This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 26 Juni 2012

Waiting for the Second Chance





 oleh
 
pada 25 Juni 2012 pukul 22:20


By Syaifoel Hardy

Mayat di depan kedua kelopak mata ini sudah mulai terbujur kaku. Orang-orang sekitar, sanak keluarga, tetangga mulai berdatangan. Teman-teman juga murid-murid sekolah, ratusan jumlahnya, tidak ketinggaalan.

Rumah kami yang terletak di sebuah gang pertama di desa nampak dipadati oleh para pelayat. Penuh sesak sudah di ujung gang, di mana rumah kecil berukuran 6x12 tersebut berdiri. Rumah lama peninggalan mendiang buyut kami.
Perlahan, namun sangat tidak terasa, air mata ini mulai menetes, saat saya pandangi wajah teduh yang berbaring, istirahat untuk selamanya. Menghadap Dia Yang mahakuasa. Tertutup matanya sudah.

Tidak kuasa lagi, jangan kan berbicara, berdetak pun sang jantung sudah tidak. Ya, beliau sudah berpulang, meninggalkan kami, untuk selama-lamanya.

Beliau bukan hanya seorang terdekat dalam keluarga kami. Beliau adalah Ayah kami. Ayah yang dulu mengajak saya untu ikut naik truk sewaktu mendaftarkan diri saya masuk ke sebuah sekolah kejuruan. Lantaran tidak punya cukup uang untuk naik bus kota.

Ayah yang dulu mengajak saya untuk makan di warung dengan hutang, karena tidak punya cukup uang buat bayar.
Ayah yang dulu sering saya marah karena sangat tidak sukanya saya akan rokok yang setiap saat tergeletak di atas mejanya.

Ayah yang dulu memberikan kemerdekaan kepada saya untuk belajar atau tidak. Karena hasil belajar adalah milik saya, bukan siapa-siapa.

Ayah yang dulu hanya tersenyum saja, meski di sakunya tidak ada uang sisa!

Pipi ini semakin membasah mengingat segala jasanya, terhadap anak-anaknya yang berjumlah dua belas.
Ada banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang beliau. Ada sejuta cerita yang bisa saya ungkap tentang kehidupannya sepanjang saya ingat. Tapi tudak mungkin saya tuangkan semuanya di sini!

Kini, dua puluh lima tahun sudah berselang. Wajah teduhnya selalu membayang. Termasuk ketika saya tadi sedang di perjalanan pulang. Dari tempat kerja hingga rumah.

Saya ingin berbagi cerita tentang satu hal kepada pembaca yang budiman tentang nilai sebuah kesempatan.
Saya gunakan Ayah saya sebagai contoh karena peran beliau begitu mendalam. Bukan saja Ayah kami. Saya rasa ayah siapa saja.

Pembaca......

Sebagai seorang yang bekerja di dunia kesehatan, bahkan orang awam, akan dapat mengenal, apakah orang yang sudah memasuki usia tua, mengalami sebuah gangguan kesehatan atau tidak.

Saya amati beliau sudah tidak lagi mau makan. Badan makin kurus. Subhanallah......berat rasanya untuk menuliskan kondisi beliau saat itu di atas kertas ini. Di sore hari ini, menjelang Maghrib.

Saya sangat teringat pula ketika meletakkan kepala di paha beliau. Katanya, "Kamu besok mudah-mudahan bisa ke luar negeri!" Katanya, yang saya tangkap sebagai gurauan. Padahal, apa yang beliau sampaikan ternyata kemudian terwujud, enam tahun kemudian.

Mau ke rumah sakit, Ibu berkata tidak usah. Dibilang sudah tua. "Biarlah, kita rawat saja di rumah!" Saya turut mengiyakan.

Waktu itu, di rumah, saya tergolong yang paling besar. Kakak-kakak kami semuanya sudah berkeluarga dan menyebar ke berbagai kota.

Jika saya sedang bekerja, tentu hanya Ibu sendirian yang merawatnya. Benar, sungguh saya amat khawatir dengan apa yang terjadi pada Ayah. Lewat cerita Ibu dan melihat kondisi fisiknya yang makin lemah, saya mendatangi seorang dokter yang saya kenal. Konsultasi kami lakukan jarak jauh saja. Karena itulah yang dikehendaki Ibu.

Sepanjang sakitnya, Ayah tidak pernah kami bawa ke dokter. Apalagi Puskesmas atau Rumah Sakit! Mungkin saya salah. Kami salah. Tapi saya sendiri tidak berdaya.

Beberapa tindakan keperawatan dan pengobatan yang mestinya dikerjakan di RS, dengan sangat terpaksan kami lakukan di rumah. Saya yang melakukan semuanya. Ah...betapa sakit barangkali yang dirasakan beliau waktu itu. Namun tidak beliau keluhkan.

Suntuik, infus, kami kerjakan di rumah. Bagaimana mungkin bertahan hidup jika tidak makan dan minum hanya sedikit? Kulit mulai mengisut dan kondisi lemah sekali dalam lima hari terakhir sesudah jatuh sakit. Ibu juga mengatakan bahwa Ayah tidak bisa (maaf) buang air besar waktu itu. Saya yang membantu mengeluarkannya.
Barangkali Allah SWT menghendaki beliau tidak berlama-lama bersama kami.

Sebagai orang yang beragama, saya pun berdoa, untuk meringankan beban derita ini kepada beliau yang kami cintai. Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar jawaban kami. Ayah pun menghadap kepadaNya sesudah sekitar tujuh hari sakitnya.

Selama tujuh hari sakit tersebut, saya sangat menyesal karena tidak dapat berbuat banyak untuk membuktikan cinta kasih ini kepada beliau sebagai anak. Selama tujuah hari tersebut hanya sesudah pulang kerja saja saya bisa menemui beliau yang sedang lemah kondisinya dan membutuhkan perawatan. Sepanjang tujuh hari tersebut ternyata bakti saya bukan apa-apa dibanding jasanya kepada kami. Luapan cinta beliau memang tidak mungkin kami balas!

Saya juga tidak mungkin memiliki kesempatan kedua untuk memberikan pelayanan terbaik buat orangtua.
Memberikan sesuatu kepada Ayah yang membuat beliau senang. Bahkan waktu itu, karena baru awal-awal tahun kerja, rasanya belum pernah membelikan baju baru buat beliau.

Saat ini, dua puluh lima tahun sudah, saya masih simpan sarung Samarinda beliau yang sudah sangat usang di almari saya. Sarung kenangan yang diberikan kepada saya pada tahun 1979. Sarung biru yang kelihatan amat menyala meski tua usianya.

Dalam perjalanan pulang tadi, di tengah panas terik gurun Qatar, saya sempat melihat di pinggir jalan, seorang lelaki tua, sedang mencabuti rumput di pinggir jalan. Anda bayangkan suasana musim panas di Timur Tengah yang lebih dari 40 derajat. Saya membayangkan anak-anak lelaki tua tersebut di negara asalnya saja sedang apa.  

Adakah mereka mengetahu apa yang diperbuat oleh ayahandanya di negeri seberang sana? Adakah mereka sadar bahwa begitu berat yang dirasakan oleh sang ayah demi tumbuh kembangnya anak-anak? Seberat barangkali beban Ayah saya waktu itu, ketika dihadapkan pada kondisi bagaimana harus menyekolahkan anak-anaknya, sementara dana amat terbatas. Karena itu, saya dikirimkannya ke sekolah kejuruan yang gratis dan dibiayai oleh Pemerintah.

Ayah saya tersenyum di hari ketika saya lulus. Senyuman polos seorang pensiunan sipil yang amat lugu. Tanpa malu-malu dari desa, beliau tenteng selembar tikar tua, entah untuk tujuan. Kata teman sekamar saya: "Eh...ayahmu membawa tikar, apa beliau pikir di sini tidak ada kasur?" Sambil bercanda. Tapi saya tidak sakit hati. Beberapa saat kemudian Ayah bilang: "Tikar ini untuk membungkus kasur dibawa pulang!"

Meski  saya terhitung paling miskin di antara teman-teman. Saya bangga terhadap perjuangan Ayah memasukkan sekolah pilihannya yang semula dikatakan: "Siapa tahu, suatu hari nanti, profesi ini lebih baik bagimu!"

Ternyata benar! Saya tidak ingin mengecewakan sekolah pilihan beliau. Saya berusaha menyintai profesi yang saya lakoni bertahun-tahun ini. Yang darinya membuat saya selalu ingat akan jasa beliau tercinta.

Pembaca.......

Kesempatan berbuat baik selalu ada. Bukan hanya kepada ayah, ibu dan saudara semata. Kepada banyak orang. Sekalipun mereka yang tidak kita kenal. Apalagi kepada orang terdekat: ayah, ibu dan saudara.

Karenanya, jangan tunda perbuatan baik, selagi masih hidup. Lakukan segera, agar tidak menyesal. Amalan baik tidak harus dalam bentuk uang atau material. Senyum ikhlas pun, yang membuat orang lain senang, juga amalan yang tidak sedikit pahalanya. Apalagi jika diniatkan ibadah!

Rasanya, betapa menyesal diri ini lantaran tidak memiliki waktu cukup lama untuk berbuat yang terbaik bagi beliau yang kini, semoga sedang beristirahat dengan tenang di sisiNya.

Wallahu a'lam!


Doha, 25 June 2012
shardy2@hotmail.com







Jumat, 22 Juni 2012

My Teacher Passing Urine Standing



oleh 
pada 22 Juni 2012 pukul 23:07



By Syaifoel Hardy

Setiap kali datang ke kelas, Pak Yadi, sebut demikian namanya, Kepala Sekolah kami, selalu membawa sebatang kayu kecil, berdiameter sekitar satu sentimeter, panjang. Kami yang anak-anak, kurang paham dengan tujuan pasti, kecuali memukul murid, mengapa harus membawa kayu.

Jika ada jam kosong, Pak Yadi biasanya masuk kelas. Jika ada yang nakal, kayu sepanjang seratus sentimeter itu bisa setiap saat melayang keras di atas permukaan kulit. 'Plasss!!!" Tentu saja sakit rasanya. Yang memukul sih...enak saja. Yang dipukul ini, yang menderita.
Saya lupa, berapa kali dipukul Pak Yadi. Yang jelas, pernah merasakan pecutannya!
Tradisi pengajaran seperti ini berlangsung lama. Pastinya saya kurang tahu. Yang jelas, lebih dari dua dasa warsa saya turut menyaksikan. Bahwa kebiasaan memukul murid yang nakal dengan kayu, adalah 'stempel' yang erat melekat di pundak Pak Yadi. Pak Yadi, kami kenal sebagai sosok galak dalam mendisiplinkan murid-muridnya.

Apa harus demikian?
Saat memasuki sekolah menengah pertama, sedikit beda dengan Pak Yadi, juga saya alami. Pak John namanya. Setiap omongannya, identik dengan marah. Kami sulit membedakan apakah guru bahasa Inggris yang satu ini sedang marah atau tidak.

Terkadang membawa sepotong kayu waktu memasuki kelas, terkadang tidak. Namun wajah seramnya, sulit disembunyikan. Hampir semua siswa sepakat dengan satu perbendaraan kata untuk guru ini, bahwa pak John identik dengan 'kemarahan'.

Gaya bicaranya selalu keras! Tidak memperlihatkan rasa simpatik sama sekali kepada siswa. Saya pribadi merasakan 'takut' ketimbang segan terhadapnya.
Kalau saya belajar Bahasa inggris dengan giat, itu karena saya menyukai pelajarannya, bukan karena takut. Alhamdulillah. Biasanya, siswa yang tidak suka gurunya, tidak pula menyukai pelajarannya. Entahlah!

Sepanjang ingatan saya, memang tidak pernah dimarahinya. Meski demikian, bahwa kesan beliau sebagai guru yang suka memarahi siswanya, belum hilang dari ingatan saya, hingga saat ini.

Bukan maksud saya menyimpan dendam, tetapi begitulah. Bahwa semua perkataan kasar yang sudah terlanjur kita keluarkan, memang tidak mungkin bisa ditelan kembali. Makanya, jangan heran, bila dampaknya bisa tertanam kuat, membekas bertahun-tahun lamanya.
Memasuki sekolah menengah atas, juga tidak beda. Malah jumlahnya kali ini lebih banyak. Dari semua guru tetap yang kami miliki, semuanya perempuan. Hanya satu laki-laki. Semuanya boleh saya katakan 'judes' dan 'pemarah'.

Kesalahan sedikit saja, bisa berdampak besar.
Hukumannya, jika saya diperbolehkan mengidentifikasi, bukan dalam bentuk fisik. Namun, sekali lagi, omongan yang ke luar dari mulut ini jika tidak 'tertata' dengan baik, bisa melukai perasaan. Tidak pandang bulu, apakah pada orang tua atau anak-anak muda.

Saya masuk di sekolah kejuruan. Guru-guru kami ini rata-rata memiliki karakteristik yang 'seram'. Saya tidak pernah berharap guru-guru saya ini pinter sastra. Sepertinya mereka tidak mengantongi kata-kata yang lebih bijak untuk 'menegur' siswa-siswa yang berbuat salah. Kesalahan identik dengan kemarahan dan hukuman. Seolah-olah, siswa yang sekolah tidak boleh salah.

Padahal, guru-guru ini tahu dan sadar betul bahwa siswa adalah anak-anak yang sedang belajar. Namanya belajar, berarti memasuki sebuah proses jatuh bangun. Belum mapan. Kesalahan adalah lumrah. Sepanjang bisa diluruskan dan ada niat untuk memperbaikinya, apakah tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk memperbaikinya selain kemarahan. Kecuali, jika kesalahan ini dilakukan berkali-kali.

Suatu hari, saya mendapatkan giliran untuk membersihkan kantor guru sebelum pelajaran dimulai. Waktu itu memang amat bodoh untuk mengerti. Mengapa siswa harus membersihkan kantor guru?

Kami harus membersihkan kaca jendela, meja kursi, kamar mandi dan tentu saja lantai. Lantaran sudah menjadi kebiasaan di sekolah, jadi tidak ada yang berani menolak. Apalagi saya yang 'penurut'. Saya menurut karena memilih aman. Menurut pada hemat saya akan menghindari konflik. Toh, menurut bukan berarti kalah! Siapa tahu ada hikmanya. Jadi, saya jalani saja apa yang diperintahkan oleh guru-guru ini.

Selesai membersihkan seluruh kantor, saya siap menuju kelas. Pelajaran dimulai pukul setengah delapan pagi. Pukul enam, saya sudah mulai bersih-bersih. Pukul tujuh beres.
Pada jam yang sama, yakni tujuh, guru-guru ini pada berdatangan. Salah seorang di antaranya, mengecek apa yang sudah saya kerjalan, seolah-olah saya adalah pekerja kebersihan yang paling bertanggungjawab terhadap bersih tidaknya kantor.

Ibu Yati, begitu saja saya sebut namanya, mulai melihat ke sana-ke mari. Jendela, meja, kursi juga kamar mandi. Saya pikir sudah rampung urusannya. Tanpa disangka, beliau kemudian mengecek papan atas almari kantor, untuk melihat apakah debu yang melekat di permukaannya sudah saya lap atau belum.

Dengan menggunakan beberapa jari tangannya, ia goreskan. "Kamu bersihkan tadi almari ini?" Katanya dengan tone ke atas. Saya diam! Tidak berani menatap matanya yang mulai melotot, kurang bersahabat.

Kalimat-kalimat berikutnya sudah bisa saya duga. Pendeknya, menyalahkan. Padahal, jika itu sebuah prestasi, maka saya sudah menyelesaikan keseluruhan soal-soal yang tertulis, manakala diibaratkan sebuah ujian, hampir sempurna. Semuanya sudah saya bersihkan. Tinggal bagian permukaan almari yang belum.

Saya menyesal tidak memiliki checklist urusan kebersihan ini. Jadilah kemarahan yang saya terima. Bukannya ucapan terimakasih atau pujian!

Pembaca......

Tidak semua guru melakukan seperti apa yang saya alami di atas. Beberapa guru amat sabar dan bijaksana dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya. Jumlahnya guru seperti ini umumnya jarang sekali.

Dalam hati waktu saya masih duduk di usia sekolah, berkata: "Andai jadi guru nanti, saya pasti tidak ingin seperti mereka!"
Saya pernah menemui seorang guru, statusnya tidak tetap di sekolah kami, namun amat baik. Selain mengajarnya enak (mungkin karena saya menyukai mata pelajarannya), dia sabar dan menyenangkan. Faktor-faktor ini yang membuat saya tidak pernah absen dan selalu duduk di depan jika beliau mengajar.

Saya pernah diundang ke rumahnya. Dijemput oleh beliau, dijamu makan malam, diantar balik ke asrama. Sampai pernah kecepit jari saya di pintu mobilnya saat menutupnya karena tergesah-gesah. Tetapi saya tidak menyesal.

Hingga kini, saya masih ingat dengan beliau yang hapal sekali dengan nama saya. Setiap tugas-tugas yang diberikan kepada kami, juga ujian selalu saya selesaikan dengan baik.

Pengalaman seperti yang saya uraikan di atas, bagi sementara orang sangat membekas, sehingga memiliki dampak besar dalam perjalanan karirnya di kemudian hari.
Ada guru-guru yang lebih 'kejam' dalam memperlakukan murid-murid atau mahasiswanya. Meski orang-orang ini sadar dan tahu betul, kini sudah bukan zamannya lagi.

Kekejaman yang saya maksud di sini bukan berarti kekejaman secara fisik. Artinya, saat ini sudah bukan era lagi di mana guru memukul murdinya, meski beberapa kasus masih bisa ditemui. Kekejaman yang saya maksud sudah berwajah lain. Bisa kekejaman sosial, politik, moral hingga ekonomi.

Kekejaman sosial di antaranya adalah, guru tidak peduli dengan muridnya. Acuh sekali. Jangankan namanya, muridnya datang atau tidak, bukan menjadi bagian dari perhatiannya. Meskipun tahu bahwa ini merupakan tugas dan tanggungjawabnya.

Secara politik, guru tidak peduli, apakah materi yang diajarkan nanti sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh anak-anak, sesuai dengan cita-citanya. Guru tidak peduli apakah kualitas materinya bakal memberikan dampak positif kepada bangsa dan negara atau tidak.
Secara ekonomi, guru tidak lagi peduli apakah anak-anak didiknya ini mampu atau tidak. Dari keluarga punya atau tidak. Yang penting, sepanjang kebutuhan dapur dan pulsa HP nya terpenuhi, dia tidak peduli. Kalau perlu, guru-guru seperti ini akan menjual makalah kepada mahasiswanya sekaligus nilai yang diminta oleh mahasiswa. Ada bisnis, jual beli di kampus untuk urusan karya tulis dan skripsi. Buah akhir dari sikap guru seperti ini adalah semakin membengkaknya jumlah lulusan dengan predikat dekadensi moral!
Guru-guru ini kalau boleh saya katakan 'kencing sambil berdiri'. Pembenahan standard operating precedure bagi profesi yang satu ini adalah sebuah kebutuhan. Bukan cuman untuk menghindarkan 'hukuman dan kemarahan' dalam sekolah saja, tetapi juga peningkatan kualitas. Bahwa hukuman atau kemarahan di sekolah tidak ada kaitannya dengan mutu lulusan perlu ditekankan.

Saya kuaitir, jika kualitas pendidik di negeri seperti ini, akan ditirukan oleh generasi mendatang, lebih buruk lagi. Generasi yang tidak akan malu dan ragu lagi untuk 'kencing sambil berlari'!

Doha, 22 June 2012
shardy2@hotmail.com




Kamis, 14 Juni 2012

Pengembara Bisnis

Pengembara Bisnis
Oleh
Hildan Fathoni



Apa yang akan Anda lakukan jika ada tulisan :

Akhirnya di 6 bulan pertama SAYA TEMBUS 1 MILLIAR
"PELUANG ABAD INI ! Kesempatan Berbisnis GLOBAL dengan,.. bonus yang SANGAT BESAR MENGEJAR “IMPIAN ANDA” untuk menjadi MILLARDER dalam hitungan bulan"
Bukankah Anda Menginginkan Kebebasan Waktu? Kebebasan Financial dan Tentu Saja Waktu Luang Yang Cukup Untuk Keluarga?

Salam Untuk Siapa Saja Yang Tertarik Dengan KEBEBASAN ^_^,
Berkembangnya pengguna internet didunia dan khususnya di Indonesia, membuka peluang untuk siapapun untuk bisa sukses mendapatkan income melalui media Internet. Bisa melalui bisnis periklanan, penjualan produk fisik, penjualan produk digital bahkan produk yang tidak anda miliki sekalipun.

Seorang Pecundang Selalu kelebihan satu alasan, Seorang Pemenang Selalu kelebihan satu solusi
Yuuk berfikir sebentar kenapa sih orang kaya kok tambah kaya ya?.....
Ketika saya bergaul dengan orang-orang kaya, yang saya dapati mereka selalu mencari solusi untuk menciptkan atau menemukan bisnis-bisnis baru yang bisa menciptakan mesin-mesin uang ketika mereka sedang berlibur sekalipun....
Lebih kagetnya lagi saya.....
Ternyata ketika berlibur "orang-orang kaya" seperti mencharger otak mereka untuk mendapatkan ide-ide baru dan bukan hanya menghabiskan uang untuk berlibur.

Faktanya .... Setelah pulang berlibur orang kaya akan semakin kaya hahaha :))
Sekarang saya kasih bocoran sedikit kenapa orang kaya semakin kaya ya
  • Orang Kaya Tidak Pernah Menunda Untuk Mengambil Kesempatan.
  • Dikamus Orang Kaya Tidak Ada Kata "Nanti Gimana Kalo", "Nanti Gimana Jika" dll.
  • Orang Kaya Berani Mengambil Resiko.
  • Orang Kaya Berfikir Pada Solusi Bukan Masalah.
  • Orang Kaya Melihat Semua Peluang Sebagai Bisnis.
  • Orang Kaya Selalu Mencari Partner/Teman bukan Menambah Musuh.
Alhamdulillah sampai saat ini Komisi yang saya dapatkan lebih dari cukup untuk Hidup dan Tanpa sedikitpun saya bekerja (hanya bekerja diawal pada saat bisnis ini muncul).
Hari ini Saya Tawarkan Sebuah Bisnis Global, Yang Bisa Membuat Membernya Berpenghasilan
Rp. 2,2 Milliar dalam 10 bulan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagian orang akan langsung bergabung dengan bisnis ini, tanpa memperhatikan kemampuan diri. Begitu membaca kalimat Jika Saya Bisa…Anda juga PASTI Bisa langsung mengambil tindakan membabi buta. Kata-kata ini akan banyak Anda temui di bisnis MLM dan investasi.

SEMUA KARENA TERGESA-GESA
  • Mengapa banyak penggila investasi “Berkebun Emas” akhirnya melabrak kantor-kantor Bank Syariah penyedia layanan ini ?.
  • Mengapa penikmat bisnis forex akhirnya kecewa karena dananya tidak bisa dicairkan ?
  • Mengapa pemula bisnis pemasaran online kecewa dengan seminar, workshop, ebook, audiobook, video tutorial yang membahas meraup untung besar dari bisnis internet, padahal kenyataannya setelah semua dipraktekkan tidak ada hasil yang dinikmati ?.
  • Mengapa member MLM banyak yang trauma karena tidak juga memiliki hasil jutaan, padahal katanya ada yang memperoleh hasil milyaran ?.

Jawabannya adalah… Karena Tergesa-gesa…

Ingat kata-kata ajaib Jika Saya Bisa…Anda juga PASTI Bisa” ???. Pada kenyata`nnya tidak semua orang bisa kan?. Ada banyak pengusaha kaya di daerah Kabupaten Malang yang hanya memproduksi keripik singkong dan camilan. Ada juga pengusaha kaya yang hanya berjualan besi bekas. Tidak jarang juga seseorang bisa kaya hanya dengan berjualan rempeyek atau pun kerajinan keset.

Mengapa mereka bisa kaya? Salah satu alasannya adalah : “Mengenal Diri & Mengenal Lingkungan”. Jika mereka bisa sukses dan kaya raya dengan bisnis yang ecek-ecek, apakah kita juga bisa meniru mereka?. Belum tentu… Karena kondisi kita dan lingkungan sekitar kita sangat berbeda dengan kondisi diri dan lingkungan para pengusaha tersebut.

Tulisan di atas yang berjudul “Akhirnya di 6 bulan pertama SAYA TEMBUS 1 MILLIAR” tujuannya adalah membuat para pembaca mengalami kondisi tergesa-gesa  dalam mengambil keputusan. Sehingga daya nalarnya lumpuh dan kondisi emosionalnya labil. Dalam kondisi tersebut seseorang akan mudah diarahkan untuk memenuhi instruksi tertentu, dalam hal ini untuk mengikuti ajakan bisnis dan investasi. Apalagi ada bukti screen shot pendapatan para member yang bernilai puluhan juta rupiah dan testimoni orang-orang terkenal tentang kedahsyatan bisnis tersebut.

Mereka sangat ahli dalam menangkap keresahan masyarakat dan memang dipersiapkan untuk menjawab setiap keraguan para calon member atau pun para calon investor. Maka sangat tidak mengherankan daya pikat tulisan dan presentasi mereka bisa menghipnotis kita.

LUANGKAN WAKTU
Lalu bagaimana cara bijak dalam memilih bisnis dan investasi?. Caranya sangat lah mudah dan bisa dipelajari siapa pun, termasuk Anda. Cara pertama adalah Mengenali Potensi Diri.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”, dan saya sangat setuju ungkapan ini. Relevansinya dengan bahasan kita adalah jika kita mengenal keunggulan, kelemahan, potensi dan halangan yang kita miliki maka kita akan dimudahkan dalam mengambil keputusan.

Luangkanlah waktu 15 menit untuk merenung tentang sejarah hidup kita :
1.    Apa makanan yang kita sukai dan kita benci ?.
2.    Apakah kita pandai menulis atau justru pandai berkomunikasi verbal ?.
3.    Apakah hobi kita membaca buku atau berkumpul bersama teman-teman ?.
4.    Apakah kita suka keteraturan dan detail, atau justru suka tantangan baru yang belum kita ketahui resikonya ?
5.    Apakah kita suka keuntungan besar sesaat atau keuntungan kecil berkelanjutan ?.
6.    Apakah kita suka mengatur atau suka mengikuti ?.
7.    Apakah kita cenderung bekerja sendiri atau kah bekerja kelompok ?.

Dan masih benyak pertanyaan lain yang secara jujur bisa kita jawab. Jawaban-jawaban mendalam tersebut akan mendeskripsikan siapa diri kita, dalam cara apa kita berpikir dan bertindak dan apa saja yang bernilai dalam diri kita.

Apakah Bill Gates dan Steve Job ikut membership MLM? Hampir dipastikan tidak, karena seumur hidup mereka bergelut dengan mimpi, idealisme dan visi seorang teknopreneur. Apakah Warren Buffett ikut trading forex? Tentu saja tidak, karena dia sudah punya banyak saham di berbagai perusahaan dan dia adalah tipe investor fundamental yang mengejar keuntungan jangka panjang. Apakah Ciputra berjualan makanan ringan sehingga menjadi kaya? Ah…tidak mungkin, karena grup bisnis propertinya terlalu menggiurkan.

Nah…beberapa tokoh di atas sudah mengenal diri dan lingkungannya sehingga apa pun bisnis yang digelutinya sudah mendarah daging sehingga tidak mudah tergiur dengan tawaran ber nada Jika Saya Bisa…Anda juga PASTI Bisa”. Mereka mengejar mimpi yang diciptakan sendiri, bukan mimpi yang dijejalkan oleh orang lain.

Luangkanlah waktu mengenali sejarah hidup orang lain :
Setelah Anda berdiskusi dengan diri sendiri, sekarang waktunya Anda keluar rumah. Temui para pengusaha dan investor yang sudah sukses. Ajaklah mereka untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman hidup. Jangan hanya diskusikan tentang kesuksesan y`ng sekarang mereka raih. Tanyakan juga perjuangan mereka dalam memulai bisnis dan investasi, kerugian, kesalahan mengambil keputusan, kisah-kisah penipuan yang mereka alami, keuntungan pertama yang mereka raih dan kisah-kisah heroik selama bertahun-tahun mereka jalani sehingga mencapai sukses seperti saat ini.

Dari sini Anda akan mulai membuka tabir baru dalam melihat peluang bisnis dan investasi. Anda bisa memulai bisnis dan investasi dengan melakukan “magang kerja” pada orang sukses yang Anda temui. Rasakan kegiatan keseharian mereka, tantangan dan sikap hidup yang mereka pilih.

Langkah-langkah di atas akan sangat membantu Anda mengenali “cara kaya” versi Anda, bukan cara kaya versi member MLM, investor forex, pebisnis internet yang tidak Anda kenali sepenuhnya.

TIDAK SEMUA PATUT DICOBA
Beberapa bisnis MLM itu BAIK dan bisa membuat Anda Kaya Raya.
Beberapa INVESTASI itu DAHSYAT dan bisa membuat Anda Merdeka.
Beberapa bisnis BISNIS ONLINE itu LUAR BIASA dan bisa membuat Anda seperti RAJA.

Tetapi harus diingat… Anda hanya punya waktu 24 jam dalam sehari dan harus bijaksana dalam mempergunakannya. Tidak semua hal baik harus dicoba, cobalah hal baik yang sesuai dengan kemampuan Anda.

Salam Smangat


HILDAN FATHONI

Owner :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...