Jumat, 22 Juni 2012

My Teacher Passing Urine Standing



oleh 
pada 22 Juni 2012 pukul 23:07



By Syaifoel Hardy

Setiap kali datang ke kelas, Pak Yadi, sebut demikian namanya, Kepala Sekolah kami, selalu membawa sebatang kayu kecil, berdiameter sekitar satu sentimeter, panjang. Kami yang anak-anak, kurang paham dengan tujuan pasti, kecuali memukul murid, mengapa harus membawa kayu.

Jika ada jam kosong, Pak Yadi biasanya masuk kelas. Jika ada yang nakal, kayu sepanjang seratus sentimeter itu bisa setiap saat melayang keras di atas permukaan kulit. 'Plasss!!!" Tentu saja sakit rasanya. Yang memukul sih...enak saja. Yang dipukul ini, yang menderita.
Saya lupa, berapa kali dipukul Pak Yadi. Yang jelas, pernah merasakan pecutannya!
Tradisi pengajaran seperti ini berlangsung lama. Pastinya saya kurang tahu. Yang jelas, lebih dari dua dasa warsa saya turut menyaksikan. Bahwa kebiasaan memukul murid yang nakal dengan kayu, adalah 'stempel' yang erat melekat di pundak Pak Yadi. Pak Yadi, kami kenal sebagai sosok galak dalam mendisiplinkan murid-muridnya.

Apa harus demikian?
Saat memasuki sekolah menengah pertama, sedikit beda dengan Pak Yadi, juga saya alami. Pak John namanya. Setiap omongannya, identik dengan marah. Kami sulit membedakan apakah guru bahasa Inggris yang satu ini sedang marah atau tidak.

Terkadang membawa sepotong kayu waktu memasuki kelas, terkadang tidak. Namun wajah seramnya, sulit disembunyikan. Hampir semua siswa sepakat dengan satu perbendaraan kata untuk guru ini, bahwa pak John identik dengan 'kemarahan'.

Gaya bicaranya selalu keras! Tidak memperlihatkan rasa simpatik sama sekali kepada siswa. Saya pribadi merasakan 'takut' ketimbang segan terhadapnya.
Kalau saya belajar Bahasa inggris dengan giat, itu karena saya menyukai pelajarannya, bukan karena takut. Alhamdulillah. Biasanya, siswa yang tidak suka gurunya, tidak pula menyukai pelajarannya. Entahlah!

Sepanjang ingatan saya, memang tidak pernah dimarahinya. Meski demikian, bahwa kesan beliau sebagai guru yang suka memarahi siswanya, belum hilang dari ingatan saya, hingga saat ini.

Bukan maksud saya menyimpan dendam, tetapi begitulah. Bahwa semua perkataan kasar yang sudah terlanjur kita keluarkan, memang tidak mungkin bisa ditelan kembali. Makanya, jangan heran, bila dampaknya bisa tertanam kuat, membekas bertahun-tahun lamanya.
Memasuki sekolah menengah atas, juga tidak beda. Malah jumlahnya kali ini lebih banyak. Dari semua guru tetap yang kami miliki, semuanya perempuan. Hanya satu laki-laki. Semuanya boleh saya katakan 'judes' dan 'pemarah'.

Kesalahan sedikit saja, bisa berdampak besar.
Hukumannya, jika saya diperbolehkan mengidentifikasi, bukan dalam bentuk fisik. Namun, sekali lagi, omongan yang ke luar dari mulut ini jika tidak 'tertata' dengan baik, bisa melukai perasaan. Tidak pandang bulu, apakah pada orang tua atau anak-anak muda.

Saya masuk di sekolah kejuruan. Guru-guru kami ini rata-rata memiliki karakteristik yang 'seram'. Saya tidak pernah berharap guru-guru saya ini pinter sastra. Sepertinya mereka tidak mengantongi kata-kata yang lebih bijak untuk 'menegur' siswa-siswa yang berbuat salah. Kesalahan identik dengan kemarahan dan hukuman. Seolah-olah, siswa yang sekolah tidak boleh salah.

Padahal, guru-guru ini tahu dan sadar betul bahwa siswa adalah anak-anak yang sedang belajar. Namanya belajar, berarti memasuki sebuah proses jatuh bangun. Belum mapan. Kesalahan adalah lumrah. Sepanjang bisa diluruskan dan ada niat untuk memperbaikinya, apakah tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk memperbaikinya selain kemarahan. Kecuali, jika kesalahan ini dilakukan berkali-kali.

Suatu hari, saya mendapatkan giliran untuk membersihkan kantor guru sebelum pelajaran dimulai. Waktu itu memang amat bodoh untuk mengerti. Mengapa siswa harus membersihkan kantor guru?

Kami harus membersihkan kaca jendela, meja kursi, kamar mandi dan tentu saja lantai. Lantaran sudah menjadi kebiasaan di sekolah, jadi tidak ada yang berani menolak. Apalagi saya yang 'penurut'. Saya menurut karena memilih aman. Menurut pada hemat saya akan menghindari konflik. Toh, menurut bukan berarti kalah! Siapa tahu ada hikmanya. Jadi, saya jalani saja apa yang diperintahkan oleh guru-guru ini.

Selesai membersihkan seluruh kantor, saya siap menuju kelas. Pelajaran dimulai pukul setengah delapan pagi. Pukul enam, saya sudah mulai bersih-bersih. Pukul tujuh beres.
Pada jam yang sama, yakni tujuh, guru-guru ini pada berdatangan. Salah seorang di antaranya, mengecek apa yang sudah saya kerjalan, seolah-olah saya adalah pekerja kebersihan yang paling bertanggungjawab terhadap bersih tidaknya kantor.

Ibu Yati, begitu saja saya sebut namanya, mulai melihat ke sana-ke mari. Jendela, meja, kursi juga kamar mandi. Saya pikir sudah rampung urusannya. Tanpa disangka, beliau kemudian mengecek papan atas almari kantor, untuk melihat apakah debu yang melekat di permukaannya sudah saya lap atau belum.

Dengan menggunakan beberapa jari tangannya, ia goreskan. "Kamu bersihkan tadi almari ini?" Katanya dengan tone ke atas. Saya diam! Tidak berani menatap matanya yang mulai melotot, kurang bersahabat.

Kalimat-kalimat berikutnya sudah bisa saya duga. Pendeknya, menyalahkan. Padahal, jika itu sebuah prestasi, maka saya sudah menyelesaikan keseluruhan soal-soal yang tertulis, manakala diibaratkan sebuah ujian, hampir sempurna. Semuanya sudah saya bersihkan. Tinggal bagian permukaan almari yang belum.

Saya menyesal tidak memiliki checklist urusan kebersihan ini. Jadilah kemarahan yang saya terima. Bukannya ucapan terimakasih atau pujian!

Pembaca......

Tidak semua guru melakukan seperti apa yang saya alami di atas. Beberapa guru amat sabar dan bijaksana dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya. Jumlahnya guru seperti ini umumnya jarang sekali.

Dalam hati waktu saya masih duduk di usia sekolah, berkata: "Andai jadi guru nanti, saya pasti tidak ingin seperti mereka!"
Saya pernah menemui seorang guru, statusnya tidak tetap di sekolah kami, namun amat baik. Selain mengajarnya enak (mungkin karena saya menyukai mata pelajarannya), dia sabar dan menyenangkan. Faktor-faktor ini yang membuat saya tidak pernah absen dan selalu duduk di depan jika beliau mengajar.

Saya pernah diundang ke rumahnya. Dijemput oleh beliau, dijamu makan malam, diantar balik ke asrama. Sampai pernah kecepit jari saya di pintu mobilnya saat menutupnya karena tergesah-gesah. Tetapi saya tidak menyesal.

Hingga kini, saya masih ingat dengan beliau yang hapal sekali dengan nama saya. Setiap tugas-tugas yang diberikan kepada kami, juga ujian selalu saya selesaikan dengan baik.

Pengalaman seperti yang saya uraikan di atas, bagi sementara orang sangat membekas, sehingga memiliki dampak besar dalam perjalanan karirnya di kemudian hari.
Ada guru-guru yang lebih 'kejam' dalam memperlakukan murid-murid atau mahasiswanya. Meski orang-orang ini sadar dan tahu betul, kini sudah bukan zamannya lagi.

Kekejaman yang saya maksud di sini bukan berarti kekejaman secara fisik. Artinya, saat ini sudah bukan era lagi di mana guru memukul murdinya, meski beberapa kasus masih bisa ditemui. Kekejaman yang saya maksud sudah berwajah lain. Bisa kekejaman sosial, politik, moral hingga ekonomi.

Kekejaman sosial di antaranya adalah, guru tidak peduli dengan muridnya. Acuh sekali. Jangankan namanya, muridnya datang atau tidak, bukan menjadi bagian dari perhatiannya. Meskipun tahu bahwa ini merupakan tugas dan tanggungjawabnya.

Secara politik, guru tidak peduli, apakah materi yang diajarkan nanti sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh anak-anak, sesuai dengan cita-citanya. Guru tidak peduli apakah kualitas materinya bakal memberikan dampak positif kepada bangsa dan negara atau tidak.
Secara ekonomi, guru tidak lagi peduli apakah anak-anak didiknya ini mampu atau tidak. Dari keluarga punya atau tidak. Yang penting, sepanjang kebutuhan dapur dan pulsa HP nya terpenuhi, dia tidak peduli. Kalau perlu, guru-guru seperti ini akan menjual makalah kepada mahasiswanya sekaligus nilai yang diminta oleh mahasiswa. Ada bisnis, jual beli di kampus untuk urusan karya tulis dan skripsi. Buah akhir dari sikap guru seperti ini adalah semakin membengkaknya jumlah lulusan dengan predikat dekadensi moral!
Guru-guru ini kalau boleh saya katakan 'kencing sambil berdiri'. Pembenahan standard operating precedure bagi profesi yang satu ini adalah sebuah kebutuhan. Bukan cuman untuk menghindarkan 'hukuman dan kemarahan' dalam sekolah saja, tetapi juga peningkatan kualitas. Bahwa hukuman atau kemarahan di sekolah tidak ada kaitannya dengan mutu lulusan perlu ditekankan.

Saya kuaitir, jika kualitas pendidik di negeri seperti ini, akan ditirukan oleh generasi mendatang, lebih buruk lagi. Generasi yang tidak akan malu dan ragu lagi untuk 'kencing sambil berlari'!

Doha, 22 June 2012
shardy2@hotmail.com




Reaksi:

1 komentar:

  1. Berikut ini kami sajikan tulisan dari Sahabat kami Bpk.Syaifoel Hardy. Beliau adalah perawat senior Indonesia yang berada di DOHA-QATAR.

    Selain perawat, beliau juga pengajar, penulis dan trainer sekaligus owner dari http://www.indonesiannursingtrainers.com/.

    Selamat menikmati sajian kebijaksanaan.
    Salam SMANGAT!

    BalasHapus

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...