Selasa, 13 Maret 2012

Duhai Sahabat Dalam Hening (1)


“Duhai Sahabat Dalam Hening (1)”
Oleh
HIldan Fathoni
An Ordinary People


 
Selasa, 13 Maret 2012, 01:26 WIB
Di kantor kecilku

Selamat pagi para Pembaca yang Budiman,

Setelah sangat jarang menonton siaran televisi, akhirnya malam tadi saya menyempatkan diri menghabiskan beberapa jam di depan layar kaca. Beberapa peristiwa dikabarkan dengan sangat detail, tentunya bad news yang menjadi komoditas utama siaran pemberitaan sebagian besar stasiun televisi. Mulai dari petinggi Kepolisian yang tertangkap mengkonsumsi narkoba, putra angkat Rano Karno yang juga ditangkap karena narkoba, Nazarudin yang menantang Anas Urbaningrum, rencana kenaikan BBM per 1 april 2012, tertangkapnya pelaku pembunuhan dan sodomi dan masih banyak berita bad news lainnya. Juga ada Film Valkery (kurang lebih seperti ini ejaannya) yang dibintangi Tom Cruise, bahkan Film Mandarin yang di-translate dalam Bahasa Jawa Timuran di JTV. Semua tontonan tersebut membuat saya semakin risau hingga pagi ini belum bisa tidur.

Saya termasuk generasi yang sempat menikmati kestabilan dan keindahan hidup di pelosok desa pada jaman Orde Baru. Nenek pernah menyuruh saya membeli gula 0,5 Kg hanya seharga Rp 200,- sekitar tahun 1992. Saya juga masih merasakan Coca Cola dan Fanta seharga Rp 350,- per botol kecil pada tahun 1993 sewaktu mengikuti Perkemahan Sabtu Minggu (Persami). Di masa kecil tidak pernah terdengar berita korupsi mau pun pembunuhan melalui siaran televisi (tepatnya TVRI), malah kebanyakan dari warga desa asyik menantikan Ketoprak “Siung Macan Kumbang”  atau “Ampak-ampak Singgolo Puro” yang pernah sangat ngetrend di Jawa Timur pada era 90-an. Semua begitu hening, semua orang begitu baik, setiap pertemuan diawali senyuman dan masyarakat begitu saling menghargai.

Saya begitu bahagia ketika ayah membelikan sepatu bermerek Rieker seharga Rp 5.000,- karena jauh lebih mahal dari merek Riker (tanpa huruf “e” ditengah) yang harganya sekitar Rp 4.000,-. Juga ketika ayah membelikan Citato seharga Rp 350,- yang didalamnya ada mainan Tazoz (semacam koin plastic yang bisa disusun menjadi puzzle). Bukan hanya saya, bahkan teman-teman sekelas saya di MI terlihat sangat bahagia ketika mereka bisa memenangkan permainan kelereng atau permainan kartu wayangan. Kartu wayangan seperti kalender kecil dengan gambar-gambar berpetak, yang masing-masing petaknya bertuliskan angka 1 samapi dengan 30. Seingat saya harganya Rp 50,- per lembar besar. Semuanya serba sederhana, semuanya serba terbatas, walau pun demikian semuanya tampak bahagia.

Kembali ke masa kini. Tiba-tiba saya disuguhi fakta tentang hyper konsumerisme yang membuat segerombolan orang rela antri untuk membeli Blackberry murah (tentu sah-sah saja), remaja-remaja yang hamil di luar nikah, anak SD yang merokok, wakil rakyat yang korup, beberapa pegawai pajak yang korup, tokoh agama yang radikal, kelompok Islam yang sadis, dan banyak kerusakan-kerusakan. Fakta tersebut membuat “Dunia Ideal” yang pernah saya rasakan sewaktu kecil seolah retak…buyar tanpa bekas.

Sebagai salah satu contohnya sebagai berikut. Dulu saya sangat menghormati para guru, karena mereka benar-benar mengayomi bukan hanya menyampai materi pelajaran. Pada masa itu para guru seolah berusaha mengenali kami satu per satu. Wajah mereka begitu cerah ketika tersenyum dan begitu menakutkan ketika marah, tetapi tetap meninggalkan kesan ketulusan dalam memerdekakan pemikiran kami. Gambaran tersebut menjadi hancur ketika saya secara pribadi mendengar curahan hati seorang guru. Beliau menceritakan tentang kerusakan dan penyimpangan yang dilakukan oleh beberapa oknum guru, kepala sekolah dan kepala UPTD pada waktu ujian kelulusan SD.

Beliau pada waktu itu ditugaskan mengawasi ujian kelulusan SD di sekolah lain, sebut saja SDN X. Pada hari pertama beliau dipanggil oleh Kepala Sekolah SD X tersebut sebagai sopan santun dalam menyambut guru dari SD Y. Alangkah terkejutnya beliau, Bapak Kepala Sekolah SD X menelepon seseorang dengan suara keras dan kemudian seolah memerintahkan,”Pak tolong siswa di SD Y dibantu ya”. Ternyata beliau menelepon guru di SD X yang sedang bertugas mengawasi ujian di SD Y. Tentu Anda sudah tahu maksud beliau menelepon. Sang guru yang menghadap Kepala Sekolah tersebut kaget dan kemudian menangis seraya berkata,”Pak, jika Bapak memerintahkan anak buah Bapak untuk membantu siswa saya ..ya silahkan. Tetapi mohon maaf saya tidak bisa membantu siswa di sekolah Bapak.” Tentu saja Kepala Sekolah tersebut kaget dan langsung berusaha menenangkan guru dihadapannya seraya berkata,”Bu…saya tidak bermaksud kurang sopan. Tetapi Kepala UPTD memerintahkan semua kepala sekolah untuk membantu para siswa. Itu disampaikan sewaktu rapat koordinasi kesiapan ujian kelulusan di kantor UPTD Kecamatan. Semua kepala sekolah juga sudah tahu, juga kepala sekolah Ibu”. Kepala Sekolah melanjutkan,”Itu semua untuk meningkatkan peringkat kelulusan di Kecamatan kita Bu, karena tahun kemarin peringkatnya kurang baik”. Ternyata kecamatan tersebut “kalah start” dibandingkan kecamatan lain, yang sudah bertahun-tahun “membantu” siswanya untuk lulus.

Beliau tidak melanjutkan kisah tersebut, sepertinya dadanya sangat sesak dan sulit melupakan kejadian tersebut. Beliau sudah mengajar sejak tahun 80-an. Sebelum era presiden SBY-JUSUF KALLA, sistem kelulusan tidak seperti sekarang. Pada masa itu siswa tidak ditekan untuk memenuhi standar yang terlalu tinggi dan hamper semua siswa lulus. Beliau bercerita, pada masa itu kerja keras guru dan siswa adalah jalan utama dalam proses pendidikan. Semua kerja keras itu sangat dihargai. Tetapi sekarang nilai akhir lah yang menentukan, sehingga mentalitas guru dan siswa hanya fokus pada nilai ujian akhir. Sedangkan proses belajar selama bertahun-tahun di SD hanya lah rutinitas menghabiskan usia sekolah.
Ah…semakin penat rasanya hidup di tahun 2012 ini. Gambaran-gambaran di atas hanya sekelumit hal yang memotivasi saya untuk menuliskannya di blog ini. Tulisan ini adalah tulisan amatir non ilmiah yang banyak dibumbui oleh persepsi dan opini pribadi. Satu-satunya tujuan saya menulis kali ini adalah murni untuk berbagi kegelisahan sekaligus berbagi semangat hidup, tidak ada tujuan lain. Apalagi untuk menggurui, menceramahi, menghakimi atau mengarahkan pembaca…sama sekali tidak. Saya hanya merasakan keresahan banyak orang dan memvisualisasikannya dalam kata dan huruf.

Saya pribadi (jika diperkenankan) ingin menganggap para Pembaca sekalian sebagai SAHABAT, tepatnya sahabat dalam hening. Sebagian besar dari kita tidak saling mengenal di dunia nyata. Foto profil dan biodata kita mungkin sangat berbeda di dunia yang sebenarnya. Wajah, suara, warna kulit dan raut muka kita, sangat jarang yang saling mengetahui. Kita hanya saling mengingatkan, saling mengkritik, saling berteriak dan saling tertawa hanya dalam hening…dalam balutan kata yang dituangkan melalui ketukan huruf di keyboard. Tapi tak mengapa lah.

Sesungguhnya dalam hati kecil saya ingin rasanya mendatangi Anda satu persatu. Menjabat tangan Anda dengan akrab, menyuguhi Anda secangkir kopi susu hangat sambil saling berbagi keresahan dan semangat. Seperti dua orang sahabat kental yang lama tak berjumpa. Walaupun kesemuanya hanya bisa dilakukan melalui tulisan sederhana ini. Seolah saya ingin bercengkerama hangat dengan masing-masing Anda yang sangat beragam itu. Dalam berbagai profesi dan pemikiran yang berbeda…saya ingin berbagi…

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan KOMENTAR :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...