Selasa, 26 Juni 2012

Waiting for the Second Chance





 oleh
 
pada 25 Juni 2012 pukul 22:20


By Syaifoel Hardy

Mayat di depan kedua kelopak mata ini sudah mulai terbujur kaku. Orang-orang sekitar, sanak keluarga, tetangga mulai berdatangan. Teman-teman juga murid-murid sekolah, ratusan jumlahnya, tidak ketinggaalan.

Rumah kami yang terletak di sebuah gang pertama di desa nampak dipadati oleh para pelayat. Penuh sesak sudah di ujung gang, di mana rumah kecil berukuran 6x12 tersebut berdiri. Rumah lama peninggalan mendiang buyut kami.
Perlahan, namun sangat tidak terasa, air mata ini mulai menetes, saat saya pandangi wajah teduh yang berbaring, istirahat untuk selamanya. Menghadap Dia Yang mahakuasa. Tertutup matanya sudah.

Tidak kuasa lagi, jangan kan berbicara, berdetak pun sang jantung sudah tidak. Ya, beliau sudah berpulang, meninggalkan kami, untuk selama-lamanya.

Beliau bukan hanya seorang terdekat dalam keluarga kami. Beliau adalah Ayah kami. Ayah yang dulu mengajak saya untu ikut naik truk sewaktu mendaftarkan diri saya masuk ke sebuah sekolah kejuruan. Lantaran tidak punya cukup uang untuk naik bus kota.

Ayah yang dulu mengajak saya untuk makan di warung dengan hutang, karena tidak punya cukup uang buat bayar.
Ayah yang dulu sering saya marah karena sangat tidak sukanya saya akan rokok yang setiap saat tergeletak di atas mejanya.

Ayah yang dulu memberikan kemerdekaan kepada saya untuk belajar atau tidak. Karena hasil belajar adalah milik saya, bukan siapa-siapa.

Ayah yang dulu hanya tersenyum saja, meski di sakunya tidak ada uang sisa!

Pipi ini semakin membasah mengingat segala jasanya, terhadap anak-anaknya yang berjumlah dua belas.
Ada banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang beliau. Ada sejuta cerita yang bisa saya ungkap tentang kehidupannya sepanjang saya ingat. Tapi tudak mungkin saya tuangkan semuanya di sini!

Kini, dua puluh lima tahun sudah berselang. Wajah teduhnya selalu membayang. Termasuk ketika saya tadi sedang di perjalanan pulang. Dari tempat kerja hingga rumah.

Saya ingin berbagi cerita tentang satu hal kepada pembaca yang budiman tentang nilai sebuah kesempatan.
Saya gunakan Ayah saya sebagai contoh karena peran beliau begitu mendalam. Bukan saja Ayah kami. Saya rasa ayah siapa saja.

Pembaca......

Sebagai seorang yang bekerja di dunia kesehatan, bahkan orang awam, akan dapat mengenal, apakah orang yang sudah memasuki usia tua, mengalami sebuah gangguan kesehatan atau tidak.

Saya amati beliau sudah tidak lagi mau makan. Badan makin kurus. Subhanallah......berat rasanya untuk menuliskan kondisi beliau saat itu di atas kertas ini. Di sore hari ini, menjelang Maghrib.

Saya sangat teringat pula ketika meletakkan kepala di paha beliau. Katanya, "Kamu besok mudah-mudahan bisa ke luar negeri!" Katanya, yang saya tangkap sebagai gurauan. Padahal, apa yang beliau sampaikan ternyata kemudian terwujud, enam tahun kemudian.

Mau ke rumah sakit, Ibu berkata tidak usah. Dibilang sudah tua. "Biarlah, kita rawat saja di rumah!" Saya turut mengiyakan.

Waktu itu, di rumah, saya tergolong yang paling besar. Kakak-kakak kami semuanya sudah berkeluarga dan menyebar ke berbagai kota.

Jika saya sedang bekerja, tentu hanya Ibu sendirian yang merawatnya. Benar, sungguh saya amat khawatir dengan apa yang terjadi pada Ayah. Lewat cerita Ibu dan melihat kondisi fisiknya yang makin lemah, saya mendatangi seorang dokter yang saya kenal. Konsultasi kami lakukan jarak jauh saja. Karena itulah yang dikehendaki Ibu.

Sepanjang sakitnya, Ayah tidak pernah kami bawa ke dokter. Apalagi Puskesmas atau Rumah Sakit! Mungkin saya salah. Kami salah. Tapi saya sendiri tidak berdaya.

Beberapa tindakan keperawatan dan pengobatan yang mestinya dikerjakan di RS, dengan sangat terpaksan kami lakukan di rumah. Saya yang melakukan semuanya. Ah...betapa sakit barangkali yang dirasakan beliau waktu itu. Namun tidak beliau keluhkan.

Suntuik, infus, kami kerjakan di rumah. Bagaimana mungkin bertahan hidup jika tidak makan dan minum hanya sedikit? Kulit mulai mengisut dan kondisi lemah sekali dalam lima hari terakhir sesudah jatuh sakit. Ibu juga mengatakan bahwa Ayah tidak bisa (maaf) buang air besar waktu itu. Saya yang membantu mengeluarkannya.
Barangkali Allah SWT menghendaki beliau tidak berlama-lama bersama kami.

Sebagai orang yang beragama, saya pun berdoa, untuk meringankan beban derita ini kepada beliau yang kami cintai. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar jawaban kami. Ayah pun menghadap kepadaNya sesudah sekitar tujuh hari sakitnya.

Selama tujuh hari sakit tersebut, saya sangat menyesal karena tidak dapat berbuat banyak untuk membuktikan cinta kasih ini kepada beliau sebagai anak. Selama tujuah hari tersebut hanya sesudah pulang kerja saja saya bisa menemui beliau yang sedang lemah kondisinya dan membutuhkan perawatan. Sepanjang tujuh hari tersebut ternyata bakti saya bukan apa-apa dibanding jasanya kepada kami. Luapan cinta beliau memang tidak mungkin kami balas!

Saya juga tidak mungkin memiliki kesempatan kedua untuk memberikan pelayanan terbaik buat orangtua.
Memberikan sesuatu kepada Ayah yang membuat beliau senang. Bahkan waktu itu, karena baru awal-awal tahun kerja, rasanya belum pernah membelikan baju baru buat beliau.

Saat ini, dua puluh lima tahun sudah, saya masih simpan sarung Samarinda beliau yang sudah sangat usang di almari saya. Sarung kenangan yang diberikan kepada saya pada tahun 1979. Sarung biru yang kelihatan amat menyala meski tua usianya.

Dalam perjalanan pulang tadi, di tengah panas terik gurun Qatar, saya sempat melihat di pinggir jalan, seorang lelaki tua, sedang mencabuti rumput di pinggir jalan. Anda bayangkan suasana musim panas di Timur Tengah yang lebih dari 40 derajat. Saya membayangkan anak-anak lelaki tua tersebut di negara asalnya saja sedang apa.  

Adakah mereka mengetahu apa yang diperbuat oleh ayahandanya di negeri seberang sana? Adakah mereka sadar bahwa begitu berat yang dirasakan oleh sang ayah demi tumbuh kembangnya anak-anak? Seberat barangkali beban Ayah saya waktu itu, ketika dihadapkan pada kondisi bagaimana harus menyekolahkan anak-anaknya, sementara dana amat terbatas. Karena itu, saya dikirimkannya ke sekolah kejuruan yang gratis dan dibiayai oleh Pemerintah.

Ayah saya tersenyum di hari ketika saya lulus. Senyuman polos seorang pensiunan sipil yang amat lugu. Tanpa malu-malu dari desa, beliau tenteng selembar tikar tua, entah untuk tujuan. Kata teman sekamar saya: "Eh...ayahmu membawa tikar, apa beliau pikir di sini tidak ada kasur?" Sambil bercanda. Tapi saya tidak sakit hati. Beberapa saat kemudian Ayah bilang: "Tikar ini untuk membungkus kasur dibawa pulang!"

Meski  saya terhitung paling miskin di antara teman-teman. Saya bangga terhadap perjuangan Ayah memasukkan sekolah pilihannya yang semula dikatakan: "Siapa tahu, suatu hari nanti, profesi ini lebih baik bagimu!"

Ternyata benar! Saya tidak ingin mengecewakan sekolah pilihan beliau. Saya berusaha menyintai profesi yang saya lakoni bertahun-tahun ini. Yang darinya membuat saya selalu ingat akan jasa beliau tercinta.

Pembaca.......

Kesempatan berbuat baik selalu ada. Bukan hanya kepada ayah, ibu dan saudara semata. Kepada banyak orang. Sekalipun mereka yang tidak kita kenal. Apalagi kepada orang terdekat: ayah, ibu dan saudara.

Karenanya, jangan tunda perbuatan baik, selagi masih hidup. Lakukan segera, agar tidak menyesal. Amalan baik tidak harus dalam bentuk uang atau material. Senyum ikhlas pun, yang membuat orang lain senang, juga amalan yang tidak sedikit pahalanya. Apalagi jika diniatkan ibadah!

Rasanya, betapa menyesal diri ini lantaran tidak memiliki waktu cukup lama untuk berbuat yang terbaik bagi beliau yang kini, semoga sedang beristirahat dengan tenang di sisiNya.

Wallahu a'lam!


Doha, 25 June 2012
shardy2@hotmail.com







Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...