Selasa, 13 Maret 2012

Duhai Sahabat Dalam Hening (2)


“Duhai Sahabat Dalam Hening (2)”
Oleh
HIldan Fathoni
An Ordinary People



Duhai Sahabat ku Para Tokoh Agama, Aku Ingin Bercerita :
Sungguh sangat terhormat posisi Anda. Kami mengakui Anda sebagai panutan adalah juga pengakuan kami atas kelebihan Anda. Kami yakin Anda lebih mengerti pengetahuan agama melebihi kami, sehingga memudahkan kami memutuskan suatu perkara dari sudut pandang kebijaksanaan agama. Kami yakin setiap saranka dan amalan yang engkau berikan akan berbuah manfaat bagi kami di masa depan. Bahkan kami yakin Anda lebih dekat dan disayang oleh Tuhan, sehingga kedekatan kami kepada Anda adalah usaha kami juga dalam mencari jalan Tuhan. Setiap ucapan Anda begitu bijaksana dan mencerahkan hidup kami yang terkadang buram.

Duhai sahabat ku para pemuka agama, tahukah Anda tentang keresahan kami akhir-akhir ini ?.
  1. Kami resah ketika ormas FPI menyerang ibu-ibu yang berdemonstrasi di Monas, padahal pimpinan mereka adalah seorang habib yang katanya adalah masih keturunan Nabi Muhammad. Apakah Nabi akan juga melakukan hal yang sama pada kaum wanita ataukah malah mengajak dialog dengan penuh kasih sayang. Kami yang awam ini bingung ketika banyak orang bersurban, sambil membacakan takbir mereka memukul, melempar, mendobrak bangunan-bangunan. Bahkan sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang seolah mendukung aksi mereka. Kami hanya tahu bahwa manusia harus diperlakukan seperti manusia, tidak layak dianiaya apalagi jika dia adalah para ibu yang penuh kasih sayang.
Kami sering berpikir. Jika tidak bisa membantu memperbaiki kondisi kami, setidaknya jangan membuat kerusuhan yang mengganggu keseharian kami. Jika bukan bagian dari solusi, setidaknya jangan menjadi bagian dari beban sejarah.
  1. Kami bingung, ketika melihat fakta bahwa banyak orang yang tampak alim berilmu justru berbuat kurang layak. Seperti para ustadz selebritis yang sibuk berakting sambil seolah berdakwah, yang pada akhirnya hanya sebagai bintang iklan baju koko, paket ONH plus, juru kampanye parpol dan lain sebagainya. Kami rindu kyai kampung yang tulus tanpa pamrih mendidik anak-anak belajar mengaji.
  2. Kami galau ketika Departemen Agama yang banyak menampung orang-orang berpendidikan agama, justru diisukan banyak melakukan korupsi.
  3. Kami kalut, ketika MUI tidak melakukan apa-apa terhadap aktivitas transaksi berjangka yang sedang marak di masyarakat. Pada hal transaksi tersebut sangat membahayakan nilai tukar dan ekonomi suatu negara. Kami yakin setidaknya salah satu anggota MUI mengetahui tentang bahaya transaksi derivative tersebut. Tetapi semuanya terdiam…semua akan terbangun dan rebut ketika penetuan awal Romadhon dan awal Syawal. Mungkin kah kami harus berfatwa sendiri ???

Kami paham, tentunya tugas para pemuka agama sangat lah berat karena harus menjaga moralitas umat. Pun juga menempuh ilmu di berbagai pesantren dan lembaga keagamaan selama belasan tahun adalah kerja keras tiada tara. Tetapi sebagai umat yang awam, kami mohon sahabatku sekalian bisa meredakan kegalauan kami…memberi jawaban pada masalah keseharian kami. Bukan hanya runtutan sholat, karena sholat sangat lah terbatas waktunya dan kegiatan lebih banyak pada pekerjaan dan kemasyarakatan. Kami berusaha mengerti, tentunya sangat melelahkan mendidik orang-orang awam seperti kami.

Terkadang kami lebih menemukan solusi hidup dari orang-orang yang tidak menampakkan religiusitas. Terkadang kami lebih mendapatkan solusi dan inspirasi dari para motivator, pelaku bisnis, dan wirausahawan muda. Dalam diam kami sering bertanya, dimana para sahabat pemuka agama ???.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...