Jumat, 10 Agustus 2012

DOMESTIC CHEMICALS, KILL


DOMESTIC CHEMICALS, KILL


pada 11 Juli 2012 pukul 0:57 

By Syaifoel Hardy

Selama di luar negeri, selama itu pula, jika sedang cuti ke Tanah Air, selalu ada saja 'canda' atau gurauan, atau apalah maksudnya. Intinya, bertanya apakah saya bisa menolongnya membawa serta ke luar negeri.

Berangkat ke luar negeri, tidak seperti menempuh perjalanan dari Madiun ke Wonogiri. Berangkat ke luar negeri tidak semudah seperti yang banyak orang bayangkan.

Tetangga saya yang dulu mengikuti program Transmigrasi saja, tidak lama sesudah itu, balik lagi ke kampung halaman kami. Lengkap beserta anak-anaknya. Ternyata tidak kerasan. Itu, padahal di Sumatera, yang orang-orang dan bahasanya boleh dikata sama.

Di luar negeri, utamanya di negara di mana kehidupan multikultural berlaku, kehidupan cukup 'keras'. Artinya, bisa jadi kita tidak kerasan hanya dalam hitungan jam saja.

Saat saya tulis artikel ini, suhu udara siang hari di Qatar mencapai 43 derajat celcius. Makanan amat beda. Kalau mau mencari masakan Indonesia, tidak tersedia di sembarang tempat. Mau makan Tempe bacem saja, kocek harus cukup. Juga peyek, bakso, rawon, hingga masakan Padang. Tidak gampang mendapatkannya.

Ditambah lagi, orang-orang sekitar yang watak serta karakternya amat berbeda.  Ada orang Barat yang acuh tak acuh. Ada orang Asia Selatan yang kata orang kita, bahu bawang. Ada orang Filipina yang katanya suka makan babi dan anjing. Ada orang Arab yang katanya pemarah.  Ada orang China yang katanya irit banget, dan ada juga orang Afrika yang kok kelam amat kulitnya.

Macam-macamlah!

Pokoknya, suasana kehidupan benar-benar beda dengan di Indonesia.

Makanya, teman di Sharjah waktu itu, hanya betah tinggal selama hanya tiga bulan, sesudah itu minta pulang kampung! Balik ke Sumatera. Katanya, tidak kerasan!

Pembaca.....

Dua hari terakhir ini seorang keponakan saya cerita, sedang nego dengan seorang yang tertarik untuk membeli rumahnya yang memang akan dijual. Senangnya bukan main! Sudah mulai itung-itung, akan dikemanakan nanti hasil penjualan tersebut.

Namun, sebelum transaksi akhir, saya sudah katakan, jangan keburu berencana, sebelum kelihatan hasilnya. Maksud saya: duitnya.

Sore tadi, saya mendapatkan kabar 'buruk'. Keponakan bilang, ternyata calon pembelinya adalah penipu.
Meski belum tertipu, dari gelagat komunikasinya sudah bisa terbaca, bahwa calon pembelinya bukan orang serius. Sebaliknya, bermaksud memeras!

Kita sering menjumpai kasus-kasus seperti dua kejadian di atas. Contoh pertama yang saya paparkan adalah banyak orang yang hidupnya tidak mau susah.

Maunya enak, tanpa repot-repot. Jika perlu, pekerjaan seringan mungkin dan keuntungan sebanyak mungkin. Bila perlu pekerjaan tidak perlu melamar. Bila perlu pekerjaan datang sendiri dan kita akan nyaman dibuatnya.

Contoh kedua adalah menipu orang lain.

Sebuah pekerjaan yang 'mudah', karena hanya jualan omong, kemudian mendapatkan keuntungan besar. Penipuan saat ini beragam bentuknya dan terjadi di mana-mana. Bahkan di dalam keluarga kita sendiri acapkali ada.

Mungkin kita terlalu banyak nonton televisi di mana kejadian tipu-menipu menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya orang menyontoh sajian tersebut.

Saya pernah ditipu orang, tergolong kenal dekat. Juga beberapa kali menemui orang-orang yang mungkin berniat jahat: intinya ingin menipu. Alhamdulillah, saya sempat melihat itikat kurang baik ini. Sehingga bisa terhindar.

Karena penipuan ini, saudara menjadi orang lain. Karena penipun, teman jadi musuh. Karena penipuan, tetangga menjaga jarak.

Penipuan di sini mungkin terlalu kasar saya menyebutnya. Kayaknya saya tidak memiliki istilah lain, karena ujungnya, jika tidak menepati janji untuk membayar hutang misalnya, bukankah kita sebut sebagai upaya penipuan?

Pembaca....

Inilah yang saya maksud dengan zat-zat kimia dalam diri yang sangat meracuni. Rasa malas, bergantung kepada orang lain serta ingin mendapatkan untung dalam jumlah besar meski harus mengorbankan orang lain.

Inilah mentalitas murahan yang dimiliki oleh sebagain orang-orang kita.

Racun inilah yang sudah merasuki dalam darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Alirannya merambat ke seluruh pembuluh darah yang guna membersihkannya dibutuhkan 'dana' yang cukup besar. Yang akibatnya bisa merusak organ-organ tubuh lainnya, seperti hati, ginjal hingga jantung.

Akibat lainnnya bisa demikian parah, sehingga dengan pengobatan Dialisis atau cuci darah saja, belum cukup untuk menjamin kehdiupan kita akan lebih baik. Bahkan, banyak dokter yang pada akhirnya meramalkan lamanya kehidupan ini karena kerusakan yang sudah parah.

Dalam hidup ini juga demikian. Kita harus belajar, bahwa segala sesuatu itu butuh proses serta perjuangan. Dalam bergaul, hindarkan kesan bahwa anda sangat membutuhkan bantuan atau uluran orang lain. Apalagi kesannya sangat berharap dan cenderung 'mengemis'. Sebuah sikap yang sangat tidak profesional jika kita mengantongi pendidikan tinggi serta menggeluti dunia profesi tertentu.

Sebagai gantinya, tunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang gigih, yang mampu berbuat sesuatu. Tawarkan apa yang bisa anda lakukan. Bukan meminta pekerjaan! Sampaikan apa kelebihan yang bisa anda perbuat bagi orang lain, bukannya meminta apa yang orang lain bisa lakukan buat anda. Tunjukkan bahwa anda bisa serta aktif dan tidak memilih-milih pekerjaan, bukannya meminta orang orang memberikan pekerjaan ternyaman bagi anda.

Tunjukkan kepada orang lain bahwa anda pekerja keras dengan bukti konkrit, bukannya janji-janji bahwa anda akan bekerja dengan baik.

Bila anda lakukan semua ini, insyaallah, kita tidak akan keracunan. Zat-zat kimia yang saya sebut di atas pada dasarnya adalah racun kehidupan, yang manakala tidak kita pupus, akan menggerogoti kehidupan ini.

Sebelum saya sudahi tulisan ini, dalam perjalanan pulang dari Salat Maghrib, saya telepon seorang teman lama di Dubai. Saat saya tanya sedang apa dan di mana, teman saya, yang usianya sudah memasuki 56 tahun ini, katanya sedang di tengah perjalanan, dari pulang kerja, sejak jam 8 pagi hingga 6 sore.

Dia yang bekerja sebagai seorang Sopir perusahaan Spare Part kendaraan, sedang mengajari anak pertamanya yang sedang mencari pekerjaan di Pusat Bisnis negara UAE tersebut. Anak pertamanya sedang kehilangan pekerjaan sebagai pelayan toko. Kini, sedang berusaha mencari lompatan!

Moral lesson yang ingin saya sampaikan adalah, cobalah identifikasi kelemahan dan kekurangan diri sendiri yang saya sebut sebagai Domestic Chemicals ini. Domestic chemicals yang bisa membunuh semangat, motivasi, kemauan keras, minat kerja, jujur dan lain-lain. Domestic chemicals yang bisa membunuh benih-benih potensi yang sebenarnya mampu membuat anda menjadi profesional yang besar dan terkenal! Tidak harus kaya raya dan memiliki bisnis raksasa
seperti Abu Rizal!

Good luck!

Doha, 10 July 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...