingan atau dipangku ayahnya, meski sudah delapan tahun umurnya.

JIka ditanya, sering tidak menjawab. Lebih asyik main dengan mainan yang ada dalam genggamannya.

Kalau mau ngomong, lebih sering dengan ayahnya saja. Sesekali dia mau ‘berdiskusi’ dengan teman seusianya jika ada.

Itu yang saya tahu ketika dia bertamu, meski ke rumah kerabat sendiri.

Sedangkan jika di rumahnya, sesekali saya dengar ‘teriakan’ nya. Namun tidak ‘seganas’ si kecil di atas. Yang ini tidak suka merusak. Koleksi mainannya banyak sekali dan rapi. Tentunya, si orangtua ikut mengaturnya.

Karena kedua sikapnya yang berbeda, kami orang tua, tahu dan belajar, bagaimana harus mengantisipasinya.

Kepada si kecil, kami selalu hati-hati jika menaruh barang sembarangan. Jika tidak, pasti diraihnya. Begitu ada ditangannya, jangan harap! Kalau tidak dibanting, dilempar atau ‘diperbaiki’ dengan caranya sendiri.

Lemari juga harus terkunci. Bahkan kunci kamar kalau perlu jangan melekat di pintu!

Sebaliknya, si gede, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia tidak akan menyentuh apapun. Tidak perlu antisipasi.  

Pembaca.....

Jika anda sebagai orangtua, mana yang lebih anda sukai? Anak yang aktif atau pasif? Yang menggoda namun kreatif, atau yang diam dan tidak berbuat apa-apa? Saya percaya, anda lebih suka anak kecil nakal, tapi pertanda pintar!

Sayangnya, anak-anak tetap anak-anak. Mereka memiliki karakter yang tidak sama dan tidak mungkin disamakan dengan orang dewasa.

Makanya, sebelum menulis artikel ini, saya berpikir nyaris sepuluh kali.

Kenapa?

Saya kuatir akan dianggap sebagai professional yang bukan hanya nakal. Tetapi, bikin onar, perusak, bisanya cuman mengritik dan semacamnya. Saya bakal disebut sebagai profesional yang tidak berbuat apa-apa, kecuali mampunya cuap-cuap.

Apalagi dari luar negeri yang kerjanya buat kepentingan perut sendiri. Yang keuntungannya disimpan dalam tabungan bank sendiri dan tidak mau tahu dengan kolega yang ratusan ribu di Tanah Air, yang berjuang keras, demi suksesnya Undang Undang Keperawatan!

Itulah!

Alhamdulillah saya siap dengan risiko. Biarlah apa kata rekan-rekan saya di Jakarta, Semarang, Yogya, Surabaya, Makassar, hingga Jayapura. Yang penting, niat saya adalah, agar profesi ini lebih baik dan maju serta di kenal di seantero jagat raya. Bahwa Indonesian Nurses are not like what they think! Perawat Indonesia tidak seperti yang mereka sangka!

Bagaimana dunia perfilman kita?

Penonton dalam negeri lebih banyak yang menyukai film Mandarin, India dan Barat. Bahkan, film-film action Thailand serta Korea lebih banyak diminati.

Apa karena kita tidak memiliki sutradara terkenal dan besar? Apa karena tidak memiliki penulis script ternama? Apa karena miskin aktor dan aktris andalan? Apa karena tidak ada film festival?

Semuanya ada dan kita miliki. Berbagai Award juga digelar selain Festival Film Indonesia. Ada Indonesian Movies Award; Piala Citra dan Pekan Apresiasi Film Nasional.

Semua yang terbaik, digelar dalam event ini. Event ini sekaligus menunjukkan prestige insan perfilman terbaik Indonesia. Minimal, meski tidak bisa disejajarkan dengan India, dunia perfilman Indonesia ingin dan bercita-cita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Apakah prinsip yang sama sudah digelar oleh Indonesian Nursing?

Ada berapa jenis penghargaan yang kita gelar untuk mengangkat derajat professional kita terangkat reputasinya? Ada berapa jenis kegiatan dalam berbagai kategori yang memberikan rangsangan kepada nursing professional untuk tampil ke permukaan sehingga profesi ini dikenal di masyarakat secara luas?

Seperti dunia perfilman Indonesia, professional kita yang menduduki posisi atas di jajaran PPNI banyak yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Bedanya, dunia perfilman bisa menerapkan meski sampai saat ini masih kalah bersaing. Dunia nursing kita masih banyak berkiprah sebatas pada buku-buku yang aslinya dari Bahasa Inggris kemudian diterjemahkan ke Indonesia. Sebuah langkah mundur? Wallahu a’lam!

Indonesian nursing membutuhkan director of nursing yang handal, penulis script of nursing yang piawai, actor dan actress of nursing yang cakap, nursing editor yang pintar, Art director of nursing yang kaya seni, documentary of nursing yang menarik, hingga kalau perlu cinematography of nursing yang cepat tanggap. Semua ini guna mendongkrak citra perfilman Indonesian Nursing agar bisa meraih Citra.

Dunia nursing kita jauh lebih tua usianya dibanding  dengan usia perfilman Indonesia.

Kalau film kita ditonton di bioskop tertentu dalam jumlah terbatas, nursing professional kita dibutuhkan 24 jam di daerah yang tidak terbatas di Bumi Indonesia yang luas ini.

Kalau kita hanya memiliki beberapa actor dan aktris ternama yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, mestinya nursing kita melahirkan ribuan professional yang lebih layak untuk menjadi pahlawan dan masuk Koran setiap hari.

Pekerjaan rumah PPNI masih numpuk. Kesempatan untuk maju bagi anggotanya lebar menganga. Tantangan ke depan begitu luas.   

Di sinilah dibutuhkan kecekatan dan keseriusan orang-orang yang dipercaya untuk memimpinnya, sebagai director of nursing. Seperti best director dalam perfilman Indonesia. Agar mampu memproyeksikan diri, bukan hanya ditonton oleh masyarakat. Tetapi juga dinikmati sumbangsihnya. Demi kemajuan profesi dan kemaslahatan rakyat banyak, di bumi Pertiwi ini.

Sepertinya, Nursing professional, kadangkala harus nakal kayak keponakan kecil saya di atas. 'Menyenangkan' orang, aktif  dan kreatif. Bukannya diam dan hanya membuat ‘Orangtua’ senang.

Nursing professional yang nakal dan aktif, bikin orangtua hati-hati dalam mendidik.

Sebaliknya, bila mereka penurut dan mengikuti arus saja, bakal dipertanyakan dinamika kehidupan profesinya.

Sekali lagi, ini penting kita renungkan bersama. Agar nursing professional di Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Juga, memiliki nilai jual di luar negeri.

Ada baiknya, nursing profesional berkaca pada dunia perfilman kita yang lebih banyak mengedepankan lelucon. Di bioskop-bioskop besar dan mahal, film impor beserta bintang-bintangnya, ternyata jauh lebih populer ketimbang produk negeri sendiri!

Salam Diaspora Nursing Indonesia dari Qatar!

Doha, 2 July 2012
Shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...