This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 10 Agustus 2012

EVEN IF WE HAVE NO MONEY


EVEN IF WE HAVE NO MONEY


pada 4 Agustus 2012 pukul 17:04 

By Syaifoel Hardy

Indonesia bukan negara kaya! Itu semua orang tahu! Jika kaya, mana mungkin saya harus berlama-lama di luar negeri?
Saya menyadari, tidak semua mahasiswa berlatar-belakang keluarga berada. Saya tahu, tidak semua kita mapan secara ekonomi. Saya pula sangat paham, setiap orang berbeda kebutuhan dan tingkat penghasilannya.

Ada yang cukup dan mensyukuri gaji bulanan. Ada pula yang jungkir balik mencari penghasilan lain untuk menutupi kebutuhan yang makin menanjak. Termasuk, sebuah contoh yang baru saja saya lihat di sebuah postingan. Entah benar tidaknya, menyatakan bahwa dia 'sumpek', karena tidak memiliki uang.

Uang memang penting sekali. Bahkan, uang begitu besar peranannya sehingga banyak orang bilang bahwa segala sesuatu bisa dibeli jika punya uang. Jabatan hingga kasih sayang!

Saya pernah melihat beberapa teman dekat yang kelihatannya murung. Wajahnya kusam. Hidup tak lagi bersemangat. Mudah iritasi dan cepat marah. Hanya karena kertas berharga ini.

Di sisi lain, saya juga pernah melihat, seorang teman yang tidak memperlihatkan raut muka yang susah, karena uang. Seorang teman dekat ini, saya tahu persis kondisi perekonomiannya, sehingga lantaran keingin-tahuan saya yang mendesak, saat dia ke kamar kecil, saya sekedar ingin meringankan bebannya, memasukkan sejumlah uang ke dalam dompetnya yang ditinggal di meja. Benar dugaan saya! Dia sedang 'kekeringan'!

Di bulan-bulan pertama saya memulai kerja, uang minim sekali. Guna menutupinya, saya harus pinjam sepeda ontel rekan untuk pergi membantu memandikan pasien (Manula). Bahkan saya rela mencabuti rumput, membersihkan jendela, pintu, kursi, meja, hingga mengepel lantai. Buahnya sungguh luar biasa!

Sang tuan rumah bercerita kepada yang lain. Klien saya jadi bertambah. Kadang saya kuwalahan melayani, karena di luar kerja, saya sibuk berkunjung ke beberapa tempat. Tidak jarang di luar kota.

Bukan hanya materi dalam bentuk uang yang saya terima. Teman dan saudara juga bertambah. Saya dikenalkan kepada rekan-rekan kerja beliau. Beliau yang bekerja sebagai wakil kepala sekolah, seringkali dengan bangga memperkenalkan saya kepada rekan-rekannya, bahwa saya yang merawat Ibunda beliau yang saat itu berusia sekitar 80-an. Beberapa kali rekreasi sekolah saya diajak serta, mulai dari plesir ke Jawa Tengah hingga Bali!

Pada saat sekolah, saya sering diberi teman-teman duit, jajan dan lain-lain, sebagai imbalan membantu mereka. Saya juga beberapa kali diberi duit oleh dosen saya, barangkali melihat saya berwajah 'melas'. Namun, sungguh! Saya tidak meminta-minta pada dosen. Ketika mereka bertanya apakah saya punya duit, jujur saya katakan apa adanya!

Pernah, saya kehilangan pekerjaan. Alhamdulillah Allah Mahapengasih terhadap hambaNya yang berusaha. Saya mencoba kontak teman. Saya tawarkan apa yang saya bisa bantu. Bukan apa yang dia bisa 'bantu' buat saya.

Meskipun ujung-ujungnya, dialah yang membantu saya. 'What can I do for you?' sebuah ungkapan manis dan sopan serta profesional, jauh kedengaran lebih etis ketimbang 'Can you help me?'

Alhamdulillah akhirnya saya bisa dompleng membantu pekerjaannya. Dan subhanallah, hasilnya sungguh di luar dugaan. Karena akhirnya justru membuat saya mampu berkembang dan 'mandiri', meskipun di kemudian hari pekerjaan ini saya harus tinggalkan.

Menawarkan jasa yang bisa kita kerjakan kepada orang lain itu jauh lebih mulia ketimbang meminta-minta. Menawarkan jasa seperti ini tidak membutuhkan uang.

Jadi, di tengah-tengah maraknya orang bingung bagaimana cara mencari kerja guna mendapatkan uang, sebenarnya hanya dengan satu kalimat pendek di atas saja, kita bisa.

Membantu bersih-bersih selokan, membersihkan rumah, pengurusan administrasi di desa, mengumpulkan pembayaran air dan listrik di tingkat RT, menjajakan makanan tetangga ke tetangga lain, adalah lapangan kerja. Menawarkan cuci mobil, laundry, memotong rumput dan tanaman, menjadi peloper koran dan majalah, menawarkan guide ke tourist, bukankah sebuah kerjaan yang halal yang bisa kita kerjakan dan menghasilkan uang?

Kalau ingin lebih profesional lagi, kegiatan di atas bisa dikemas manis. Caranya: bikin kartu nama (hanya bermodal Rp30.000), bikin plakat (Rp 30.000), dan banner (35.000). Total Rp.95.000.  Atau, kalau mau tanpa harus mengeluarkan uang adalah memberikan kursus bagi anak-anak tetangga. Ajarkan anak-anak Bahasa Inggris, Matematika, Geografi, IPA, IPS, hingga pelajaran agama. Pekerjaan ini mulia sekali. Hanya orang yang 'pelit-lit-lit' yang tidak bersedia memberikan imbalan atas kerja keras anda!

Perlu diingat, untuk pertama kalinya, jangan mengedepankan nilai uangnya. Sebaliknya, tunjukkan kesungguhan anda untuk membantu. Anda akan mendapatkan reputasi baik, hingga kepuasan.

Saya yakin, Mario Teguh, tokoh motivator yang terkenal itu memulai dari dasar, sebelum menduduki puncak anak tangga sana. Rasulullah SAW saja, berangkat dengan menggembala domba!

Saya mulai belajar menulis untuk buletin kampus, di awal karier. Buletin ini tentu saja gratis. Kalau anda mengerjakan sesuatu selalu berlandaskan imbalan, maka anda tidak akan pernah memulai sesuatu pekerjaan dengan baik. Oleh karenanya, selalu kedepankan arti sebuah nilai. Bahwa mengerjakan sebuah kebajikan itu, sejatinya adalah buat kepentingan diri sendiri.

Dari belajar menulis di kampus ini kemudian merambat ke profesi. Sebenarnya saya belum puas dengan karya ini, akan tetapi sungguh di luar dugaan, ternyata saya mendapatkan imbalan karena karya ini. Mungkin tidak seberapa besarnya. Setidaknya, ini membantu mendongkrak motivasi untuk tetap menulis dan disebar ke mana-mana. Hanya dengan berbekal waktu, pikiran dan beberapa lembar kertas serta amplop dan perangko, duit sebagai hasil imbalan, mengalir dengan sendirinya.

Ketika mencari kerja, saya dulu juga sering numpang truk atau pick up. Saya tidak malu-malu untuk bertanya kepada sang sopir, apakah diijinkan. Toh saya tidak mencuri atau berniat jahat lainnya. Jadi mengapa mesti malu?

Sore harinya, saya membantu mengajar anak-anak tetangga belajar apa saja yang saya bisa. Minimal saya mendapatkan imbalan makanan. Lambat-laun, duit pun datang.

Mau mencoba?

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan butuh seni. Seni dalam hidup merupakan proses yang semua orang akan mengalaminya. Proses ini tidak selalu sistematis seperti teori pelajaran yang kita terima di sekolah. Kita akan disalahkan apabila mengeja huruf tidak sesuai urutannya.

Sebaliknya, kenyataan dalam hidup seringkali berkata lain. Yang penting kita bisa menyebutkan ke 26 huruf yang ada, memangnya siapa yang menyalahkan?

Maka dari itu, jangan pernah menyerah hanya karena tidak ada uang. Uang hanyalah satu dari sekian unsur atau aspek kehidupan yang pada akhirnya akan mengikuti ke mana anda melangkahkan kaki sepanjang anda lebih mengedepankan kualitas hidup itu sendiri. Percayalah!

Good luck!

Doha, 4 August 2012
hardy.syaifoel@yahoo.com   

THE HIDDEN DRAGON


THE HIDDEN DRAGON


pada 3 Agustus 2012 pukul 9:39 

By Syaifoel Hardy

Sungguh! Bila anda menanyakan bagaimana kualitas teman-teman saya sekolah dulu, saya akan bercerita yang sebenarnya!

Dyah, asal Banyuwangi, menduduki ranking pertama di sekolahnya. Fauzan, yang pintar baca Al Quran, asal daerah yang sama, beda kecamatan, meski dari Madarasah, juga pintar. Ada pula Bagiyo, yang dari Lumajang, di peringkat ke dua. Retno asal Trenggalek yang kuat hapalannya, juga pintar dan rajin.

Ada pula Ali Imron asal Bawean dan Qubbatun Najah, keduanya pandai dan kuat dasar agamanya, tidak ketinggalan. Mirmo dan Hadi, kakak beradik yang menduduki rangking satu dan dua di sekolahnya, bukan suatu kebetulan jika mereka kemudian bareng dan menjadi teman kami yang rajin seklai, selain pinter nyanyi. Ada lagi Ihsan yang selalu tampil rapi, duduk di ranking tiga di sekolahnya, yang pernah menjadi teman se kamar saya. Hingga si Sudarsono, selain pintar di sekolah, juga kerap jadi juru bicara sekolah kami.

Bukan hanya dalam artian intelektual. Edy yang cekatan dalam berolah raga. Si Sutiah yang rajin mengelola Koperasi Sekolah. Sunarsih asal Blitar yang rapi dalam memimpin setiap kerja bakti. Dolina asal Pasuruan yang kerap kali berada di baris depan jika urusan Volley Ball. Herni yang senang mengajak kumpul dan memecahkan masalah rekan-rekan. Lilik yang pandai dan suka urusan konsumsi. Si Prapti yang kini jadi dosen dan kerap kali tampil di depan jika berdiskusi. Sampurno yang kebapakan dan suka menengahi jika ada konflik. Hassan asal Gresik yang cakap di urusan seksi kerohanian. Hingga si Lilis yang suka membantu mereka yang membutuhkan.

Pendeknya, kami yang berjumlah 30 siswa, 20 perempuan, 10 laki-laki, semunya pintar-pintar dan cekatan. Setiap kali ujian atau ulangan, setiap kali itu pula berlomba. Tidak ada siswa yang angkong-angkong santai mengharap nilai tinggi.
Tiap hari yang namanya aula, selalu dimanfaatkan sebagai tempat belajar. Berlomba-lomba meraih prestasi dan menggapai nilai terbaik adalah impian dan harapan setiap individu kami. Semuanya kutu buku. Tidak ada hari luang, meski dosen tidak hadir, kami tetap belajar. Jam-jam kosong selalu diisi dengan kegiatan belajar, diskusi atau praktik di bangsal.

Kami yang waktu itu boleh dikata 'gratis' sekolahnya, karena dibiayai pemerintah, tergolong beruntung sekali. Apalagi sekolah keperawatan masih langka. Jadi, di rumah sakit tempat kami praktik, dengan jumlah tempat tidur lebih dari 500 bed capacity, menjadikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman amat luang. Tidak heran, jika untuk pertolongan persalinan saja, rata-rata setiap siswa pernah menangani tidak kurang dari 20 kasus. Sebuah jenis ketrampilan yang tidak gampang didapat saat ini!

Makanya, begitu lulus, bahkan sebelum meninggalkan asrama, kami sudah menandatangani permohonan untuk menjadi pegawai negeri. Semua rekan-rekan, kecuali saya, saat ini menjadi pegawai negeri sipil. Sebuah kedudukan yang banyak dicari dan sulit sekarang ini.

Potensi yang dimiliki rekan-rekan bukan terbatas pada ketrampilan dan pengetahuan di bangku sekolah saja. Dalam kegiatan ekstra kurikuler, juga luar biasa. Kami biasa menangani kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan baik untuk kepentingan sekolah seperti acara-acara peringatan hari-hari besar nasional, lomba-lomba, hingga saat praktik serta mengadakan demontrasi seperti penyuluhan kesehatan di masyarakat. Kami rata-rata bisa mandiri.

Potensi ini yang membuat saya, di kemudian hari, bersyukur, bahwa dalam naungan nursing education, kami dididik menjadi manusia yang cakap, terampil, berpengetahuan, beretika, memiliki tanggungjawab dan mandiri dalam kerja. Kalaupun ada sinyalemen bahwa profesi ini identik dengan 'pembantu' di bawah naungan profesi lain, hemat saya adalah tergantung, bagaimana kita membawa diri.

Saya pernah mengalaminya, tidak kurang dari 10 tahun bekerja independent, tidak bergantung kepada profesi lain. Bahkan, ketika pihak management menanyakan apakah kami butuh profesi kesehatan lain, saya katakan "No! We can refer to hospital if necessary!"

Jadi, apakah kita mau berdiri sendiri atau bergantung pada orang lain, semuanya adalah pilihan. It is a matter of choice.
Saya melihat potensi besar yang dimiliki setiap mahasiswa keperawatan. Hampir semuanya pintar-pintar. Namanya juga mahasiswa, mereka perlu belajar. Jika berbuat salah, siapa sih yang hidupnya sempura? Adalah tugas dosen/guru/kampus/masyarakat, meluruskannya.

Mahasiswa butuh pembinaan dan arahan akan dikemanakan mereka. Mereka harus diberikan kuliah, ilmu pengetahuan dan ketrampilan serta ditambah wawasan, agar terbuka dan mampu mencerna, bahwa kehidupan mereka di depan perlu dirancang dengan baik.

Mahasiswa sendiri harus menyadari bahwa tugas-tugas mereka memang berat. Kalau harus sibuk waktu kuliah, memang itulah konsekuensinya. Orang yang sibuk, pikirannya jalan. Pekerjaan apakah itu membaca, diskusi, praktik, sharing pengetahuan, mendengarkan ceramah, analisa, mencatat, observasi, identifikasi, evaluasi, follow up, adalah sederetan aktivitas yang perlu disadarii oleh mahasiswa sebagai kegiatan rutin yang harus disukainya.

Suka atau tidak, kegiatan-kegiatan inilah yang membuat mereka nanti akan menjadi bintang!

Ada memang sejumlah mahasiswa yang kurang peduli dengan masa depan mereka. Seolah-olah ayah, ibu, paman atau saudara mereka yang memiliki kedudukan, kekayaan, bisnis dan perusahaan serta apapun jabatannya, mampu menjamin kehidupan masa depan mereka nanti. Sehingga tidak sedikit di antara mahasiswa seperti ini yang acuh tak acuh terhadap tugas kampus.

Akibatnya, potensi yang dimiliknya menjadi tumpul. Pisau yang mestinya tajam, ternyata tidak sanggup bahkan bila digunakan untuk memotong Roti Blu sekalipun. Sayang sekali.

Ada masa-masa di mana kita membutuhkan bantuan orang lain. Akan tetapi, sebagai profesional, kemampuan berdiri sendiri itu jauh lebih penting, utamanya menyangkut pengambilan kepuutusan. Contoh kontrit untuk kasus ini apabila kita ditugaskan di daerah terpencil di mana kita seorang diri harus mengatasi segala persoalan di tempat kerja kita.

Kemampuan pengambilan keputusan ini harus dipelajari dari awal. Dan waktu terbaik adalah saat menjadi mahasiswa.
Saya melihat tantangan ke depan generasi muda nursing kita ini sungguh besar. Di lain pihak, mereka pada dasarnya juga mengangtongi potensi yang luar biasa di dalam dirinya. Kedua-duanya membutuhkan pembinaan yang tepat.

Potensi yang ada perlu dikembangkan dan arahan. Sedangkan tantangan di depan juga perlu dijabarkan bagaimana kemungkinan penanggulangannya.

Apabila kedua-duanya berjalan seiring, maka saya yakin, yang namanya pengangguran di antaran nursing profesional tidak bakalan terjadi. Karena setiap inidividu bakal mampu mengembangkan potensi dirinya. Jika perlu mereka bakal sanggup menciptakan lapangan kerja sendiri, tanpa perlu menjadi pegawai negeri.

Kegelisahan terjadi dan banyak dialami oleh profesi ini karena sewaktu di bangku belajar, mereka banyak dicekoki materi-materi kuliah yang bersifat teoretikal. Bukannnya praktikal. Seharusnya, mereka diberikan mareti riil yang ada di masyarakat dan bagaimana menanggulanginya.

Misalnya, kiat bagaimana menciptakan lapangan kerja dalam profesi ini, seharusnya diajarkan dalam mata kuliah nursing management. Entrepreneurship juga perlu diperkenalkan, tidak terkecuali kita-kita berbisnis.

Demikian pula kemampuan lain seperti communication and presentation skills. Jika perlu, nurses menjadi pemandu sebuah acara kesehatan di televisi adalah sebuah harapan lowongan pekerjaan baru yang perlu dilirik.

Nurses pun bisa menjadi seorang penulis jika sewaktu belajar kemampuan menulisnya dipertajam. Jangan hanya menyusun laporan atau study kasus dari hasil nyontek! 

Di rumah sakit atau balai kesehatan selama ini, kursi bagian managemen banyak diduduki oleh orang-orang dari profesi non-kesehatan. Jika nurses yang sewaktu kuliah banyak belajar tentang kesekretariatan serta mahir di komputer, mengapa mesti di kemudian hari nurses hanya berada di garis belakang, sementara bagian administrasi ditangani oleh orang-orang non-kesehatan yang notabene 'buta' akan kerumahsakitan?

Sudah saatnya nurses bangkit dan menunjukkan potensi besar yang selama ini tersembunyi. Tunjukkan kepada dunia bahwa anda semua adalah profesional pintar, cakap dan handal, yang meiliki multi-competensy dan mampu mengerjakan tugas besar. Dengan berbekal multi-skills ini, sampaikan kepada masyarakat bahwa anda adalah orang yang sangat tepat untuk mengerjakan banyak hal.

Kalau saja nurses mau jujur, sungguh, semua pekerjaan di RS dapat dikerjakan oleh nurses sekarang ini. Mulai dari persoalan terima pasien, pencatatan pelaporan, library, laboratoirum, X Ray, tata usaha, gudang, kantin, gawat darurat, kamar operasi, ICU, bangsal, kamar mayat, hingga perkantoran direksi!

Jika anda ragu tentang kemampuan diri sendiri, bukan tidak mungkin, di masa depan nanti, pekerjaan yang saat ini tengah anda geluti, bakal direbut oleh orang lain! Bukankah sudah mulai ada tanda-tandanya!

Jadi, tunggu apa lagi? Bangkit dan gali potensi anda serta kuasai dunia!

Good luck!

Doha, 2 August 2012
hardy.syaifoel@hyahoo.com

Brain Drain of Indonesian Nurses


Brain Drain of Indonesian Nurses


pada 31 Juli 2012 pukul 20:24 

By Syaifoel Hardy

Saya pernah bekerja sejak jam 06.30 pagi hingga jam 9.30 malam sampai di rumah. Pagi hari mengajar hingga jam 14.00. Sore hari memberikan kursus di beberapa tempat, biasanya sampai jam 17.30 sore. Sesudah itu menulis artikel yang saya ‘jual’ ke berbagai majalah. Di rumah, masih harus disibukkan dengan persiapan mengajar esok harinya. Itu belum terhitung jika ujian. Harus menyiapkan soal dan koreksi.

Rutinitas seperti ini berlangsung tidak kurang dari empat tahun. Sesudah itu, saya berpikir, sampai kapan saya harus seperti ini?

Benar, bahwa saya memang butuh duit. Duit ini saya gunakan untuk berbagai kebutuhan dan kepentingan. Buat diri sendiri dan keluarga. Termasuk sumbangan buat Ibu dan adik-adik. Itupun belum cukup. Maklum, manusia seperti saya, cenderung selalu kurang puas.

Kekurang-puasan itu saya hitung dengan pemasukan yang saya peroleh tiap bulan yang ternyata belum cukup untuk, jangankan menabung, travelling saja ke provinsi tetangga tidak mampu. Mungkin kalau terbatas membeli T-shirt atau baju setiap bulan, bisa jadi OK lah.

Dari sana kemudian saya berpikir: “Saya harus berubah!” Perubahan ini tentu perlu diikuti dengan langkah-langkah yang konkrit.

Waktu itu saya memasuki Semester tujuh, jurusan Bahasa Inggris. Jadi sambil tetap bekerja di beberapa sekolah, memberi kursus dan juga kuliah lagi, saya menyoba mencari informasi tentang pemberangkatan Indonesian Nurses ke luar negeri.

Sesudah menunggu empat tahun lamanya, saya baru bisa berangkat. Ke Kuwait tepatnya. Kejadiannya sudah lama sekali. Tahun 1993 precisely!

Waktu itu, jumlah Indonesian nurses yang berangkat ke luar negeri sedikit sekali. Yang ke Kuwait hanya 150 orang. Menyusul Saudi Arabia, sekitar 200 orang-an. Saya lupa angka pastinya.

Sejak saat itu, kami yang merasa berada di gelombang ke dua pemberangkatan Indonesian nurses ke luar negeri, mulai melihat tanda-tanda, bahwa sudah saatnya Indonesian Nurses bangkit dan dikenal dunia!

Perlahan. Perlahan sekali, jumlah kami merangkak, meningkat, dari tahun ke tahun. Tetapi angkanya tidak significant! Saya katakan demikian karena kacamata saya membandingkan dengan nurses from other countries.

Betapa besar tantangan nurses kita! Itulah kesan pertama ketika kaki ini menginjak bumi Timur Tengah, awal Maret 1993. Di musim dingin yang sangat menggigit.

Saya hanya sendirian yang berasal dari Indonesia di sebuah bangsal di Mubarak Al Kabeer Hospital. Beberapa rekan Indonesia lainnya, rata-rata juga sendirian. Kalaupun ada yang dua orang satu bangsal, mereka dinasnya tidak bareng. Tentu saja ada keuntungan dan kerugian dari aturan dinas yang terpisah di antara kami ini. Saya ambil sisis positifnya saja!

Sebagai satu-satunya orang asal Indonesia, kendalanya bukan hanya sosial budaya yang berbeda. Secara psikologis, terkadang saya merasa tidak mendapatkan dukungan atau support. Sangat berbeda kondisinya dengan teman-teman dari negara lain yang jumlahnya begitu banyak.

Namun hidup ini harus jalan terus! Saya tidak ingin mengecewakan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, profesi dan juga bangsa Indonesia.

Saya memang bukan sosok seorang presiden. Tetapi keberadaan saya di bangsal, seperti memanggul seluruh kepulauan Indonesia beserta nama baiknya. Saya adalah the Ambassador of Indonesia!

Berat dirasa dalam bulan-bulan pertama. Ada kalanya ingin pulang saja! Tapi apakah dengan pulang, lantas bakal menyelesaikan masalah?

Lama-lama juga kerasan, terutama bila tanggal 27 setiap bulannya. Anda tahu mengapa? Tanggal itulah kami terima gaji.

Gaji saya waktu itu jika boleh saya ukur sekitar 10x lipat gaji saya di Tanah Air. Senang sekali. Dengan gaji besar, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari pemenuhan kebutuhan pribadi, bantu orangtua, adik-adik, saudara yang membutuhkan, hingga amalan kebaikan lainnya yang semula tidak mungkin, lantaran keterbatasan dana ini.

Namun sungguh, bukan karena persoalan uang saja yang membuat saya kerasan tinggal di luar negeri.

Tiap pulang kampung saat cuti, bisa mampir-mampir ke negara lain. Teman jadi banyak. Pergaulan luas. Ketrampilan tambah. Wawasan jadi lebar. Kemampuan berbahasa makin tajam. Problem solving skills juga meningkat, ketahanan stress juga lebih kuat. Dan…sebagai muslim, kesempatan bisa menunaikan ibadah Umrah dan Haji jadi makin transparan. Alhamdulilllah.

Keuntungan jika bekerja di luar negeri memang tidak cukup jika saya gambarkan dalam uaraian kata-kata saja. Lebih dari itu! Kepuasan kerja juga menjadi salah satu pertimbangan utama. Karena tujuan utama kami adalah bekerja.

Saat saya ketik artikel ini (terkadang saya menuliskan sejumlah paragraf di tempat kerja), seorang rekan kerja, bersama suaminya, menawarkan untuk dolan ke rumahnya. Mengundang dinner, di rumah baru yang baru saja pindah. Semalam, juga diundang makan bersama di rumah sebuah keluarga Indonesia.

Ah! Jika hanya soal makanan, jangan tanya! Tidak akan pernah akan habisnya. Dan di luar negeri, meski tidak ada rujak bali, kolak, dawet, bakso, belut, pecel lele, siaomay, rujak cingur, jenang dan aneka makanan tradisional lainnya, luar negeri menawarkan makanan dalam bentuk lain, dari negara lain. Dengan warna corak serta aroma yang tentu saja berbeda. Dan kelasnya, tidak kalah dengan yang saya sebutkan di atas! Kecuali lidah kita ‘mati’ atau tidak doyan makanan orang-orang dari lain bangsa yang tidak jarang ‘aneh’ di lidah ini.

Barangkali itulah sejumlah daya tarik, mengapa rekan-rekan seprofesi dari berbagai negara membanjiri negara tertentu guna mendapatkan pekerjaan di sector nursing ini. Karena nursing profession sangat menjanjikan. Menjanjikan bukan hanya duit saja.

Tanpa bermaksud mengagung-agungkan rekan-rekan yang saya pernah berbagul, apakah itu selama di Kuwait, United Arab Emirates, Saudi Arabia, Qatar, Malaysia, Belanda, Singapore, Canada, USA dan Australia, yang pernah   kontak dengan saya baik langsung maupun lewat forum dunia maya, mereka benar-benar professional dan luar biasa.

Jumlahnya saat ini tidak banyak jika saya bandingkan dengan degara seperti India atau Filipina. Tetapi, mereka adalah warga Indonesia dari kalangan nursing professional yang terbaik. Jika tidak percaya silahkan diuji, minimal dari segi bahasa.

Kelebihan lain dari rekan-rekan kita yang tinggal di sana adalah mentalitas yang terbina. Kedisiplinan yang teruji. Training yang handal dan kelasnya internasional. Daya tahan terhadap stress. Keberanian menghadapi masalah dan risikonya. Kejelian dalam travelling. Wawasan yang makin luas. Kepiawaian dalam hubungan sosial antar negara. Ah, capek sekali bila harus saya sebut satu persatu!

Saya yakin dan percaya, nursing professional di Indonesia ini mengetahui betapa banyak keuntungan jika harus bekerja di luar negeri. Pasti sebagain besar akan membanjiri bursa pasar kerja di luar negeri.

Mungkin bukan saat ini. Namun akan datang masanya, bahwa Indonesia, di era pasar globalisasi ini bakal berubah atau sedikitnya meninjau kembali kebijakan pengiriman tenaga kerja di bidang nursing ini ke depan. Tidak lain agar tidak terjadi pengangguran atau peledakan jumlah tenaga trampil nursing professional yang hidupnya kurang layak di negeri sendiri.

Di pihak lain, saya turut sedih jika sedang cuti ke Indonesia disindir, seolah saya tidak peduli dengan profesi ini di Bumi Pertiwi. Padahal, sudah berupaya keras, bahwa kami turut membangun Indonesia, dari negeri seberang. Kami bersama warga Indonesia lainnya, bahu membahu, memikul berat beban bangsa ini dengan cara tersendiri, yang bisa jadi ‘rada aneh’ di hadapan teman-teman di dalam negeri.

Sungguh saya amat kuatir, sebagai pribadi dan anggota profesi apabila profesi yang satu ini tidak mendapatkan perhatian atau perlakukan yang cukup dari Pemerintah dan asosiasi profesi. Ke depan, bukan tidak mungkin, akan terjadi pelonjakan jumlah imigran nursing professional ke luar negeri. Tepatnya dinamakan sebagai Brain Drain ini.

Brain Drain ini berpotensi mengakibatkan keluarnya tenaga-tenaga ahli kita yang terampil, pintar dan cekatan serta memiliki dedikasi yang tinggi ke negeri asing. Kita bisa bayangkan, apabila sebuah gedung yang kokoh berdiri di sebuah wilayah daratan yang terkena erosi. Lambat laun akan runtuh.

Yang saya tulis di sini tentu saja bukan sebagai harapan. Apalagi ramalan sekelas Joyoboyo! Tetapi, apa salahnya memprediksi sesuatu yang sudah terlihat titik-garisnya. Bahwa jika tidak disiapkan segala sesuatunya, yang namanya kata penyesalan, memang, tidak akan pernah berada di baris depan!

Doha, 31 July 2012
Hardy.syaifoel@yahoo.com

INDONESIAN NURSES: JAGO KANDANG ATAU KANDANGNYA JAGO


INDONESIAN NURSES: JAGO KANDANG ATAU KANDANGNYA JAGO


pada 29 Juli 2012 pukul 21:10 ·

By Syaifoel Hardy

‘There are 19.3 million nurses and midwives according to the World Health Organization's World Health Statistics Report, 2011’. Mayoritas berada di Amerika Serikat sekitar 3 juta nurses. Di India, ada sekitar 1.5 juta. Sedangkan di Asia Tenggara, diperkirakan berjumlah 2,3 juta.

Di Indonesia, diperkirakan terdapat 12-13 nurses setiap 10.000 penduduk. Berarti, tidak kurang dari 315.000 nurses yang tersebar di negeri ini.

Bila mengikuti langkah AS yang penduduknya 350 juta, ketiga terbesar di dunia, sementara Indonesia menduduki peringkat ke 4, seharusnya jumlah nurses di negeri ini, lebih dari 2 juta jiwa. Sedangkan jika mengikuti langkah yang ditempuh India yang penduduknya sekitar 1,2 milyar jiwa, dalam artian kuantitas, rasio kita sudah memadai. Rasio perbandingan dengan jumlah penduduk dan perawat di negeri ini, berkisar 1000:1.

Sepuluh tahun terakhir ini, jumlah lembaga pendidikan nursing maju pesat. Saat ini tidak kurang dari 700 institusi. Jika setiap institusi meluluskan setiap tahunnya rata-rata 100 orang saja, maka ada 70.000 fresh graduate nurses yang bertambah. Berdasarkan angka ini, meski tidak menutup kemungkinan bahwa lulusan pendidikan nursing tidak selalu bekerja sesuai dengan profesinya, saya yakin, jumlah nurses di Indonesia mestinya jauh melebihi perkiraan WHO.

Artikel ini berusaha untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh Indonesian nurses, potensi karier yang bisa ditembus dengan modal clinical skills serta kendala yang dihadapi.

Semakin maju peradaban sebuah negara, semakin sedikit angka kesakitan dan kematiannya. Beberapa negara seperti USA, Jepang, Inggris, Perancis, Australia dan Canada, terhitung sebagai negara-negara yang sudah maju. The USA misalnya, sebagai sebuah negara maju, selalu butuh nurses dalam jumlah yang besar setiap tahunnya. Bahkan jumlahnya terbanyak di dunia. Ini sebagai bukti bahwa tuntutan mereka terhadap kebutuhan nurses bukan semata mengandalkan perbandingan rasio nurse:patient.

Manusia yang peradabannya sudah maju, di mana angka kesakitan dan kematiannya makin kecil, justru jarang sakit atau tinggal di RS. Itu tidak berarti bahwa mereka tidak membutuhkan healthcare services. Mereka yang tinggal di rumah, pasar, supermarket, kantor, mall, bisokop, tempat hiburan, taman-taman, perusahaan, industri hingga di daerah pertambangan dan lepas pantai, semunya membutuhkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang mereka kehendaki adalah pelayanan paripurna, yang tidak lepas dari nursing care intervention.

Tiga tahun lalu, saya sempat diundang oleh dua kampus untuk terlibat dalam pembinaan mahasiswa yang ditempa dalam program khusus, Program Diploma Keperawatan Jurusan Internasional. Tepatnya di Malang dan Surabaya.
Saya akan cerita tentang salah satunya!

Memasuki kelas untuk pertama kali, waktu itu di Malang, jumlahnya mengagumkan. Hanya 19 orang. Tanpa bermaksud menyanjungnya, mahasiswa ini jumlahnya terkecil yang pernah saya temui dalam perjalanan karier profesi. Mereka semuanya smart.

Saya gunakan kata smart, lebih tepat ketimbang pintar. Mereka rata-rata menduduki prestasi di sekolahnya. Cerdas sebelum masuk kampus. Test TOEFL juga diberlakukan sebagai salah satu syaratnya. Makanya, saat di kelas, kami gunakan medium bahasa Inggris, meski tidak sepenuhnya. Namun nyantol!

Mengajar mahasiswa dalam jumlah sedikit, sangat efektif. Apalagi ditunjang dengan kualitas atas hasil penyaringan sebelum masuk. Klop.

Di depan saya, adalah mahasiswa tepat jurusan yang memiliki motivasi tinggi dan potensi menjadi qualified nurses.
Hampir setiap kali cuti, setiap kali itu pula saya bertemu mereka, dengan beragam mata kuliah yang terkait dengan international issue. Saya bersemangat dan melihat generasi muda yang makin semangat pula!

Tiga tahun kemudian, saya diundang lagi oleh kampus yang sama, dalam acara Wisuda. Tidak lain, mereka lah yang diwisuda.  Karena satu dan lain hal, kini jumlahnya hanya 17 orang.

Dalam salah satu pertanyaan saya di depan forum tidak kurang dari 300 orang, saya bertanya kepada salah satu calon wisudawan ini, saya undang berdiri di depan. Tentang rencana kerja mereka. Sungguh sangat di luar dugaan, bahwa 100% mereka sudah dipesan! Alias mendapatkan kerja!

Mereka kini sudah menyebar. Beberapa ada yang di luar negeri, termasuk Jepang. Ada yang di perusahaan. Ada pula yang bekerja di sejumlah RS internasional dan BUMN. Beberapa ada di Facebook saya!

Penyelenggaraan pendidikan yang saya ceritakan di atas merupakan contoh pendidikan ideal. Yang mengutamakan kualitas. Bukan kuantitas.

Ketika saya tanyakan kepada Program Coordinator nya, mengapa program yang sama tidak dilanjutkan. Jawabannya, ini adalah proyek pemerintah yang tentu saja membutuhkan anggaran tersendiri. Tidak setiap tahunnya tersedia meski penyelenggara mau menjalankan program. Lagi pula, menguras tenaga dan pikiran. Namun hasilnya, memang memuaskan.

Tantangan kita ke depan seharusnya memang menyelenggarakan pendidikan berkualitas yang berorientasi bukan hanya pada hasil. Akan tetapi juga pasar.

Apa yang saya ceritakan di atas merupakan contoh keberhasilan yang jarang kita lirik. Bahwa jika kita fokus pada kualitas, maka pasar akan berbondong-bondong membelinya, habis!

Jika sebaliknya, maka pasar tidak akan peduli. Akibatnya, berhamburanlah jumlah nurses, mulai dari harga yang termurah hingga tidak ada yang tertarik untuk 'menggunakannya' sama sekali.

Manusia selalu membutuhkan pelayanan kesehatan sepanjang hidupnya. Sejak lahir hingga matinya. Sepanjang proses ini, keberadaan nurses tidak akan pernah dikesampingkan.

Tetapi perlu diingat, bahwa masyarakat makin cerdas. Mereka seperti raja, yang punya hak prerogatif untuk memilih yang terbaik. Semakin tinggi kemampuan daya beli mereka, semakin tinggi tuntutan kualitas barang-barang yang dikonsumsinya. Tidak terkecuali nursing services.

Menurunnya jumlah angka kesakitan seharusnya menjadikan nurses bisa bernafas lebih lega. Karena kini, nurses tidak harus berkutit dengan clinical skills di RS, klinik atau balai kesehatan saja. Nurses bisa merambah luas di cabang-cabang pelayanan kesehatan lainnya.

Nurses bisa bekerja tidak kurang dari 60 cabang spesialisasi. Di samping itu, nurses juga bisa merangkap, apakah sebagai dosen, trainer, konsultan, entrepreneur, health advisor, penulis, editor, motivator dan sebagainya.

Inilah kesempatan sekaligus tantangan yang sedang kita hadapi dan di masa mendatang!

Saat ini, kurang dari 10.000 Indonesian nurses yang bekerja di luar negeri. Sementara pasar luar negeri sangat luas dan membutuhkan nurses. Kita harus membuka mata lebar. Meningkatnya kebutuhan hidup individual, menjadikan Indonesian nurses sebagian besar kurang puas dengan imbalan yang diperolehnya. Dampak dari minimnya penghasilan ini bisa 'berbahaya'. Salah satunya adalah terjadinya 'malpractice'. Bila tidak diantisipasi dan dicarikan jalan keluarnya, kecenderungan praktik seperti ini bakal mencoreng reputasi Indonesian nursing.

Ada banyak cara guna mempersiapkan agar Indonesian nurses bisa jadi jago dan sigap menghadapi masa depan dan segala tantangannya. Indonesia pun bisa jadi ladangnya jago nursing yang siap bertarung di arena internasional. Bukan hanya tarungan di negeri sendiri. Jadi jago kandang!

Cara yang paling efektif dan efisien adalah lewat kampus. Hanya saja, guna mempersiapkannya, perlu ditopang oleh sejumalh elemen yang handal. Dosen yang berkualitas, kurikulum yang pas, sarana dan prasarana belajar termasuk laboratorium yang memadai, tempat praktik lapangan yang sesuai serta adanya sistem yang mapan akan kontinuitas pembinaan karakter mahasiswa.

Jika ini terwujud, maka Indonesia bakal menghasilkan nurses seperti yang saya contohkan di atas. Tiap sekolah hanya menelorkan 17 lulusan yang dijamin kualitas dan masa depan kerjanya jauh lebih baik, ketimbang 200 orang sarjana tiap tahun di tiap sekolah, yang tidak jelas arahnya!

Doha, 29 July 2012
hardy.syaifoel@yahoo.com  

Indian & Filipino Nurses: Controlling Job Market


Indian & Filipino Nurses: Controlling Job Market


pada 28 Juli 2012 pukul 10:51

By Syaifoel Hardy

Sekitar satu tahun lalu, saya kedatangan tamu seorang dokter ahli bedah dari Dubai. Dokter tersebut saya kenal baik, karena kami sama-sama bertugas memberikan pelayanan kepada Jamaah Haji di tahun 2007.

Tujuan utama kedatangan ke Qatar adalah mencari kerja. Padahal, dia sudah 'mapan' di UAE, bekerja di RS milik Pemerintah. Sebuah pekerjaan yang sangat dinantikan oleh sebagian besar ekspatriat (untuk selanjutnya akan saya sebut sebagai Diaspora).  Apalagi kedudukannya sebagai ahli bedah.

Ketika saya sampaikan hal ini kepada Manager di mana saya bekerja, sang manager bertanya apa kebangsaannya. Saya jawab: "Indian!" Karena sudah ada pembatasan quota bagi Indian di perusahaan kami. Meski pun, waktu itu, kami sedang membutuhkan. Apalagi, dalam artian kualifikasi, sang dokter yang sangat memenuhi persyaratan, tidak dapat diterima. Kata sang manager: We will accept, if he were Indonesian!"

Lain dokter, lain pula nurses.

Beberapa perusahaan swasta yang kami sebut sebagai Joint Venture Companies (JVCs), pelayanan kesehatan mereka umumnya diberikan oleh nurses. Selama ini yang saya ketahui, hanya Indian dan Filipino nurses yang bekerja. Meski di sebuah negara Arab, tidak seorang Arab pun nurses yang bekerja di JVC tersebut. Sebuah fenomena yang layak dikaji.

Indian dan Filipino nurses, mendominasi. Jangankan di Middle East, di dunia juga, di banyak negara-negara besar, kedua kebangsaan nurses ini dengan mudah ditemui. Pada tahun 2008, terdapat 12.000 Indian nurses di USA sedang menunggu relaksasi formalitas visa. Itu belum terhitung yang sudah menjadi warga negara.

Di Australia, South Africa, Canada, UK, dan lain-lain, juga terjadi fenomena serupa. Jadi benar kata the Economic Time di salah satu edisinya di bulan Desember 2003, bahwa: "Indian Nursing Council (INC) has decided to convert around 700 nursing schools across the country into full-fledged colleges, with effect from 2005. Already, Indian nursing has a strong presence in the global market."

Kecenderungan yang sama terjadi pada Filipino nurses. Di Amerika Serikat, pada tahun 2001 saja, sudah terdapat 48.000 Filipino nurses. Angka yang diperoleh menurut data dari Philipine Overseas Employment Administration (POEA) ini membuktikan bahwa bersama India, Filipino nurses turut mendominasi nursing world's job market.
Mengapa bisa terjadi demikian?

Artikel ini bermaksud memberikan gambaran, bukan analisa detail yang ditunjang statistik, tentang latar belakang mengapa Indian dan Filipino nurses bisa menguasai pasar nursing job di Middle East, tempat di mana penulis bekerja 18 tahun terakhir ini.

Pertama, kondisi sosial. Jumlah komunitas Indian atau Filipin tergolong mayoritas. Di UAE, ketika penulis bekerja dari tahun 1996-2007, jumlah populasi Indian sekitar 40% dari total diaspora. Diaspora yang tinggal di UAE lebih dari 60%. Jadi, Indian terhitung mayoritas. Waktu itu, warga Indonesia mencapai angka 40,000 dari total populasi 5 juta.
Populasi yang besar ini tentu saja merupakan kekuatan tersendiri. Hampir tidak ada sebuah departemen pun dalam pemerintahan yang tidak ada orang India nya. Hal yang sama terjadi pada orang Filipin, meski jumlahnya tidak sebanding dengan India.

Keberadaan mereka di berbagai sektor ini, secara sosial tentu saja ada efeknya. Minimal dalam masalah pendekatan. Orang India dan Filipin misalnya, salah satu dampak positif secara sosial adalah dalam hal perolehan visa, lebih tahu dan tidak sulit birokrasinya. Karena, mereka ada di mana-mana. Secara sosial tentu saja mendapatkan dukungan.

Belum lagi dalam perolehan informasi masalah kerjaan. Jika yang duduk di atas sana adalah  dari golongan mereka, otomatis orang paling cepat yang mendapatkan bocoran informasi adalah dari mereka sendiri.

Sementara, hampir tidak saya temukan orang Indonesia yang bekerja di sektor pemerintah atau private business yang cukup diandalkan. Tentu saja, ini sangat berpengaruh. Bagaimana mungkin Indonesian nurses akan dengan mudah berseliweran ke negara-negara ini jika secara sosial kurang mendapatkan dukungan?

Kedua, dari segi politik-birokrasi. Orang India dan atau Filipina paling ulet dan pinter 'bergaul' untuk urusan kemudahan birokrasi ini. Saya melihat sendiri bahkan seorang Office Boy atau driver, bisa 'menembus' birokrasi, lantaran kedekatan dengan boss mereka.

Lain dengan kedudukan PRT kita di Timur Tengah sana yang jarang memiliki ketrampilan ini kalau boleh saya katakan. PRT kita paling banter membawa sesama PRT. Tetapi, orang India atau Filipin, bisa membawa manager, businessman, engineer hingga nurses dengan mudah. Mengapa? Karena faktor kedekatan yang membawa pengaruh politis.

Demikian pula dengan maraknya jumlah populasi mereka di kantong-kantong pemerintahan bahkan yang strategis. Tentu, akan sangat berpengaruh dalam hal proses rekrutment. Akibatnya, bisa diduga. Bagaimana mungkin sebuah RS akan merekrut orang Indonesia jika sang Assistant Director of Nursing, Admin, Nurses, office boy hingga cleaner semuanya didominasi orang India? Sebagian di tangan orang Filipina.

Belum lagi, pasien di RS, Klinik dan balai kesehatan swasta lainnya rata-rata berasal dari negara mereka juga. Jadi, secara politis birokrasi, sangat bisa dimengerti jika akhirnya pilihan utama rekrutmen diberikan kepada India dan Filipino.

Tetapi, bukankah di USA jumlah Indian dan Filipino tidak sebanyak atau bukan mayoritas? Mengapa jumlah nurses mereka mencapai angka ribuan?

Di sinilah kita ditantang. Bahwa Filipino dan Indian nurses, lebih 'gesit' dalam mencari peluang dan tidak kenal menyerah. Tentu saja, meski bukan satu-satunya faktor penentu, dari segi bahasa, mereka lebih siap!

Yang lebih penting lagi adalah dukungan pemerintah dan profesi mereka di dalam negeri. Di India dan Filipina, mereka sangat mendukung program ini. Nyaris tidak ada kesulitan perolehn dokumen, mulai dari passport hingga tetek-bengek profesional yang mereka butuhkan. Maklum, untuk urusan nursing ini, mereka sudah memiliki Nursing Council atau Nursing Board, sementara di Indonesia, tanda-tandanya saja belum kelihatan. jadilah birokrasinya berbelit. Ini menjadikan salah satu kendala terbesar mengapa healthcare provider lebih menyukai dari India dan Filipina yang sudah established sistem nya.  

Ketiga, faktor ekonomi. Di tahun 2012 ini, menurut daftar GDP, India berada di urutan 12. Indonesia menempatai urutan ke 18. Sedangkan Filipina ke 48. Pada tahun 2000, India menduduki peringkat ke 6, Indonesia ke 10 dan Filipin ke 26. Dari daftar ini, India memang lebih maju ketimbang Indonesia. Namun bukan menjadi faktor penentu yang membuat jumlah nurses yang bekerja di luar negeri semakin membengkak dan menguasai pasar. Kenyataannya, Filipina berada jauh di bawah Indonesia. Tapi mengapa Filipino nurses ribuan yang bereda di luar negeri? Mestinya, Indonesian nurses lebih siap secara finansial ketimbang Filipina kan?

Faktor psiko-sosial. Orang India dan Filipina memang lebih nekad. Salah satu bukti yang bisa diukur dalam perolehan lapangan kerja bagi nurses ini adalah proses rekrutmen jalur formal. Selama ini, Indonesian nurses lebih bergantung kepada jalur formal, apakah itu lewat pemerintah atau PJTKI. Tidak demikian yang terjadi pada Indian atau Filipino nurses.

Mereka banyak yang datang dengan visa yang mereka urus sendiri. Mencari kerja di negera di tempat mereka berada. Menelusuri setiap kesempatan yang ada. Jika perlu mereka tidak bekerja sebagai nurses langsung. Ada yang bekerja sebagai admin atau first aider.

Kegigihan ini berpengaruh besar. Semangat mereka memperoleh kerja di luar negeri tidak didasarkan kepada kualifikasi akademik yang mereka kantongi menjadikan motivasi besar yang membuat karier mereka berubah.
Ada beberapa contoh yang saya temui langsung. Contoh yang saya belum pernah menemui dan terjadi pada orang Indonesia, kecuali istri yang mengikuti suami. Artinya, si istri perawat dan suaminya mendapatkan pekerjaan lebih dulu. Bukan start dari nol!

Kesimpulannya: jika Indonesian nurses ingin mencapai kedudukan seperti yang dilakukan oleh Indian dan Filipino nurses dalam perolehan kesempatan kerja di luar negeri, tidak ada langkah yang lebih baik, kecuali menyontoh apa yang telah mereka lakukan. Tanpa harus study banding ke negeri mereka.

Perlunak birokrasi, dukung Indonesian Nurses bekerja di luar negeri yang sekaligus bakal mengurangi angka pengangguran, perbaiki sistem pendidikan yang lebih menginternasional, berikan tambahan wawasan kepada yunior Indonesian nurses tentang kesempatan luas dan ketatnya persaingan ini, tingkatkan motivasi mereka untuk berani menantang masa depan ke arah yang lebih baik, dan buktikan, bahwa keberadaan nurses selalu dibutuhkan ke depan serta memiliki prospek kerja yang bagus di luar negeri. Jauh melebihi profesional lain di negeri sendiri!

Good luck!

Doha, 28 July, 2012
Syaifoel Hardy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...