Jumat, 10 Agustus 2012

How 2b Rich Student


How 2b Rich Student


29 Juni 2012 pukul 10:35


Sekolah di luar negeri, sesuai pengalaman saya, berat jika tidak punya duit. Padahal, mengambil online learning.

Bukan hanya laptop, external memory, memory chip, dan pernak-pernik kecil lainnya saja yang menjadi kebutuhan, kayaknya mutlak dimiliki. Kamera dan video camera juga harus punya. Bisa sih pinjam. Tapi kalau berhari-hari pinjamnya, kuaitir disebut tidak tahu diri!

Dalam salah satu assignment, saya pernah mengalaminya. Karena kesulitan target, praktik saya kerjakan di salah satu kampus di Indonesia. Pihak universitas langsung menghubungi mereka, calon observer yang akan membantu saya dalam implementasi rencana kegiatan di Indonesia.

Semua kegiatan harus direcord. Maksud saya direkam, sebagai bukti. Hasilkan, dalam bentuk CD, dikirim ke kampus, menyertai rencana kerja, pelaksanaan dilengkapi evaluasi dari observer.

Keseluruhan prosesnya ternyata tidak gampang. Apalagi murah.

Kerja di Timur Tengah, mencari sasaran pratik, jika anda seorang nursing profesional yang sambil bekerja dan sekolah lagi, tidak murah. Pilihan terbaik adalah jika pulang cuti, manfaatkan. Kesempatan untuk maju tetap lebar.

Bagi yang berpenghasilan pas-pasan, memang harus puasa dan pinter ngerem pengeluaran. Biaya kuliah cukup tinggi bukan saja buat rata-rata ukuran saku mahasiswa Indonesia. Orang luar pun ngos-ngosan dibuatnya!

Sebuah pengalaman yang sangat jauh berbeda dengan yang saya rasakan di Makassar lebih dari dua dasawarsa lalu.

Saat itu komputer belum menjalar. Apalagi Hand Phone. Otomatis kebutuhan akan sarana elektronik amat sangat terbatas.

Yang namanya kebutuhan ya tetap kebutuhan. Kita butuh makan, pakaian, buku, transport sepatu, sandal, dan tetek bengek lainnya. Jumlahnya, tergantung dan amat relatif dari satu orang ke lainnya.

Saya tergolong mahasiswa yang paling sedikit jumlah kirimannya. Lagi pula, tidak memperoleh uang saku dari kantor. Berbeda dengan sebagian besar teman-teman, khususnya Indonesia Timur, yang uang sakunya cukup besar.
Saya tidak ingin 'kalah'. Uang mungkin boleh kurang, tetapi jangan ide dan kreativitas!

Kalau soal perkuliahan dan prestasi, boleh dikata maju, bahkan pesat dibanding rekan-rekan. Hingga suatu hari pernah diundang oleh direktur untuk diajak berbagi dengan teman-teman kampus tentang metode belajar yang efektif.

Teman-teman yang 'pemalas' sering menggunakan saya untuk membantu mereka. Tentu saja saya dapat imbalan. Ilmu memang tidak bijak jika diperjual-belikan. Hanya saja untuk menyampaikannya, saya butuh waktu, tenaga dan pikiran. Makanya, saya tidak pernah meminta atau menolak jika teman-teman memberikan 'imbalan' kepada saya. Imbalan tersebut macam-macam bentuknya. Jarang yang dalam bentuk uang.

Ada yang membelikan baju, buku, kaos, radio, traktir makanan, perlengkapan mandi, dan lain-lain, yang hemat saya, amat membantu.

Saya tidak memiliki bakat jualan sebagaimana orang membuka toko. Akan tetapi saya mampu 'jualan' apa yang saya miliki. Jualan potensi diri kepada teman-teman.

Pada saat menyelesaikan karya tulis terakhir, kalau tidak salah saya sempat diminta membantu sepuluh mahasiswa, semuanya teman-teman kampus. Wah, laris deh! Yang penting saya tidak mengajari nyontek dan atau menipu. Saya pikir, sah-sah dan halal!

Ada banyak cara sebenarnya untuk 'berdagang' atau 'bisnis' sewakrtu kita kuliah. Tidak ada istilah karena miskin, kita tidak sanggup sekolah lagi. Jika ada kemauan, insyaallah ada saja jalan mengatasinya. Allah SWT tidak akan menyediakan pintu yang tidak ada kuncinya dalam hidup ini.

Pembaca......

Saya sadari banyak mahasiswa saat ini yang kurang mampu secara ekonomi karena kondisi orangtuanya yang sangat terbatas. Kondisi ini ternyata tidak membuat mereka terhalang untuk belajar dan menuntut ilmu ke jenjang lebih tinggi.

Tuntutan kebutuhan kampus, sebaliknya, tidak peduli, apakah anda dari keluarga kaya atau miskin. Kaya miskinnya mahasiswa tidak tertulis dalam kurikulum manapun. Kurikulum tidak mengenal apakah anda kaya atau miskin. Apalagi menggolong-golongkannya.

Demikian pula sewaktu dosen mengajar. Apa pernah tahu, kuliah ini hanya untuk yang miskin, kemudian kelompok lainnya yang kaya? Kelas A untuk mahasiswa yang memiliki laptop, kelas B yang punya HP sederhana.

Ketika di organisasi pun, meski saya tahu sejumlah mahaiswa memiliki kelompok dan blog-blog yang kaya, mentereng, cantik dan narsis, namun pada dasarnya organisasi tidak akan mendiskriminasi kaya miskin.

Jadi, kaya miskin ini hanya persepsi mahasiswanya saja. Persepsi mahasiswa yang berbeda yang membuat mereka terkotak-kotak. Mahasiswa yang sering gomta-ganti pakaian, punya laptop dan HP terkini, sepeda motor yang bagus, dianggap sebagai golongan mahasiswa kaya. Padahal, kita tahu, semua itu milik orangtua mereka.

Sebaliknya, mahasiswa yang pakaiannya itu-itu saja, naik sepeda ontel dan tidak punya laptop atau HP, dicap miskin. Bukankah ini persoalan 'mata' kita yang terkelabuhi oleh indera ke tujuh yang namanya materialistik ini?

Tapi saya tetap setuju. Jika 'jer basuki, mawa beya!', orang yang mau makmur, harus keluar biaya. Biaya di sini bukan harus diterjemahkan dalam bentu uang saja. Biaya bisa berarti pikiran, pengetahuan, tenaga, perasaan, hubungan sosial, politik, budaya, waktu, dan sebagainya. Orang harus mengeluarkan semua ini guna mencapai tujuannya. Uang saja tidak cukup!

Jadi, jika hanya uang yang kurang, maka bukan seharusnya yang namanya rencana jadi berantakan gagal total. Uang hanya sebagian persennya. Uang mungkin hanya 25% dari seluruh faktor yang ikut berpengaruh selama anda di bangku kuliah. Bandingkan uang dengan kemauan!

Anda tidak perlu stress atau depresif hanya karena tidak ada uang. Seringkali itu yang kita ketahui. Mahasiaswa bingung dan pening karena tidak ada uang.

Susahnya, selama kuliah memang mahasiswa tidak pernah diajari bagaimana mencari uang sambil sekolah. Makanya, mereka bisanya cuma baca buku, duduk perpustakaan, menghafal dan mengerjakan ujian.

Mahasiswa tidak diajari bagaimana mengatasi kebutuhan mereka sendiri sambil kuliah secara total. Saya bukan bermaksud menyalahkan kurikulum dan atau dosen, tetapi itulah kenyataannya! Bahwa mahasiswa, identik dengan teori daripada menghadapi kenyataan hidup!

Makanya, kepada mahasiswa yang masih aktif, cobalah buka jendela anda lebar-lebar, kemudian lihatkan dunia sana. Bahwa kalau anda kaya atau miskin secara material, itu semua hak milik orangtua anda, bukan kekayaan anda.

Sebaliknya yang namanya ilmu dan kreativitas, bisa jadi milik anda pribadi yang orang lain tidak akan mungkin mencurinya.

Jika anda ingin mendapatkan tambahan income, banyak yang bisa anda lakukan. Mulai dari jualan pulsa, makanan catering, menjadi tenaga pengajar kursus, guru bantu, menulis artikel, loper koran, jualan buku, dan lain-lain kegiatan bisnis. Dan semua itu halal!

Jangan jadi mahasiswa yang bisanya hanya meminta saja! Mahasiswa model begini sekarang bukan zamannya lagi.
Bagaimana jika kegiatan kampus seambreg dan tidak memungkinkan melakukan jual beli seperti yang saya usulkan?
Ah...itu mah..karena kita terlalu banyak dicekoki oleh dosen untuk pinter mancari-cari alasan yang permisif. Itu juga persolan waktu saja.

Kesibukan itu relatif! Pak Presiden yang sangat sibuk saja masih bisa-bisanya ngurusin bisnis anak-anaknya. Mengapa mahasiswa nggak bisa nyangking jilbab dalam tas dan dijual di sekolah?

Good luck!

Doha, 29 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...