This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 23 Juli 2012

Tahlilan, Yasinan dan Integrasi Sosial


Tahlilan, Yasinan dan Integrasi Sosial
Oleh
Hildan Fathoni



Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman,

Sebenarnya setelah tadarrus, malam ini saya maunya langsung istirahat. Akan tetapi ada sedikit ide yang membuat saya enggan beranjak dari depan laptop. Ide kecil ini adalah refleksi mulai dari masa kecil hingga saya berkeluarga saat ini. Ide tersebut adalah tentang TAHLILAN dan YASINAN.

Ada beberapa hal yang membuat perenungan saya semakin dalam, diantaranya :
1.    Saya berasal dari Desa Jambangan, Kecamatan Dampit yang merupakan wilayah Kabupaten Malang. Di desa asal saya ada banyak sekali jama’ah pengajian, baik itu tahlilan, yasinan, pengajian keluarga, kadrahan/hadrah mau pun pengajian rutin ibu-ibu pada hari Jum’at. Belum lagi pengajian kematian dan hajatan yang sifatnya incidental
2.    Saat ini saya sudah membina rumah tangga dan tinggal di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun yang merupakan wilayah Kota Malang. Disini hanya ada pengajian umum mingguan untuk ibu-ibu dan beberapa jama’ah yasinan untuk remaja dan anak-anak. Untuk bapak-bapak hanya ada pengajian incidental untuk sunatan, pernikahan, hajatan dan kematian.

Kondisi saat ini di perkampungan tempat saya tinggal, sangatlah jarang terjadi interaksi antar warga. Walapun warga disini sangat guyub seperti warga di desa saya, tetapi interaksi “mesra” tidak memiliki sarana untuk dilakukan. Hal ini menyebabkan interaksi sosial sangat lah dangkal dan sekedar “tambal butuh” (sesuai kebutuhan).

Kontroversi TAHLILAN & YASINAN
Sampai saat ini saya masih belum paham dengan pemikiran beberapa pihak yang melarang tahlilan dan yasinan, walaupun dengan dalih ibadah jenis ini tidak pernah disyariatkan oleh Kanjeng Nabi. Sebagai informasi, saya bukanlah ahli agama yang akan mengupas hal ini dari segi syara’. Saya hanya seorang biasa yang melebur di masyarakat dan berusaha menarik benang merah dari fenomena tahlilan dan yasinan.

Kembali ke tema penolakan terhadap tahlilan dan yasinan. Ketika saya mengikuti jama’ah tahlil dan yasin, niatan utama yang muncul adalah bersosialisasi sekaligus beribadah. Sama sekali tidak terpikir untuk ”HITUNG-HITUNGAN PAHALA” dengan Gusti ALLOH. Pikiran sederhana saya hanya berkata :

“Ayo datang TAHLILAN supaya bisa ketemu tetangga. Kan siangnya sudah sibuk kerja, ya mbok o malemnya bisa ngaji bareng. Supaya bisa tahu kabar para tetangga, bisa berbagi pengalaman, bisa janjian menjenguk tetangga yang sakit, bisa bertukar informasi pengobatan alternatif…sekaligus ngaji & berdoa bersama. Kan Gusti ALLOH pasti senang dan ridho kalau umat-Nya saling kenal, saling peduli, bersatu, saling welas asih, baik dengan tetangga dan saling menghibur tetangga yang sedang kesusahan…plus bangga jika umat-Nya berdoa bersama memohon keridhoan-Nya”.

Benar-benar hanya pikiran sederhana itu yang muncul, dan mungkin setiap anggota jama’ah yang hadir juga berpikiran sama. Hal ini bisa dilihat dari indikator diajaknya anak-anak balita dan anak usia sekolah ke acara tahlilan dan yasinan tersebut. Supaya kenal dengan saudara dan tetangga. Istilahnya supaya tidak “kepaten obor” (kehilangan penerang), supaya kenal siapa saja saudara dan tetangganya. Setidaknya bisa saling menyapa ketika bertemu di jalan.

Interaksi sosial yang lugu dan intim semacam ini sudah kami jalani dan rasakan sejak puluhan tahun yang lalu, mungkin sejak jaman nenek moyang kami memeluk agama Islam. Oleh karena itu lah rasa kekeluargaan masyarakat desa sangat lah tinggi. Beberapa contoh sederhana, diantaranya :
1.    Saling Kenal Lintas Desa.
Jika Anda tersesat dan kesulitan mencari alamat rumah saya di desa Jambangan. Anda cukup bilang rumahnya mas Hildan putranya Pak Bashori, maka dalam radius 10 KM akan banyak orang yang tahu rumah saya. Mereka akan memberikan ancer-ancer secara detail lokasi rumah saya. Begitu juga jika Anda menanyakan rumah orang lain yang tinggal di ujung timur desa saya, pasti rata-rata banyak warga desa yang tahu.

Ini adalah indikator relasi sosial yang kuat dan saling peduli. Hal ini tercipta salah satunya karena ada jama’ah tahlilan dan yasinan antar kampung, juga pengajian keluarga besar yang anggotanya lintas desa.
2.    Rombongan Mengunjungi Orang Sakit.
Hal ini berkali-kali saya alami, terutama ketika almarhum ayah saya mengalami sakit di tahun 2009. Seingat saya waktu itu adalah bulan Syawal dan ayah saya harus dirawat di RST. SOEPRAOEN MALANG sebanyak 3 kali selama 3 bulan. Sekali perawatan lamanya bisa mencapai 9 hari “ngamar” di rumah sakit.

Seperti tradisi pada masyarakat desa pada umumnya, jika ada warga yang sakit maka warga akan menyewa atau meminjam kendaraan untuk bersama-sama menjenguk orang tersebut. Nah…saat ayah saya sakit, banyak sekali warga desa yang secara “rombongan” menjenguk ayah saya bahkan satu orang bisa menjenguk lebih dari satu kali.

Perlu diketahui, ayah saya adalah guru SD sekaligus Pembina dari beberapa jama’ah tahlilan, yasinan dan pengajian keluarga. Dari sini lah terjadi empati yang sangat luar biasa. Hal tersebut juga terjadi pada anggota masyarakat lain yang sakit dan harus dirawat dalam jangkan waktu lama.

Kondisi tersebut tidak lagi saya alami di Kota Malang. Bahkan ketika tetangga saya sakit saya awalnya tidak tahu, baru setelah berbincang dengan orang tuanya saya diberitahu kalau putra sudah beberapa hari dirawat di RST.SOEPRAOEN. Juga ketika tetangga depan rumah saya (jaraknya sekitar 20 meter) melahirkan. Istri saya bertanya kepada tetangga sebelah rumah, apakah ibu yang hamil itu sudah melahirkan. Ternyata tetangga saya kurang mengetahui.

Pikiran sederhana saya kemudian berimajinasi :
“Seandainya ada jama’ah tahlil dan yasin, pasti warga disini semakin akrab dan peduli”.

Dari beberapa pemaparan di atas, saya semakin bingung dengan beberapa pihak yang melarang adanya tahlilan dan yasinan. Karena menurut hemat saya, kontribusi kegiatan tersebut sangat besar bagi proses integrasi masyarakat.

Adapun jika TAHLILAN & YASINAN tersebut diadakan untuk memperingati kematian seseorang, maka hendaklah jangan sampai merepotkan keluarga yang sedang berduka. Karena membebani keluarga yang sedang berduka adalah hal yang tidak terpuji.

Pem-BUMI-an Nilai-nilai Ajaran Agama
Saya sebagai orang AWWAM memiliki pemikiran sederhana tentang fungsi ajaran agama. Bagi saya salah satu fungsi ajaran agama adalah “MEMANUSIAKAN MANUSIA”. Ada yang bilang “Mengembalikan Manusia pada Fitrohnya”.

Jika pun acara tahlilan dan yasinan dianggap tidak memiliki tuntunan dan TIDAK BERPAHALA, setidaknya kerukunan dan rasa kepedulian masyarakat dapat terjalin dengan media ini. Bagi sebagian kalangan, cara mereka bersosialisasi adalah dengan acara pengajian serius, liqo’at, halaqoh, dan lain sebagainya. Namun bagi masyarakat Indonesia pada umumnya acara keagamaan yang ringan seperti tahlilan dan yasinan lebih mem-BUMI, ringan, menyenangkan, mencairkan suasana sekaligus mendekatkan diri dalam meraih Ridho-Nya.

Toh selama ini pengajian yang sifatnya ringan dan umum tersebut terbukti tidak pernah menimbulkan EKSKLUSIVITAS dan RADIKALITAS dalam beragama. Semua anggota masyarakat berbaur, mencair, saling tersenyum, dan saling kenal. Kita adalah makhluk sosial yang seyogyanya semakin “getol” bersosialisasi tanpa tersekat aliran agama. Selama keberagamaan kita membuat kita terkotak, terpisah, terkucil dan eksklusif, bagi saya keberagamaan semacam itu TIDAK MEMBAWA MANFAAT.

Ajaran-ajaran baik yang sudah terpatri dalam keseharian masyarakat perlu dilestarikan. Sekali lagi bukan hanya pahala tujuannya, tetapi lebih dari itu adalah demi PERSATUAN antar warga. Dimana setiap warga saling mengenal, saling bertegur sapa, saling berkunjung, saling mengirim makanan, saling menghibur. Ketika ada keluarga yang tertimpa musibah ada tetangga yang segera membantu, ketika ada ibu yang melahirkan secara berbondong-bondong warga menjenguk, dan ketika akan bepergian maka kita bisa menitipkan rumah kita kepada tetangga. Bayangkan betapa indahnya hidup dalam HARMONI ala ORANG-ORANG DESA.

Demikian sedikit ungkapan hati yang saya sampaikan, semoga bermanfaat. Jika ada kelebihan maka pasti datangnya dari Gusti ALLOH. Jika ada kesalahan pasti karena kebodohan saya.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.
“Pecinta Cultural Studies”



HILDAN FATHONI




Kamis, 12 Juli 2012

Merayu UMAR PATEK, Mendamaikan INDONESIA



Oleh




Tribunnews.com - Jumat, 22 Juni 2012 05:48 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harapan Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek (46), lolos dari hukuman seumur hidup sebagaimana tuntutan jaksa, terkabul. Terdakwa bom Bali I 2002 dan bom Natal 2000 ini, diganjar hukuman 20 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (21/6/2012) malam.
 
Assalamu alaikum Para Pembaca yang Budiman,

Seperti berita dari situs berita online di atas, Umar Patek diganjar 20 tahun penjara karena keterlibatannya dalam Kasus BOM NATAL dan BOM BALI 1. Bukan berita tersebut yang menggembirakan, tetapi profil Umar Patek lah yang sangat menarik dan berpotensi mengurangi secara signifikan adanya aksi terorisme yang mengatasnamakan agama ISLAM di Indonesia.

Ada beberapa hal yang sangat menarik dari profil Umar Patek yang mengejutkan khalayak ramai, terutama pernyataan-pernyataannya dalam wawancara di beberapa media massa setelah dia di vonis 20 tahun penjara. Beberapa hal tersebut adalah :

Fakta 1 : Umar Patek tidak setuju adanya BOM BALI 1.

Pernyataan dalam salah satu wawancara di TV ONE yang menyatakan bahwa sejak awal perencanaan BOM BALI 1 dia sudah tidak setuju dengan kegiatan terorisme tersebut. Bahkan dia menyatakan, pada saat perakitan bom di sebuah kontrakan di pulau Bali terjadi ledakan keras yang mengagetkan warga sekitar. Umar Patek kemudian mengingatkan Dr.Azahari dan rekan-rekan lainnya, bahwa ledakan ini merupakan peringatan ke-TidakRidho-an ALLOH terhadap rencana pengeboman tersebut. Tetapi peringatan Umar Patek tidak diindahkan oleh rekan-rekannya yang lain.

Fakta 2 : Umar Patek meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com (Senin, 21 Mei 2012 | 14:42 WIB) - Terdakwa kasus tindak pidana terorisme, Umar Patek meminta maaf pada seluruh umat Kristiani di Indonesia atas pemboman enam gereja yang dilakukannya pada malam Natal tahun 2000 silam. Hal ini ia ungkapkan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (21/5/2012).
"Saya meminta maaf khususnya terhadap umat Kristiani terutama yang di Jakarta. Saya menyesal atas perbuatan saya," kata Patek dengan mata berkaca-kaca.
Selain itu, Patek juga kembali meminta maaf pada seluruh korban dan keluarga korban peristiwa Bom Bali I. Baik korban warga negara Indonesia dan warga negara asing dan terhadap dunia internasional. Ia mengaku sejak awal sempat menolak rencana bom Bali dan bom malam Natal. Namun, penolakannya selalu dipatahkan Dulmatin yang lebih dianggapnya senior.
"Saya dan istri juga meminta maaf pada pemerintah karena membuat surat paspor dengan cara-cara yang tidak benar," tuturnya.

Seperti saya kutip dari KOMPAS.com di atas, adalah SANGAT LANGKA ada pelaku tindak terorisme yang mengakui kesalahannya dan secara terbuka meminta maaf kepada para korban dan masyarakat Indonesia. Dalam 10 tahun belum tentu ditemui orang seperti Umar Patek.

Fakta 3 : Umar Patek Melarang Terorisme di Indonesia

Dalam wawancara di TV ONE pada acara TELUSUR di awal bulan Juli 2012, Umar Patek sekali lagi meminta maaf kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat Indonesia. Bukan hanya itu saja, HAL TERPENTINGnya adalah HIMBAUAN atau larangan Umar Patek atas tindakan terorisme yang mengatasnamakan ISLAM. Khususnya tindakan terorisme yang dilakukan di Indonesia. Hal ini dikarenakan umat Islam di Indonesia tidak teraniaya seperti umat Islam di Palestina, Thailand (peristiwa Pembantaian Muslim di Tak Bai, Provinsi Narathiwat, jauh di ujung selatan Thailand) dan (Muslim Rohingya) Myanmar.

Ketiga fakta di atas merupakan MODAL BERHARGA bagi pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk mengambil langkah strategis dalam menekan dan mencegah terorisme di Indonesia. Terutama tindakan “pencerahan” dengan target utama umat Islam yang sangat rawan mengalami deradikalisasi oleh aliran dan pemikiran-pemikiran radikal oleh kelompok garis keras Islam. Hal ini dikarenakan, deradikalisasi menyerang daya nalar melalui pengkaderan secara intens dan pemberian doktrin keagamaan dalam versi tertentu.

Lalu apa hubungannya dengan 3 FAKTA UMAR PATEK di atas ?




20 Tahun Penebusan Dosa UMAR PATEK

Umar Patek sudah divonis 20 tahun penjara. Maka jangan sia-siakan masa hukumannya. Pihak Kemenkumham seharusnya menyusun program sistematis dalam mencegah terorisme dan tentu saja harus melibatkan Umar Patek sebagai pelaku yang sudah tobat.

Anggap saja masa 20 tahun masa hukuman tersebut diisi dengan PENEBUSAN DOSA, dengan cara membantu Kemenkumham dalam mencegah terorisme di Indonesia. Seluruh hidup, jiwa, raga dan aktivitas Umar Patek harus di-WAKAF-kan untuk mencegah terorisme di Indonesia. Tentu saja sosok Umar Patek akan sangat membantu Kemenkumham dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok Islam yang beraliran radikal, karena Umar Patek memiliki latar belakang pemikiran yang sama radikalnya dengan mereka.

Pendekatan kesamaan pemikiran dan aliran tersebut akan mengurangi resistensi dari golongan Islam yang menjadi target sosialisasi. Tentunya mereka akan segan dengan figur Umar Patek yang telah dianggap paripurna dalam berjuang dalam jalan jihad. Nah dari sini akan terjadi dialog dan transfer pemikiran dari Umar Patek ke anggota-anggota kelompok keagamaan. Dialog semacam ini akan membuka cangkang pemahan dan kebijaksanaan dalam memandang Indonesia melalui kacamata pemahan keagamaan, terutama Islam.

Bayangkan jika dalam masa 20 tahun Umar Patek diajak keliling seluruh wilayah Indonesia untuk tujuan penyebaran pemahaman Islam yang penuh kedamaian, tentu dampaknya akan sangat luar biasa.

Lalu apa DAMPAK POSITIF nya?



Merangkul Kedamaian di Indonesia

Saya teringat ungkapan Alm.Ust. Zainuddin MZ, bahwa “Dakwah Itu MERANGKUL, Bukan Memukul”. Kurang lebih goal itu lah yang ingin kita capai dengan merangkul Umar Patek sebagai DUTA ANTI TERORISME” di Indonesia.

Selama ini penanganan kasus-kasus terorisme selalu menggunakan cara-cara Barbarian. Pemerintah seperinya acuh dan ambil jalan pintas dengan menggunakan kepolisian dan TNI untuk memberangus para “teroris”. Seperti hukum fisika dasar : “Ada Aksi, Ada Reaksi”. Selama ini pendekatan barbarian dengan aksi tembak menembak dan penyergapan tidak mampu menghentikan aksi-aksi terorisme, malah semakin di-reaksi oleh kelompok-kelompok garis keras untuk melancarkan aksi balasan. Lingkaran setan membalas dan dibalas menyerang ini harus dihentikan secara sistematis. Caranya adalah mengadakan Road Show Anti Terorisme dengan menghadirkan Umar Patek sebagai “DUTA ANTI TERORISME”.

Melalui diskusi intens dengan Umar Patek tentunya akan dihasilkan beberapa hal:
1. Wilayah kantong-kantong kelompok islam radikal.
2. Blue print  penanganan terorisme di Indonesia.
3. Metodologi komunikasi yang akan dijalankan dengan kelompok-kelompok Islam garis keras.
4. Rencana tindak lanjut dan bantuan yang tepat sasaran, guna menjaga keharmonisan hubungan antara pemerintah, masyarakat umum dan golongan-golongan tertentu yang berpotensi menjadi radikal.

Momentum ini harus segera direspon, karena tanpa kita sadari kelompok-kelompok Islam di luar sana sangat berpotensi menjadi radikal. Semakin cepat “dijinakkan” maka akan mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

Ingat … DALAM 10 TAHUN BELUM TENTU ADA TERORIS “SEBAIK” UMAR PATEK !!!

Wassalamu alaikum

Salam hormat,



HILDAN FATHONI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...