Jumat, 10 Agustus 2012

Be Like Perfume, the Fragrance is Everywhere


Be Like Perfume, the Fragrance is Everywhere


pada 30 Juni 2012 pukul 2:38 ·


Sejak menginjakkan kaki pertama kali di bumi Kuwait, negara Teluk kaya minyak, yang waktu itu baru saja diporak-porandakan oleh Sadam Hussain, ada satu perubahan yang saya rasakan beda dengan kebiasaan di lingkungan kerja saya.

Kebiasaan yang saya temui tersebut adalah kecintaan warga di negara tersebut terhadap Parfum atau minyak wangi.
Agar terkesan keren, untuk selanjutnya saya menggunakan kata 'parfum' sebagai referensi. Ketimbang minyak wangi yang terkesan lokal.

Orang Arab sangat cinta dengan yang namanya wewangian. Di keluarga kami, waktu itu, wewangian identik dengan bunga atau kemenyan. Keduanya digunakan saat ada acara yang terkait dengan ritual, khususnya kematian. Tradisi ini sudah banyak berubah sekarang. Kemenyan sudah tidak lagi menjadi tradisi di sebagian besar masyarakat kita saat ini.

Para ekspatriat juga tidak kalah. Mereka kayaknya ketularan penduduk setempat juga pendatang yang berdarah Arab lainnya.

Saya sih...ok-ok saja, meski ada beberapa orang yang 'alergi' terhadap parfum ini.

Sempat heran juga sih, terhadap wangi-wangi koq alergi? Terus sukanya bau yang bagaimana? Ah...sudahlah! Ngapain gua pikirin?

Parfum orang-orang Arab sangat khas, meski buatan Perancis. Saya, bagaimanapun, tidak pernah yang namanya anti atau menolak soal yang satu ini. Saya within no time, menyukainya.

Rata-rata teman-teman kerja juga demikian. Bahkan ada yang tergila-gila. Artinya, ada yang mau membeli parfum meski harganya mahal sekali menurut ukuran saku kami.

Pembaca pecinta parfum.....

Parfum, sekali sreeeeet..... untuk yang berkualitas bagus, bukan main semerbak harum wanginya. Meski yang memakainya sudah pergi, baunya masih juga tersisa di tempat di mana dia semula berpijak.

Padahal hanya sedikit yang disempotkan. Tidak juga barangkali satu mililiter. Dampaknya luar biasa.

Sesudah disemprotkan, bekasnya tidak kelihatan. Acapkali tidak pula membekas sama sekali. Jika melekat di kulit ada yang hilang sesudah delapan jam. Jika melekat di baju, bisa berhari-hari. Tidak nampak ada noda, tapi masih kuat aromanya.

Bagi yang mendekat, utamanya pecinta parfum, orang konon bisa mengenal karakter penggunanya. Wallahu a'lam!
Yang pasti, antara memakai atau tidak, akan beda. Dengan menggunakan parfum, akan membuat si pemakai konon lebih percaya diri. Ada yang kurang peduli, tetapi banyak yang membenarkan!

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa belajar dari parfum ini. Di antaranya adalah bahwa dengan hanya sekali berbuat baik, kita bisa melihat pengaruh yang meluas, bagi kebaikan orang banyak.

Mengajarkan ilmu atau ketrampilan adalah sebagai contoh nyata. Atau yang lainnya, kita barangkali cukup berbicara sekali, tetapi sasarannya banyak. Peserta didik yang akan mngunduh manfaatnya jumlahnya berlipat. Apalagi jika target yang pertama ini menularkan ke lainnya. Demikian pula dalam dakwah. 

Oleh karenanya, jika berbuat sesuatu, utamakan kepada khalayak yang lebih banyak. Sasaran atau target yang lebih luas. Ketimbang hanya satu orang per orang.

Makin banyak yang mengambil hikmah dari perbuatan kita, semakin berat timbangan pahala yang bakal kita terima. Wallahu a'lam!

Doha, 30 June 2012
shardy2@hotmail.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...