Jumat, 10 Agustus 2012

My Neighbors are Trouble Makers


My Neighbors are Trouble Makers


27 Juni 2012 pukul 22:11 ·


Orang bilang saya ini tipe orang yang SDSA (Sok Dekat, Sok Akrab). Sebuah tipe yang konon, banyak yang nggak suka. Ada lagi orang yang sangat cuek dengan lingkungannya. Namun ada pula yang netral.Biasa saja. Semua kategori ini, repot hidupnya dalam bertetangga di masyarakat. Mengapa?

Kalau tidak menyapa, katanya sombong. Jika kadang-kadang menyapa, dikatakan plin-plan. Namun jika sering menyapa, dicurigai ada maunya.

Jadi, siapa yang nggak bingung dibuatnya? Apa yang sebenarnya dikehendaki oleh orang lain terhadap kita ini, tidak selalu kita mampu menjawabnya.

Di gedung tempat saya tinggal, ada dua belas flat. Dari dua belas tersebut, tiga di antara penghuninya orang Indonesia. Selebihnya, campuran. Ada Arab dari berbagai negara, ada Filipina, Pakistan dan India.

Sepertinya kalau soal wajah, saya mengenal semua pemiliknya. Tetapi nama, nanti dulu! 90% saya tidak kenal.

Mengapa? Begini ceritanya:

Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Di kota-kota besar di Indonesia sekarang ini, budaya 'tidak mau tahu urusan orang lain' sudah amat menjamur. Di kota kecil ukuran kecamatan, saat ini banyak tetangga hanya sebatas pada jika ada selamatan atau hajatan.  Sehari-hari kenyataannya amat cuek dan tidak peduli.

Ketika saya berkunjung ke sebuah desa di Trenggalek Selatan, dua puluh tahun lalu, orang bahkan mengenal orang lain yang beda desa. Jaraknya sekitar 8 km. Beda kecamatanpun ada yang kenal. Bikin saya heran!

Sepuluh tahun kemudian, tradisi yang sama masih tetap bertahan kuat. Entah saat ini! Yang pasti, jauh sekali dengan daerah perkotaan seperti Malang misalnya. Tetangga dalam satu kompleks perumahan saja, banyak yang tidak saling mengenal.

Itu kehidupan di dalam negeri, yang notabene latar belakang budaya, tradisi, bahasa, bangsa dan negara yang sama.
Bagaimana dengan di luar negeri yang multikultural?

Seperti yang saya ceritakan semula. Kami tempati gedung yang sama sekitar empat tahun. Saya salah seorang penghuni pertama yang menghuni gedung tersebut.

Sejak menempatinya, sesama penghuni, hanya sebatas 'say hello' saja. Tidak ada yang namanya ngobrol. Apalagi saling mengunjungi. Tidak ada juga yang namanya selamatan atau hajatan di sana. Meskipun saya melihat kadang-kadang, khususnya weekend, ada saja tamu-tamu dari luar yang keluar masuk gedung. Tidak ada yang peduli.

Dalam hati saya berpikir: orang-orang ini dari mana datangnya? Sepertinya tidak punya teman atau sanak famili, tapi setiap saat ada saja yang keluyuran, keluar masuk rumahnya, berdatangan hampir tiap saat. Mereka juga sering bepergian. Ke mana saja ya? Padahal sesama tetangga nyaris nggak kenal?

Bagi yang biasa akrab dengan tetangga, pasti merasa sangat tersiksa dengan kondisi ini. Pasti gatal kaki ini jika sore biasanya ngobrol, malam biasa nyanggong, weekend biasa begadang, liburan nonton teve bersama, tetapi semuanya hanya ada dalam lamunan. Itu bukan berarti saya haus akan kenal semua sama tetangga! Tidak juga! Concern saya cuman satu: peradaban manusia sudah mulai bergeser! Nilai-nilai sosial manusia sudah berubah!

Makanya, guna sedikit menghibur diri supaya tidak termasuk dalam golongan ini, kemarin sore sepulang kerja saya menyapa. Seorang tetangga Filipino, yang sedang membersihkan mobilnya di siang bolong yang panasnya bukan main.

Saya tanya, apakah tidak bekerja. Dia jawab sudah di-PHK. Saat ini dia sedang mencari kerja. Dia pun balik bertanya, sekaligus meminta bantuan jika bisa membantu memberikan informasi lapangan pekerjaan.

Hidup di luar negeri memang pekerjaan adalah nomor satu. Semuanya harus bayar. Rumah, listrik, air, makanan dan pakaian. Jika tidak bekerja, dari mana mendapatkan uang guna membayar semua itu?

Ikut sedih juga mendengar ceritanya, meski belum lengkap. Kemudian saya berikan nomer telepon dan email saya.
Esoknya, saya mendapatkan email darinya, sekedar mem-follow up apa yang kita bicarakan kemarin sore.

Pembaca.....

Pembelajaran yang saya tangkap dari sekilas pertemuan dengan tetangga adalah, kita tidak selalu mendapatkan sesuatu yang 'menguntungkan' dari tetangga. Tidak hanya meminta informasi soal pekerjaan semata, seperti yang saya jumpai di atas.

Memang, ada tetangga yang suka bertandang ke rumah serta ngobrol tidak ada habisnya. Padahal, kita tidak senang ngobrol. Atau, kita lagi sibuk. Ada pula tetangga yang suka meminta kekurangan bumbu masakan.

Pokoknya, macam-macam tipe mereka. Tidak jarang, kita mendapatkan tetangga yang selalu bikin kita repot! Misalnya tetangga sukanya membuang sampah sembarangan di selokan. Waktu musim hujan, eh....sampah-sampah tersebut bergeser ke selokan kita! Nah!

Akan tetapi, banyak pula tetangga yang amat baik dan suka membantu! Murah senyum, senang menawarkan transport atau boncengan, memberi makanan jika lebih, hingga membawa oleh-oleh buat kita sesudah datang dari bepergian.

Tetangga yang seperti ini, adalah model manusia calon penghuni surga. Yang mereka cari adalah kebajikan. Yang mereka kejar adalah pahala. Jumlah mereka, pastinya, anda yang lebih tahu!

Yang jelas, meski menjadi tetangga yang sukanya membantu dijanjikan surga, apa karena kita kuatir menemui tipe-tipe tetangga yang suka mengganggu ini ya, kemudian keakraban sesama tetangga saat ini menjadi barang langka?
Wallahu a'lam!

Doha, 27 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...