Jumat, 10 Agustus 2012

Merangkap Jadi WTS


Merangkap Jadi WTS


20 Juni 2012 pukul 0:09

Oleh Syaifoel Hardy

"Mulanya saya ragu. Tapi jujur, iri sekali ketika melihat tamu yang tidak saya kenal itu di kemudian hari saya ketahui ternyata di adalah seorang WTS."

"Terus terang saya tidak tahu bagaimana harus memulainya. Kadang berpikir sendiri. betapa enaknya jadi seorang WTS. Tanpa repot-repot ke sana kemari, semua bisa dikerjakan dengan manajemennya sendiri. Nama dan popularitas termasuk uang dapat diperoleh dengan mudah. Hanya saja, bagaimana memulainya? Itulah pertanyaan yang sangat menggoda saya waktu itu."

"Saya nekad! Pelan-pelan, tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun, saya mulai menjelajahi dunia WTS ini. Saya menyoba melihat apa yang saya miliki. Wajah dan tubuh ini apakah memiliki nilai komersial atau tidak. Apakah layak untuk 'menjual' diri atau tidak. Yang namanya keberanian, tetap saja menggoda selama beberapa waktu."

"Waktu itu saya terlalu muda jika dibandingkan WTS yang saya kenal yang sudah senior dan aberpengelaman. Namun apa salahnya menyoba? Siapa tahu saya dapat menjalaninya dengan baik?"

"Maka mulailah saya latihan untuk mempersiapkan diri. Sebagai pemula, tentu segan dan malu untuk memproklamasikan diri sebagai WTS. Seperti halnya orang lain, yang saya tahu waktu itu. Kelasnya WTS memang macam-macam. Ada yang menjual dirinya terang-terangan bahkan menulsikan bahwa dia adalah WTS. Ada yang malu tapi mau. Ada lagi yang memang malu sekali. Sehingga orang lain tidak mengetahui apakah dia WTS atau tidak!"

"Perlahan-lahan saya mulai latihan mencari mangsa. Dari yang amatir. Sasaran pertama tentunya kelas lokal. Saya kadang menjajagan 'diri' di kampus. Saya tidak tahu waktu itu apakah teman-teman mengenal status saya sebenarnya atau tidak. Beberapa teman kayaknya tahu. Tapi saya tidak peduli. Lagi pula saya kelasnya pemula. Jadi, gratisan tidak masalah. Toh yang saya inginkan adalah pengalaman."

"Sepertinya ada teman-teman yang nggak suka dengan yang saya kerjakan. Peduli amat? Begitu pikir saya. Toh saya tidak menggantungkan masa depan dan karir saya kepada mereka. Jadi, terserah mereka, mau benci atau tidak, kegiatan saya untuk menggeluti dunia WTS terus berjalan."

"Tidak lama sesudah itu, karena jadi WTS lokal rasanya tersendat-sendat, saya ingin loncat, sekalian yang lebih profesional. Tetapi saya tidak tinggalkan. Perlahan-lahan, beberapa teman saya mengetahui kegiatan sampingan saya sebagai WTS ini."

"Tidak kurang dari lima tahun sesudah melangkahkan kaki menggeluti profesi ini yang katanya murahan ini, saya berangkat ke luar negeri. Di sana, rasanya tidak gampang untuk menjadi WTS. Ada beberapa kendala. Selain bahasa, juga target serta bagaimana cara memasarkannya. Yang saya lakukan kemudian adalah jika pulang cuti saja aktivitas WTS ini saya jalani. Lama kelamaan jadi terbiasa menjajakan diri dan tidak lagi malu di depan publik menyatakan bahwa saya adalah WTS sejati."

"Lebih dari lima bekas tahun sudah saya jalani profesi ini. Mungkin tidak seenergis dulu. Tapi saya makin terampil menjadi sosok 'penggoda'. Semakin dalam saya menekuninya, semakin saya hayati. Banyak orang yang hidup dan kehidupannya jauh lebih baik ketimbang saya. Saya tidak peduli! Biar orang menganggap saya 'hina', tidak begitu saya dengarkan 'omelannya'. Toh ini adalah pilihan saya! Saya merangkap profesi yang satu ini bukan dengan setengah hati. Sebaliknya, dengan kesungguhan!"

 "Tahun-tahun belakangan ini kemudian baru menyadari, bahwa saya ternyata seorang WTS (Writer, Trainer, Speaker) sejati!"

Doha, 19 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...