Senin, 23 Juli 2012

Tahlilan, Yasinan dan Integrasi Sosial


Tahlilan, Yasinan dan Integrasi Sosial
Oleh
Hildan Fathoni



Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman,

Sebenarnya setelah tadarrus, malam ini saya maunya langsung istirahat. Akan tetapi ada sedikit ide yang membuat saya enggan beranjak dari depan laptop. Ide kecil ini adalah refleksi mulai dari masa kecil hingga saya berkeluarga saat ini. Ide tersebut adalah tentang TAHLILAN dan YASINAN.

Ada beberapa hal yang membuat perenungan saya semakin dalam, diantaranya :
1.    Saya berasal dari Desa Jambangan, Kecamatan Dampit yang merupakan wilayah Kabupaten Malang. Di desa asal saya ada banyak sekali jama’ah pengajian, baik itu tahlilan, yasinan, pengajian keluarga, kadrahan/hadrah mau pun pengajian rutin ibu-ibu pada hari Jum’at. Belum lagi pengajian kematian dan hajatan yang sifatnya incidental
2.    Saat ini saya sudah membina rumah tangga dan tinggal di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun yang merupakan wilayah Kota Malang. Disini hanya ada pengajian umum mingguan untuk ibu-ibu dan beberapa jama’ah yasinan untuk remaja dan anak-anak. Untuk bapak-bapak hanya ada pengajian incidental untuk sunatan, pernikahan, hajatan dan kematian.

Kondisi saat ini di perkampungan tempat saya tinggal, sangatlah jarang terjadi interaksi antar warga. Walapun warga disini sangat guyub seperti warga di desa saya, tetapi interaksi “mesra” tidak memiliki sarana untuk dilakukan. Hal ini menyebabkan interaksi sosial sangat lah dangkal dan sekedar “tambal butuh” (sesuai kebutuhan).

Kontroversi TAHLILAN & YASINAN
Sampai saat ini saya masih belum paham dengan pemikiran beberapa pihak yang melarang tahlilan dan yasinan, walaupun dengan dalih ibadah jenis ini tidak pernah disyariatkan oleh Kanjeng Nabi. Sebagai informasi, saya bukanlah ahli agama yang akan mengupas hal ini dari segi syara’. Saya hanya seorang biasa yang melebur di masyarakat dan berusaha menarik benang merah dari fenomena tahlilan dan yasinan.

Kembali ke tema penolakan terhadap tahlilan dan yasinan. Ketika saya mengikuti jama’ah tahlil dan yasin, niatan utama yang muncul adalah bersosialisasi sekaligus beribadah. Sama sekali tidak terpikir untuk ”HITUNG-HITUNGAN PAHALA” dengan Gusti ALLOH. Pikiran sederhana saya hanya berkata :

“Ayo datang TAHLILAN supaya bisa ketemu tetangga. Kan siangnya sudah sibuk kerja, ya mbok o malemnya bisa ngaji bareng. Supaya bisa tahu kabar para tetangga, bisa berbagi pengalaman, bisa janjian menjenguk tetangga yang sakit, bisa bertukar informasi pengobatan alternatif…sekaligus ngaji & berdoa bersama. Kan Gusti ALLOH pasti senang dan ridho kalau umat-Nya saling kenal, saling peduli, bersatu, saling welas asih, baik dengan tetangga dan saling menghibur tetangga yang sedang kesusahan…plus bangga jika umat-Nya berdoa bersama memohon keridhoan-Nya”.

Benar-benar hanya pikiran sederhana itu yang muncul, dan mungkin setiap anggota jama’ah yang hadir juga berpikiran sama. Hal ini bisa dilihat dari indikator diajaknya anak-anak balita dan anak usia sekolah ke acara tahlilan dan yasinan tersebut. Supaya kenal dengan saudara dan tetangga. Istilahnya supaya tidak “kepaten obor” (kehilangan penerang), supaya kenal siapa saja saudara dan tetangganya. Setidaknya bisa saling menyapa ketika bertemu di jalan.

Interaksi sosial yang lugu dan intim semacam ini sudah kami jalani dan rasakan sejak puluhan tahun yang lalu, mungkin sejak jaman nenek moyang kami memeluk agama Islam. Oleh karena itu lah rasa kekeluargaan masyarakat desa sangat lah tinggi. Beberapa contoh sederhana, diantaranya :
1.    Saling Kenal Lintas Desa.
Jika Anda tersesat dan kesulitan mencari alamat rumah saya di desa Jambangan. Anda cukup bilang rumahnya mas Hildan putranya Pak Bashori, maka dalam radius 10 KM akan banyak orang yang tahu rumah saya. Mereka akan memberikan ancer-ancer secara detail lokasi rumah saya. Begitu juga jika Anda menanyakan rumah orang lain yang tinggal di ujung timur desa saya, pasti rata-rata banyak warga desa yang tahu.

Ini adalah indikator relasi sosial yang kuat dan saling peduli. Hal ini tercipta salah satunya karena ada jama’ah tahlilan dan yasinan antar kampung, juga pengajian keluarga besar yang anggotanya lintas desa.
2.    Rombongan Mengunjungi Orang Sakit.
Hal ini berkali-kali saya alami, terutama ketika almarhum ayah saya mengalami sakit di tahun 2009. Seingat saya waktu itu adalah bulan Syawal dan ayah saya harus dirawat di RST. SOEPRAOEN MALANG sebanyak 3 kali selama 3 bulan. Sekali perawatan lamanya bisa mencapai 9 hari “ngamar” di rumah sakit.

Seperti tradisi pada masyarakat desa pada umumnya, jika ada warga yang sakit maka warga akan menyewa atau meminjam kendaraan untuk bersama-sama menjenguk orang tersebut. Nah…saat ayah saya sakit, banyak sekali warga desa yang secara “rombongan” menjenguk ayah saya bahkan satu orang bisa menjenguk lebih dari satu kali.

Perlu diketahui, ayah saya adalah guru SD sekaligus Pembina dari beberapa jama’ah tahlilan, yasinan dan pengajian keluarga. Dari sini lah terjadi empati yang sangat luar biasa. Hal tersebut juga terjadi pada anggota masyarakat lain yang sakit dan harus dirawat dalam jangkan waktu lama.

Kondisi tersebut tidak lagi saya alami di Kota Malang. Bahkan ketika tetangga saya sakit saya awalnya tidak tahu, baru setelah berbincang dengan orang tuanya saya diberitahu kalau putra sudah beberapa hari dirawat di RST.SOEPRAOEN. Juga ketika tetangga depan rumah saya (jaraknya sekitar 20 meter) melahirkan. Istri saya bertanya kepada tetangga sebelah rumah, apakah ibu yang hamil itu sudah melahirkan. Ternyata tetangga saya kurang mengetahui.

Pikiran sederhana saya kemudian berimajinasi :
“Seandainya ada jama’ah tahlil dan yasin, pasti warga disini semakin akrab dan peduli”.

Dari beberapa pemaparan di atas, saya semakin bingung dengan beberapa pihak yang melarang adanya tahlilan dan yasinan. Karena menurut hemat saya, kontribusi kegiatan tersebut sangat besar bagi proses integrasi masyarakat.

Adapun jika TAHLILAN & YASINAN tersebut diadakan untuk memperingati kematian seseorang, maka hendaklah jangan sampai merepotkan keluarga yang sedang berduka. Karena membebani keluarga yang sedang berduka adalah hal yang tidak terpuji.

Pem-BUMI-an Nilai-nilai Ajaran Agama
Saya sebagai orang AWWAM memiliki pemikiran sederhana tentang fungsi ajaran agama. Bagi saya salah satu fungsi ajaran agama adalah “MEMANUSIAKAN MANUSIA”. Ada yang bilang “Mengembalikan Manusia pada Fitrohnya”.

Jika pun acara tahlilan dan yasinan dianggap tidak memiliki tuntunan dan TIDAK BERPAHALA, setidaknya kerukunan dan rasa kepedulian masyarakat dapat terjalin dengan media ini. Bagi sebagian kalangan, cara mereka bersosialisasi adalah dengan acara pengajian serius, liqo’at, halaqoh, dan lain sebagainya. Namun bagi masyarakat Indonesia pada umumnya acara keagamaan yang ringan seperti tahlilan dan yasinan lebih mem-BUMI, ringan, menyenangkan, mencairkan suasana sekaligus mendekatkan diri dalam meraih Ridho-Nya.

Toh selama ini pengajian yang sifatnya ringan dan umum tersebut terbukti tidak pernah menimbulkan EKSKLUSIVITAS dan RADIKALITAS dalam beragama. Semua anggota masyarakat berbaur, mencair, saling tersenyum, dan saling kenal. Kita adalah makhluk sosial yang seyogyanya semakin “getol” bersosialisasi tanpa tersekat aliran agama. Selama keberagamaan kita membuat kita terkotak, terpisah, terkucil dan eksklusif, bagi saya keberagamaan semacam itu TIDAK MEMBAWA MANFAAT.

Ajaran-ajaran baik yang sudah terpatri dalam keseharian masyarakat perlu dilestarikan. Sekali lagi bukan hanya pahala tujuannya, tetapi lebih dari itu adalah demi PERSATUAN antar warga. Dimana setiap warga saling mengenal, saling bertegur sapa, saling berkunjung, saling mengirim makanan, saling menghibur. Ketika ada keluarga yang tertimpa musibah ada tetangga yang segera membantu, ketika ada ibu yang melahirkan secara berbondong-bondong warga menjenguk, dan ketika akan bepergian maka kita bisa menitipkan rumah kita kepada tetangga. Bayangkan betapa indahnya hidup dalam HARMONI ala ORANG-ORANG DESA.

Demikian sedikit ungkapan hati yang saya sampaikan, semoga bermanfaat. Jika ada kelebihan maka pasti datangnya dari Gusti ALLOH. Jika ada kesalahan pasti karena kebodohan saya.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.
“Pecinta Cultural Studies”



HILDAN FATHONI




Reaksi:

5 komentar:

  1. Yang juga harus diperhatikan adalah. Ada beberapa refferensi yang menempatkan TAHLILAN KEMATIAN sebagai perkara BID'AH yang dilarang. Dengan alasan MEREPOTKAN keluarga yang berduka dan seolah-olah MERATAPI kematian si mayyit.

    Berikut link refferensi tersebut :
    http://faisalchoir.blogspot.com/2011/05/ritual-tahlilan-dalam-timbangan-islam.html

    Jika pun memang dilarang, maka harus ada komunikasi yang "lembut" kepada masyarakat. Supaya masyarakat memikirkan kembali tradisi berkumpul di rumah duka.

    Jika tahlilan dan yasinan yang bersifat RUTIN dengan tujuan meningkatkan ukhuwah, insyaalloh tidak termasuk dalam perkara yang dilarang.

    Jika ada pembaca yang bisa memberikan pandangan lebih mendalam, kami mohon kesediaannya untuk BERPENDAPAT.

    Salam hormat,



    HILDAN FATHONI

    BalasHapus
  2. Karena, bagaimana pun tradisi ini sudah mengakar. Sehingga penetapan mengenai HUKUM SYARA' nya harus TEGAS sesuai AL-QUR'AN dan AS-SUNNAH, tetapi dalam sosialisasinya HARUS SANTUN dan LEMBUT. Karena tradisi ini sudah diinternalisasi dalam identitas masyarakat dan ritual keseharian.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah kegiatan semacam itu masih lumayan kuat di daerah-daerah. Teruskan saja, insyaAllah bermanfaat. Apabila ingin mencari referensi terkait hukum Yasinan, Tahilan, dsb, gunakan saja "Search Engine Islami" semacam Gsunni ataupun Gsunnah
    Jangan langsung melalui Google karena hasil pencariannya bisa tidak relevan dan belum difilter dengan baik.

    Salam :)

    BalasHapus
  4. Ass. Wr. Wb.
    Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
    Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut perperan, yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

    BalasHapus
  5. Ass. Wr. Wb.
    Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
    Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut perperan, yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...