This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 26 Maret 2012

Bung Karno dan Politik Minyak

Bung Karno dan Politik Minyak


 
“Jangan Dengarkan Asing..!!”

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya.



Selasa, 13 Maret 2012

Duhai Sahabat Dalam Hening (2)


“Duhai Sahabat Dalam Hening (2)”
Oleh
HIldan Fathoni
An Ordinary People



Duhai Sahabat ku Para Tokoh Agama, Aku Ingin Bercerita :
Sungguh sangat terhormat posisi Anda. Kami mengakui Anda sebagai panutan adalah juga pengakuan kami atas kelebihan Anda. Kami yakin Anda lebih mengerti pengetahuan agama melebihi kami, sehingga memudahkan kami memutuskan suatu perkara dari sudut pandang kebijaksanaan agama. Kami yakin setiap saranka dan amalan yang engkau berikan akan berbuah manfaat bagi kami di masa depan. Bahkan kami yakin Anda lebih dekat dan disayang oleh Tuhan, sehingga kedekatan kami kepada Anda adalah usaha kami juga dalam mencari jalan Tuhan. Setiap ucapan Anda begitu bijaksana dan mencerahkan hidup kami yang terkadang buram.

Duhai sahabat ku para pemuka agama, tahukah Anda tentang keresahan kami akhir-akhir ini ?.
  1. Kami resah ketika ormas FPI menyerang ibu-ibu yang berdemonstrasi di Monas, padahal pimpinan mereka adalah seorang habib yang katanya adalah masih keturunan Nabi Muhammad. Apakah Nabi akan juga melakukan hal yang sama pada kaum wanita ataukah malah mengajak dialog dengan penuh kasih sayang. Kami yang awam ini bingung ketika banyak orang bersurban, sambil membacakan takbir mereka memukul, melempar, mendobrak bangunan-bangunan. Bahkan sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang seolah mendukung aksi mereka. Kami hanya tahu bahwa manusia harus diperlakukan seperti manusia, tidak layak dianiaya apalagi jika dia adalah para ibu yang penuh kasih sayang.
Kami sering berpikir. Jika tidak bisa membantu memperbaiki kondisi kami, setidaknya jangan membuat kerusuhan yang mengganggu keseharian kami. Jika bukan bagian dari solusi, setidaknya jangan menjadi bagian dari beban sejarah.
  1. Kami bingung, ketika melihat fakta bahwa banyak orang yang tampak alim berilmu justru berbuat kurang layak. Seperti para ustadz selebritis yang sibuk berakting sambil seolah berdakwah, yang pada akhirnya hanya sebagai bintang iklan baju koko, paket ONH plus, juru kampanye parpol dan lain sebagainya. Kami rindu kyai kampung yang tulus tanpa pamrih mendidik anak-anak belajar mengaji.
  2. Kami galau ketika Departemen Agama yang banyak menampung orang-orang berpendidikan agama, justru diisukan banyak melakukan korupsi.
  3. Kami kalut, ketika MUI tidak melakukan apa-apa terhadap aktivitas transaksi berjangka yang sedang marak di masyarakat. Pada hal transaksi tersebut sangat membahayakan nilai tukar dan ekonomi suatu negara. Kami yakin setidaknya salah satu anggota MUI mengetahui tentang bahaya transaksi derivative tersebut. Tetapi semuanya terdiam…semua akan terbangun dan rebut ketika penetuan awal Romadhon dan awal Syawal. Mungkin kah kami harus berfatwa sendiri ???

Kami paham, tentunya tugas para pemuka agama sangat lah berat karena harus menjaga moralitas umat. Pun juga menempuh ilmu di berbagai pesantren dan lembaga keagamaan selama belasan tahun adalah kerja keras tiada tara. Tetapi sebagai umat yang awam, kami mohon sahabatku sekalian bisa meredakan kegalauan kami…memberi jawaban pada masalah keseharian kami. Bukan hanya runtutan sholat, karena sholat sangat lah terbatas waktunya dan kegiatan lebih banyak pada pekerjaan dan kemasyarakatan. Kami berusaha mengerti, tentunya sangat melelahkan mendidik orang-orang awam seperti kami.

Terkadang kami lebih menemukan solusi hidup dari orang-orang yang tidak menampakkan religiusitas. Terkadang kami lebih mendapatkan solusi dan inspirasi dari para motivator, pelaku bisnis, dan wirausahawan muda. Dalam diam kami sering bertanya, dimana para sahabat pemuka agama ???.

Duhai Sahabat Dalam Hening (1)


“Duhai Sahabat Dalam Hening (1)”
Oleh
HIldan Fathoni
An Ordinary People


 
Selasa, 13 Maret 2012, 01:26 WIB
Di kantor kecilku

Selamat pagi para Pembaca yang Budiman,

Setelah sangat jarang menonton siaran televisi, akhirnya malam tadi saya menyempatkan diri menghabiskan beberapa jam di depan layar kaca. Beberapa peristiwa dikabarkan dengan sangat detail, tentunya bad news yang menjadi komoditas utama siaran pemberitaan sebagian besar stasiun televisi. Mulai dari petinggi Kepolisian yang tertangkap mengkonsumsi narkoba, putra angkat Rano Karno yang juga ditangkap karena narkoba, Nazarudin yang menantang Anas Urbaningrum, rencana kenaikan BBM per 1 april 2012, tertangkapnya pelaku pembunuhan dan sodomi dan masih banyak berita bad news lainnya. Juga ada Film Valkery (kurang lebih seperti ini ejaannya) yang dibintangi Tom Cruise, bahkan Film Mandarin yang di-translate dalam Bahasa Jawa Timuran di JTV. Semua tontonan tersebut membuat saya semakin risau hingga pagi ini belum bisa tidur.

Saya termasuk generasi yang sempat menikmati kestabilan dan keindahan hidup di pelosok desa pada jaman Orde Baru. Nenek pernah menyuruh saya membeli gula 0,5 Kg hanya seharga Rp 200,- sekitar tahun 1992. Saya juga masih merasakan Coca Cola dan Fanta seharga Rp 350,- per botol kecil pada tahun 1993 sewaktu mengikuti Perkemahan Sabtu Minggu (Persami). Di masa kecil tidak pernah terdengar berita korupsi mau pun pembunuhan melalui siaran televisi (tepatnya TVRI), malah kebanyakan dari warga desa asyik menantikan Ketoprak “Siung Macan Kumbang”  atau “Ampak-ampak Singgolo Puro” yang pernah sangat ngetrend di Jawa Timur pada era 90-an. Semua begitu hening, semua orang begitu baik, setiap pertemuan diawali senyuman dan masyarakat begitu saling menghargai.

Saya begitu bahagia ketika ayah membelikan sepatu bermerek Rieker seharga Rp 5.000,- karena jauh lebih mahal dari merek Riker (tanpa huruf “e” ditengah) yang harganya sekitar Rp 4.000,-. Juga ketika ayah membelikan Citato seharga Rp 350,- yang didalamnya ada mainan Tazoz (semacam koin plastic yang bisa disusun menjadi puzzle). Bukan hanya saya, bahkan teman-teman sekelas saya di MI terlihat sangat bahagia ketika mereka bisa memenangkan permainan kelereng atau permainan kartu wayangan. Kartu wayangan seperti kalender kecil dengan gambar-gambar berpetak, yang masing-masing petaknya bertuliskan angka 1 samapi dengan 30. Seingat saya harganya Rp 50,- per lembar besar. Semuanya serba sederhana, semuanya serba terbatas, walau pun demikian semuanya tampak bahagia.

Kembali ke masa kini. Tiba-tiba saya disuguhi fakta tentang hyper konsumerisme yang membuat segerombolan orang rela antri untuk membeli Blackberry murah (tentu sah-sah saja), remaja-remaja yang hamil di luar nikah, anak SD yang merokok, wakil rakyat yang korup, beberapa pegawai pajak yang korup, tokoh agama yang radikal, kelompok Islam yang sadis, dan banyak kerusakan-kerusakan. Fakta tersebut membuat “Dunia Ideal” yang pernah saya rasakan sewaktu kecil seolah retak…buyar tanpa bekas.

Sebagai salah satu contohnya sebagai berikut. Dulu saya sangat menghormati para guru, karena mereka benar-benar mengayomi bukan hanya menyampai materi pelajaran. Pada masa itu para guru seolah berusaha mengenali kami satu per satu. Wajah mereka begitu cerah ketika tersenyum dan begitu menakutkan ketika marah, tetapi tetap meninggalkan kesan ketulusan dalam memerdekakan pemikiran kami. Gambaran tersebut menjadi hancur ketika saya secara pribadi mendengar curahan hati seorang guru. Beliau menceritakan tentang kerusakan dan penyimpangan yang dilakukan oleh beberapa oknum guru, kepala sekolah dan kepala UPTD pada waktu ujian kelulusan SD.

Beliau pada waktu itu ditugaskan mengawasi ujian kelulusan SD di sekolah lain, sebut saja SDN X. Pada hari pertama beliau dipanggil oleh Kepala Sekolah SD X tersebut sebagai sopan santun dalam menyambut guru dari SD Y. Alangkah terkejutnya beliau, Bapak Kepala Sekolah SD X menelepon seseorang dengan suara keras dan kemudian seolah memerintahkan,”Pak tolong siswa di SD Y dibantu ya”. Ternyata beliau menelepon guru di SD X yang sedang bertugas mengawasi ujian di SD Y. Tentu Anda sudah tahu maksud beliau menelepon. Sang guru yang menghadap Kepala Sekolah tersebut kaget dan kemudian menangis seraya berkata,”Pak, jika Bapak memerintahkan anak buah Bapak untuk membantu siswa saya ..ya silahkan. Tetapi mohon maaf saya tidak bisa membantu siswa di sekolah Bapak.” Tentu saja Kepala Sekolah tersebut kaget dan langsung berusaha menenangkan guru dihadapannya seraya berkata,”Bu…saya tidak bermaksud kurang sopan. Tetapi Kepala UPTD memerintahkan semua kepala sekolah untuk membantu para siswa. Itu disampaikan sewaktu rapat koordinasi kesiapan ujian kelulusan di kantor UPTD Kecamatan. Semua kepala sekolah juga sudah tahu, juga kepala sekolah Ibu”. Kepala Sekolah melanjutkan,”Itu semua untuk meningkatkan peringkat kelulusan di Kecamatan kita Bu, karena tahun kemarin peringkatnya kurang baik”. Ternyata kecamatan tersebut “kalah start” dibandingkan kecamatan lain, yang sudah bertahun-tahun “membantu” siswanya untuk lulus.

Beliau tidak melanjutkan kisah tersebut, sepertinya dadanya sangat sesak dan sulit melupakan kejadian tersebut. Beliau sudah mengajar sejak tahun 80-an. Sebelum era presiden SBY-JUSUF KALLA, sistem kelulusan tidak seperti sekarang. Pada masa itu siswa tidak ditekan untuk memenuhi standar yang terlalu tinggi dan hamper semua siswa lulus. Beliau bercerita, pada masa itu kerja keras guru dan siswa adalah jalan utama dalam proses pendidikan. Semua kerja keras itu sangat dihargai. Tetapi sekarang nilai akhir lah yang menentukan, sehingga mentalitas guru dan siswa hanya fokus pada nilai ujian akhir. Sedangkan proses belajar selama bertahun-tahun di SD hanya lah rutinitas menghabiskan usia sekolah.
Ah…semakin penat rasanya hidup di tahun 2012 ini. Gambaran-gambaran di atas hanya sekelumit hal yang memotivasi saya untuk menuliskannya di blog ini. Tulisan ini adalah tulisan amatir non ilmiah yang banyak dibumbui oleh persepsi dan opini pribadi. Satu-satunya tujuan saya menulis kali ini adalah murni untuk berbagi kegelisahan sekaligus berbagi semangat hidup, tidak ada tujuan lain. Apalagi untuk menggurui, menceramahi, menghakimi atau mengarahkan pembaca…sama sekali tidak. Saya hanya merasakan keresahan banyak orang dan memvisualisasikannya dalam kata dan huruf.

Saya pribadi (jika diperkenankan) ingin menganggap para Pembaca sekalian sebagai SAHABAT, tepatnya sahabat dalam hening. Sebagian besar dari kita tidak saling mengenal di dunia nyata. Foto profil dan biodata kita mungkin sangat berbeda di dunia yang sebenarnya. Wajah, suara, warna kulit dan raut muka kita, sangat jarang yang saling mengetahui. Kita hanya saling mengingatkan, saling mengkritik, saling berteriak dan saling tertawa hanya dalam hening…dalam balutan kata yang dituangkan melalui ketukan huruf di keyboard. Tapi tak mengapa lah.

Sesungguhnya dalam hati kecil saya ingin rasanya mendatangi Anda satu persatu. Menjabat tangan Anda dengan akrab, menyuguhi Anda secangkir kopi susu hangat sambil saling berbagi keresahan dan semangat. Seperti dua orang sahabat kental yang lama tak berjumpa. Walaupun kesemuanya hanya bisa dilakukan melalui tulisan sederhana ini. Seolah saya ingin bercengkerama hangat dengan masing-masing Anda yang sangat beragam itu. Dalam berbagai profesi dan pemikiran yang berbeda…saya ingin berbagi…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...