Jumat, 10 Agustus 2012

Nothing is illegal till you get caught!


Nothing is illegal till you get caught!


pada 2 Juli 2012 pukul 1:07 ·

By Syaifoel Hardy

Salah satu faktor mengapa kita tertarik bekerja di luar negeri adalah karena iming-iming besarnya penghasilan. Menambah pengalaman saja tidak cukup menjadikan alasan mengapa orang tertarik bekerja di negeri jiran.
Kalau hanya pengalaman, di negeri sendiri juga banyak.

Demikian pula jika alasannya untuk melanglang buana, memperluas wawasan. Masih belum kuat untuk dijadikan faktor utama pendorongnya.

Besarnya penghasilan di luar negeri ada yang menjanjikan hingga kelipatan sepuluh dari gaji yang diproleh di dalam negeri. Mungkin ada pula yang memberikan imbalan lebih dari angka tersebut.

Bagi yang rata-rata demen sama uang, tentu saja, siapa yang tidak tergiur?

Begitu menginjakkan kaki di manca negara, pengalaman saya, macam-macam impian yang bertumpu dalam benak. Rencana dan cita-cita kontan berubah. Saya merasakan hal yang sama, dialami oleh banyak rekan-rekan.

Yang saya ingin berbagai kepada pembaca di tulisan ini adalah, cita-cita ternyata menumbuhkan cita-cita.

Perolehan uang meski dalam jumlah besar, ternyata tidak jarang justru membuat kita makin 'serakah'.

Semakin berjimbun yang kita peroleh, semakin tergiur kita dibuatnya untuk memburu duit lebih banyak lagi.
Hidup di luar negeri menjadi semakin sibuk.

Sepanjang halal, tidak merugikan orang lain, memang tidak ada yang melarang. Islam sendiri mengajarkan bahwa 'fakir membuat kita kufur'. Kemiskinan adalah biang keladi kriminalitas, meski tidak semua orang miskin melakukan hal-hal haram dan atau hina.

Pembaca.......

Saya memiliki seorang teman, profesinya sebagai accountant. Mulanya dia bekerja di sebuah toko kecil yang sekaligus menyeponsorinya sebagai pekerja di Sharjah. Kota terbesar ketiga di United Arab Emirates.

Kurang dari dua tahun kemudian, dia pindah ke sebuah korporasi yang lebih besar. Tentu dengan bayaran yang lebih ketimbang perusahaan pertama.

Kurang dari dua tahun kemudian, dia pindah lagi. Begitu seterusnya, hingga saya tidak tahu persis berapa sudah jumlah perusahaan yang dia sudah lompati.

Meski demikian, kami tidak pernah putus kontak.  Lewat telepon atau email sekedar menyapa.
Sepuluh tahun sudah berlalu. Rashid, sebut demikian namanya, kini bukan hanya sebagai karyawan. Tetapi merangkap usaha transportasi, farmasi, serta grocery. Usahanya berkembang dan bikin dia makin sibuk. 

Kami ketemu terakhir di negara yang berbeda, Qatar. Itu terjadi sebulan lalu.

Dia kini sedang kembangkan usahanya, bekerja sama dengan orang Arab asli UAE juga Qatar, serta beberapa partner sebangsanya. Rashid saya sebut sebagai pribadi yang berkemauan keras dan uletnya luar biasa!

Pembaca........

Di lain pihak, saya juga memiliki teman-teman yang, sambil bekerja secara formal, menginvestasikan duitnya buat usaha di dalam negeri. Macam-macam bisnis yang digelutinya. Ada yang membuka warung bakso, toko, fashion, kos-kosan, bimbingan belajar, hingga rumah kontrakan.

Di tengah-tengah kerjanya, sesudah jam kerja, hari libur, hingga saat cuti tiba, rekan-rekan  yang terlibat bisnis ini sibuk sekali.

Yang namanya bisnis, kemungkinan hasilnya ada tiga. Hasil ini mestinya sudah disadari dari awal sebelum membukanya.

Kemungkinan setiap bisnis adalah: profit, loss, dan no-profit-no-loss. Ketiga-tiganya harus benar-benar dimengerti, jika kita tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Dalam bisnis, tidak ada yang namanya menghalalkan segala cara. Menghalalkan segala cara memikul konsekuensi yang tidak sedikit. Menghalalkan segala cara konotasinya selalu negatif. Artinya, cara apapun yang ditempuh sepanjang menguntungkan, bakal ditempuh. Padahal, mestinya tidak demikian! Karena ada hak-hak cutomer yang harus kita junjung tinggi dan dihargai dalam berbisnis!

Tidak ada yang namanya untung banyak dalam waktu singkat. Setiap keuntungan membutuhkan proses. Proses ini dari bisnis jenis satu ke lainnya tidak sama panjangnya. Ada yang bahkan bertahun-tahun, baru kelihatan untungnya.
Sebagian kita yang kurang atau tidak sadar akan proses panjang ini kemudian mengeluh. Menganggap bahwa bisnis yang dilakukannya merugi.

KIta tidak sadar, bahwa sepanjang kita berada dalam proses tersebut sejatinya adalah 'sedang kuliah', yang tentu saja, tidak gratis. Artinya, perkuliahan tersebut harus dibayar.

Jadi, jangan melihat keuntungan bisnis dari segi finansial semata.

Melihat keuntungan bisnis harus dari sudut pandang lain yang lebih bijaksana. Yakni keuntungan lain, selain uang harus pula diperhitungkan.

Keuntungan dalam artian pengalaman berbisnis, bertambahnya jumlah relasi, network, hubungan sosial dan menjalani proses bisnis utamanya manajemen dan birokrasi bila ada, merupakan beberapa yang bisa disebut. Semua ini mestinya digunakan sebagai bahan perhtiungan yang layak disimak dari awal. Agar tidak melahirkan kekecewaan di kemudian hari.

Beberapa nasib teman-teman, lantaran kurang kesiapan menghadapi segala konsekuensi bisnis ini, berakhir dengan hasil yang sungguh di luar dugaan. Bukannya financial profit yang di dapat, malah sengketa dan musuh jadi bertambah.

Pembaca.......

Orientasi bisnis yang hanya fokus kepada keuntungan dalam bentuk uang tidak selalu dapat diperkirakan mulus jalannya. Bisa jadi malah melenceng, rugi.

Rekan Rashid yang saya singgung di atas, tidak saya ketahui bagaimana jungkir baliknya dalam berbisnis. Saya tahu dia membuka tiga empat usaha yang ada dalam genggamannya. Angka tiga dan empat tersebut adalah angka yang kelihatan di depan mata.

Namun, bisa jadi tersembunyi angka-angka lain yang jauh lebih besar yang tidak nampak. Di antaranya adalah bisa jadi usaha yang dia kembangkan bukan murni dari duitnya sendiri. Bisa jadi dia juga mendapatkan pinjaman besar dari bank yang besar pula risikonya. Bisa jadi dia berkongsi dengan rekan-rekannya. Bisa jadi dia membuka bisnis ini dengan mengorbankan property yang dimilikinya.

Masih segudang kemungkinan lain yang 'kurang menyenangkan' tetapi kita tidak melihatnya.

Bisnis memang unik!

Agar sukses di dalamnya, kita harus berani menanggung segala risikonya. Jika tidak, lebih baik jangan memulai. Karena untung-rugi dalam bisnis adalah hal biasa.

Yang pasti adalah, sepanjang halal, lakukanlah. Karena, segala bentuk bisnis yang haram, sudah jelas akibatnya. Yakni, kalau bukan ditangkap oleh aparat setempat, disekap dalam penjara. Atau, dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Mahakuasa di Hari Kemudian!


Doha, 1 July 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...