Sabtu, 02 Juni 2012

Euphoria Phobia : Merayakan Ketakutan, Memelihara Kekerdilan


Euphoria Phobia : Merayakan Ketakutan, Memelihara Kekerdilan
Oleh 
HILDAN FATHONI



Assalamu alaiku Para Pembaca yang Budiman,

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis mengenai tema ini, yaitu ketika permasalahan pengusiran Irsyad Manji ramai dibicarakan. Sebeltm memulai ulasan dari saya, marilah membaca artikel di www.kompas.com yang memuat wawancara dengan beliau :

Irshad Manji: Buku Saya Bukan tentang Gay dan Lesbian
Senin, 7 Mei 2012 | 21:22 WIB
KOMPAS.com —Irshad Manji adalah penulis buku Allah, Liberty, and Love. Wanita asal Kanada ini mendapat desakan dari organisasi masyarakat sehingga peluncuran bukunya yang digelar di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2012), dibubarkan massa ormas yang mengatasnamakan Islam dengan salah satu tudingan di dalam bukunya ia menyebarkan gay dan lesbian.
Meski berhasil dibubarkan pada hari perta ma, Irshad tetap bisa menghadiri diskusi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Kalibata, Jakarta Selatan, keesokan harinya, Sabtu. Tak seperti di Salihara, diskusi di Kantor AJI Jakarta, berlangsung tertib.
Apa yang sebenarnya Irshad sampaikan lewat bukunya sehingga memicu reaksi keras sebagian kelompok itu?
Irshad yang masih berada di Jakarta hingga Senin hari ini mengundang Kompas.com untuk berbincang santai di hotel tempatnya menginap. Ia menjelaskan tentang konsep bukunya, tentang pandangannya terhadap Islam, dan tentang tujuan utama menerbitkan buku dan mengunjungi Indonesia.
Berikut adalah hasil wawancara Kompas.com dengan Irshad:
Banyak yang menuduh bahwa buku Anda bercerita tentang kaum gay dan lesbian. Apakah tuduhan ini benar? Sebetulnya apa isi di dalam buku Allah, Liberty, dan Love?
Saya sama sekali tidak bercerita tentang gay dan lesbian di dalam buku ini karena tidak relevan dengan pesan yang ingin saya angkat. Buku Allah, Liberty, and Love sebetulnya mengajarkan tentang bagaimana umat Muslim bisa mempraktikkan kebebasan dalam kehidupannya. Dalam arti bebas untuk bertanya, bebas untuk mempelajari makna yang tertulis dalam Al Quran.
Satu hal yang mendorong saya menulis buku ini adalah masih banyak orang yang tidak menemukan titik temu antara Tuhan dan cinta, seolah-olah kedua kata itu adalah kata yang berbeda. Ini sangat disayangkan. Maka, buku ini memberikan panduan kepada para pemikir, para penulis, dan orang-orang yang percaya untuk menginterpretasikan Tuhan dan cinta ke dalam satu pemahaman. Baca buku saya dan Anda akan terkejut tentang fakta-fakta yang tertulis di dalamnya.
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam buku Allah, Liberty, dan Love?
Pesan terbesar saya adalah kita tak perlu memiliki ketakutan akan Tuhan karena Tuhan adalah cinta. Kita perlu berjuang di dalam hidup kita tanpa ketakutan. Kita harus punya kekuatan untuk berbicara ketika semua orang menyuruh kita diam. Karena ada banyak hal yang lebih penting yang bisa kita lakukan selain hanya merasa takut.
Pesan kedua saya dalam buku ini adalah bahwa budaya bukanlah sesuatu yang sakral. Fenomena yang saya tangkap dalam kehidupan umat Muslim saat ini adalah bahwa umat Muslim hidup dalam tradisi dan budaya, yang dibentuk oleh manusia, bukan oleh Tuhan.
Di Indonesia, misalnya, ketika kita masuk ke madrasah-madrasah, yang diajarkan oleh ulama adalah, "Jangan bertanya, dengarkan perkataan saya dan turuti!"
Kaum muda diberikan doktrin tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi, untuk bertanya. Maka, saya menuliskan sebuah buku yang menjelaskan kembali tentang ijtihad, tentang mencari sebuah kebenaran yang tertulis di dalam Al Quran.
Pesan ketiga adalah janganlah menjadi kaum moderat, tetapi jadilah kaum reformis; karena menjadi moderat tidaklah berguna.
Mengapa Anda meluncurkan buku di Indonesia, bukan di negara-negara Islam lainnya?
Bagi saya, Indonesia adalah salah satu model negara yang memiliki warga yang cukup berpikiran terbuka, sangat bertoleransi, dan sangat ramah. Empat tahun lalu, saat saya meluncurkan buku saya The Trouble With Islam Today' di Indonesia, saya merasa begitu diterima. Namun, ternyata saat ini keadaannya sudah berbeda. Orang lebih takut kepada mafia, gengster, dan yang lainnya, yang menghalangi kebebasan berbicara dan berpendapat.
Bagaimana pendapat Anda tentang diskusi buku di Salihara?
Saya sangat menyayangkan ada kelompok orang yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Sebaliknya, saya salut kepada teman-teman yang hadir di Salihara, yang tetap berada di samping saya, di sekitar saya, dan tetap mendukung saya meski dalam tekanan.
Apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada massa yang membubarkan diskusi buku Anda?
Saya ingin mengatakan bahwa Anda memiliki hak untuk tidak berpihak kepada saya, Anda memiliki hak untuk tidak setuju dengan pendapat saya, Anda punya hak untuk mempertahankan pendapat Anda sendiri, tetapi Anda tidak punya hak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Anda tidak punya hak untuk memaksakan kehendak Anda agar diterima semua orang. Islam mengajarkan tentang perdamaian dan bukan kekerasan. Jangan membenci orang lain seolah-olah Anda adalah Tuhan.
Ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada warga Indonesia?
Pesan saya kepada masyarakat Indonesia, terutama kaum muda, inilah saatnya Anda berbicara dan menanyakan hal yang ingin Anda tanyakan. Ada banyak tempat bertanya bagi Anda, bukan hanya kepada para ulama. Anda bahkan bisa mencoba berdiskusi langsung dengan tim saya di website www.irshadmanji.com dan klik di kolom kontak. Saya memiliki 10 orang dari beragam kalangan yang terbuka untuk berdiskusi tentang Islam.
Sebelum mengakhiri wawancara, saya ingin bertanya kepada Anda tentang dua hal: Islam dan ijtihad, Apa pendapat Anda tentang dua hal ini?
Saya adalah seorang Muslim. Saya mencintai Allah, sangat dalam. Saya percaya segala sesuatu diciptakan Allah dengan alasan. Dan, bagi saya, hidup adalah sebuah pemberian. Islam adalah agama yang menuntun kepada kehidupan menjadi lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah. Kita beragama, sebagai sarana untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas pemberian (kehidupan) yang telah diberikan kepada kita.
Adapun ijtihad adalah praktik berpikir yang independen, yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Ijtihad tidak membungkam manusia untuk menanyakan sesuatu. Ijtihad membuka jalan bagi manusia untuk mengembangkan banyak hal. Dari sumber yang saya baca, ratusan tahun lalu, manusia bisa mengembangkan filosofi, sains, dan seni berkat ijtihad. Dan, sekali lagi, buku saya juga menjelaskan tentang hal ini. Mari kita jadikan Islam menjadi lebih baik dengan ijtihad.
================================================

Keberanian Berbeda Pendapat
Jika ada yang berfikir bahwa kebebasan mutlak tidak lah ada, maka saya salah satu pendukungnya. Tetapi, saya juga melawan pembodohan publik atas nama doktrin agama. Saya setuju dengan pendapat Irsyad Manji bahwa “menjadi MODERAT tidaklah berguna, jadilah REFORMIS”. Maka tulisan ini saya persembahkan bagi jiwa-jiwa pemberani pecinta kebijaksanaa dan pencari kebenaran sejati di Jalan Gusti ALLOH.

Menurut hemat saya, banyak penolakan terhadap pemikiran non-mainstream adalah salah satu bukti pengakuan kelemahan diri dan ketakutan akut. Seorang yang telah dewasa dari segi pemikiran akan sangat senang jika ada lawan diskusi yang memperkaya khasanah pengetahuannya. Pencarian kesejatian diri, kebijaksanaan dan kebenaran tidak mungkin terwujud jika kita hanya bergumul dengan pemikiran sejenis, mainstream, aman dan mapan. Tetapi akan berkembang dalam iklim yang saling berbeda, saling bertabrakan, bertumbukan, sehingga saling menjajaki kekuatan dan kelemahan. Jika kita memiliki tesa dan lawan diskusi kita memiliki antitesa maka akan muncul sintesa.

Saya membayangkan berbagai hal yang berkecamuk di dalam pikiran para pengusir Irsyad Manji. Bayangan yang muncul adalah ketakutan akan banyak homo-lesbian di Indonesia, anak-anak muda menjadi liberal, masyarakat menggampangkan ajaran Islam, semakin banyak yang melecehkan Islam dan banyak ketakutan sejenis. Nah…ini lah benih dari kekerdilan berpikir, karena setiap perbedaan dan pertentangan pendapat dianggap PENYAKIT KANKER.

“Bagi saya semua fenomena ini bukanlah  tentang kebebasan berpendapat, tetapi lebih pada keberanian berbeda pendapat

Anda mungkin ahli dalam ilmu ke-Islam-an, tetapi belumlah dapat diakui jika tidak berani berdiskusi secara elok dengan golongan yang perspektif ke-Islam-annya berbeda dengan Anda. Karena keberanian berdiskusi secara elok melibatkan tidak hanya kemampuan intelektualitas, tetapi juga kemampuan retorik dan pengelolaan emosi tingkat tinggi. Saya hanya membayangkan penentangan kelompok Islam tertentu terhadap Irsyad Manji lebih diakibatkan oleh ketakutan kalah dalam berargumentasi dan menahan emosi. Sehingga kekhawatiran tersebut dimanifestasikan dalam perbuatan anakhis berkelompok.

Diskusi Adalah Ciri Kedua Masyarakat Berbudaya
Kita mungkin pernah mendengar bahwa garis batas antara jaman prasejarah dan jaman sejarah adalah TULISAN. Saya ingin sedikit melengkapi pendapat tersebut, bahwa :
“Garis batas kedua antara jaman prasejarah dan sejarah adalah BERDISKUSI

Apakah Anda terbiasa berdiskusi?
Apakah Anda terbiasa berbeda pendapat?
Apakah Anda pernah KALAH argumentasi?
Apakah Anda takut jika salah dalam mengemukakan pendapat?
Apakah Anda pernah dididik untuk bertoleransi dalam perbedaan pendapat?
Apakah Anda pernah dididik untuk MENANG dalam perdebatan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus Anda jawab terlebih dahulu sebelum kita melanjutkan pembahasan ini !!!
Jika Anda belum pernah berpatisipasi dalam perdebatan publik, maka kemungkinan Anda akan phobia terhadap perbedaan pendapat yang tajam. Pengalaman empirik berada dalam perdebatan akan mempengaruhi persepsi kita terhadap adu argument, yang selanjutnya bisa menyebabkan ketakutan akan perbedaan pendapat. Jika belum pernah, maka BERDEBATLAH !!!

Tulisan adalah awal mula sejarah. Pastilah tulisan ada karena keberadaan bahasa verbal (bahasa ucap) terlebih dahulu. Sesuatu yang dituliskan biasanya pernah diucapkan walaupun dalam bahasa tubuh yang sangat sederhana. Sangatlah mustahil memisahkan kedua jenis bahasa tersebut.

Lalu…apa hubungannya dengan tema Irsyad Manji???
Lihatlah fenomena yang sering terjadi beberapa tahun terakhir. Dimana sering kali perbedaan persepsi diakhiri dengan adu otot dan saling serang. Bagi saya ini adalah ciri masyarakat yang TIDAK BERBUDAYA ,bisa disebut juga perilaku masyarakat prasejarah. Mengapa demikian? Karena mereka sudah menghilangkan aspek berdiskusi secara damai sebagai ciri dari masyarakat yang fasih dalam berbahasa verbal.

Logikanya…jika mereka pandai untuk berargumentasi dalam memenangkan sebuah gagasan, tentunya akan enggan beradu otot dan saling menyerang. Karena dengan berargumentasi mereka mengasah pemikiran dan membutuhkan intelektualitas serta pengendalian emosi. Tetapi sebaliknya, beradu fisik dan melempar benda keras tidak lah diperlukan kedewasaan berpikir, intelektualitas dan pengendalian emosi. Itu hanya skill tingkat dasar dari manusia prasejarah, yaitu melempar batu, memukul dan menggunakan tongkat pemukul. Anda tidak perlu lulus SD untuk melakukannya.

Saya belum mengetahui banyak tentang Irsyad Manji, pemikirannya, apalagi bukunya. Sedikit yang saya ketahui adalah kompilasi hasil wawancara dari beberapa media online. Tetapi seandainya saya diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan beliau, maka akan sangat berharga bagi perkembangan intelektualitas dan kebijaksanaan berpikir saya. Walaupun misalkan saya tidak sependapat dengan pemikiran beliau, setidaknya ada sedikit hikmah dan kebijaksanaan yang bisa diperoleh darinya. Saya teringat kata-kata mutiara dari Sayyidina Ali, kurang lebih berbunyi “Ambillah hikmah dimanapun dia berada, karena hikmah adalah harta kaum muslim yang hilang”.

Katak Dalam Tempurung
Kata-kata klasik ini selalu asyik untuk digunakan. Kali ini saya menggunakannya untuk menggambarkan kondisi beberapa kelompok yang anti terhadap perbedaan pendapat. Saya merasakan bahwa system pendidikan keagamaan Islam yang dianut beberapa golongan sangat lah kurang relevan terhadap tantangan modernitas. Masih ada anggapan bahwa pendidikan Islam harus dijauhkan dari pemahaman Islam Liberal, pemikiran Orientalisme, Ateisme dan paham-paham lain yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Saya memiliki pendapat yang berbeda, yang coba saya analogikan sebagai berikut:
“Mengapa bulir beras begitu putih? Karena semenjak dia menjadi bulir padi mengalami penggilingan. Dalam penggilingan tersebut dia bertabrakan, bergesekan dan saling mengelupas antara bulir padi yang satu dengan yang lain. Sehingga kulit luarnya terbuang dan muncullah bulir padi yang putih bersih dan ranum, yang siap ditanak menjadi nasi yang lezat bergizi”

Dalam analogi di atas, maka adanya perbedaan dan pertentangan adalah mutlak. Kita tidak bisa menolaknya, justru kita harus mengelolanya. Jika kita menginginkan pemahaman yang murni dan kebijaksanaan yang sejati, maka perbedaan dan diskusi adalah “sego janga” (seperti nasi dan sayuran, makanan sehari-hari). Karena pergesekan itulah yang akan mengelupaskan cangkang kesombongan dan memunculkan bulir kebijaksanaan.

Jika demikian, kita jangan lah anti terhadap aliran dan pemikiran yang berseberangan dengan pemikiran kita. Berdiskusilah dengan  mereka, berdebatlah dengan sengit, lalu bersalamanlah dengan damai dan rasakan hikmah yang kita peroleh.

Jika yang terjadi sebaliknya. Kita melarang diri kita, teman dan saudara untuk mendiskusikan pemahaman Islam Liberal, pemikiran orientalis, aliran atheis, dan sejenisnya. Maka kita menurunkan imunitas (kekebalan) kebijaksanaan diri dan orang lain secara menyedihkan. Kita tidak pernah berlatih memperjuangkan argument secara ilmiah, hanya berpegang pada doktrin golongan sendiri sembari menghujat dan mengusir golongan lain. Tentunya sangatlah menyedihkan untuk sekelas masyarakat yang sudah merdeka lebih dari setengah abad. Masyarakat yang berani melawan penjajah dengan taruhan nyawa, tetapi takut berdiskusi dengan mengandalkan logika…astaghfirulloh.

Aparat dan Negara Autopilot
Hal yang lebih parah dialami oleh aparat penegak hokum yang tidak bisa mengamankan kondisi. Aparat tidak lah boleh masuk dalam wilayah multi tafsir, wilayah dimana terdapat banyak perbedaan pendapat antar golongan. Hanya SATU hal yang harus dilakukan, yaitu menegakkan hukum sesuai aturan perundang-undangan.

Jika aparat selalu tunduk terhadap tekanan kelompok agama tertentu, maka hal ini adalah indikasi KUAT bahwa aparat dalam kondisi RAGU, BIMBANG, TAKUT dan KEHILANGAN ARAH. Sering kali kita menyaksikan aparat membubarkan sebuah diskusi atau pun acara suatu kelompok karena alasan mengganggu ketertiban. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah karena adanya tekanan dari kelompok tertentu.

Sebenarnya hal tersebut bisa diselesaikan oleh pimpinan tertinggi institusi tersebut. Misalkan Kapolri memberikan instruksi untuk menangkap setiap kelompok yang menggerakkan massa untuk menyerang kelompok lain. Nah jika polisi hanya patuh pada peraturan maka tragedy pengusiran Irsyad Manji saat acara diskusi tidak lah terjadi. Saya sempat berpikir, seberapa jantan sih mereka??? Kok kalah dengan kelompok agama tertentu.

Bahaya dari kondisi lemahnya aparat adalah terjadinya konflik horizontal. Dimana mesyarakat merasa harus membela haknya sendiri, merasa berhak menekan pihak lain yang berseberangan pemikiran, merasa bebas melakukan tindakan anarkhis atas nama agama, dan merasa tidak ada yang membela ketika ada kelompok garis keras yang menyerang golongan yang dialogis.

Kepercayaan masyarakat akan hancur, dikarenakan negara tidak bisa menjamin keamanan dalam negeri. Masyarakat akan cenderung mengalah terhadap aksi kekerasan yang dilakukan kelompok agama dan selalu ingin berdamai saja dari pada kena lempar batu dan pentungan. Perdamaian ini disebut juga Perdamaian Negatif, sebagai akibat negara yang autopilot tanpa kendali yang tegas.

Apakah Anda masih menganggap para preman berjubah itu adalah TENTARA TUHAN??
Jika iya, saya ucapkan selamat kepada Anda. Karena Anda mendapatkan tiket gratis menuju jaman batu, mungkin Anda akan bertemu Flinstone…hmmmm.

Sekian ulasan dari saya, pastinya sebagai orang awwam banyak khilaf dalam berpendapat. Tentunya saya membuka lebar kesempatan untuk berdiskusi dan saling berbagi ilmu. Jika ada pendapat yang benar hal itu semata-mata datangnya dari Gusti ALLOH SWT dan jika ada kesalahan itu murni dari kebodohan saya.
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.



HILDAN FATHONI

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...