Jumat, 10 Agustus 2012

EVEN IF WE HAVE NO MONEY


EVEN IF WE HAVE NO MONEY


pada 4 Agustus 2012 pukul 17:04 

By Syaifoel Hardy

Indonesia bukan negara kaya! Itu semua orang tahu! Jika kaya, mana mungkin saya harus berlama-lama di luar negeri?
Saya menyadari, tidak semua mahasiswa berlatar-belakang keluarga berada. Saya tahu, tidak semua kita mapan secara ekonomi. Saya pula sangat paham, setiap orang berbeda kebutuhan dan tingkat penghasilannya.

Ada yang cukup dan mensyukuri gaji bulanan. Ada pula yang jungkir balik mencari penghasilan lain untuk menutupi kebutuhan yang makin menanjak. Termasuk, sebuah contoh yang baru saja saya lihat di sebuah postingan. Entah benar tidaknya, menyatakan bahwa dia 'sumpek', karena tidak memiliki uang.

Uang memang penting sekali. Bahkan, uang begitu besar peranannya sehingga banyak orang bilang bahwa segala sesuatu bisa dibeli jika punya uang. Jabatan hingga kasih sayang!

Saya pernah melihat beberapa teman dekat yang kelihatannya murung. Wajahnya kusam. Hidup tak lagi bersemangat. Mudah iritasi dan cepat marah. Hanya karena kertas berharga ini.

Di sisi lain, saya juga pernah melihat, seorang teman yang tidak memperlihatkan raut muka yang susah, karena uang. Seorang teman dekat ini, saya tahu persis kondisi perekonomiannya, sehingga lantaran keingin-tahuan saya yang mendesak, saat dia ke kamar kecil, saya sekedar ingin meringankan bebannya, memasukkan sejumlah uang ke dalam dompetnya yang ditinggal di meja. Benar dugaan saya! Dia sedang 'kekeringan'!

Di bulan-bulan pertama saya memulai kerja, uang minim sekali. Guna menutupinya, saya harus pinjam sepeda ontel rekan untuk pergi membantu memandikan pasien (Manula). Bahkan saya rela mencabuti rumput, membersihkan jendela, pintu, kursi, meja, hingga mengepel lantai. Buahnya sungguh luar biasa!

Sang tuan rumah bercerita kepada yang lain. Klien saya jadi bertambah. Kadang saya kuwalahan melayani, karena di luar kerja, saya sibuk berkunjung ke beberapa tempat. Tidak jarang di luar kota.

Bukan hanya materi dalam bentuk uang yang saya terima. Teman dan saudara juga bertambah. Saya dikenalkan kepada rekan-rekan kerja beliau. Beliau yang bekerja sebagai wakil kepala sekolah, seringkali dengan bangga memperkenalkan saya kepada rekan-rekannya, bahwa saya yang merawat Ibunda beliau yang saat itu berusia sekitar 80-an. Beberapa kali rekreasi sekolah saya diajak serta, mulai dari plesir ke Jawa Tengah hingga Bali!

Pada saat sekolah, saya sering diberi teman-teman duit, jajan dan lain-lain, sebagai imbalan membantu mereka. Saya juga beberapa kali diberi duit oleh dosen saya, barangkali melihat saya berwajah 'melas'. Namun, sungguh! Saya tidak meminta-minta pada dosen. Ketika mereka bertanya apakah saya punya duit, jujur saya katakan apa adanya!

Pernah, saya kehilangan pekerjaan. Alhamdulillah Allah Mahapengasih terhadap hambaNya yang berusaha. Saya mencoba kontak teman. Saya tawarkan apa yang saya bisa bantu. Bukan apa yang dia bisa 'bantu' buat saya.

Meskipun ujung-ujungnya, dialah yang membantu saya. 'What can I do for you?' sebuah ungkapan manis dan sopan serta profesional, jauh kedengaran lebih etis ketimbang 'Can you help me?'

Alhamdulillah akhirnya saya bisa dompleng membantu pekerjaannya. Dan subhanallah, hasilnya sungguh di luar dugaan. Karena akhirnya justru membuat saya mampu berkembang dan 'mandiri', meskipun di kemudian hari pekerjaan ini saya harus tinggalkan.

Menawarkan jasa yang bisa kita kerjakan kepada orang lain itu jauh lebih mulia ketimbang meminta-minta. Menawarkan jasa seperti ini tidak membutuhkan uang.

Jadi, di tengah-tengah maraknya orang bingung bagaimana cara mencari kerja guna mendapatkan uang, sebenarnya hanya dengan satu kalimat pendek di atas saja, kita bisa.

Membantu bersih-bersih selokan, membersihkan rumah, pengurusan administrasi di desa, mengumpulkan pembayaran air dan listrik di tingkat RT, menjajakan makanan tetangga ke tetangga lain, adalah lapangan kerja. Menawarkan cuci mobil, laundry, memotong rumput dan tanaman, menjadi peloper koran dan majalah, menawarkan guide ke tourist, bukankah sebuah kerjaan yang halal yang bisa kita kerjakan dan menghasilkan uang?

Kalau ingin lebih profesional lagi, kegiatan di atas bisa dikemas manis. Caranya: bikin kartu nama (hanya bermodal Rp30.000), bikin plakat (Rp 30.000), dan banner (35.000). Total Rp.95.000.  Atau, kalau mau tanpa harus mengeluarkan uang adalah memberikan kursus bagi anak-anak tetangga. Ajarkan anak-anak Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, IPA, IPS, hingga pelajaran agama. Pekerjaan ini mulia sekali. Hanya orang yang 'pelit-lit-lit' yang tidak bersedia memberikan imbalan atas kerja keras anda!

Perlu diingat, untuk pertama kalinya, jangan mengedepankan nilai uangnya. Sebaliknya, tunjukkan kesungguhan anda untuk membantu. Anda akan mendapatkan reputasi baik, hingga kepuasan.

Saya yakin, Mario Teguh, tokoh motivator yang terkenal itu memulai dari dasar, sebelum menduduki puncak anak tangga sana. Rasulullah SAW saja, berangkat dengan menggembala domba!

Saya mulai belajar menulis untuk buletin kampus, di awal karier. Buletin ini tentu saja gratis. Kalau anda mengerjakan sesuatu selalu berlandaskan imbalan, maka anda tidak akan pernah memulai sesuatu pekerjaan dengan baik. Oleh karenanya, selalu kedepankan arti sebuah nilai. Bahwa mengerjakan sebuah kebajikan itu, sejatinya adalah buat kepentingan diri sendiri.

Dari belajar menulis di kampus ini kemudian merambat ke profesi. Sebenarnya saya belum puas dengan karya ini, akan tetapi sungguh di luar dugaan, ternyata saya mendapatkan imbalan karena karya ini. Mungkin tidak seberapa besarnya. Setidaknya, ini membantu mendongkrak motivasi untuk tetap menulis dan disebar ke mana-mana. Hanya dengan berbekal waktu, pikiran dan beberapa lembar kertas serta amplop dan perangko, duit sebagai hasil imbalan, mengalir dengan sendirinya.

Ketika mencari kerja, saya dulu juga sering numpang truk atau pick up. Saya tidak malu-malu untuk bertanya kepada sang sopir, apakah diijinkan. Toh saya tidak mencuri atau berniat jahat lainnya. Jadi mengapa mesti malu?

Sore harinya, saya membantu mengajar anak-anak tetangga belajar apa saja yang saya bisa. Minimal saya mendapatkan imbalan makanan. Lambat-laun, duit pun datang.

Mau mencoba?

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan butuh seni. Seni dalam hidup merupakan proses yang semua orang akan mengalaminya. Proses ini tidak selalu sistematis seperti teori pelajaran yang kita terima di sekolah. Kita akan disalahkan apabila mengeja huruf tidak sesuai urutannya.

Sebaliknya, kenyataan dalam hidup seringkali berkata lain. Yang penting kita bisa menyebutkan ke 26 huruf yang ada, memangnya siapa yang menyalahkan?

Maka dari itu, jangan pernah menyerah hanya karena tidak ada uang. Uang hanyalah satu dari sekian unsur atau aspek kehidupan yang pada akhirnya akan mengikuti ke mana anda melangkahkan kaki sepanjang anda lebih mengedepankan kualitas hidup itu sendiri. Percayalah!

Good luck!

Doha, 4 August 2012
hardy.syaifoel@yahoo.com   

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...