Jumat, 10 Agustus 2012

CONTAGIOUS


CONTAGIOUS


8 Agustus 2012 pukul 17:43


Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sendirian dari satu desa. Lulus SMP, memasuki sekolah kejuruan, juga sendirian. Lulus sekolah kejuruan, di antara rekan-rekan sekelas, saya sendirian pula yang tidak menjadi pegawai negeri. Ketika ke luar negeri, orang-orang yang kayak saya dipandang ‘mlelet’, karena langka.

Di luar negeri, pada tahun pertama, tinggal bersama teman-teman asal Indonesia. Ada untung ruginya. Untungnya, memang banyak. Berbicara dengan bahasa yang sama, tidak ada kesulitan. Makanan, apapun yang dimasak, lidahnya sama. Latar belakang budaya, sama. Ringkasnya, untuk tujuan interaksi sosial, akan sangat mudah dan tidak pernah ada masalah.

Ruginya, kecakapan dalam berkomunikasi Bahasa Inggris, apalagi Arab, tidak bakalan membaik. Alias statis. Tidak ada tantangan. Orang yang dihadapi itu-itu saja. Tidak mendapatkan tambahan wawasan sosial budaya dari negara lain.


Jika ada konflik, bisa jadi berkepanjangan. Bahkan akan keterusan nanti bila sudah balik ke Indonesia. Karena merasa berasal dari latar belakang sosial budaya yang sama, biasanya kurang pengertian di antara sesama.

Tinggal bersama dengan orang-orang yang sebangsa kurang memberikan nilai tambah, karena yang dihadapi sehari-hari ya……itu-itu saja. Kurang ada nilai seninya!

Bukannya anti dengan teman-teman asal Indonesia, tetapi kalau anda ingin saya berbicara jujur, saya sering ‘nelangsa’. Pasalnya, banyak hal yang jadi sulit dikomunikasikan kepada teman-teman sebangsa dan setanah air ini. Lantaran berbagai pertimbangan, seringkali segala sesuatu yang mengganjal, akhirnya saya simpan sendiri. Namun sampai kapan?

Pada akhirnya, saya harus memutuskan, bahwa memendam perasaan seperti ini tidak bagus. Baik untuk kesehatan fisik maupun sosio-psikologis.

Tentu saja ini terjadi di luar negeri!

Sambil tetap aktif dalam organisasi profesi, saya memiliki banyak teman berasal dari berbagai negara. Ada Pakistan, India, Filipin, Arab hingga Amerika Serikat. Ada banyak untung ruginya.

Saya mau kemukakan untungnya saja ya?

Yang paling menyolok adalah kemampuan berbicara. Bahkan dalam bahasa mereka pun, tidak terkecuali. Inggris atau bahasa Arab bisa tambah maju, wawasan meluas, mengetahui lebih banyak tentang latar belakang sosial budaya dari negara, watak dan karakter, kebiasaan, makanan, sejarah, dan lain-lain.

Bergaul dengan orang asing, cenderung lebih plong dan terbuka. Jika ada hal-hal yang kurang disenangi atau setujui, kita bisa sampaikan dengan bebas. Sebaliknya, mereka juga demikian.

Pernah, suatu hari, di flat, kamar sebelah di huni oleh orang asing (Baca: Non Indonesia). Dapur selalu nampak kotor sesudah mereka gunakan. Kamar mandi juga demikian. Maklum, flat yang kami tempati milik Ministry. Jadi, sharing. Saya kemukakan ini kepada mereka dengan terusterang tanpa beban!

Apapun, bagi saya tidak masalah. Ok-ok saja! Bahkan, saya merasa lebih leluasa berbicara dengan mereka apabila ada yang harus saya sampaikan. Termasuk masalah di atas.

Berbeda ketika saya tinggal bersama teman-teman yang semuanya dari Indonesia. Wah! Flat yang kami tempati, kotor sekali dalam hitungan kurang dari enam bulan. Padahal, perabotan yang ada di dalamnya saat kami pertama kali menempati, semuanya ‘gress’.

Kali ini, sungguh berbeda. Makanya pihak Housing Office sempat ‘marah’. Indonesia, ceroboh, katanya.
Bagaimana tidak dikatakan demikian, lha wong yang namanya karpet coklat bagus kemudian kayak disulap jadi kehitaman? Kitchen utensils, kompor gas, penuh minyak yang sulit dihilangkan. Lantai putih mengkilat juga kini hitam kecoklatan. Bufet, kursi, meja, rak TV, rak sepatu, ada saja yang cacat. Kamar mandi yang putih berubah, kecoklatan. Padahal, jadwal memasak dan bersih-bersih flat sudah ada daftarnya. Yang membersihkan, orangnya ya itu-itu saja! Pokoknya, soal kedisiplinan menjaga dan membersihkan hingga memasak, bikin capek deh!

Makanya, saya putuskan pindah! Gabung saja dengan non Indonesia. Kalau mau marah…ya marah saja, no problem. Tengkar…tengkar saja juga no problem! Tidak ada rasa nggondok!

Saya lakukan ini bertahun-tahun.

Saya memang kurang peduli dengan apa yang diomongkan oleh rekan-rekan sesama Indonesia tentang saya. Yang pasti, saya tidak merugikan kehidupan mereka. Toh, mereka juga tidak bertanggungjawab akan masa depan saya, apakah bakal menjadi orang yang lebih baik, sama atau lebih buruk nantinya.

Sembilan tahun saya pernah tinggal bersama orang India. Memang orang India juga banyak yang ‘gombal’ atau menjengkelkan seperti yang sering kita lihat di film-film. Sebanyak orang kita yang bisa ditemui di berbagai media masa.

Bukan negara asalnya yang ingin saya tekankan, namun individualnya. Di negeri kita juga banyak yang baik. Hanya saja, seperti yang saya sebutkan, kita boleh memilih, mana yang lebih convenient.

Saya pernah, ‘marah’ kepada penghuni kamar sebelah, karena membawa sepupunya, tanpa seijin saya terlebih dahulu. Meski dia bayar kamar tersebut per bulan, tetapi bukan lantas seenaknya dia bisa membawa orang (walaupun anggota keluarganya sendiri), tanpa sepengetahuan pemilik flat. Alhamdulillah bisa terima. Sebuah sikap yang barangkali sulit saya lakukan terhadap orang Indonesia, karena rasa segan dan lain-lain.

Oleh karenanya, saya putuskan, tinggal bersama orang-orang dari negara lain, lebih nyaman, sangat menguntungkan ketimbang dengan sebangsa dan senegara.

Sebetulnya bukan itu yang ingin saya sampaikan! Melainkan begini:

Hidup ini adalah pilihan. Allah SWT memberikan kebebasan kita untuk memilih. Pilihan, ada di tangan kita.

Jadi, jangan hanya karena tenggang rasa, segan, sungkan dan sebagainya, lantas hidup kita jadi menderita. Jangan karena kuatir menyakiti perasaan atau hati orang lain, kemudian kita yang malah sengsara! Pengambilan keputusan seperti ini, hemat saya kurang bijak!

Guna menghindarinya, anda harus pilih-pilih. Apa haram hukumnya memilih teman yang baik? Apa dilarang kita kumpul dengan orang-orang yang menggiring hidup kita ke arah lebih baik?

Anda akan menjadi perokok jika berkumpul dengan orang-orang yang suka rokok. Anda akan terdorong untuk ikut jualan jilbab jika anda berkumpul dengan teman-teman yang dagangan jilbab. Anda akan berangsur-angsur senang makan bakso jika rekan-rekan dalam kelompok anda suka jajan bakso. Anda akan bisa jadi penjudi jika anda selalu bergaul dengan mereka yang suka judi.

Anda akan ketularan pinter jika anda selalu ngumpul dengan mereka yang rajin dan pintar. Anda akan menyukai diskusi jika anda kumpul dengan orang-orang yang aktif dalam organisasi. Anda akan mampu mengembangkan bakat dan potensi, jika anda bergaul dengan orang-orang yang memiliki motivasi tinggi. Anda juga akan sukses bila selalu bergabung dan bergelut dengan orang-orang sukses!

Intinya, rejeki bisa dijemput dan nasib bisa direbut!

Rasulullah SAW pernah bersabda, jika anda ingin tahu siapa, apa dan bagaimananya seseorang, tanyakanlah kepada temannya! Oleh karenanya, hati-hati memilih teman. Pilih mereka yang membuat anda beruntung. Bergaul dengan orang-orang yang membuat anda menjadi manusia yang lebih baik, pintar dan berhasil!

Bila anda nimbrung bersama orang-orang terkenal yang pintar, pasti orang lain disekitarnya menduga bahwa anda adalah bagian dari mereka. Jika anda berada di tengah-tengah orang kaya, pasti orang beranggapan anda juga kaya.


Sebaliknya, jika anda bergaul dengan orang-orang yang sehari-harinya hanya nongkrong di ujung jalan tanpa kerjaan, mereka yang melihat menyangka, anda adalah pengangguran. Begitu pula dengan predikat-predikat kurang baik lainnya, akan melekat pada diri dan reputasi anda, bila tidak pandai-pandai memilah dan memilih, dengan siapa kita harus tinggal, bekerja, berteman dan bersahabat.

Tanpa bermaksud mengajari anda untuk memiliki sifat diskriminasi, semuanya kembali kepada anda sendiri!
Memang, tidak ada salahnya, bahkan akan baik sekali, jika anda bisa bergaul dengan siapa saja. Akan tetapi, pekerjaan ini tentu tidak gampang. Makin beragam watak dan karakter teman-teman anda, semakin sulit bagi anda untuk menempatkan diri.

Seperti yang saya sebut di atas, bila bergaul, ambil yang paling kecil risikonya serta menguntungkan bagi masa depan anda, dalam tinjauan berbagai perspektif. Sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, pendidikan, professional development, personal interest, problem solving skills, dsb.

Untuk kepentingan ini anda tidak perlu menjadi orang Amerika Serikat, Eropa, India, Filipina atau Pakistan! Anda bisa jadi diri anda sendiri, namun mampu berbicara, menguasai bahasa, memiliki wawasan yang luas, cekatan, hingga melakukan apa yang dikuasai oleh orang-orang yang berasal dari negara-negara tersebut, tanpa perlu menyulap diri atau ubah passport!

Insyaallah, banyak orang-orang terbaik di dunia ini yang bisa anda ajak bergabung, sharing pengalaman, mengajari, hingga membantu anda. Bergaul lah dengan mereka, layaknya penyakit menular saja! Jangan takut dan khawatir!

Jika hal tersebut anda terapkan, saya yakin dan percaya, pasti kelak, anda bakal menjadi orang-orang yang ‘sama’ predikatnya, dengan siapa anda bergaul!

Selamat mencoba!


Doha, 08 August 2012
Hardy.syaifoel@yahoo.com 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...