Jumat, 10 Agustus 2012

Brain Drain of Indonesian Nurses


Brain Drain of Indonesian Nurses


pada 31 Juli 2012 pukul 20:24 

By Syaifoel Hardy

Saya pernah bekerja sejak jam 06.30 pagi hingga jam 9.30 malam sampai di rumah. Pagi hari mengajar hingga jam 14.00. Sore hari memberikan kursus di beberapa tempat, biasanya sampai jam 17.30 sore. Sesudah itu menulis artikel yang saya ‘jual’ ke berbagai majalah. Di rumah, masih harus disibukkan dengan persiapan mengajar esok harinya. Itu belum terhitung jika ujian. Harus menyiapkan soal dan koreksi.

Rutinitas seperti ini berlangsung tidak kurang dari empat tahun. Sesudah itu, saya berpikir, sampai kapan saya harus seperti ini?

Benar, bahwa saya memang butuh duit. Duit ini saya gunakan untuk berbagai kebutuhan dan kepentingan. Buat diri sendiri dan keluarga. Termasuk sumbangan buat Ibu dan adik-adik. Itupun belum cukup. Maklum, manusia seperti saya, cenderung selalu kurang puas.

Kekurang-puasan itu saya hitung dengan pemasukan yang saya peroleh tiap bulan yang ternyata belum cukup untuk, jangankan menabung, travelling saja ke provinsi tetangga tidak mampu. Mungkin kalau terbatas membeli T-shirt atau baju setiap bulan, bisa jadi OK lah.

Dari sana kemudian saya berpikir: “Saya harus berubah!” Perubahan ini tentu perlu diikuti dengan langkah-langkah yang konkrit.

Waktu itu saya memasuki Semester tujuh, jurusan Bahasa Inggris. Jadi sambil tetap bekerja di beberapa sekolah, memberi kursus dan juga kuliah lagi, saya menyoba mencari informasi tentang pemberangkatan Indonesian Nurses ke luar negeri.

Sesudah menunggu empat tahun lamanya, saya baru bisa berangkat. Ke Kuwait tepatnya. Kejadiannya sudah lama sekali. Tahun 1993 precisely!

Waktu itu, jumlah Indonesian nurses yang berangkat ke luar negeri sedikit sekali. Yang ke Kuwait hanya 150 orang. Menyusul Saudi Arabia, sekitar 200 orang-an. Saya lupa angka pastinya.

Sejak saat itu, kami yang merasa berada di gelombang ke dua pemberangkatan Indonesian nurses ke luar negeri, mulai melihat tanda-tanda, bahwa sudah saatnya Indonesian Nurses bangkit dan dikenal dunia!

Perlahan. Perlahan sekali, jumlah kami merangkak, meningkat, dari tahun ke tahun. Tetapi angkanya tidak significant! Saya katakan demikian karena kacamata saya membandingkan dengan nurses from other countries.

Betapa besar tantangan nurses kita! Itulah kesan pertama ketika kaki ini menginjak bumi Timur Tengah, awal Maret 1993. Di musim dingin yang sangat menggigit.

Saya hanya sendirian yang berasal dari Indonesia di sebuah bangsal di Mubarak Al Kabeer Hospital. Beberapa rekan Indonesia lainnya, rata-rata juga sendirian. Kalaupun ada yang dua orang satu bangsal, mereka dinasnya tidak bareng. Tentu saja ada keuntungan dan kerugian dari aturan dinas yang terpisah di antara kami ini. Saya ambil sisis positifnya saja!

Sebagai satu-satunya orang asal Indonesia, kendalanya bukan hanya sosial budaya yang berbeda. Secara psikologis, terkadang saya merasa tidak mendapatkan dukungan atau support. Sangat berbeda kondisinya dengan teman-teman dari negara lain yang jumlahnya begitu banyak.

Namun hidup ini harus jalan terus! Saya tidak ingin mengecewakan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, profesi dan juga bangsa Indonesia.

Saya memang bukan sosok seorang presiden. Tetapi keberadaan saya di bangsal, seperti memanggul seluruh kepulauan Indonesia beserta nama baiknya. Saya adalah the Ambassador of Indonesia!

Berat dirasa dalam bulan-bulan pertama. Ada kalanya ingin pulang saja! Tapi apakah dengan pulang, lantas bakal menyelesaikan masalah?

Lama-lama juga kerasan, terutama bila tanggal 27 setiap bulannya. Anda tahu mengapa? Tanggal itulah kami terima gaji.

Gaji saya waktu itu jika boleh saya ukur sekitar 10x lipat gaji saya di Tanah Air. Senang sekali. Dengan gaji besar, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari pemenuhan kebutuhan pribadi, bantu orangtua, adik-adik, saudara yang membutuhkan, hingga amalan kebaikan lainnya yang semula tidak mungkin, lantaran keterbatasan dana ini.

Namun sungguh, bukan karena persoalan uang saja yang membuat saya kerasan tinggal di luar negeri.

Tiap pulang kampung saat cuti, bisa mampir-mampir ke negara lain. Teman jadi banyak. Pergaulan luas. Ketrampilan tambah. Wawasan jadi lebar. Kemampuan berbahasa makin tajam. Problem solving skills juga meningkat, ketahanan stress juga lebih kuat. Dan…sebagai muslim, kesempatan bisa menunaikan ibadah Umrah dan Haji jadi makin transparan. Alhamdulilllah.

Keuntungan jika bekerja di luar negeri memang tidak cukup jika saya gambarkan dalam uaraian kata-kata saja. Lebih dari itu! Kepuasan kerja juga menjadi salah satu pertimbangan utama. Karena tujuan utama kami adalah bekerja.

Saat saya ketik artikel ini (terkadang saya menuliskan sejumlah paragraf di tempat kerja), seorang rekan kerja, bersama suaminya, menawarkan untuk dolan ke rumahnya. Mengundang dinner, di rumah baru yang baru saja pindah. Semalam, juga diundang makan bersama di rumah sebuah keluarga Indonesia.

Ah! Jika hanya soal makanan, jangan tanya! Tidak akan pernah akan habisnya. Dan di luar negeri, meski tidak ada rujak bali, kolak, dawet, bakso, belut, pecel lele, siaomay, rujak cingur, jenang dan aneka makanan tradisional lainnya, luar negeri menawarkan makanan dalam bentuk lain, dari negara lain. Dengan warna corak serta aroma yang tentu saja berbeda. Dan kelasnya, tidak kalah dengan yang saya sebutkan di atas! Kecuali lidah kita ‘mati’ atau tidak doyan makanan orang-orang dari lain bangsa yang tidak jarang ‘aneh’ di lidah ini.

Barangkali itulah sejumlah daya tarik, mengapa rekan-rekan seprofesi dari berbagai negara membanjiri negara tertentu guna mendapatkan pekerjaan di sector nursing ini. Karena nursing profession sangat menjanjikan. Menjanjikan bukan hanya duit saja.

Tanpa bermaksud mengagung-agungkan rekan-rekan yang saya pernah berbagul, apakah itu selama di Kuwait, United Arab Emirates, Saudi Arabia, Qatar, Malaysia, Belanda, Singapore, Canada, USA dan Australia, yang pernah   kontak dengan saya baik langsung maupun lewat forum dunia maya, mereka benar-benar professional dan luar biasa.

Jumlahnya saat ini tidak banyak jika saya bandingkan dengan degara seperti India atau Filipina. Tetapi, mereka adalah warga Indonesia dari kalangan nursing professional yang terbaik. Jika tidak percaya silahkan diuji, minimal dari segi bahasa.

Kelebihan lain dari rekan-rekan kita yang tinggal di sana adalah mentalitas yang terbina. Kedisiplinan yang teruji. Training yang handal dan kelasnya internasional. Daya tahan terhadap stress. Keberanian menghadapi masalah dan risikonya. Kejelian dalam travelling. Wawasan yang makin luas. Kepiawaian dalam hubungan sosial antar negara. Ah, capek sekali bila harus saya sebut satu persatu!

Saya yakin dan percaya, nursing professional di Indonesia ini mengetahui betapa banyak keuntungan jika harus bekerja di luar negeri. Pasti sebagain besar akan membanjiri bursa pasar kerja di luar negeri.

Mungkin bukan saat ini. Namun akan datang masanya, bahwa Indonesia, di era pasar globalisasi ini bakal berubah atau sedikitnya meninjau kembali kebijakan pengiriman tenaga kerja di bidang nursing ini ke depan. Tidak lain agar tidak terjadi pengangguran atau peledakan jumlah tenaga trampil nursing professional yang hidupnya kurang layak di negeri sendiri.

Di pihak lain, saya turut sedih jika sedang cuti ke Indonesia disindir, seolah saya tidak peduli dengan profesi ini di Bumi Pertiwi. Padahal, sudah berupaya keras, bahwa kami turut membangun Indonesia, dari negeri seberang. Kami bersama warga Indonesia lainnya, bahu membahu, memikul berat beban bangsa ini dengan cara tersendiri, yang bisa jadi ‘rada aneh’ di hadapan teman-teman di dalam negeri.

Sungguh saya amat kuatir, sebagai pribadi dan anggota profesi apabila profesi yang satu ini tidak mendapatkan perhatian atau perlakukan yang cukup dari Pemerintah dan asosiasi profesi. Ke depan, bukan tidak mungkin, akan terjadi pelonjakan jumlah imigran nursing professional ke luar negeri. Tepatnya dinamakan sebagai Brain Drain ini.

Brain Drain ini berpotensi mengakibatkan keluarnya tenaga-tenaga ahli kita yang terampil, pintar dan cekatan serta memiliki dedikasi yang tinggi ke negeri asing. Kita bisa bayangkan, apabila sebuah gedung yang kokoh berdiri di sebuah wilayah daratan yang terkena erosi. Lambat laun akan runtuh.

Yang saya tulis di sini tentu saja bukan sebagai harapan. Apalagi ramalan sekelas Joyoboyo! Tetapi, apa salahnya memprediksi sesuatu yang sudah terlihat titik-garisnya. Bahwa jika tidak disiapkan segala sesuatunya, yang namanya kata penyesalan, memang, tidak akan pernah berada di baris depan!

Doha, 31 July 2012
Hardy.syaifoel@yahoo.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...