Kamis, 12 Juli 2012

Merayu UMAR PATEK, Mendamaikan INDONESIA



Oleh




Tribunnews.com - Jumat, 22 Juni 2012 05:48 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harapan Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek (46), lolos dari hukuman seumur hidup sebagaimana tuntutan jaksa, terkabul. Terdakwa bom Bali I 2002 dan bom Natal 2000 ini, diganjar hukuman 20 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (21/6/2012) malam.
 
Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman,

Seperti berita dari situs berita online di atas, Umar Patek diganjar 20 tahun penjara karena keterlibatannya dalam Kasus BOM NATAL dan BOM BALI 1. Bukan berita tersebut yang menggembirakan, tetapi profil Umar Patek lah yang sangat menarik dan berpotensi mengurangi secara signifikan adanya aksi terorisme yang mengatasnamakan agama ISLAM di Indonesia.

Ada beberapa hal yang sangat menarik dari profil Umar Patek yang mengejutkan khalayak ramai, terutama pernyataan-pernyataannya dalam wawancara di beberapa media massa setelah dia di vonis 20 tahun penjara. Beberapa hal tersebut adalah :

Fakta 1 : Umar Patek tidak setuju adanya BOM BALI 1.

Pernyataan dalam salah satu wawancara di TV ONE yang menyatakan bahwa sejak awal perencanaan BOM BALI 1 dia sudah tidak setuju dengan kegiatan terorisme tersebut. Bahkan dia menyatakan, pada saat perakitan bom di sebuah kontrakan di pulau Bali terjadi ledakan keras yang mengagetkan warga sekitar. Umar Patek kemudian mengingatkan Dr.Azahari dan rekan-rekan lainnya, bahwa ledakan ini merupakan peringatan ke-TidakRidho-an ALLOH terhadap rencana pengeboman tersebut. Tetapi peringatan Umar Patek tidak diindahkan oleh rekan-rekannya yang lain.

Fakta 2 : Umar Patek meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com (Senin, 21 Mei 2012 | 14:42 WIB) - Terdakwa kasus tindak pidana terorisme, Umar Patek meminta maaf pada seluruh umat Kristiani di Indonesia atas pemboman enam gereja yang dilakukannya pada malam Natal tahun 2000 silam. Hal ini ia ungkapkan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (21/5/2012).
"Saya meminta maaf khususnya terhadap umat Kristiani terutama yang di Jakarta. Saya menyesal atas perbuatan saya," kata Patek dengan mata berkaca-kaca.
Selain itu, Patek juga kembali meminta maaf pada seluruh korban dan keluarga korban peristiwa Bom Bali I. Baik korban warga negara Indonesia dan warga negara asing dan terhadap dunia internasional. Ia mengaku sejak awal sempat menolak rencana bom Bali dan bom malam Natal. Namun, penolakannya selalu dipatahkan Dulmatin yang lebih dianggapnya senior.
"Saya dan istri juga meminta maaf pada pemerintah karena membuat surat paspor dengan cara-cara yang tidak benar," tuturnya.

Seperti saya kutip dari KOMPAS.com di atas, adalah SANGAT LANGKA ada pelaku tindak terorisme yang mengakui kesalahannya dan secara terbuka meminta maaf kepada para korban dan masyarakat Indonesia. Dalam 10 tahun belum tentu ditemui orang seperti Umar Patek.

Fakta 3 : Umar Patek Melarang Terorisme di Indonesia

Dalam wawancara di TV ONE pada acara TELUSUR di awal bulan Juli 2012, Umar Patek sekali lagi meminta maaf kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat Indonesia. Bukan hanya itu saja, HAL TERPENTINGnya adalah HIMBAUAN atau larangan Umar Patek atas tindakan terorisme yang mengatasnamakan ISLAM. Khususnya tindakan terorisme yang dilakukan di Indonesia. Hal ini dikarenakan umat Islam di Indonesia tidak teraniaya seperti umat Islam di Palestina, Thailand (peristiwa Pembantaian Muslim di Tak Bai, Provinsi Narathiwat, jauh di ujung selatan Thailand) dan (Muslim Rohingya) Myanmar.

Ketiga fakta di atas merupakan MODAL BERHARGA bagi pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk mengambil langkah strategis dalam menekan dan mencegah terorisme di Indonesia. Terutama tindakan “pencerahan” dengan target utama umat Islam yang sangat rawan mengalami deradikalisasi oleh aliran dan pemikiran-pemikiran radikal oleh kelompok garis keras Islam. Hal ini dikarenakan, deradikalisasi menyerang daya nalar melalui pengkaderan secara intens dan pemberian doktrin keagamaan dalam versi tertentu.

Lalu apa hubungannya dengan 3 FAKTA UMAR PATEK di atas ?




20 Tahun Penebusan Dosa UMAR PATEK

Umar Patek sudah divonis 20 tahun penjara. Maka jangan sia-siakan masa hukumannya. Pihak Kemenkumham seharusnya menyusun program sistematis dalam mencegah terorisme dan tentu saja harus melibatkan Umar Patek sebagai pelaku yang sudah tobat.

Anggap saja masa 20 tahun masa hukuman tersebut diisi dengan PENEBUSAN DOSA, dengan cara membantu Kemenkumham dalam mencegah terorisme di Indonesia. Seluruh hidup, jiwa, raga dan aktivitas Umar Patek harus di-WAKAF-kan untuk mencegah terorisme di Indonesia. Tentu saja sosok Umar Patek akan sangat membantu Kemenkumham dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok Islam yang beraliran radikal, karena Umar Patek memiliki latar belakang pemikiran yang sama radikalnya dengan mereka.

Pendekatan kesamaan pemikiran dan aliran tersebut akan mengurangi resistensi dari golongan Islam yang menjadi target sosialisasi. Tentunya mereka akan segan dengan figur Umar Patek yang telah dianggap paripurna dalam berjuang dalam jalan jihad. Nah dari sini akan terjadi dialog dan transfer pemikiran dari Umar Patek ke anggota-anggota kelompok keagamaan. Dialog semacam ini akan membuka cangkang pemahan dan kebijaksanaan dalam memandang Indonesia melalui kacamata pemahan keagamaan, terutama Islam.

Bayangkan jika dalam masa 20 tahun Umar Patek diajak keliling seluruh wilayah Indonesia untuk tujuan penyebaran pemahaman Islam yang penuh kedamaian, tentu dampaknya akan sangat luar biasa.

Lalu apa DAMPAK POSITIF nya?



Merangkul Kedamaian di Indonesia

Saya teringat ungkapan Alm.Ust. Zainuddin MZ, bahwa “Dakwah Itu MERANGKUL, Bukan Memukul”. Kurang lebih goal itu lah yang ingin kita capai dengan merangkul Umar Patek sebagai DUTA ANTI TERORISME” di Indonesia.

Selama ini penanganan kasus-kasus terorisme selalu menggunakan cara-cara Barbarian. Pemerintah seperinya acuh dan ambil jalan pintas dengan menggunakan kepolisian dan TNI untuk memberangus para “teroris”. Seperti hukum fisika dasar : “Ada Aksi, Ada Reaksi”. Selama ini pendekatan barbarian dengan aksi tembak menembak dan penyergapan tidak mampu menghentikan aksi-aksi terorisme, malah semakin di-reaksi oleh kelompok-kelompok garis keras untuk melancarkan aksi balasan. Lingkaran setan membalas dan dibalas menyerang ini harus dihentikan secara sistematis. Caranya adalah mengadakan Road Show Anti Terorisme dengan menghadirkan Umar Patek sebagai “DUTA ANTI TERORISME”.

Melalui diskusi intens dengan Umar Patek tentunya akan dihasilkan beberapa hal:
1. Wilayah kantong-kantong kelompok islam radikal.
2. Blue print  penanganan terorisme di Indonesia.
3. Metodologi komunikasi yang akan dijalankan dengan kelompok-kelompok Islam garis keras.
4. Rencana tindak lanjut dan bantuan yang tepat sasaran, guna menjaga keharmonisan hubungan antara pemerintah, masyarakat umum dan golongan-golongan tertentu yang berpotensi menjadi radikal.

Momentum ini harus segera direspon, karena tanpa kita sadari kelompok-kelompok Islam di luar sana sangat berpotensi menjadi radikal. Semakin cepat “dijinakkan” maka akan mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

Ingat … DALAM 10 TAHUN BELUM TENTU ADA TERORIS “SEBAIK” UMAR PATEK !!!

Wassalamu alaikum

Salam hormat,



HILDAN FATHONI

Reaksi:

2 komentar:

  1. Beliau juga yang membocorkan informasi lokasi Osama Bin Laden kepada US... beliau ketangkep di kota yang sama denga Osama hanya beberapa bulan sebelum osama ketangkep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya yang terpenting bagi INDONESIA adalah beliau akan mampu menjadi IKON dalam mendamaikan jiwa2 yang resah akan JIHAD. Bayangkan jika beliau secara aktif berdiskusi, membuat seminar dan menulis buku tentang AGAMA yang penuh kedamaian. Maka para calon teroris akan memiliki KAWAN BERTUKAR PIKIRAN dan berbagi keresahan.

      Hapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...