Jumat, 10 Agustus 2012

Indian & Filipino Nurses: Controlling Job Market


Indian & Filipino Nurses: Controlling Job Market


pada 28 Juli 2012 pukul 10:51

By Syaifoel Hardy

Sekitar satu tahun lalu, saya kedatangan tamu seorang dokter ahli bedah dari Dubai. Dokter tersebut saya kenal baik, karena kami sama-sama bertugas memberikan pelayanan kepada Jamaah Haji di tahun 2007.

Tujuan utama kedatangan ke Qatar adalah mencari kerja. Padahal, dia sudah 'mapan' di UAE, bekerja di RS milik Pemerintah. Sebuah pekerjaan yang sangat dinantikan oleh sebagian besar ekspatriat (untuk selanjutnya akan saya sebut sebagai Diaspora).  Apalagi kedudukannya sebagai ahli bedah.

Ketika saya sampaikan hal ini kepada Manager di mana saya bekerja, sang manager bertanya apa kebangsaannya. Saya jawab: "Indian!" Karena sudah ada pembatasan quota bagi Indian di perusahaan kami. Meski pun, waktu itu, kami sedang membutuhkan. Apalagi, dalam artian kualifikasi, sang dokter yang sangat memenuhi persyaratan, tidak dapat diterima. Kata sang manager: We will accept, if he were Indonesian!"

Lain dokter, lain pula nurses.

Beberapa perusahaan swasta yang kami sebut sebagai Joint Venture Companies (JVCs), pelayanan kesehatan mereka umumnya diberikan oleh nurses. Selama ini yang saya ketahui, hanya Indian dan Filipino nurses yang bekerja. Meski di sebuah negara Arab, tidak seorang Arab pun nurses yang bekerja di JVC tersebut. Sebuah fenomena yang layak dikaji.

Indian dan Filipino nurses, mendominasi. Jangankan di Middle East, di dunia juga, di banyak negara-negara besar, kedua kebangsaan nurses ini dengan mudah ditemui. Pada tahun 2008, terdapat 12.000 Indian nurses di USA sedang menunggu relaksasi formalitas visa. Itu belum terhitung yang sudah menjadi warga negara.

Di Australia, South Africa, Canada, UK, dan lain-lain, juga terjadi fenomena serupa. Jadi benar kata the Economic Time di salah satu edisinya di bulan Desember 2003, bahwa: "Indian Nursing Council (INC) has decided to convert around 700 nursing schools across the country into full-fledged colleges, with effect from 2005. Already, Indian nursing has a strong presence in the global market."

Kecenderungan yang sama terjadi pada Filipino nurses. Di Amerika Serikat, pada tahun 2001 saja, sudah terdapat 48.000 Filipino nurses. Angka yang diperoleh menurut data dari Philipine Overseas Employment Administration (POEA) ini membuktikan bahwa bersama India, Filipino nurses turut mendominasi nursing world's job market.
Mengapa bisa terjadi demikian?

Artikel ini bermaksud memberikan gambaran, bukan analisa detail yang ditunjang statistik, tentang latar belakang mengapa Indian dan Filipino nurses bisa menguasai pasar nursing job di Middle East, tempat di mana penulis bekerja 18 tahun terakhir ini.

Pertama, kondisi sosial. Jumlah komunitas Indian atau Filipin tergolong mayoritas. Di UAE, ketika penulis bekerja dari tahun 1996-2007, jumlah populasi Indian sekitar 40% dari total diaspora. Diaspora yang tinggal di UAE lebih dari 60%. Jadi, Indian terhitung mayoritas. Waktu itu, warga Indonesia mencapai angka 40,000 dari total populasi 5 juta.
Populasi yang besar ini tentu saja merupakan kekuatan tersendiri. Hampir tidak ada sebuah departemen pun dalam pemerintahan yang tidak ada orang India nya. Hal yang sama terjadi pada orang Filipin, meski jumlahnya tidak sebanding dengan India.

Keberadaan mereka di berbagai sektor ini, secara sosial tentu saja ada efeknya. Minimal dalam masalah pendekatan. Orang India dan Filipin misalnya, salah satu dampak positif secara sosial adalah dalam hal perolehan visa, lebih tahu dan tidak sulit birokrasinya. Karena, mereka ada di mana-mana. Secara sosial tentu saja mendapatkan dukungan.

Belum lagi dalam perolehan informasi masalah kerjaan. Jika yang duduk di atas sana adalah  dari golongan mereka, otomatis orang paling cepat yang mendapatkan bocoran informasi adalah dari mereka sendiri.

Sementara, hampir tidak saya temukan orang Indonesia yang bekerja di sektor pemerintah atau private business yang cukup diandalkan. Tentu saja, ini sangat berpengaruh. Bagaimana mungkin Indonesian nurses akan dengan mudah berseliweran ke negara-negara ini jika secara sosial kurang mendapatkan dukungan?

Kedua, dari segi politik-birokrasi. Orang India dan atau Filipina paling ulet dan pinter 'bergaul' untuk urusan kemudahan birokrasi ini. Saya melihat sendiri bahkan seorang Office Boy atau driver, bisa 'menembus' birokrasi, lantaran kedekatan dengan boss mereka.

Lain dengan kedudukan PRT kita di Timur Tengah sana yang jarang memiliki ketrampilan ini kalau boleh saya katakan. PRT kita paling banter membawa sesama PRT. Tetapi, orang India atau Filipin, bisa membawa manager, businessman, engineer hingga nurses dengan mudah. Mengapa? Karena faktor kedekatan yang membawa pengaruh politis.

Demikian pula dengan maraknya jumlah populasi mereka di kantong-kantong pemerintahan bahkan yang strategis. Tentu, akan sangat berpengaruh dalam hal proses rekrutment. Akibatnya, bisa diduga. Bagaimana mungkin sebuah RS akan merekrut orang Indonesia jika sang Assistant Director of Nursing, Admin, Nurses, office boy hingga cleaner semuanya didominasi orang India? Sebagian di tangan orang Filipina.

Belum lagi, pasien di RS, Klinik dan balai kesehatan swasta lainnya rata-rata berasal dari negara mereka juga. Jadi, secara politis birokrasi, sangat bisa dimengerti jika akhirnya pilihan utama rekrutmen diberikan kepada India dan Filipino.

Tetapi, bukankah di USA jumlah Indian dan Filipino tidak sebanyak atau bukan mayoritas? Mengapa jumlah nurses mereka mencapai angka ribuan?

Di sinilah kita ditantang. Bahwa Filipino dan Indian nurses, lebih 'gesit' dalam mencari peluang dan tidak kenal menyerah. Tentu saja, meski bukan satu-satunya faktor penentu, dari segi bahasa, mereka lebih siap!

Yang lebih penting lagi adalah dukungan pemerintah dan profesi mereka di dalam negeri. Di India dan Filipina, mereka sangat mendukung program ini. Nyaris tidak ada kesulitan perolehn dokumen, mulai dari passport hingga tetek-bengek profesional yang mereka butuhkan. Maklum, untuk urusan nursing ini, mereka sudah memiliki Nursing Council atau Nursing Board, sementara di Indonesia, tanda-tandanya saja belum kelihatan. jadilah birokrasinya berbelit. Ini menjadikan salah satu kendala terbesar mengapa healthcare provider lebih menyukai dari India dan Filipina yang sudah established sistem nya.  

Ketiga, faktor ekonomi. Di tahun 2012 ini, menurut daftar GDP, India berada di urutan 12. Indonesia menempatai urutan ke 18. Sedangkan Filipina ke 48. Pada tahun 2000, India menduduki peringkat ke 6, Indonesia ke 10 dan Filipin ke 26. Dari daftar ini, India memang lebih maju ketimbang Indonesia. Namun bukan menjadi faktor penentu yang membuat jumlah nurses yang bekerja di luar negeri semakin membengkak dan menguasai pasar. Kenyataannya, Filipina berada jauh di bawah Indonesia. Tapi mengapa Filipino nurses ribuan yang bereda di luar negeri? Mestinya, Indonesian nurses lebih siap secara finansial ketimbang Filipina kan?

Faktor psiko-sosial. Orang India dan Filipina memang lebih nekad. Salah satu bukti yang bisa diukur dalam perolehan lapangan kerja bagi nurses ini adalah proses rekrutmen jalur formal. Selama ini, Indonesian nurses lebih bergantung kepada jalur formal, apakah itu lewat pemerintah atau PJTKI. Tidak demikian yang terjadi pada Indian atau Filipino nurses.

Mereka banyak yang datang dengan visa yang mereka urus sendiri. Mencari kerja di negera di tempat mereka berada. Menelusuri setiap kesempatan yang ada. Jika perlu mereka tidak bekerja sebagai nurses langsung. Ada yang bekerja sebagai admin atau first aider.

Kegigihan ini berpengaruh besar. Semangat mereka memperoleh kerja di luar negeri tidak didasarkan kepada kualifikasi akademik yang mereka kantongi menjadikan motivasi besar yang membuat karier mereka berubah.
Ada beberapa contoh yang saya temui langsung. Contoh yang saya belum pernah menemui dan terjadi pada orang Indonesia, kecuali istri yang mengikuti suami. Artinya, si istri perawat dan suaminya mendapatkan pekerjaan lebih dulu. Bukan start dari nol!

Kesimpulannya: jika Indonesian nurses ingin mencapai kedudukan seperti yang dilakukan oleh Indian dan Filipino nurses dalam perolehan kesempatan kerja di luar negeri, tidak ada langkah yang lebih baik, kecuali menyontoh apa yang telah mereka lakukan. Tanpa harus study banding ke negeri mereka.

Perlunak birokrasi, dukung Indonesian Nurses bekerja di luar negeri yang sekaligus bakal mengurangi angka pengangguran, perbaiki sistem pendidikan yang lebih menginternasional, berikan tambahan wawasan kepada yunior Indonesian nurses tentang kesempatan luas dan ketatnya persaingan ini, tingkatkan motivasi mereka untuk berani menantang masa depan ke arah yang lebih baik, dan buktikan, bahwa keberadaan nurses selalu dibutuhkan ke depan serta memiliki prospek kerja yang bagus di luar negeri. Jauh melebihi profesional lain di negeri sendiri!

Good luck!

Doha, 28 July, 2012
Syaifoel Hardy

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...